Meski berkaitan erat dan wajah lumayan mirip, pengertian teks (text) dan konteks (context) sangatlah berbeda. Kedua-duanya kita perlukan dalam membentuk pemahaman. Contoh:
“Memang gila, dia!”
Kita nggak ngerti kata-kata itu maksudnya gimana. Sebabnya jelas. Meski secara tekstual kita paham semua kata dalam kalimat itu (memang-gila-dia), secara kontekstual kita masih buta. Dengan kata lain, dalam hal ini, kita ‘dapat’ teksnya, tetapi tidak konteksnya.
Dan dalam hal ini, yang paling membutuhkan ‘pengenalan kontekstual’ dalam kalimat tersebut adalah kata ‘gila’, yang bisa saja berarti macam-macam seperti: ‘sakit ingatan’ (makna harfiah), ‘bodoh sekali’ (membuat kesalahan serius yang notabene sangat tidak perlu), atau justru ‘hebat’ (misalnya baru saja melakukan sesuatu yang ‘wow’, gitu).
Jadi sekali lagi, apakah pengertian kalimat di atas merupakan pernyataan akan sebuah ‘fakta’ atau ungkapan ‘kekesalan’ (atau justru ‘kekaguman’), sangat tergantung kepada konteksnya.
Pemahaman tekstual yang tidak disertai dengan pemahaman kontekstual yang memadai tidak saja akan membingungkan, tetapi bahkan bisa berbahaya—karena dapat menyesatkan (membuat merasa sudah paham betul, padahal sesungguhnya justru keliru sama sekali).
*****
—KK—