episentrum – hiposentrum

– istilah seismologi –

Praktis semua orang tahu episentrum adalah istilah untuk pusat gempa. Istilah ini pernah lumayan populer sehingga kita dapati beberapa kali seorang pembicara di TV berucap “Jadi episentrum permasalahan ini..” saat membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan gempa sama sekali (kita tidak tahu persis mengapa ybs tidak menggunakan kata ‘pokok’ atau ‘pangkal permasalahan’ saja).

eh-episToh rasanya tidak ada salahnya sedikit menggali lebih jauh tentang istilah ini, paling tidak agar kita tidak terjebak dalam penggunaan yang tidak-tidak. Pada gambar pertama (dilihat dari atas), lingkaran adalah radius gempa, sedangkan titik-E (yang terlihat agak seperti huruf G itu) adalah episentrum (epicenter/epicentre)—pusat atau titik gempa di permukaan bumi (area di mana kerusakan biasanya paling parah terjadi).

eh-hiposGambar kedua adalah penampang (seolah lapisan bumi kita iris sehingga bisa dilihat dari samping). Titik-E adalah titik yang sama dengan gambar sebelumnya, sedangkan titik-H (yang ada di bawah) adalah hiposentrum (hypocenter/hypocentre)—pusat gempa yang ada di dalam bumi. Inilah pusat gempa sebenarnya, titik di mana gempa sesungguhnya berasal.

*****

—KK—

republik pisang

– istilah politik –

Pertama kali mengenal istilah ‘republik pisang’ (banana republic) sudah lama sekali—kalau tak salah ketika masih kelas satu SMP, dari sebuah cergam (cerita bergambar) asing untuk anak remaja. Dan terus terang, pengertian pertama yang terbentuk di kepala kala itu (setelah agak lama berpusing-pusing sendiri) adalah: sebuah negara (republik) yang penghasilan utamanya didapat dari jualan pisang.

Naif, memang. Tapi kebetulan ternyata tidak ngawur-ngawur amat.

Istilah politik ini (yang pernah disematkan kepada beberapa negara Amerika Latin tertentu ini) mengandung beberapa pengertian, seperti: negara yang berbagai kebijakan pentingnya ditentukan oleh segelintir orang di kalangan elit, dan negara yang penghasilan utamanya didapat dari menjual hasil bumi yang tidak terlalu menentukan (misalnya ya itu tadi, pisang).

Pengertian itu mempunyai beberapa konotasi.

Sebuah negara yang secara politik tidak stabil atau kerap bergejolak (sering ada perlawanan di kalangan rakyat atau intrik di kalangan elit). Secara ekonomi pas-pasan (atau bahkan lemah) dan dalam percaturan politik dunia cenderung tidak dianggap penting—produknya tidak mempunyai nilai strategis (seperti minyak, industri telekomunikasi atau peralatan perang). Orang-orangnya secara umum dianggap tidak kreatif (bisanya hanya memetik hasil bumi).

Dengan kata lain, sebuah istilah yang mempunyai pengertian negatif (merendahkan).

Jadi jika berkenalan dengan seseorang (dari negeri seberang), sebaiknya kita tidak mengatakan ini: “Oh dari sana, ya? Sebuah republik pisang!” Jangan. Karena memang tidak seorang pun akan suka jika negaranya dikatai sebagai republik pisang.

*****

—KK—

ceteris paribus

– istilah ekonomi –

Istilah Latin yang lazim dalam ilmu ekonomi (economics) ini berarti: jika hal-hal lain tetap (other things being equal, kalau dalam bahasa Inggris). Misalnya pernyataan berikut ini.

“Jika harga turun, permintaan (akan) naik/bertambah”

Misalkan saja harga tiket pesawat terbang secara umum turun (mungkin karena ditemukannya jenis bahan bakar pesawat atau teknologi baru yang membuat biaya operasional pesawat menjadi lebih murah), bisa diperkirakan bahwa permintaan (demand) terhadap tiket pesawat bakal naik (sebagian dari mereka yang biasa bepergian dengan bus, kereta api atau kapal laut akan beralih ke pesawat). Ini sama saja dengan mengatakan:

“Jika harga naik, permintaan (akan) turun”

Jelas, sangat bisa dimengerti. Akan tetapi sesungguhnya kedua pernyataan itu tidak lengkap. Versi lengkapnya adalah.. (lanjutannya)

menunggu Godot

– istilah sosial / politik –

Istilah ‘menunggu Godot’ berasal dari judul (naskah) drama dua babak karya Samuel Beckett. Mahakarya berupa drama absurd yang hanya menampilkan lima aktor itu berkisah tentang Estragon dan Vladimir yang sedang menantikan kedatangan Godot—sosok yang mewakili gagasan sentral yang notabene justru tidak pernah muncul sepanjang cerita.

Sebagai sebuah ungkapan umum, menunggu Godot kemudian diartikan sebagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Secara konotatif, ini bisa berarti sebuah kesia-siaan atau bisa juga ketidakmampuan (yang keterlaluan) dalam membaca situasi atau gelagat. Dengan kata lain: sebuah penantian konyol.

Ungkapan ini pernah sangat populer di Indonesia semasa Presiden Soeharto.. (lanjutannya)