hardware – software

Sekarang praktis semua orang tahu istilah hardware-software. Tapi sungguh, ada masa ketika menjelaskan kedua kata ini demikian sulit (lihat tulisan sebelumnya: ‘komputer cap jangkrik‘). Penyebabnya ada beberapa faktor, tapi yang utama mungkin dua yang berikut ini.

Masih banyak orang yang belum pernah melihat komputer (kecuali mungkin di TV atau film). Jadi sedikit mirip dengan menjelaskan arti hardware-software kepada orang suku pedalaman.

Faktor lain yang membuat segalanya jadi lebih sulit adalah, persepsi para penanya itu sendiri rata-rata sudah terkacaukan oleh pemahaman yang keliru akan padanan Indonesianya yang sering muncul di koran-koran: ‘perangkat keras – perangkat lunak’.

Kata hardware biasanya tidak jadi soal, tapi tidak terlalu mudah menjelaskan istilah software kepada mereka yang terlanjur meyakininya sebagai segala sesuatu ‘yang empuk-empuk’.

*****

Toh setelah beberapa waktu, akhirnya ketemu juga triknya yaitu: jangan gunakan pendekatan definisi atau pengertian teknis, tapi dekati dengan bahasa yang dimengerti orang kebanyakan.

Dalam menjelaskan sesuatu yang mendasar kita harus fokus kepada yang prinsip-prinsip saja, dan menahan diri dari memberikan penjelasan yang terlalu kompleks.

Sebuah tanya jawab butuh rasa saling percaya. Tidak saja dari si penanya kepada yang ditanya, tetapi juga sebaliknya. Artinya, kita (yang menjelaskan) mesti tahu kapan harus berhenti, dan membiarkan si penanya maju dengan kecepatannya sendiri.

Tipikal dialognya kurang-lebih seperti ini:

Hardware-software itu sebenarnya apa sih? Perangkat keras-perangkat lunak?”
“Lupakan keras-lunaknya, tapi: hardware itu yang fisik, software non-fisik.”

Di sini si penanya biasanya agak tercekat. Biarkan. Orang butuh waktu (meski barang sekejap) untuk membongkar dan mengganti paradigma dari ‘keras-lunak’ menjadi ‘fisik-nonfisik’.

“Fisik-nonfisik? Maksudnya?”

Pertanyaan ini adalah pertanda baik karena berarti ybs sudah mau ‘merontokkan’ pemahaman lamanya tentang ‘perangkat lunak’. Tapi ia butuh pengganti untuk mengisi ‘ruang kosong’ yang ditinggalkan oleh persepsi lamanya yang keliru tadi. Ini momentum yang ideal untuk ‘masuk’. Jangan buang waktu lagi. Tapi santai saja. Jadi jangan juga terlalu cepat.

“Hm.. begini saja. Di rumah suka nyetel kaset, kan?”
“Ya jelas, dong!”

Saat itu memang belum zamannya CD (compact disc) tapi orang masih pakai kaset (cassette) dan alat pemutar kasetnya biasa disebut dengan tape [player].

“Nah, segala macam tape, ampli (amplifier), kaset dsb itu hardware.”
“Tapi lagu yang kita dengarkan dan nikmati, itu software.”

Pada titik ini sebenarnya orang sudah mampu ‘mengunyah sendiri’, tapi agar pemahamannya lebih utuh dan ‘menelannya’ lebih nikmat, kita bisa ‘beri’ sedikit lagi.

“Jadi sebuah kaset kosong (tidak ada lagunya) itu ibarat hardware tanpa software.”

Dari pengalaman pribadi, jurus ini tidak pernah gagal membuat orang manggut-manggut.

*****

—KK—

7 thoughts on “hardware – software

    • ikut manggut-mangut dulu dimari🙂

      Terima kasih. Itu yang di atas pasti juga senang. Dari kemaren manggut-manggut sendirian soalnya. (Halo, bangkoor!)😀

    • Hoho. Salah ternyatah sayah… haha.. maap ya om😀

      Hallo juga uni Salma🙂

      Oh, ‘Uni’ to? Kalau begitu Om kutu juga keliru.
      Tak kira ysalma itu singkatan dari ‘Yu Salma’ he..he..:mrgreen:

  1. membaca penjelasan ini, berasa kalau yang nulis punya ‘jiwa’ pendidik,
    saya berbakatnya jadi murid *sebelum baca ini, pikirannya masih berisi keras-lunak untuk hardware-software🙂

    He..he.. ysalma bisa saja (sampai hidung si kutu kembang):mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s