ngabuburit

– istilah Sunda –

Dari bahasa Sunda yang berarti ‘menunggu [datangnya] petang’, dalam perkembangannya ngabuburit menjadi sebuah istilah dengan makna kurang-lebih:

kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyongsong datangnya waktu berbuka puasa (yaitu saat azan/bedug magrib)

Pengertian tersebut mempunyai beberapa konotasi :

  • ‘Menyongsong’ berarti menjelang, jadi logisnya ngabuburit tidak dilakukan terlalu awal (seperti siang hari). Lazimnya, waktunya dimulai setelah masuk waktu ashar.
  • Karena ‘menunggu waktu berbuka’, akan menjadi sedikit ganjil untuk mengaku ngabuburit jika kita sendiri tidak [sedang] berpuasa—meski tetap saja bisa ikut meramaikan suasana ngabuburitnya (bersama mereka yang sedang berpuasa).
  • ‘Kegiatan’ menyiratkan aktivitas—meski tidak harus berarti yang produktif (seperti sekadar nongkrong melihat orang lewat atau berputar-putar naik motor tanpa tujuan jelas). Jadi kegiatan yang terlalu pasif (seperti tidur) jelas tidak termasuk ngabuburit.
  • ‘Dalam rangka’ menyiratkan niat. Jadi meski kita berputar-putar keliling kota sepanjang sore akan tetapi jika motifnya adalah menjalankan tugas (sebagai pengantar barang, misalnya) berarti kita tidak sedang ber-ngabuburit ria.

Sulit dipungkiri, meski panjang (sepuluh huruf yang terpenggal dalam empat sukukata bukan sebuah kata yang pendek), ‘ngabuburit’ sungguh enak diucap sedap didengar (mungkin bahkan terkesan asyik dan jenaka). Sepertinya, kata ini sudah menjadi sebuah fenomena sosial.

Pertama, penyebarannya yang demikian cepat meluas (peran media—terutama mungkin televisi, rasanya perlu dicatat di sini). ‘Ngabuburit’ sudah bukan lagi melulu milik orang Sunda, tetapi sudah menjadi milik semua orang—Indonesia.

Kedua, meski bisa dilakukan sendirian (belajar di kamar, misalnya), dalam perkembangannya ‘ngabuburit’ cenderung lebih ditujukan untuk aktivitas kolektif yang dilakukan di luar rumah. Ada nilai sosial di sini—bak ujian akhir menjelang berbuka, bagaimana dalam kebersamaan (dengan teman/keluarga) kita mampu menahan diri dari melakukan perbuatan negatif.

Ketiga, kata ini adalah [secuil] bukti sahih kesaktian (budaya) Nusantara. Di tengah semakin termarjinalkannya bahasa-bahasa Nusantara dan semakin merajalelanya penggunaan kata-kata asing (meski ada padanan Indonesia-nya), ternyata ada kata daerah yang menyodok perkasa dan diterima oleh generasi muda. Ini membesarkan hati—paling tidak dari aspek jatidiri kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya (termasuk bahasa).

Jadi mungkin tantangannya sekarang adalah menemukan (dan berani coba menggunakan) kata-kata dari Sabang sampai Merauke yang berpeluang menjadi ‘ngabuburit-ngabuburit’ lain, agar kita semakin nikmat dalam berbahasa. Seperti nikmatnya orang berbuka puasa.

Cari, yuk!

*****

(Lihat juga, ‘berbahasa satu‘)
————————————

—KK—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s