ndak lapuk dek hujan

– ungkapan Minang –

Dari peribahasa Melayu, “Tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”, yang diambil bagian pertamanya saja dengan aksen khas Sumatra Barat (Padang). Kosakata harta karun Nusantara ndak lapuk dek hujan berarti kurang lebih bahwa kita perlu senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur adat (yang telah terbukti berguna dan tahan uji itu—dalam ‘hujan’ atau ‘panas’).

Dalam penggunaan sehari-hari, pengertian kata-kata ini berkembang.

Tak jarang, ungkapan ini mengacu kepada kegigihan atau ‘semangat‘—misalnya bahwa dalam berupaya (usaha, studi dan sebagainya) pantang gampang berputus asa (aral boleh melintang, rintangan boleh menghadang, tetapi semangat harus ‘ndak lapuk dek hujan’).

Selain itu, ungkapan ini juga acap dikaitkan dengan ‘faedah‘. Bahwa sebagai manusia kita mesti pandai mencipta manfaat (bagi sesama), bak pohon kelapa—yang bukan saja dalam berbuah tak kenal musim (hujan atau panas), tetapi bahkan setelah gugur (tumbang) pun siap memberi faedah, dari ujung akar hingga ujung daun (‘ndak lapuk dek hujan’, tak jemu memberi manfaat).

Apapun, kalau sudah untuk Indonesia Raya, mari kita ndak lapuk dek hujan.

*****

—KK—

Iklan

kamikaze

– istilah taktik serang –

Tahun 1944, menjelang akhir Perang Dunia II. Di Pasifik, armada Sekutu bergerak menuju Jepang. Makin terdesak dan sadar kalah kekuatan, militer Jepang putar otak. Jelas, jika lawan mencapai Jepang, habis sudah. Kesimpulan: armada lawan harus dihancurkan (paling tidak digerogoti habis-habisan), saat masih berada di laut—jauh dari perairan Jepang. Dilandasi semangat samurai dan nilai-nilai bushido, muncul gagasan: menabrakkan pesawat terbang ke kapal—agar tenggelam. Skenario: sekian pesawat kecil (yang sudah dimuati peledak dan bahan bakar secukupnya) menyerang kapal lawan, dan minimal satu di antaranya sukses menabrak dan meledak. Perhitungan: Jepang hilang 1-3 pesawat kecil dan pilot dalam jumlah yang sama, tetapi Sekutu hilang satu kapal dan juga personil militer dalam jumlah jauh lebih besar (tewas/luka parah karena tertembak pesawat, kena dampak ledakan, atau tenggelam). Dari segi ‘hitung-dagang perang’—jika skenario jalan, Jepang akan ‘untung besar’ karena kapal (plus segala kelengkapannya) jelas jauh lebih mahal daripada pesawat kecil (dan ‘laba’ akan berlipat jika yang berhasil ditabraktenggelamkan adalah kapal induk). Serangan bunuh diri dari udara ini dikenal dengan nama kamikaze (‘angin dewa’ atau ‘angin agung’).

Setelah perang usai, kamikaze lalu menjadi istilah untuk berbagai serangan bunuh diri yang berdasarkan semangat dan nilai-nilai kehormatan dengan ‘pola hitung-dagang’ seperti di atas (sebuah truk/mobil butut yang menabrakkan diri ke barak militer lalu meledak, misalnya).

*****

—KK—

fax = facsimile

– istilah telekomunikasi –

Fax adalah mesin pengganda/pengirim dokumen jarak jauh. Dengan hadirnya internet, perannya dalam keseharian sekarang jadi berkurang—walau masih relatif banyak digunakan. Tapi meski sudah jadi kosakata umum, masih saja ada yang belum tahu bahwa sesungguhnya kata ini adalah ‘bentuk pendek’ dari facsimile. Anehnya lagi, mereka yang sudah tahu tentang facsimile pun ternyata banyak yang mengucapkannya secara tidak tepat—alias masih bingung.

Mungkin karena banyak kata Inggris dengan pola ‘~ile’ (seperti mile, pile, tile, file, atau smile) yang dilafalkan dengan bunyi mirip diftong ‘ai’ [mail, pail, tail, fail, smail], lalu orang mengira pengucapan facsimile adalah [fèksimail]. Keliru. Pengucapan yang benar adalah [fèk-simeli].

*****

————————
Tips:

  • Untuk megecek lafal, bisa search melalui Google dengan keywords: facsimile meaning. Lalu klik ikon speaker (di bawah kata facsimile), lalu klik ikon flash player yang muncul.
  • Harap dicatat bahwa simbol fonetik yang digunakan di blog ini berbeda dengan yang digunakan di hasil search melalui Google di atas.
  • Contoh kata Inggris lain yang orang juga sering ‘tahu arti salah ucap’ misalnya: prejudice.

—KK—

wakaf

Istilah tanah wakaf sudah tidak asing lagi. Tapi apa sih sebenarnya ‘wakaf’ itu sendiri? Dari bahasa Arab, istilah wakaf artinya ‘terhenti’—yaitu manfaat jual-belinya [sengaja] dihentikan dan digantikan [semata-mata] untuk amal kebajikan. Jadi jika seseorang mewakafkan tanahnya, berarti yang bersangkutan ‘menahan’ tanah tersebut (tidak diberikan, tidak pula diwariskan).

Dalam konsep wakaf, pada hakikatnya yang diberikan adalah manfaat dari suatu ‘barang’, tetapi bukan (tidak pernah) ‘fisik’ barangnya itu sendiri.

Selain untuk kepentingan orang banyak, tidak ada batasan spesifik tentang peruntukannya. Umumnya, tanah wakaf digunakan untuk keperluan yang relatif sederhana (tempat ibadah atau kuburan, misalnya), meski ada pula yang secara manajerial lebih rumit (misalnya sekolahan).

Karena si pemberi wakaf (juga semua orang) nantinya akan ajal, maka agar kepengurusannya langgeng lazim dibentuk semacam ‘dewan pengurus’ (artinya bukan hanya satu orang)—bisa dari keluarga pemberi wakaf atau orang luar. Perlu diperhatikan bahwa meski pemberi wakaf lazimnya adalah individu, penerima wakaf notabene adalah masyarakat (bukan individu).

Sifat wakaf adalah ‘terus-menerus‘, maka yang sah diwakafkan adalah sesuatu yang memiliki ‘ketahanan fisik’ yang relatif tetap (menyumbang hasil bumi atau sepeda motor bukan wakaf, tetapi sedekah). Jadi adalah tidak logis mewakafkan tanah yang terlalu dekat dengan laut atau berada di tepi jurang, karena ada ancaman tersapu ombak, terkikis, atau longsor—yang artinya tidak saja setiap saat tanah itu terancam ‘hilang’ (tidak langgeng), tetapi bahkan wajib dianggap terlalu berpeluang ‘membahayakan banyak orang’ (bertolak belakang dengan azas manfaat).

*****

—————————

Pustaka: “Pedoman Islam di Indonesia” (Hasbullah Bakry, UI-Press, 1988)

—KK—

à la carte

– istilah kuliner –

Dari bentuknya mudah ditebak, dari Perancis. Misalkan kita bertiga masuk ke sebuah warung:

“Somay satu porsi, tapi somay semua—jangan yang lain, ya! Teh tawar.”

“Capjay goreng, nasi putih. Minumnya es jeruk.”

“Minum aja, Mbak. Es Shanghai. Trus tolong dibungkusin ini: mie goreng tiga, nasi goreng dua. Nasi gorengnya satu biasa satu seafood. Oya, pangsit gorengnya satu, dibungkus juga.”

Jelas, yang kita masuki.. (lanjutannya)

ngabuburit

– istilah Sunda –

Dari bahasa Sunda yang berarti ‘menunggu [datangnya] petang’, dalam perkembangannya ngabuburit menjadi sebuah istilah dengan makna kurang-lebih:

kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyongsong datangnya waktu berbuka puasa (yaitu saat azan/bedug magrib)

Pengertian tersebut mempunyai beberapa konotasi :

  • ‘Menyongsong’ berarti menjelang, jadi logisnya ngabuburit tidak dilakukan terlalu awal (seperti siang hari). Lazimnya, waktunya dimulai setelah masuk waktu ashar.
  • Karena ‘menunggu waktu berbuka’, akan menjadi sedikit ganjil untuk mengaku ngabuburit jika kita sendiri tidak [sedang] berpuasa—meski tetap saja bisa ikut meramaikan suasana ngabuburitnya (bersama mereka yang sedang berpuasa).
  • ‘Kegiatan’ menyiratkan aktivitas—meski tidak harus berarti yang produktif (seperti sekadar nongkrong melihat orang lewat atau berputar-putar naik motor tanpa tujuan jelas). Jadi kegiatan yang terlalu pasif (seperti tidur) jelas tidak termasuk ngabuburit.
  • ‘Dalam rangka’ menyiratkan niat. Jadi meski kita berputar-putar keliling kota sepanjang sore akan tetapi jika motifnya adalah menjalankan tugas (sebagai pengantar barang, misalnya) berarti kita tidak sedang ber-ngabuburit ria.

Sulit dipungkiri, meski panjang (sepuluh huruf yang terpenggal dalam empat sukukata bukan sebuah kata yang pendek), ‘ngabuburit’ sungguh enak diucap sedap didengar (mungkin bahkan terkesan asyik dan jenaka). Sepertinya, kata ini sudah menjadi sebuah fenomena sosial.

Pertama.. (lanjutannya)

stalaktit – stalagmit

– istilah geologi –

Meski umumnya orang tahu bahwa stalaktit dan stalagmit (Inggris: stalactite & stalagmite) adalah istilah untuk ‘batu tetes’ (yang tampak mencuat dari atas/bawah) yang ada di beberapa jenis gua, kerancuan masih sering terjadi paling tidak pada dua perkara.

stalactite_stalagmite (wpclipart_com)Pertama, soal penulisan. Perhatikan bahwa stalaktit menggunakan huruf ‘k’, sedangkan stalagmit huruf ‘g’ (ada yang menuliskan kedua-duanya dengan ‘k’, ada pula yang dua-duanya dengan ‘g’—dan ini keliru).

Kedua, soal ‘yang mana yang apa’. Setelah beberapa lama (dari saat membuka kamus yang terakhir kali, misalnya), orang sering lupa mana stalaktit mana stalagmit (mana yang atas mana yang bawah). Tipikal lupa seperti ini (yang terjadi berulang-kali) cenderung membuat geregetan. Tetapi ada trik mudah agar kita ingat terus , tak lupa-lupa lagi. Ini dia:

tinggi

Jika mendengar kata ‘tinggi’, apa yang terbayang? Atas atau bawah? Sudah pasti ‘atas’, dong !? Kalau begitu, yang tinggi di atas adalah stalaktit.

*****

———————————
sumber gambar: wpclipart

—KK—

homo homini lupus

Dari bahasa Latin. Homo di sini artinya manusia, tak ada hubungannya dengan orientasi seks. Lupus, serigala. Homini adalah sebuah bentuk derivatif/turunan dari homo (arti sama saja).

“Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”.

Kira-kira begitu terjemahannya. Tentu bukan untuk diartikan secara harfiah—bahwa manusia itu kanibal, misalnya (karena suka makan orang lain dalam arti sebenarnya). Tapi maksudnya lebih kepada untuk menggambarkan bahwa manusia bisa sangat kejam kepada sesamanya.

Jadi mari kita senantiasa ingat bahwa kita manusia, bukan serigala.  🙂

*****

—KK—

aja dumèh

– ungkapan Jawa –

Aja dumeh lazim terdengar di Jawa [Tengah]. Secara harfiah, ‘Jangan mentang-mentang‘. Diucapkan untuk mengingatkan orang agar tidak lupa diri atau melampaui batas.

Untuk segala keberhasilan/pencapaian yang kita raih, pasti ada kontribusi orang lainnya juga (besar/kecil, sedikit/banyak, individu/kolektif, langsung/tidak langsung, sengaja/tidak sengaja, diketahui/tidak diketahui). Tetapi kita gampang merasa hebat sendiri, lupa bahwa dalam hidup demikian sering ditolong orang lain—dengan satu atau lain cara tadi.

Kosakata Nusantara ini juga dipakai untuk mengingatkan bahwa ‘dunia berputar’, maksudnya, jika sekarang kita ‘senang’ (banyak uang, dikagumi banyak orang, berkuasa, [dianggap] pandai dan sebagainya), bukan tidak mungkin besok ‘susah’ (berada dalam keadaan yang sebaliknya).

Jadi, tak perlu pulalah sikap mentang-mentang itu.

*****

—KK—

Masya Allah(!)

Suatu hari seorang paruh baya melihat seorang muda mengalami penderitaan yang hebat namun tetap tabah dan tidak mengeluh. Sebagai ungkapan kekaguman, si orang tersebut berucap, “Masya Allah, Nak! Kau sungguh membuatku kagum. Semoga kesabaranmu dalam menjalani cobaan hidup akan membuatmu menjadi orang yang mulia di hadapan-Nya.”

Frasa Arab ini pengertiannya kira-kira: “Sesungguhnya semua ini adalah kehendak Tuhan jua” (dan jika Tuhan berkehendak, pasti terjadi). Di sini ucapan ‘Masya Allah’ sesuai situasinya karena mengandung: pengakuan terhadap Tuhan (Yang Maha Kehendak), kekaguman (artinya respons positif) atas dampak dari kehendak-Nya tersebut (ketabahan si orang muda), dan bahkan disertai doa (harapan baik yang dimohonkannya kepada Yang Maha Kuasa).

Pada saat itulah lewat orang ketiga (yang kebetulan tidak tahu arti ‘Masya Allah’). Orang ini, demi melihat betapa hebat penderitaan si orang muda, menyangka bahwa kata-kata tersebut adalah ‘ungkapan kekagetan saat menjumpai sesuatu yang jelek’ (sebuah respons negatif). Sejak saat itu, kesalahkaprahan penggunaan ‘Masya Allah’ sering terjadi di mana-mana.

Cerita di atas.. (lanjutannya)

terkooptasi

– istilah manajemen / politik –

Pada masa-masa awal reformasi, kata ‘terkooptasi‘ sering digunakan orang (sekarang hanya sesekali saja kita jumpai). Istilah politik/manajemen ini sering dipakai untuk menunjukkan kesangsian atas integritas sebuah badan/lembaga atau seseorang.

Terkooptasi berasal dari kata Inggris co-opted’ (ataucoopted) yang notabene merupakan bentuk past participle dari to co-opt (atau to coopt). Yang terakhir ini jika diterjemahkan: ‘memilih menjadi sesama anggota kelompok’.

Perhatikan frasa ‘menjadi sesama’. Artinya, orang/pihak yang memilih itu sendiri sudah menjadi anggota, saat yang bersangkutan memilih orang/pihak lain untuk bergabung.

Jadi jika kita memilih si A untuk menjadi anggota Badan Anu misalnya, bisa dikatakan kita mengkooptasi si A jika kita sendiri adalah anggota Badan Anu tersebut (si A terkooptasi kita).

Dalam pola hubungan, pihak yang terkooptasi cenderung terposisikan secara subordinatif (inferior atau bahkan ‘bawahan’) terhadap pihak yang mengkooptasinya.

Dalam skala kecil yang homogen.. (lanjutannya)

déjà vu

Dari bahasa perancis, pengertiannya kira-kira: perasaan pernah ‘mengalami’ sebelumnya (terlepas dari apakah benar-benar pernah mengalami atau sekadar ‘perasaan’ saja).

Deja vu lazim dikaitkan dengan keadaan yang bersifat ‘sensasi visual’—meski tidak terbatas hanya pada ‘mata fisik’ saja. Misalnya seperti ini:

Kita ada di sebuah pekarangan. Kita masuk ke dalam rumah yang ternyata bentuknya memanjang itu. Di ujung, ada pintu lagi, kita buka. Halaman belakang! Kita keluar. Baru beberapa langkah, kita berhenti. Halaman tak berpagar, menyatu dengan alam. Rasanya.. pernah di sini. Lembah di sana, juga gunung di kejauhan itu.. Tunggu dulu! Apa itu? Di pojok dekat situ ada seperti rumah kayu kecil. Kandang anjingkah? Atau tempat perkakas? Ya, bilik kayu ini.. Di mana, ya..? Kapan..? Lalu kita terjaga.

Mungkin kita pernah.. (lanjutannya)

paperback – hardcover

– istilah perbukuan –

Sebuah istilah perbukuan—bahasa Inggris. Paperback (sering disebut juga dengan softcover ) adalah buku yang cover-nya mudah dilengkungkan. Novel-novel dan buku-buku teks/referensi untuk pelajar dan mahasiswa umumnya dicetak dalam edisi paperback.

Istilah paperback biasanya dikontraskan dengan hardcover, yaitu buku dengan cover yang lebih ‘tebal dan keras’ sehingga tidak bisa dilengkungkan (atau kalau dipaksa juga, bakal rusak). Kitab-kitab suci (juga sebagian buku/novel edisi khusus) sering dicetak dalam edisi hardcover.

Karena biaya produksi per unit yang berbeda, untuk buku yang sama harga edisi hardcover biasanya jauh lebih mahal daripada edisi paperback-nya.

*****

—KK—