mutually exclusive

– istilah logika –

Di menu sebuah restoran, kita melihat ada: rawon, soto, tahu goreng, teh manis, jus buah dll. kita bisa minta [kombinasi] apa saja yang tertera di sana—dan lazimnya orang memang minta lebih dari satu item menu sekali pesan (seperti soto, teh dan tahu sekaligus).

Tapi tentu saja dalam keseharian tidak selalu sifat situasinya seperti itu. Misalnya ada ‘menu’ yang jika memilih satu di antaranya, dengan sendirinya harus melupakan yang lain sisanya.

Jika di depan ada persimpangan: ambil kiri atau kanan? Atau saat lempar koin: pilih muka atau belakang? Jelas, kalau belok ke kiri, berarti kita tidak ke kanan (dan demikian pula sebaliknya). Kasus lempar koin serupa: ‘muka’ dan ‘belakang’ tidak bisa terjadi secara bersamaan.

Dalam matematika atau ilmu logika, ‘menu’ seperti ini disebut dengan perkara-perkara yang mutually exclusive—yang berarti ‘saling meniadakan‘.

*****

Selain hal-hal yang memang dengan sendirinya bersifat seperti itu, sebagai sebuah konsep mutually exclusive bisa pula dikondisikan (membuat hal-hal yang tidak mutually exclusive menjadi mutually exclusive). Misalnya karena motif penggemblengan atau pembiasaan.

Ketika kecil dulu, meski untuk baju kami para anak biasa dijahitkan sendiri, sesekali ada juga ibu mengajak ke toko untuk beli jadi. Setelah memilih beberapa potong yang dianggap sesuai (termasuk soal harga), ibu lalu memberi waktu sebentar kepada si anak untuk memilih satu(!) (Sungguh, kalau mau, beliau bisa saja pergi sendirian dan pulang bawa baju baru).

Yang ini lebih kompleks. Misalnya ada sebuah keluarga yang tinggal di Semarang (Jawa Tengah) dengan dua anak yang menginjak remaja dan minggu depan ada ‘Jumat merah’ (long weekend). Alih-alih mengajak, orangtua bisa coba lebih menstimulasi kedua buah hati dengan bertanya: “Enaknya minggu depan kita liburan ke Jakarta atau ke Bali, ya?”—mungkin sembari menyebut satu-dua ‘kelebihan’ dari masing-masing opsi (agar pekerjaan memilih jadi sedikit lebih sulit). Di sini remaja tidak hanya dilatih menimbang perkara tetapi juga bernegosiasi secara sehat, termasuk mungkin sedikit ‘lobi-lobi kepada pihak ketiga’ (yang notabene orangtua sendiri).

*****

Dalam manajemen-perencanaan (dan notabene juga dalam keseharian), pemahaman yang memadai akan konsep mutually exclusive tidak saja bisa [sangat] memudahkan orang dalam mengenali karakteristik persoalan, tetapi juga bisa menghindarkan terjadinya pemborosan (waktu, dana, tenaga) sebagai akibat dari target-target yang saling bertentangan/melemahkan.

*****

—KK—

4 thoughts on “mutually exclusive

  1. (Diedit ya DB, biar lebih fokus🙂 ) pada intinya aku bingung…hehehe.., yang jelas hidup ini harus memilih. Tidak memilihpun adalah pilihan juga.

    Halo DB, terima kasih. Setuju dengan ucapan DB (catatan: artikel ini bukan tentang ‘penyikapan pribadi/orang’, tapi ‘hal’—atau lebih spesifik lagi, ‘tipikal perkara’).

    Apapun, bagi saya feedback DB mengindikasikan ada yang kurang kena dengan artikel di atas (maklum, baru ajar nulis hehe..). Akhirnya saya revisi: di awal saya tambahkan paragraf pengantar, dan bagian akhir (yang gap-nya dengan bagian sebelumnya terlalu lebar) saya ganti. Sekali lagi terima kasih.😀

    • makmum maklum bingung memaknai persoalan, sehingga tambah boros😀 .
      nulis saja aku bisa salah apalagi mencernanya.

      Ha..ha..ha.. Djangkaru Bumi bisa aja. Situ salah kata, sini salah paragraf.🙄

  2. kalau anak usia 10 tahun yang lagi banyak mau, diterapkan ilmu ini,
    emaknya ‘puyeng’, diskusi panjang iya, hasilnya tetap aja kalau bisa, setelah milih ini, yang itu juga bisa *mutually-exclusive bubar jalan🙂

    Iya sih, soalnya anak sekarang tahu kalau emaknya banyak duit hehe.. Dulu kami telor satu bisa buat berenam (didadar lalu diiris kecil-kecil), jadi kalau ditawari baju satu pasti langsung ‘siap graak!’.😀

  3. Hmmm.. hal kecil yang ternyata memang nggak selalu disadari. Sering ortu kasih pilihan begitu (seperti kasus liburan di post ini), ternyata ada maksudnya

    Betul BangKoor, banyak maksud ortu yang baru bisa kita pahami benar hanya setelah sekian waktu kemudian.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s