merkéngkong

– istilah Jawa –

Dulu, saat harga bensin seliter masih seratus limapuluh rupiah hingga seribu perak, di rumah ada sebuah mobil. Karena kami hampir bersepuluh (orang dulu umum punya banyak anak), jadilah mantan taksi itu kendaraan superhandal yang melayani kebutuhan dari sekolah, kerja, main, belanja hingga kondangan—dari pagi hingga malam. Jadi ke mana saja pahlawan butut itu esok akan menjajah Jakarta dan siapa saja yang beruntung selalu sudah fixed sebelumnya (dengan anggukan orangtua, pasti). Nah, jika mendapati kami para anak kurang taktis dalam menyiasati rute/waktu/hajat, Ibu akan bilang: “Jadi orang kok merkéngkong!” (ini teguran, tapi karena caranya yang khas, kami selalu ngakak setiap kali mendengar beliau mengucapkan itu).

Maksudnya jelas: rencana asal-asalan akan membuat jarak tempuh, waktu, tenaga dan biaya membengkak—kalang-kabut tapi dengan manfaat (destinasi) lebih sedikit. Dan semua itu akan teratasi jika saja semua mau secara bersama membuat rencana yang lebih sehat (termasuk siapa saja yang harus berbesar hati mengalah menggunakan angkutan umum, misalnya).

*****

Jauh di kemudian hari. Ada pohon peneduh jalan yang tumbuhnya terlalu menjorok ke trotoar sehingga mengganggu pejalan kaki, dikatai sebagai ‘pohon yang merkéngkong’. Ada orang yang parkirnya tanggung (mungkin SIM-nya beli, ehm!) sehingga yang harusnya lima mobil masuk jadi hanya muat empat, misalnya, juga dibilang ‘parkirnya merkéngkong’.

*****

Aneh juga istilah Jawa Tengah satu ini. Ada dua arti merkéngkong yang bertentangan satu sama lain: yang satu berkonotasi kebanyakan (yang berdampak merugikan), sedangkan yang satu lagi justru berkonotasi kurang (yang dampaknya mengganggu alias sama saja). Bagaimana sebuah kata bisa mewakili dua pengertian yang berlawanan (antonim) sekaligus seperti ini?

Memang membingungkan, kalau kita terpaku pada terapannya yang mewakili dua situasi yang berbeda (si mobil heroik di satu pihak dan pohon/mobil parkir di pihak lain). Tetapi kalau kita cermati, maka akan tampak bahwa pada hakikatnya keduanya mempunyai esensi yang sama:

Sesuatu yang hanya cari repot/susah sendiri yang semestinya tidak perlu terjadi
kalau saja di awal kita mau sedikit lebih periksa atau bijak.

Yang parkir sembarangan seharusnya mahfum bahwa tindakannya selain akan menyusahkan orang lain—pengendara lain ada yang terampas hak parkirnya, tukang parkir jadi berkurang perhasilan, atau mereka yang sekadar mau melintas jadi terganggu (karena posisi mobil yang terlalu ‘keluar’), juga bisa cari masalah sendiri (terlibat konflik tak perlu dengan orang lain).

Pohon yang terlalu ke trotoar (yang jelas mengganggu) pagi-pagi bisa diantisipasi kalau saja saat menanam dulu orang mau sedikit lebih berhitung bagaimana jika pohon itu besar nanti.

Dan ini klop dengan teguran ibu dulu itu: sedikit lebih berhitung di depan (dan mungkin juga koordinasi dengan pihak lain) akan membuat banyak hal jadi lebih mudah dan menyenangkan.

*****

————————————

Catatan:
Istilah merkéngkong lazim dikenakan kepada hal yang bisa cukup dinalar dengan akal sehat (mampu dipahami semua orang) serta yang mengandung resiko/kerugian kecil hingga sedang (bukan yang sangat serius atau apalagi fatal). Jadi ‘wujud kekhilafan’ untuk soal yang memang sulit bukan merkéngkong. Begitu pula pohon yang terlalu menjorok ke jalan di tikungan (bisa mengagetkan hingga rawan kecelakaan) juga bukan merkéngkong tapi nyamari (berbahaya).

NB:
Terima kasih kepada Ubaidi atas inputnya.

—KK—

3 thoughts on “merkéngkong

  1. ooo… markengkong itu istilah jawa yang umum? kirain dulu ibu saya yang aneh-aneh bikin istilah sendiri.. soalnya dulu si markengkong ini kebanyakan nongol ketika beliau ngomelin kami anak-anaknya… hehe.. (atau ini istilah yang biasa dipakai ibu-ibu?.. )

    He..he.. umum nggak umum. Umum, dalam arti tidak terbatas untuk kalangan tertentu saja (termasuk ibu-ibu😀 ). Nggak umum, soalnya orang dulu aja relatif banyak yang agak gelagepan kalau ditanya artinya (saya termasuk yang lambat).

    • Tks jadi inget masa kecil. Merkengkong adalah kata yang artinya bisa kontekstual. Menurut saya merkengkong bisa juga berarti tanggung, solusi tidak efektif, dilema.

      Sama-sama, terima kasih tambahannya. Memang repot mengurai pengertiannya. Lama juga tak mendengar kata ini diucap orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s