awalan – kata depan

– istilah tata bahasa –

Jumat minggu lalu lewat tengah hari menjelang makan siang, di ponsel ada SMS masuk yang bunyinya kurang-lebih seperti ini:

“. . . pesanan sudah jadi. Nanti bisa di coba. Makasih.”

Memang, SMS praktis tidak pernah menggunakan bahasa baku, apalagi jika antar sesama orang yang sudah saling kenal. Betapapun, SMS tersebut seperti mengingatkan kembali bahwa soal awalan (prefix) dan kata depan (preposition) memang tak jarang membuat orang bingung:

mengenali yang mana yang apa, dan bagaimana menuliskannya

Kita lihat daftar kata pada kedua kolom berikut,

Prefiks
dicoba
dimaksud
keenam
tercantum
mengeras
bersepeda
Preposisi
di sekolah
di sini/situ/sana
di tempat tidur
di mana
ke Surabaya
demi kamu

Awalan atau prefiks penulisannya disambung, kata depan atau preposisi penulisannya dipisah. Jika (awalan + kata/frasa + akhiran), penulisannya disatukan.

rumah
suka
elok
sekongkol
bebas tugas
kartu merah
dirumahkan
disukai
keelokan
persekongkolan
dibebastugaskan
mengartumerahkan

Tetapi hati-hati dengan bentuk ke luar dan keluar. Yang pertama adalah lawan dari ‘ke dalam’, yang kedua lawan dari ‘masuk’.

Awalan ada berbagai macam (misalnya: me, ber, di, ke, ter, per, pe), demikian pula kata depan (misalnya: dari, ke, kepada, di, untuk). Dan dari semua awalan dan kata depan, sepertinya yang paling sering membingungkan adalah ‘di’ dan ‘ke’ karena ada bentuk di/ke yang awalan dan ada pula bentuk di/ke yang kata depan.

Jadi kita memang perlu lebih cermat dalam menuliskannya—kapan disambung, kapan dipisah.

*****

————————

NB:
Tulisan ini mencoba fokus kepada ‘pengenalan [bentuk]’, dan sengaja menghindari bahasan tentang arti atau pengertian.

Singkatan:
SMS = short message service

—KK—

4 thoughts on “awalan – kata depan

  1. Halo. Senang rasanya bisa mengunjungi balik blog Anda. Sangat inspiratif dan saya merasa banyak tulisan yang nantinya akan saya adopsi sebagai konten di blog saya.

    Untuk masalah “awalan” dan kata depan, saya sangat sering menjumpainya. Kebetulan di rumah saya membuka jasa pengetikan. Seringkali saya menerima naskah makalah, skripsi, atau tulisan ilmiah semacamnya untuk diketikkan. Tak jarang pula saya menemukan penggunaan awalan dan kata depan yang tertukar. Untungnya saya tahu sedikit soal awalan dan kata depan, jadi saya bisa melakukan koreksi seperlunya hehe….

    Halo Khadis, senang kalau blog ini ada gunanya. Terima kasih.🙂 Soal prefiks dan preposisi memang agak lucu. Mungkin karena dengan salah tulis pun pesannya sampai, orang cenderung tidak terlalu mempermasalahkannya, lalu jadi langgeng.

    Sukses untuk jasa pengetikannya.

    • Hello again,
      Sepertinya demikian. Apalagi di Indonesia, salah kaprah sering jadi lumrah hehe…. Apalagi, ketepatan penggunaan bahasa (diksi, EYD, gramatikal, dst.) sepertinya “hanya” harus benar-benar tepat pada bahasa tulis saja. Sementara, banyak di antara kita yang belum terbiasa dengan bahasa tulis alias masih lebih suka ngomong😀

      Soal karakter, sebagian kultur memang meski lumayan gamang atau alergi diskusi tapi suka ngobrol, termasuk pada jam kerja(!) Ha.. ha..

      Hakikat bahasa adalah ‘gagasannya dimengerti’ (baru soal yang lain seperti situasi, cara penyampaian dsb). Ini berlaku universal baik lisan, tulisan ataupun ‘bahasa Tarsan’.😀

    • Begitulah😀
      Tapi memang sih, dalam komunikasi mah yang penting gagasan tersampaikan. Sudah.😀

      Lho, kasih komennya pas setengah main, ya (Portugal-Ghana)? Sama kalau begitu, reply-nya juga he..he.. Dari awal Khadis benar, kok. Saya sengaja sisipkan soal prinsip bahasa agar pengunjung lain tak salah paham menyangka blog ala obrolan kedai kopi ini hanya mau bahasa yang baku (lha wong nulisnya masih ‘mbuat’ dan ‘temen’ gitu).

      Belum juga nggak apa. Masih banyak kapling (posting) kosong. Terima kasih atas atensi tulusnya, dan sudah berkenan komen.

      Stop press: baru saja gol, SATU SAMA!!😀

  2. Terima kasih dengan tulisan tentang prefiks dan preposisi ini. Moga-moga saya akan bisa menerapkannya. Dalam bahasa Inggris ada perkataan’ ‘It is hard to teach an old dog new tricks’🙂

    Sama-sama, Lois. Preposisi dalam bahasa Indonesia relatif longgar, tidak seketat Inggris yang punya banyak ekspresi two/three-word verbs/nouns seperti [to look at/for/after] yang beda arti, atau soal on/in seperti di [on behalf of, in lieu of] dsb.

    One good thing about ol’ dogs is, [at least] they bark the same language.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s