tahun baru

( + kilas )

Tak jarang, pada acara ‘pelepasan 31 Desember / penyambutan 1 Januari’,

.. tiga .. dua .. satu ..
Happy New Year !!

Agak lucu ini—ngitungnya Indonesia, teriak selamatnya Inggris. Tapi ya nggak papa juga sih, yang penting semua gembira (bagus, kan?). Saking semangatnya, bahkan banyak yang keluar rumah sekadar agar bisa beramai-ramai memacetkan diri. Apapun, dari yang dulunya sepi, sekarang tahun baru sudah jadi ‘industri’ (membuat banyak dapur jadi bisa masak nasi).

Tapi apa sebenarnya ‘tahun baru’ itu?

*****

Jam Lama

Dalam banyak sistem penanggalan, ‘satu tahun kalender’ kira-kira setara dengan perjalanan bumi mengelilingi matahari—bumi mirip ujung jarum panjang pada sebuah ‘jam raksasa’,

1 putaran = 1 tahun

Tetapi karena tiap kalender punya sejarah dan ‘tanggal lahir’ berlainan, untuk ‘jam langit‘ ini orang punya ‘titik start’ (istilah populernya, ‘tahun baru‘) yang beragam pula.

Pada kalender Gregorian (yang umum digunakan di seluruh dunia dan hitungan pertamanya diberi label atau nama ‘1 Januari’ itu), yang dianggap sebagai ‘posisi awal’ adalah ketika bumi sedang berada di sekitar titik terdekatnya terhadap matahari (perihelion).

perihelion(400)(Gambar: bumi pada pertengahan tahun, kalender Gregorian)

Dan karena ada banyak kalender, maka di sepanjang orbit elips di atas (alias dalam setahun) kita jadi punya banyak ‘tahun baru’ (Saka, Hijriah, Imlek dlsb).

Tapi, lagi-lagi, tahun baru bukan cuma soal astronomi.

*****

Warna

Meski untuk urusan sehari-hari dipakai kalender Gregorian, untuk alasan pribadi orang biasa punya minimal satu almanak lagi (dalam menentukan hari baik, urusan ibadah dsb).

Jadi amatlah asyik berbagai tahun baru yang ada umumnya punya ‘tradisi perayaan’ berbeda (berkumpul penuh sorak-ceria, menggembleng diri, memperbanyak doa, berbagi rizki dsb). Sedangkan secara personal, tahun baru sering dijadikan momentum benah diri,

“Mulai tahun ini aku . . . (sebuah komitmen)”

Yang juga menarik, wajar orang—sesuai kapasitasnya, ‘menikmati’ lebih dari satu tahun baru. Seorang Muslim yang tinggal di Bali, misalnya. Jelas, ybs punya tahun baru Islam. Saat Nyepi, ia ikut bertenggang rasa. Desember, peak season, penghasilannya ikut melonjak.

Memang, hari berganti, kita yang memberinya arti.

*****

Nuansa

Toh kalau ditelusuri, meski cara orang (individu atau kolektif) dalam menyambut tahun baru sangat bervariasi, alasannya tak kemana—siapa pun orangnya dan apapun kalendernya:

semua bersukacita

Kita menyambut tahun baru dengan tangan terbuka karena berarti ‘waktu masih ada’—bahwa kita masih punya (diberi) ‘ketika’. Jadi sepertinya ya asal positif dan sesuaikan diri saja.

Yang jelas, mengingat orbit bumi cuma setitik arloji di tengah keluasan Semesta, rasanya kita beruntung bahwa jam lonjong yang sudah ada sejak lama itu sampai hari ini masih bekerja.

Semoga tahun ini lebih baik, Saudara.

*****

—————————

Aphelion: titik terjauh planet/komet/asteroid terhadap matahari
Sumber gambar: The Time Now

—KK—

18 thoughts on “tahun baru

  1. yah kadang aneh juga juga taon baru banyak yang sok sibuk dan yang gak sibuk sama sekali terlihat menyibukkan diri…pokoknya pergantian tahun yang anehhh…heheee

    Memang luar biasa tahun baru, meski cuma sekejap lalu pergi, sibuk ato nggak patio sibuk ato malah nggak sibuk sama sekali, banyak orang jadi bisa dapat rejeki.😀

  2. hmmm … baru tahu saya sebenarnya bagimana perhitungan tahun baru itu, thanks banget sob informasinya

    Halo, dengan senang hati Walidin. (PS: ‘Hidup Notepad!’)😀

  3. jadi setiap satu januari kita ada di titik terdekat dari matahari ya gan
    saya gak pernah merhatiin

    Wah sama saya juga ndak, jarak 5 juta km untuk skala segitu buat kita gak terasa ada bedanya🙂 Tapi kira-kira ceritanya ya gitu, meski gak tepat-tepat di perihelion amat (agak geser-geser dikit tiap tahun, trus disesuaiin dengan kabisat 4 tahun sekali).

  4. Kemaren nyesek banget karena di kantor jadwal libur cuman dari tanggal 25 desember sampai 31 desember, wal hasil nggak bisa tahun baruan sama ‘temen’ di kampung…😦

    Mungkin memang lagi disuruh amal ya Miftah, biar pagi tetep ada yang melek buat njagain orang tidur yang masih kecapekan karena malamnya tahun baruan.🙂

  5. Berkat kebunderannya. kita bisa mulai deklarasi baru di titik manapun
    Selamat menikmati hari baru….

    Èstu Bu Prih. Lha wong jamnya dikasih untuk dipakai bareng, ya ‘markijo’ (mari kita join) saja🙂 (jadi ingat awal 70-an dulu di Salatiga tahun baru sepi-pi, dan Jakarta praktis cuma di Ancol dan ruas bunderanHI-Monas).

  6. saya tahun baru sama seperti hari biasa, tak ada acara apapun, diam di rumah kumpul bersama keluarga🙂 tapi tetap ada renungan dan harapan akan lebih baik tahuun mendatang

    Benar perlu sekali itu kania—memelihara semangat tak pernah berputus harap🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s