berbahasa satu

Saat menjelajah dunia maya, sesekali kita mungkin bertemu dengan seruan yang kandungan pesannya disampaikan dengan gambar kurang-lebih seperti ini,

berbahasa satu
bahasa Indonesia

Spiritnya jelas: Merah Putih, berterakan [penggalan butir] Sumpah Pemuda. Ini asyik sekali. Bahasa Indonesia masih dicinta kawula muda! Bukti bahwa hasrat luhur itu tetap menyala.

Cuma ada satu masalah,

Kita tidak berbahasa satu!

Jangan!! Dan semangat Sumpah Pemuda memang bukan seperti itu. Butir-butirnya,

Kami poetera dan poeteri Indonesia
mengakoe bertoempah darah jang satoe,
Tanah Indonesia

Kami poetera dan poeteri Indonesia
mengakoe berbangsa jang satoe,
Bangsa Indonesia

Kami poetera dan poeteri Indonesia
mendjoendjoeng bahasa persatoean,
Bahasa Indonesia

Satu Tanah Air. Satu Bangsa. Tapi tak satu bahasa. Dan oleh karena kita memiliki bahasa yang tidak cuma satu (tapi banyak sekali) itulah bahasa persatuan jadi relevan. Penting, malah.

*****

Iya, tapi kenapa tidak ‘berbahasa satu’ saja?

Mengaku ‘berbahasa satu’ berarti tidak mengakui bahasa Nusantara (‘bahasa-bahasa daerah’ yang ada di seluruh penjuru Indonesia). Berarti tidak mengakui budaya sendiri. Ini berbahaya.

Coba, apa jadinya jika orang Minang alergi pantun, orang Jawa anti gamelan dan batik dilarang? Tentu ada identitas yang hilang. Dan jika ini terjadi merata di seluruh negeri untuk berbagai aspek budaya, habis kita—budaya Nusantara hilang, budaya Indonesia hilang jatidirinya.

Bahasa juga sama. Wibawa bahasa persatuan, kebanggaan akan bahasa Indonesia, hanya bisa naik (‘terjunjung’) dengan dukungan (bukan dengan hilangnya) bahasa Nusantara. Resikonya serupa—bahasa Nusantara punah, bahasa persatuan (Indonesia) hilang ruh saktinya.

Bahasa Nusantara harus hidup sehat.

*****

Kalau sekarang, situasinya bagaimana?

Di era modern ini kebutuhan akan penguasaan bahasa internasional jelas melonjak. Berbekal semangat Sumpah Pemuda, jangan sampai kita bangga dengan bahasa asing tapi malu dengan bahasa Nusantara—karena ini namanya lupa akar, hilang kepribadian, lemah karakter.

Dan memang, adalah ironis jika bahasa asing (Inggris, Arab dsb) kian dini ditanamkan kepada anak (apapun motifnya), tetapi bahasa Nusantara justru semakin menghilang dari kurikulum.

Jadi mungkin ada baiknya sedikit refleksi,

Berapa bahasa Nusantara (termasuk dialek) yang ada?: 700-an
Dari angka fantastis itu, berapa yang diajarkan di sekolah?: 30

Sungguh, kita butuh keberagaman itu. Jangan sampai hilang kekayaan itu.

*****

(Kepada blogger siapa saja yang menulis dalam bahasa Nusantara: “Kau hebat!”)
(Lihat juga → ‘ngabuburit‘ & ‘aksen – dialek‘)
———————————
Catatan: ditulis dalam rangka Hari Sumpah Pemuda / memperingati 28 Oktober 1928
Pustaka: “Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21” (LIPI-KPG-The Ford Foundation, 1999)

—KK—

18 thoughts on “berbahasa satu

  1. Pakai bahasa daerah ya saat bicara sesama suku. Kalau bicara umum, pakai bahasa Indonesia.

    Asyik itu, berarti ikut melestarikan bahasa Nusantara.

    Update: Pustaka yang jadi acuan artikel ini mungkin termasuk buku langka, saya sudah upload 9 halaman untuk preview di Goodreads (lihat link ‘Pesona’ di atas).

  2. sama keluarga biasanya suka pake bahasa daerah…
    walau kadang tidak sepenuhnya tapi pasti ada satu kosa kata yang nyelip.🙂

    Benar SF, bahasa daerah masih hidup, sekarang. Cuma trend-nya mencemaskan. Sejauh saya lihat, dari zaman kakek-ortu-kita- dst ada ‘penurunan kecakapan berbahasa daerah’ yang konsisten. Ini berlaku umum untuk berbagai suku.

  3. Terima kasih Paman KK, meneduhkan pengingat bahasa persatuan dan bahasa Nusantara.
    Postingan saya juga suka pating clemong bahasa daerah bagian Nusantara. Salam

    Blog Rynari (Prih)—yang warna Nusantaranya kuat itu, adalah salah satu yang juga mengingatkan si Kutu betapa sedikitnya blogger yang berani mbuat artikel dalam bahasa nenek moyang (kalo tak salah pas mbaca ‘Cindelaras’).🙂

    Oya, khusus artikel ini saya nyoba pakai ‘bahasa’ dan pilihan kata yang agak beda, biar kesannya ‘berteriak’ gitu. Mudah-mudahan nggak malah jadi lebay ya he..he..

  4. Jadi agak malu…

    Dulu blog saya isinya bahasa inggris fullll
    tapi syukurlah sekarang udah sadar bahwasannya bahasa indonesia itu juga penting
    Makanya sekarang udah mulai-mulai nge-blog dalam bahasa indonesia lagi.
    hehe

    Blog 100% bahasa asing juga bagus kok Aul (saya juga ada he..he..). Bicara-dengar-tulis-baca perlu dipelihara supaya ‘hidup sehat’ (bener lho, gara-gara malas, saya sudah hilang dua). Cuma ya itu, jangan sampai bahasa Nusantara jadi bahasa asing di negeri sendiri (ini tragis namanya). Ok, sukses novelnya.🙂

  5. saya termasuk yang susah dalam berbahasa *lancarnya hanya bahasa Ibu* Ingin juga bisa Bahasa Jawa dan Sunda, ga bisa-bisa😦

    Sama, susah memang belajar bahasa baru kalau sudah dewasa (banyak pikiran). Kalau bocah adanya langsung hajar, jadinya belum sekolah udah bisa ngobrol.😀

  6. Tambahan pak, kalo sekarang mah banyak bahasa baru yang tercipta. Misal bahasa alay, bahasa yang dipakai anak-anak alay -___-

    Dan ejaannya suka beda pulak ya fandhy. Belum lagi bahasa prokem, bahasa SMS.. kayaknya pesaing bahasa daerah banyak bingits..:mrgreen:

  7. Asli ambon, lahir dan besar di Jakarta, bertetangga dengan org padang, punya suami asal Sulawesi, sempat tinggal di samarinda, dan 25 tahun sdh di Jawa Barat. Alhamdulillah…jd 6 bahasa bisa diucapkan. Indonesia bikin kita jadi pinter bahasa🙂

    Aduh, ngiri berat si Kutu, bisanya cuma Jawa, itu pun kadang payah sendiri😦 padahal memakai itu berarti ikut melestarikan. Malu juga, nulis artikel kayak gini tapi sendirinya.. he..he.. Memang, orang Indonesia itu lahir bilingual (minimal). Semoga bahasa yang Mutia kuasai membuahkan semakin banyak teman & kemudahan.🙂

  8. Kutukamus…maaf mau tanya dong, itu tampilan paling bawah postinganmu ( Judul : More from the Web) , sengaja di tampikan atau otomatis ada sendiri? krn gambarnya kadang wanita hanya dengan bra. Nggak sinkron deh dengan postinganmu yg kadang bernafas agama…

    Terima kasih banyak, Mutia orang pertama yang komen soal menyebalkan ini.😀
    Itu iklan dari WP. Sudah berkali dibahas di forum—kadang bukan cuma bra, tapi untuk WordAds (semacam Google AdSense dari WP untuk blog yang monetized) bahkan berindikasi ‘kalangan sejenis’. Jawaban WP: mereka butuh income untuk biayai blog gratisan, soal konten iklannya sendiri adalah kebebasan berpendapat dan hak azasi (kurang lebih, responsnya selalu begitu). Boleh jadi, kalangan yang pro ‘yang begituan’ memang cukup punya suara (bargaining position) di WP.

    Mau iklan hilang? Bayar! Begitu kira-kira spiritnya (ini mulai akhir-akhir ini saja, dulu gak da iklan). Beberapa blogger sengaja upgrade membership hanya karena ini. Kutukamus sendiri (yang sering sebulan satu post itu) akan tetap gratisan, jadi mohon maaf soal iklan (terpikir coba platform selain WP, masih terbentur waktu).

  9. Baru ngeh kalau ternyata bunyi nya memang bukan “mengaku berbahasa satu”

    #SelamaIniMenghapalNaskahYangSalah
    #CumaIngatDuaBaitPertama
    #BaitKetigaNgarangBerdasarkanBaitSebelumnya
    #PemudaIndonesiaMacamApaIni
    #LaluPindahkeBelanda

    Umumnya kita memang ingatnya ‘berbahasa satu’, mungkin ada pengaruh sekolah. Kelas-3 SD dulu, saat upacara saya sering maju jadi pelantang SP. Bunyinya kira-kira:

    Sumpah Pemuda!!
    Kami putra-putri Indonesia
    Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia
    Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
    (Dan) berbahasa satu, Bahasa Indonesia

    Waktu kelas-5 baru diberi tau teks aslinya. Lho, kok dulu diajarinya lain? Biar mudah, kata Pak/Bu guru, tersenyum. Rasanya jawaban singkat ini bijak, karena motif sebenarnya jelas terlalu berat untuk dikunyah anak SD, misalnya:

    ● Redaksi SP terlalu sulit untuk bocah. Alih-alih idenya tertanam dan mentalnya terbangun, fokus anak bisa terlalu tersita untuk ‘pekerjaan menghafalnya’.

    ● Upacara Bendera adalah acara di bawah sengatan matahari, jadi durasinya perlu sangat diperhitungkan (ada anak kelas-1&2 yang masih sangat kecil).

    ● Kecuali di kota-kota besar, saat itu (awal 1970-an) masih banyak orang tidak bisa bahasa Indonesia (termasuk orangtua murid), jadi ide bahasa bersama (‘bahasa satu’) perlu secara agak ekstrim digaungkan.

    Kira-kira begitu. Tapi itu dulu, saat dominasi bahasa-bahasa daerah masih demikian ‘merajalela’. Sekarang mungkin perlu telaah lagi, terutama soal penyikapan kita terhadap ‘budaya sendiri’—termasuk bahasa Nusantara.

    • Wah harus ada pemberitahuan ya kalau ternyata yang diajarkan di sekolah itu tidak sama dengan teks aslinya

      Kompleks, memang. Mungkin PR-nya (sesuai kondisi saat ini) adalah bagaimana agar selepas ‘dikdasmen’ (pendidikan dasar-menengah) pada anak sudah tertanam cukup kesadaran (awareness) bahwa kita bangsa multi-lingual (bukan tunggal), yang berbahasa persatuan.

  10. berbahasa satu-bahasa indonesia
    tapi tetep ada sub kategorinya:
    1. bahasa indonesia yang baik dan benar
    2. bahasa alay
    3. bahasa medhok, dll
    xixixixi

    4. bahasa percakapan
    5. bahasa kutukamus. . .😀

  11. sy asli org sunda,suami org sulawesi,meskipun bhs sulawesi’y morat marit (krn lahir n besar di jkt),lumayanlah… dari suami sy sdkt2 jdi tau juga b.sulawesi😀.btw… tetangga sy yg pya balita hampir smua anak2’y di les-in b.asing,pdhl bicara’y pun blm jelas,hiks…!

    Sepertinya trend umumnya gitu ya, bahasa daerah makin tidak dianggap sebagai aset tapi beban, sehingga makin ‘dinomorsekiankan’. Bisa-bisa (semoga jangan) nanti untuk belajar bahasa Jawa atau Ambon, kita mesti ke Australia atau Belanda.

    Btw asyik itu bisa bahasa daerah lain, biar morat-marit juga. Eh tapi ini biar saya simpan untuk post berikutnya ya, trims masukannya.😀

  12. kereeennn ihh.. bener juga ya, kalo berbahasa satu, nanti egois make bahasa daerahnya sendiri-sendiri :p

    Keringnya tenggang rasa
    Matinya keberagaman budaya. . .
    termasuk bahasa,
    Konsekuensi logisnya serupa:
    Bhinneka Tunggal Ika‘ tamat riwayatnya

    PS: Semoga bukan begitu adanya🙂

  13. Malah sekarang bahasa yang lebih dikenal anak muda adalah bahasa alay/gaul,siapa sebenarnya yang pertama kali menciptakan bahasa seperti itu?

    Penciptanya orang-orang/anak muda kreatif pastinya. Semoga mereka juga kreatif mengembanglestarikan budaya Nusantara ya Naufal.🙂

  14. Hi😀
    Jangankan bahasa persatuan, bahasa daerah saja hampir tidak akrab bagi penutur muda[..]

    Salam dari Bumi Soedirman😀

    Itu repotnya ya khadis, padahal matinya bahasa [daerah] itu akan kontributif terhadap matinya budaya [daerah] (dengan segala kearifan lokal-nya). Jangka panjang: kita jadi hilang kepribadian lalu bangga kalau bisa meniru (berperilaku ala) orang lain (phase yang sedang dan sudah terjadi: ausnya kesantunan).

    PS: maaf link di-strip-off (lihat ‘Nuansa’, bag ‘PS:’ reply utk Sumana Saman ke-2)
    Sudah baca, ha..ha..weleh..weleh.. (garuk kepala) Ternyata mental copy-paste sudah merambah sampai SMP dan di daerah pula ya. Mungkin ini warning bagi guru kalo kasih tugas yang susah ada di net, misalnya ‘aktivitas di sekitar rumahmu’ dll. Memang kecakapan berbahasa darah (omong-denger-tulis-baca) harus diajarkan sejak usia sangat dini (nggak bisa komen di sana, saya nggak punya fb/twit).:mrgreen:

    • Itulah. Saya berkali-kali menjumpai hal senada: anak Jawa sekarang tak fasih berbahasa “kromo”. Ah, apalagi bisa nulis aksara Jawa–yang saya juga sudah tak bisa. Haduh!😦

      Tapi ada yang menarik. Kemarin sore ada cewek, anak SMA, datang ke rumah minta dicarikan materi geografi. Saat ngobrol nda jelas, tibalah sampai pembicaraan soal pelajaran bahasa Jawa di sekolahan. Singkat cerita, saya “tantang” dia untuk menulis aksara Jawa. Kalau bisa, saya gratiskan ongkos print-nya. Alhamdulillah, dia bisa haha…. Saya malu sendiri, karena saya cuma hafal huruf “ra” haduh!

      Haha.. hebat juga tu anak SMA. Jaman saya bahasa daerah cuma sampai 3SMP, sekarang kalau huruf Jawa mesti banyak nyontek hehe.. (trims sudah ngingatkan, dari dulu pingin angkat hanacaraka jadi topik sebenarnya, tapi lupa catat🙂 ).

      Btw pendekatan insentif seperti itu menarik juga—kalau bisa berbahasa daerah dapat sedikit kemudahan ini-itu, mungkin bahasa Nusantara akan bisa lebih survive.

      Update: Kalau mau melatih bahasa Jawa yang resik, ada blog baru (blogger lama, kadang suka ke sini juga), Wijikinanthi.

  15. Waduh, blog saya pakai bahasa Inggris :’)
    Ga pernah kepikiran sebelumnya, yang tentang satu tanah air, satu bangsa, tapi tidak satu bahasa. Padahal udah jelas banget hehehe

    Halo PF, blog bahasa asing juga bagus dan perlu kok, selain juga blog yang bahasa Indonesia dan bahasa Nusantara pastinya. Karena tanpa dua yang terakhir itu, kita nantinya bakal hidup dalam ‘a waking nightmare’.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s