advocatus diaboli

– istilah peran / tehnik pendekatan –

Dalam sebuah rapat warga, dorongannya kuat sekali untuk membuat sepetak tanah kosong menjadi sebuah taman agar lingkungan menjadi lebih asri. Beberapa warga bahkan antusias untuk ekstra menyumbang ayunan dan rangka besi (untuk panjatan) agar anak-anak bisa pula bermain di sana. Kita termasuk yang sangat sepakat dengan gagasan itu. Tetapi saat akhirnya Pak Lurah minta yang setuju agar mengangkat tangan, kita tidak melakukannya. Kita sedang menjalankan peran sebagai advocatus diaboli. ‘Pembela iblis’.

Kalau dialihbahasakan secara kata per kata, memang akan seperti itu jadinya: ‘pembela iblis’. Mengerikan sekali.. (lanjutannya)

Iklan

marcophily = marcophilately

Lumayan. Gara-gara main ke sebuah blog (beberapa menit yang lalu), jadi dapat istilah baru: marcophily atau marcophilately. Dari penampilannya mudah ditebak, ini adalah salah satu ‘cabang’ dari philately. Filateli? Istilah untuk hobi mengumpulkan perangko itu?

Klarifikasi dulu: filateli bukanlah sekadar mengumpulkan perangko, tapi—dalam artinya yang luas, sebuah studi tentang tanda tera (perangko, meterai dsb) atau sejarah pos dan segala hal yang berkaitan dengan itu (mengumpulkan perangko hanya salah satu aspek di antaranya). Apa saja yang [bisa] dipelajari dalam filateli? Banyak sekali. Mari, silakan hafalkan sendiri di sini.

Jadi jelas, seorang filatelis (orang yang berkecimpung dalam dunia filateli) tidak berarti harus punya koleksi perangko (arti ‘filateli’ jauh lebih luas daripada ‘mengumpulkan perangko’).

MI desa selesaiLalu yang menjadi fokus dari marcophily? Cap pos. Beda dengan perangko atau meterai, cap pos tidak bisa dikoleksi secara fisik, kecuali bersama [robekan] amplop atau kartu posnya.

Satu hal, marcophily sebenarnya juga bisa kita manfaatkan untuk hal-hal di luar filateli. Gambar di sebelah itu, misalnya (‘Selesai’ adalah nama sebuah kecamatan di Sumatra Utara). Jika di sekolah kita sesekali bermain-main sebentar dengan cap pos (terutama yang namanya lucu-lucu), bukankah pelajaran ilmu bumi bisa jadi lebih menyenangkan?

*****

(revisi, 7 Juni 2014)
———————————
Catatan: marcophily dulu sempat dikenal pula dengan istilah commatology
Referensi: linns & wikipedia
Gambar: marcophilyindonesia

—KK—

vital – fatal

Kadang orang masih rancu dengan arti atau perbedaan antara vital dan fatal. Ini dia:

vital – penting [bagi kehidupan]
fatal – berakibat maut

Misalnya,

Air vital bagi kehidupan.
Kecelakaan itu berakibat fatal.

Jelas, tanpa air, kehidupan (kalau memang ada) tidak akan bisa berlangsung lama. Sedangkan kecelakaan fatal artinya kecelakaan yang merenggut korban jiwa (mengakibatkan kematian).

Yang berikut ini mungkin agak membingungkan.. (lanjutannya)

vivere pericoloso

– istilah politik –

Arti vivere pericoloso (dari bahasa Italia) kurang lebih: hidup di tengah bahaya. Konon istilah ini awalnya berasal dari yel ‘Vivere Pericolosamente’ oleh Benito Mussolini sebagai slogan kaum Fasis , yang kemudian oleh Bung Karno dijadikan judul Pidato Kenegaraan tahun 1964 (‘Tahun Vivere Pericoloso’).

Entah kebetulan atau tidak, istilah politik ini selain cukup mewakili situasi Indonesia saat itu, juga lumayan merepresentasikan keadaan (posisi) Soekarno sendiri selaku presiden.

Internal, Indonesia sedang deras didera friksi antar kelompok (misalnya antara AD dan PKI), belum lagi masalah ekonomi. Eksternal, Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia (yang disuport oleh Inggris dan lalu Australia)—saat-saat munculnya istilah ‘Ganyang Malaysia’.

Sebagai presiden.. (lanjutannya)

konsep

Sebagaimana banyak ‘kata abstrak’ lain, pengertian atau arti konsep (concept) bisa aplikatif untuk berbagai situasi/hal—sesuai konteksnya. Misalnya dalam beberapa ungkapan berikut:

“Griya Anu – Hunian yang Berkonsep Alam” (bunyi sebuah iklan)
“Sebuah organisasi butuh konsep yang jelas”
“Buka kafe tidak cukup cuma jual menu, tapi konsep!”

Yang pertama sepertinya iklan tersebut ingin mengatakan bahwa punya rumah di sana bagai ‘tinggal di alam’ (bersuasana asri serba hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kota dst).

Yang kedua adalah pernyataan umum bahwa sebuah organisasi haruslah memiliki misi-visi yang jelas (apa yang ingin dicapai dengan keberadaan organisasi itu, fokus dan prioritasnya, sistem keanggotaan dll)—termasuk hal-hal teknis turunannya seperti rencana kerja dsb.

Yang terakhir adalah tentang ‘karakter’. Mereka yang menggeluti usaha kafe (terutama yang berbasis komunitas) tahu persis bahwa adalah bunuh diri mendirikan tempat hangout jika hanya jualan menu—dan bahwa tempat dengan konsep (karakter) kuat punya peluang lebih untuk survive terhadap gempuran para ‘pemain’ (pesaing) baru.

Jadi pengertiannya bisa sangat kaya (beragam). Akan tetapi sebagai sebuah pengertian umum yang mendasar, konsep adalah ide atau gagasan. Meski perlu dipahami bahwa kedua istilah ini (konsep di satu pihak dan ide/gagasan di pihak lain) tidak selalu bisa saling menggantikan.

“Eh, aku punya ide, nih! Nonton, yuk!”

Jelas, kita tidak bisa menggunakan ‘konsep’ di situ. Kata konsep mewakili sebuah pemahaman tentang ide/gagasan yang lebih kompleks (lihat ketiga contoh sebelumnya).

Dan agar pemahaman lebih.. (lanjutannya)

serendipity

– istilah langka –

Awal 2006, saat baru merintis sebuah kedai kopi, seorang teman bertanya arti serendipity. Baru ingat, kalau lupa. Entah kapan pertama kali bersua dengan kata ini. Sudah lama sekali.

Menjelaskan serendipity (sebuah istilah Inggris) dengan pendekatan sinonim sama muskilnya dengan menterjemahkan istilah ‘karma’ (Sanskerta), ‘feng shui’ (China), ‘ngabuburit’ (Sunda), ‘karaoke’ (Jepang), ‘chutzpah’ (Ibrani), ‘Zugzwang’ (Jerman), atau ‘merkéngkong’ (Jawa). Dan yang menjadi sebabnya adalah: semua istilah itu mewakili suatu pengertian yang padanannya sulit ditemukan dalam bahasa lain (catatan: semua kata tersebut, kecuali ngabuburitmerkéngkong, sudah diakui sebagai kosakata Inggris—tapi baiklah kita tidak usah bahas soal itu).

Tapi untuk mudahnya.. (lanjutannya)

ywis

Ketemu kata ini gara-gara main scrabble. Kaget juga waktu itu. Bukan apa-apa, pola konsonan awalnya tidak begitu lazim untuk bahasa Inggris. Tapi terus terang, mungkin karena sempat lama tinggal di Salatiga dan Semarang (Jawa Tengah), yang langsung terbayang saat melihatnya untuk pertama kalinya adalah ungkapan ‘Ya wis..!’ yang kalau dalam bahasa Jawa bermakna mengiyakan atau mengalah.

Dalam bahasa Inggris lama (adverb atau kata keterangan ini sekarang sudah nyaris dilupakan orang), pengertian atau arti ywis yang merupakan sinonim dari iwis ini adalah: most likely – certainly – assuredly – truly – probably. Atau kalau dalam bahasa Indonesia kurang lebih: tentu saja – tentunya – pasti – pastinya – sudah barang tentu – rasa-rasanya.

*****

———————————

NB:
Main scrabble bahasa Inggris dan butuh stok kata-kata aneh? Lihat (puisi) Scrabble Head

—KK—

juggernaut

Mungkin ini cuma soal selera, tapi sebagai penggemar komik, dari kecil aku tak pernah suka superhero (atau supervillain) ‘dari sono’. Sejarah jadi saktinya rutin (terutama tokoh Marvel): ada kecelakaan radioaktif lalu ‘jrèng..!’, lahir jagoan baru. Cerita ketebak (tidak menegangkan). Kostumnya suka konyol (ngapain juga, coba?). Dan pengarang komiknya suka tidak menghargai pembacanya sendiri: kenapa Magneto tidak bikin helm satu lagi lalu taruh di kepala Xavier? (Beres, kan?) Atau, kok setiap kali si wartawan lugu buka baju dan lepas kacamata, tiba-tiba orang jadi tidak tahu kalau dia Clark Kent? Dan masih sederet alasan lagi.. Sungguh, sebagai anak kecil (waktu itu), hal-hal seperti ini sering membuat aku merasa diremehkan.

Tapi mungkin yang paling bikin males (saking tidak menariknya) adalah soal pemberian nama. Kadang terlalu dicari-cari alias maksa abis (Sabretooth, Phoenix). Kadang sangat tidak kreatif (Superman-Superwoman-Superboy-Supergirl—dan sumpah, Superdog). Sampai yang kesannya benar-benar seperti sedang kehabisan ide (Captain America, Professor X, Mister Fantastic).

juggernaut_spray (gamebanana_com)Toh dari seabrek nama ‘superpayah’ itu ada satu yang langsung membuat aku tertarik: Juggernaut. Bukan soal karakternya (yang kuatnya luar biasa tapi—maaf, kesannya tidak begitu punya otak itu), tapi namanya itu lho. Nama-nama model Batman, The Flash, Storm, Iceman dll artinya jelas dengan sendirinya. Tapi Juggernaut? Berasal dari kata apa nama yang kesannya benar-benar terdengar jelek dan seperti sebuah berita buruk ini? (Bandingkan dengan nama Wonder Woman atau Sandman yang sama sekali tidak menggugah rasa ingin tahu itu).

*****

Ada yang pernah dengar ‘Sang Hyang Jagad Nata’?.. (Lanjutannya)

merkéngkong

– istilah Jawa –

Dulu, saat harga bensin seliter masih seratus limapuluh rupiah hingga seribu perak, di rumah ada sebuah mobil. Karena kami hampir bersepuluh (orang dulu umum punya banyak anak), jadilah mantan taksi itu kendaraan superhandal yang melayani kebutuhan dari sekolah, kerja, main, belanja hingga kondangan—dari pagi hingga malam. Jadi ke mana saja pahlawan butut itu esok akan menjajah Jakarta dan siapa saja yang beruntung selalu sudah fixed sebelumnya (dengan anggukan orangtua, pasti). Nah, jika mendapati kami para anak kurang taktis dalam menyiasati rute/waktu/hajat, Ibu akan bilang: “Jadi orang kok merkéngkong!” (ini teguran, tapi karena caranya yang khas, kami selalu ngakak setiap kali mendengar beliau mengucapkan itu).

Maksudnya jelas: rencana asal-asalan akan membuat jarak tempuh, waktu, tenaga dan biaya membengkak—kalang-kabut tapi dengan manfaat (destinasi) lebih sedikit. Dan semua itu akan teratasi jika saja semua mau secara bersama membuat rencana yang lebih sehat (termasuk siapa saja yang harus berbesar hati mengalah menggunakan angkutan umum, misalnya).

*****

Jauh di kemudian hari.. (lanjutannya)

anagram

– permainan kata –

Anagram adalah sejenis permainan kata di mana huruf-huruf yang ada kita acak (atur ulang) sedemikian rupa sehingga membentuk kata(-kata) baru. Misal,

pulas – pulsa – aplus – sulap – palsu

Tidak semua kata mudah atau bahkan bisa dianagramkan. Kata-kata yang terlalu pendek, yang perimbangan vokal-konsonannya terlalu timpang, atau yang mengandung ‘huruf sulit‘, pada umumnya bukan merupakan kata-kata yang ideal untuk dianagramkan. Contoh,

faks – atau – qari

Adanya huruf kembar juga bisa menyulitkan (membuat susunannya menjadi tidak fleksibel), misalnya kedua kalimat yang hanya terdiri dari tiga vokal dan satu konsonan berikut ini,

“Kak Kiki, aku kikuk!”
“Ki U’uk, kuku kakiku kaku.”

Secara umum, anagram yang baik adalah anagram yang makna jadiannya bisa dikaitkan dengan makna/sosok aslinya (sebagai pujian, kelakar, kritik, sinonim, antonim dsb). Contoh,

Kawasaki – KA Waisak
lunpia Semarang – gilaan sempurna

Pada contoh di atas, dari segi ‘aturan main’ keduanya sah 100% sebagai anagram. Tetapi yang pertama jelas sulit dikatakan baik sebab selain hubungan yang kabur (antara kata asli dan kata jadiannya), pengertian ‘kereta api Waisak’ itu sendiri sangat tidak jelas. Sedangkan yang kedua lebih bagus—’lunpia Semarang’ terkenal banyak disuka (‘digilai’) orang, jadi ‘gilaan sempurna’ bolehlah dianggap sebagai kelakar sekaligus pujian terhadap kuliner [kota/warga] Semarang.

*****

Selain untuk kata atau istilah.. (lanjutannya)