nuansa

– istilah rancu –

Di tahun 70-an ada sebuah lagu yang cukup hit dari Keenan Nasution: ‘Nuansa Bening’, yang bertutur tentang kasih sayang yang hadir bak pohon tumbuh—selapis demi selapis nyaris tak kentara tapi senantiasa membangun diri hingga teguh menebar kesejukan.

Keenan pasti sudah cukup dewasa bisa menciptakan lagu seperti itu. Sebuah lagu yang jelas sangat tidak sesuai dengan kondisiku sendiri (yang kala itu masih SMP) di mana cinta selalu menggebrak sontak tanpa pernah ketok pintu he..he..

Apapun, sepertinya sejak itu secara perlahan namun pasti nuansa (Inggris: nuance) mewujud dari sebuah ‘kata tidak dikenal’ menjadi kosakata sehari-hari milik semua orang—tua muda, seniman ataupun bukan. Sampai sekarang.

*****

Arti nuansa adalah perbedaan yang tipis (halus). Pertanyaannya lalu, apa iya kalau ada dua foto (atau ubin atau sepeda motor) yang serupa dan yang sebuah cacat sedikit lalu keduanya menjadi bernuansa? Bukan itu. Tentu saja tidak asal beda-beda tipis disebut nuansa. Misal,

Gb.1nuansa-0 Gb.2nuansa-1 Gb.3nuansa-2

Untuk mudahnya kita bisa katakan gambar kedua lebih bernuansa dibandingkan dengan yang pertama (yang batas kuning-hijaunya demikian tegas, tidak ada yang ‘beda-beda tipis’ di sini). Dan yang paling bernuansa adalah gambar ketiga—di mana tidak saja hanya ada warna hijau (tanpa kuning), tapi mana persisnya ‘wilayah’ hijau muda dan hijau tua pun tidak terlalu jelas.

Yang baru saja itu adalah sebuah pendekatan secara fisik. Akan tetapi alih-alih sebuah perkara fisik, bicara nuansa sebenarnya lebih merupakan perkara rasa (Inggris: sense).

Lisa-del-Giocondo_louvre (the mona lisa foundation)_scaledKali ini kita akan coba mengenali nuansa yang ada pada satu gambar yang sama (tidak membandingkannya dengan gambar lain). Lukisan Mona Lisa jadi sebuah mahakarya bukan sekadar karena secara fisik ‘gambarnya bagus’ (jika cuma karena alasan ini, rasanya banyak yang menyamai atau bahkan melebihinya), tetapi karena (di antara sekian alasan lain) apa yang terpampang di sana demikian kaya akan nuansa (catatan: ini pendapat pribadi)—sedemikian rupa sehingga bahkan mengundang spekulasi.

Aspek wajah, misalnya. Sedang tersenyum atau tidakkah ‘dia’? Dan jika iya, sebuah senyum bersahaja nan polos atau justru cibiran olok-olok yang menyiratkan siasat? Atau pula, sebenarnya karakter feminin atau justru maskulinkah wajah yang tatapannya seolah menembus sanubari itu?

Leonardo da Vinci sungguh seorang maestro, atau ia tidak akan mampu menangkap berbagai nuansa seperti itu dalam satu wajah yang sama.

*****

Sekali lagi, substansi nuansa adalah ‘perbedaan’ (yang halus), dan ini tentu saja bisa mengacu ke berbagai hal: gradasi, warna, opini, suara, makna, rasa, ekspresi dll (ini cuma soal aplikasi).

Dan sebagaimana ‘soal rasa’ pada umumnya, menyerapi nuansa perlu waktu, apalagi jika kita termasuk yang terlanjur lama memaknainya dengan pengertian yang berbeda (menyangkanya sebagai sinonim dari ‘suasana’ ataupun ‘karakter’, misalnya).

Atau, jika ingin berkenalan dengan cara yang menyenangkan: dengarkan saja ‘Nuansa Bening’ dari Keenan Nasution. Nikmati alunannya, selami liriknya, bayangkan perjalanan kisahnya dan rasakan nuansanya—yang bahkan eskalasinya pun hadir lembut tiada menghentak,

“Kini, terasa sungguh . . .”

*****

——————————

NB: klik gambar Mona Lisa untuk memperbesar

Referensi:
Arti kata ‘nuansa’: The Free Dictionary (by Farlex)
Gambar Mona Lisa: The Mona Lisa Foundation

—KK—

19 thoughts on “nuansa

  1. Kalau nama blog saya nuansa pena gimana, salah atau benar pemakaiannya?

    Soal nama, saya kira bebas saja (bukan perkara benar-salah). Soal tepat tidaknya pemakaian, tentu tergantung dari ‘maksudnya’ mau bilang apa—yang notabene hanya diketahui blogger ybs.

    Tapi kalau maksud dari ‘Nuansa Pena’ (subjek: nuansa, hukum DM) misalnya adalah semacam ‘perubahan-perubahan kecil yang kuperjuangkan dengan penaku’, saya kira bagus-bagus saja.🙂

  2. Penjelasan yang mantap mas, pakai gambar jadi lebih mudah dimengerti
    karena sy pribadi sebetulnya ga terlalu tau apa arti nuansa yang sebenarnya🙂 sebelum baca artikel ini🙂

    Terima kasih, Aisah K🙂 . Draft awal artikel ini sebenarnya isinya melulu tulisan. Tapi setelah mbacanya malah mbuat saya bingung sendiri, banyak bagian lalu dibongkar atau dibuang dan diganti dengan gambar—plus ‘bonus lagu’ dari Keenan.😀

  3. Kalo aku yang awam ini, biasanya mengartikan “nuansa” dengan sesuatu yang mirip karakteristiknya dengan sesuatu yang lain. Misalnya hotel bernuansa pedesaan, berarti suasana hotel itu punya karakteristik yang mirip dengan suasana pedesaan.

    Bisa begitu nggak om?

    Terima kasih, BangKoor. Klarifikasi dulu: Paman Kutu juga awam. Blog ini bisa dikata sekadar [nostalgia] obrolan kedai kopi (lihat ‘About’). Modal utamanya semangat, alias si kutu tidak punya cukup kompetensi (atau apalagi otoritas) menentukan benar-salahnya pengertian sebuah istilah. Jadi spiritnya kira-kira seperti itu, OK?🙂

    Problem “Hotel ini bernuansa pedesaan” adalah: lalu ‘perbedaan tipis’-nya di mana? Yang beda-beda tipis apanya? (karena notabene esensi nuansa adalah perbedaan). Jadi untuk ucapan itu mungkin akan lebih sederhana (dan rasanya jauh lebih ‘kena’) jika kata bernuansa diganti saja misalnya dengan bersuasana, berkarakter atau berkonsep—meski dalam hal ini perlu juga dicermati bahwa ketiga kata tersebut, meski kadang bisa saling menggantikan, tidaklah identik (karena memang mewakili pengertian yang berbeda). Jadi soal mana yang paling tepat di antara ketiganya, ya tergantung juga maksudnya mau bilang apa.🙂

    • Hmmm.. iya om. Soalnya kan istilah “hotel bernuansa pedesaan” begitu sering banget dipake

      Benar BangKoor, ujar seperti “Gedung ini bernuansa tempo dulu”, “Kafe itu brisik sekali, sebel aku sama nuansa hingar-bingarnya” (lho, ini maksudnya gimana?😀 ), hingga “Asyik di sini, nuansanya sejuk sekali” memang lumayan sering terdengar.:mrgreen:

  4. Ke you tube dulu nyari lagu Nuansa Beningnya nih🙂

    Oh, ide bagus itu. Tapi si kutu tahunya cuma versi Keenan lho ya. Versi lain nggak ngerti, mungkin nuansanya tidak sehalus versi orinya.🙂

  5. jadi paham dengan kata nuansa, sepertinya tetap aja sering salah pemakaian,
    yang pasti mendengar nuansa bening-nya kaenan nasution tetap bikin melayang🙂

    He..he.. lagu lawas memang banyak yang gitu ya, di kuping masih asyik aja..🙂

    Heran juga, kenapa kita sering mengacaukan nuansa dengan suasana. Apa karena hurufnya sama-sama ANSU? Tapi kayaknya nggak juga. Toh kita nggak pernah salah kamar soal NUSA dan SAUNA. Jadi ya nggak ngerti juga.:mrgreen:

  6. Very much enjoyed this post…and I am counting on ‘translation’ but you bring the importance of the word “nuance” to world of art very well. Great art, be it painting, photography, music, etc… is made great because of nuance. Nuance allows a wide group of people to appreciate the art, as everyone is able to grab a piece of emotion/feeling from the art which makes it universally revered.

    Beautiful description of how the subtleness of great art can grab the soul of anyone…answers the questions of how I can love a photograph (and feel it is a world-class photograph) but others may not like it… The reason being there is enough there for me to love it, but not enough “nuances” in its creation to attract the eyes of everyone. I hope that makes sense🙂 Cheers!

    Hi Dalo2013, thank you very much for your kind and sagacious note. I’m sure those who try to grab some better sense of the very word will find it useful. And “. . . but not enough ‘nuances’ in its creation to attract the eyes of everyone.” is deep. How true. Never give it a thought this far myself.🙂

    By the way, I find your post “Men in Management – Myanmar and Beyond” quite enjoyable, especially the flow and the way you mix ‘heavy-duty’ stuff with trivia like ‘beers’ or ‘feigning a sleep’. It reminds me of what Nathaniel Hawthorne once said “Easy reading is damn hard writing”. I wish I were that good. Cheers!

    PS: I appreciate the [ever tough] translation thing. I really do. Hey, even you gravatar does have some ambience! Now that’s something else.🙂

    • Great quote by Nathaniel Hawthorne, I’ve got to remember that as it rings true (and I take it for granted quite a bit when I read an enjoyable piece). It is strange how just one word can bring on a new way (or perhaps better yet, a tangental way) of thinking about things. Your post, and thinking of how the strength of ‘nuances’ can affect the way we look at things (especially art) has made me think a bit more about appreciation and looking at things. Very nice. Not too often a piece of writing or thought can do that🙂 Very well done.

      Also, very happy you enjoyed the Myanmar piece…it was pretty fun to write (and to live through!). Cheers and enjoy the week!

      Strange indeed, if we ponder upon how a mere word can do so much. And not only about the—your word, ‘tangental’ thing (hey, I like the nuance-intrinsic feel of it🙂 ), but also about the fact that it happens between (or better still, among) people who barely knew each other (if at all). While not being an artist myself, I guess one of our greatest gifts is that we can recognize beauty—in one way or another. Thank you Dalo, it’s been a pleasure. Have a good week too.

      PS: Sorry about the late response. I’m not a very consistent blogger (quite obvious from the list of ‘Entri Bulanan’—i.e. ‘Monthly Entries’, on the sidebar). But I do check the blog from time to time though, even when I’m not doing any new post.

  7. “A poem can have an impact, but you can’t expect an audience to understand all the nuances.”
    Douglas Dunn

    There are as many worlds, perceptions, views, feelings as they are beings who deliver and receive what is going on around them. What is great? What is great art? Difficult and risky to ponder upon universal truths, art, beauty.etc. One man’s trash is another man’s treasure! Everyone has the right to have his/her own feelings. If one likes ‘kitsch’ and someone else finds beauty in the so-called ‘great art’ you can not argue with them. They are driven by emotions and it is very difficult, almost impossible to argue with emotions. All one can do is to embrace all the nuances of life with all its positive and negative aspects and bring oneself onto the middle path. Is there an absolute, universal thing in the world? Just because millions of people watch Justin Bieber and listen to his music- he is good at grabbing emotions, this does not mean that I have to like him because of all the ‘nuances’ of his art, persona, etc. Many beautiful beings die in complete obscurity. And that is the curse and the beauty of life. Kind regards.

    Greeting, sumana. Quite agree, our belief (once) that the sun (or the universe, for that matter) is strolling around us doesn’t necessarily make it true, does it?🙂 But what do I know about art, let alone life (or let alone, still, embracing all the nuances of it)? That’s just way beyond me. I’m just a layman paragraphing over the meaning of the word ‘nuance’, and how recognizing some pieces of the puzzle (however incomplete) can make a difference. So yes, I guess I’m still taking preference (I’m talking in general, not about one thing or character in particular)—be it out of competence, ignorance, a set of values, or even just some layperson’s wild guess.

    Thank you for being so generous with your words. It’s doing me good, I sure hope this serves you well too. Take care.

  8. Let us all slow down and contemplate nuance🙂 Cheers
    [ . . . ]

    Ha..ha.. Sometimes I’m so good at not making myself clear that I even confuse me, now can you believe that?😀 OK, I’ll try again.

    1) Comments mean that people do respond (no one has to agree with anybody on anything, though). For me, this is good enough. But much to my surprise, I find that most comments here do more than that. They enrich this blog—giving some new depth, bringing in new perspectives, opening up new horizons.. etc. And yours is one of those comments. So I was dead serious when I said you’re doing me a favor, because you really do.

    2) I was being frank when I said I’m just a layperson (who does wild guessing at times) because I am one (I mention this on the ‘About’ page quite a bit, but the language is somewhat tweaky there and I suspect even Indonesians might need time to dechiper some of the words). Meaning, I write this blog more out of passion, not competence (I kind of explain this to BangKoor above, but it’s in Indonesian).

    PS: I apologize for stripping off the link. I knew you mean well (and in no way it is a spam) but this blog doesn’t accept links (I underline this for others to see, OK?), though I might give ones myself sometimes. Cheers!🙂

  9. jadi pingin dengerin lagi lagu nuansa beningnya, hmmm, nuansa itu mungkin jika mendaki gunung terus menikmati matahari terbenam sambil nyeruput kopi, indah tenannn … nuansa apa yah namanya … nuansa nikmat kali yah🙂 hehe

    He..he.. dalem tuh, SM. Meski penikmat kopi ada yang cuma mau merk/jenis tertentu, yang nggak biasa ngupi umumnya bilang kalo semua kopi sama aja. Kayaknya iya sih [rasa] nikmat itu memang soal nuansa yang nggak selalu mudah mbedainnya.🙂

  10. kalau soal bicara nuansa warna,butuh kejelian juga,sebenarnya saya salut sama fotografer atau pelukis yang pandai bermain dengan warna

    Tidak mudah memang untuk menjadi seorang fotografer atau pelukis yang pandai ‘bersuara’ melalui warna.🙂

  11. Terimakasih penjelasannya mas Kutu, saya salah merujuk “nuansa” ke “suasana” selama ini. Oh ya, sekarang yakin panggil mas, karena kakak tertua saya sudah masuk 60 tahun. Masih cocok lah ya saya panggil mas.🙂

    Sama-sama, Denina. Siyap! Berarti sang Kakak sulung masih lebih senior daripada saya. Baik-baik dan sehat selalu di sana.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s