teks – konteks

Meski berkaitan erat dan wajah lumayan mirip, pengertian teks (text) dan konteks (context) sangatlah berbeda. Kedua-duanya kita perlukan dalam membentuk pemahaman. Contoh:

“Memang gila, dia!”

Kita nggak ngerti kata-kata itu maksudnya gimana. Sebabnya jelas. Meski secara tekstual kita paham semua kata dalam kalimat itu (memang-gila-dia), secara kontekstual kita masih buta. Dengan kata lain, dalam hal ini, kita ‘dapat’ teksnya, tetapi tidak konteksnya.

Jika teks adalah ‘sosok’ (huruf, frasa, paragraf, tanda baca dan sebagainya), maka konteks adalah ‘semesta kecil’-nya (di mana sosok tersebut singgah dan jadi punya arti).

Dan dalam hal ini.. (lanjutannya)

poligami – poligini – poliandri

– istilah sosial –

Poligami (polygamy) adalah perkawinan yang terdiri lebih dari sepasang suami-istri. Artinya, poligami bisa berupa poligini (polygyny)—satu laki-laki dengan lebih dari satu istri, atau yang sebaliknya, poliandri (polyandry)—satu wanita dengan lebih dari satu suami.

Jadi jika si A yang sudah beristri menikah lagi, di sini yang berpoligami bukan si A saja, akan tetapi juga masing-masing (baca: semua) istrinya.

Secara kultur—pada banyak kelompok masyarakat zaman dahulu, salah satu motif utama poligini adalah penegasan akan status sosial. Jadi relatif ‘tabu’ bagi seorang pemimpin (entah itu kepala suku Indian, kaisar China atau seorang raja di Eropa) untuk hanya beristri satu. Dan adalah sebuah kebanggaan bagi sang wanita (juga keluarganya) untuk masuk dalam lingkaran poligami seperti ini (baik sebagai permaisuri, selir, dayang atau bahkan istri keduapuluhtujuh) karena itu berarti yang bersangkutan masuk ke dalam lingkungan ‘bukan orang sembarangan’.

Poliandri jauh lebih jarang. Konon, dulu sekali, salah satu penyebabnya adalah kondisi alam yang sangat tidak kondusif. Bagi kelompok masyarakat yang hidup dengan natural resources (sumber daya alam) yang sangat terbatas, soal ‘makan apa hari ini’ adalah urusan pelik. Lalu orang berpoliandri, karena cara ini dianggap efektif dalam menekan angka kelahiran (jumlah mulut yang harus diberi makan). Jadi maksudnya semacam trik KB (Keluarga Berencana), gitu.

*****

—KK—

canggih – modern

– istilah rancu –

Mungkin karena sama-sama dianggap ‘Wow!’, orang sering kacau antara canggih dan modern.

Wah, HP-mu canggih sekali!”
“Di zaman canggih ini, laptop mudah dijumpai di mana-mana.”

Nggak ada soal dengan kalimat yang pertama, kalau memang maksudnya mau bilang bahwa HP orang yang diajak bicara bisa lebih ‘macem-macem’ (punya jauh lebih banyak features) daripada HP si pembicara (yang cuma bisa untuk nelpon dan SMS doang, misalnya).

Tapi untuk kalimat yang kedua, bisa jadi si pembicara agak rancu dengan arti canggih sehingga kalimatnya jadi seperti itu. Mungkin yang dimaksudkannya adalah ‘zaman modern’.

Modern dan canggih bukanlah sinonim. Modern (Inggris=modern) berarti ‘masa kini’ (bukan zaman dahulu, tidak ketinggalan zaman). Sedangkan padanan canggih dalam bahasa Inggris adalah sophisticated—berarti ‘memiliki tingkat kerumitan yang tinggi’ (mampu mengatasi, memikirkan, melakukan, atau menyadari akan hal yang kompleks atau tidak sederhana).

Modern berkaitan dengan waktu, sedangkan canggih dengan kapasitas.

Jadi Leonardo Da Vinci.. (lanjutannya)