minal ‘aidin . . .

Minal ‘Aidin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kata-kata itu umum kita temui dalam rangka Hari Raya Idul Fitri—di kartu, email, SMS dsb (versi lisan/nonformalnya biasa lebih pendek seperti “Maaf lahir batin ya..” atau “Minal ‘aidin” saja). Sebuah ucapan yang cukup unik karena menghadirkan dua bahasa sekaligus—Indonesia dan Arab (yang sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia), dalam satu paket.

Demikian seringnya keduanya dirangkaikan, sehingga kadang orang menganggap bahwa yang satu merupakan terjemahan dari yang lainnya. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian.

“Mohon maaf lahir dan batin” maksudnya jelas: sebuah ucapan permintaan maaf yang tulus (‘lahir dan batin’) yang disampaikan dengan penuh kerendahhatian (dipakainya kata ‘mohon’).

Sedangkan “Minal ‘aidin wal faizin” pengertiannya kurang-lebih:

“[Semoga kita] termasuk orang-orang yang kembali dan beruntung”

(‘kembali kepada kesucian/fitrah’, dan ‘beruntung memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT serta mendapatkan surga-Nya’). Secara spirit, bagian ini adalah sebuah doa (harapan baik).

*****

Jika mencermati bahwa kabarnya minal ‘aidin wal faizin hanya populer di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam serta terdapatnya pola pantun (‘faizin’ – ‘batin’), bukan tidak mungkin ‘kultur Nusantara’ (baca: ‘warna Melayu’) memang telah ikut berbicara di sini.

Dan adalah menarik bahwa frasa minal aidin (‘termasuk orang-orang yang kembali’) kadang diperlakukan layaknya sebuah ‘ungkapan Lebaran’ tersendiri: “Halo, gimana acara mudiknya? Oya, minal ‘aidin dulu, dong!”, sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.

Apapun, semoga harapan baik itu wujud adanya.

*****

—————————

Pustaka: “Lentera Hati – kisah dan hikmah kehidupan” (Quraish Shihab, Mizan, Cet. XV, 1999)

—KK—

4 thoughts on “minal ‘aidin . . .

  1. Tema blognya bagus mbak.
    Soal pengucapan minal ‘aidin ini, di Indonesia memang masih banyak banget salah pemahamannya. Saya juga beberapa tahun lalu, mengira minal ‘aidin artinya maaf lahir batin :p hehe.

    Halo Arifah, terima kasih. Tapi manggilnya kutukamus ‘Mas’ aja kali ya.🙂

    Kalau saya karena sejak pindah Jakarta dulu (waktu masih SD) sering mendengar ala “Minal ‘aidin ke rumah Pak/Bu Anu, yuk!” atau “Eh, kita udah minal ‘aidin belum sih?”, jadinya mengira artinya semacam ‘salaman lebaran’.😀

  2. I regret I speak English only. Perhaps you made add translate button in your widgets. I think available in wordpress. Thanks visit my blog.

    Hi Carl. Thanks for the tip. I believe there’s still some issue with having a translator here. The workaround I’ve tried (linking to Google Translate) doesn’t seem to always work since it depends on how people set up their browsers. So until I find a safe and sure way of doing it, I’m afraid this blog will still be void of it. Thanks again.🙂

  3. Tapi saya pernah mendengar orang Arab (Yaman) mengucapkan munal aidin wal faizin selepas salat Id,

    Soal petutur saya kira bisa dari mana saja mengingat [konon] ucapan Minal ‘aidin.. diambil dari—istilah yang dipakai di wiki, ‘dendang hari raya’ oleh penyair ‘dari sana’ (meski untuk ini saya sulit mencari cross-reference-nya).

    Akan tetapi menjadikan ucapan itu seolah semacam ‘seruan nasional’ untuk saling bermaaf-maafan dan merangkainya dengan ‘Mohon maaf lahir dan batin’ sepertinya akan sulit bisa terjadi di negara-negara yang tidak punya tradisi bahasa Melayu.🙂

  4. Kadangkala sesuatu tidak diartikan dari bahasanya, tetapi dari nuansa yg timbul saat itu. Terimakasih atas penceahannya sobat.

    Konteks situasi memang menentukan. Akur sekali, Sobat.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s