aksen – dialek

– istilah linguistik –

Meski sama-sama berkaitan dengan ciri khas orang dalam berbahasa, arti aksen dan dialek tidaklah sama. Repotnya, pengertian keduanya memang sering tumpang-tindih. Toh sekadar sebagai pembeda, yang berikut ini sepertinya bolehlah,

aksen berhubungan dengan bunyi (lafal, ‘lagu’, tekanan, ‘cara ngambil’, tempo dsb)
dialek meliputi aksen + kosakata + pola gramatikal

Jadi kalau antara saat orang Indonesia ngomong Inggris dan orang Inggris/Amerika/Australia ngomong Inggris ‘terdengar beda’, itu adalah masalah aksen (sama halnya dengan ketika ada bule ngomong Indonesia yang terasa beda dengan jika orang Indonesia ngomong Indonesia).

Sedangkan yang berikut ini lebih merupakan perkara dialek,

Bagaimana ini? (bahasa Indonesia standar)
Macam mana? (dialek Sumatra Utara)
Gimana, sih? (dialek Jakarta)
Gimana, to? (dialek Jawa Tengah)

Pengertian dialek lebih kompleks karena tidak melulu urusan ‘suara’, serta lazim dilekatkan kepada wilayah geografis tertentu (dialek Ambon, dialek Banjarmasin, dialek Banyumas dll).

*****

Jika kita menguasai sesuatu dengan baik lalu orang jadi respek, tidak ada yang aneh. Tetapi salah satu aspek menyenangkan dari bahasa (termasuk dalam hal ini aksen/dialek) adalah, orang tak harus mahir untuk bisa berkaya manfaat. Contohnya banyak, satu di antaranya,

Kemampuan ala kadarnya yang tulus sering justru membuat orang lebih mudah memaafkan berbagai kekeliruan bahasa yang mungkin ada dan melihat ybs sebagai ‘figur yang diterima‘.

Bahkan kadang simpati bisa tumbuh meski orang tidak sedang berkepentingan langsung. Misalnya kalau kita berada dalam situasi berikut ini..

Yogya, di emper sebuah toko. Karena hujan tak jua reda, akhirnya bule yang berdiri dekat kita (yang kebetulan juga sedang berteduh) angkat ponsel dan berteriak di tengah gemuruh air:

“Halo!? Yaa.. niki Günther. Maaf, saya mau telat. Hujan!! Deras, jé!”

Sulit untuk tidak mengakui, ada banyak jarak yang sudah berhasil dipangkas Günther.

*****

(Istilah logat bisa mengacu baik kepada aksen maupun dialek)
(Lihat juga → ‘berbahasa satu‘)

————————

Catatan
‘yaa..’: maksudnya menuliskan ‘ya’ yang dibunyikan panjang ala ‘lidah Jerman’
‘niki’: berarti ‘ini’
‘mau telat’: frasa ini (juga ‘mau terlambat’) kerap diucapkan orang asing yang belum fasih
‘jé’: eksklamasi [akhir kalimat] khas Yogya, kadang bisa dipersamakan dengan ‘nih’

Pustaka: “Kamus Bahasa Indonesia Edisi Baru” (Pandom Media Nusantara, 2014)

NB:
Terima kasih kepada Lois atas inspirasinya.

—KK—

17 thoughts on “aksen – dialek

  1. Terima kasih dengan penjelasan bedanya aksen dan dialek🙂 Hi.. hi..hi… bisa membayangkan ‘yaa’-nya mas Gunther, suami saya yang Dutch Australian juga agak seperti itu yaa-nya.

    Terima kasih sekali Lois. Sebagai anak ‘Negeri Seribu Dialek’ sebenarnya sudah lama saya ingin nulis ini, cuma selalu tidak ‘sreg’ dengan ‘warna’ yang terbayang. Baru setelah komen di artikel Lois itu terpikir ke mana tulisan mau saya bawa.🍸

    Eh kalau difilemin seru juga kali ya? Misal pakai sendal jepit, sarungan, baju batik terbuka dengan t-shirt bertuliskan ‘I am Horror’.. maka penampilan Mas Gunther yang santun itu akan jadi sangat ‘mencurigakan’.:mrgreen:

  2. Nah, ini dia. Kenapa saya baru kepikiran yak soal gini ini? :p

    Mungkin karena dari lahir sudah dikelilingi bermacam bahasa jadi kita malah biasa-biasa saja ya Hilal. Sebaliknya orang sono yang pertama kali ke sini dan mendapati geser dikit aja ngomong udah lain, pasti langsung ‘Wow!’🙂

  3. Kaya orang bule yang “memaafkan” saya kalo grammar saya sering kaco dalam percakapan kami.

    Iya Ziza, soal bahasa asing orang akan cenderung saling toleran satu sama lain.
    Jadi asal maksud jelas dan ‘we mean what we say’, beres. Salam ‘brievenbus’!🙂

  4. Sebagai penulis lepas, blog ini wajib diikuti. kadang, orang Indonesia sendiri belum paham benar dengan bahasanya. terima kasih

    Terima kasih xaveria. Sepertinya sering begitu, apalagi di ‘negeri seribu bahasa’ dari-ujung-ke-ujung seperti kita ini ya. Semoga lancar kepenulisannya.🙂

  5. wuih bagus nih buat nambah pengetahuan bahasa. maklum saya suka jelek nilai bahasanya dari jaman sekolah dulu.hehehehe
    anyway, salam kenal dari palembang🙂

    Salam kenal Nana, Jaret (Jakarta coret) di sini. Hayuh, ditunggu blognya.🙂

  6. ternyata ada bedanya antara dialek dan aksen. sepengertianku sih sama, Sama -sama menunjukan gaya khas bicara atau komunikasi suatu daerah. Seperti Gaya tegal dan Jogja pasti berbeda.

    Kira-kira seperti yang ada di atas itu DJB—masih keluarga, serupa tapi tak sama.
    Oya kalau soal ‘gaya’, dalam bahasa ini masuknya ke ‘majas’, tapi itu cerita lain.🙂

  7. Hi there .- thanks for stopping by my blog and making me smile – shrimp and shrimp! sadly I cannot read a thing on your blog – not surprisingly of course, so all I can say is thanks🙂 again

    Anytime polianthus, and no worries about that language thing, I would’ve been surprised if you do.🙂 Hey, I’ve got something for the shrimp’s afterglow, here..🍸

  8. jadi itu perbedaan aksen-dialek ya pakde🙂

    request juga tentang kata chronic, yang sering digunakan untuk chronic illness

    di google banyak yang bingung tuh bahasa indonesia yang benarnya gimana
    apakah : penyakit kronik atau penyakit kronis

    Terima kasih SK. Sekadar untuk memastikan, sebelumnya tolong cek dulu:
    1. ‘About’ page
    2. ‘nuansa’ — reply untuk Bangkoor yang pertama, paragraf ke-1
    3. ‘deus ex machina’ — reply untuk Rick NZ yang kedua, paragraf ke-1

    Jadi salah satu konsekuensi/komitmennya, blog ini sengaja membatasi diri dari aspek teknis dan berusaha lebih fokus kepada pengenalan ide atau konsep.

    Sepakat SK, meski notabene kasus lama, ini masih sangat aktual karena memang kerap membingungkan banyak orang hingga kini. Tapi karena substansinya lebih kepada ‘kaidah pembentukan kata serapan‘ (sebut saja begitu), kecil peluang yang seperti itu akan muncul di blog ini (kecuali saya punya angle / point lain untuk disampaikan) karena nanti penjelasannya akan cenderung menjadi terlalu teknis.

    Toh sekadar gambaran (kenapa yang begini saya hindari), biarlah kali ini saya buat pengecualian untuk isu off-topic ini (itung-itung buat yang lain juga, karena saya yakin SK sendiri sudah jelas). Ok ini sedikit cuap-cuap (versi cepak, tidak gondrong).

    Dalam bahasa Inggris ada ribuan kata yang berakhiran ~IC. Meski umumnya itu adalah kata sifat (adjective), banyak pula yang kata benda (noun)—dan ada pula kata benda yang berakhiran ~ICS (harus pakai ‘S’ atau artinya akan jadi lain). Misal,

    etic – otic – zoic – epic – medic – robotics – orthopedics – aerobics

    Maka untuk membedakan antara kata serapan yang nomina dan yang adjektiva,
    kita sering menggunakan pola akhir ~IK / ~IKA (nomina) dan ~IS (adjektiva). Misal,

    technic (technique) – chronic – politics – mathematics – chromatics

    teknik / kronik / politik / matematika / kromatika (nomina)
    teknis / kronis / politis / matematis / kromatis (adjektiva)

    Tapi tentu saja soalnya tidak sesimpel itu. Misalnya klinik-klinis (ini agak lain, kan?). Atau antiseptik dan antipiretik (ini bentuk antiseptis/antipiretis pada ke mana?). Dan belum lagi yang seperti mekanika-mekanis-mekanik (ini beda lagi) . . . dst.

    Kira-kira begitu SK, sekadar contoh bahwa ‘membahas UU’ (baca: kaidah) rumit dan kalau tidak sangat hati-hati hasilnya justru akan membuat perkara menjadi semakin tidak jelas (ini berlaku untuk UU apa aja kayaknya, ndak cuma soal bahasa he..he..).

    Jadi meski istilah yang SK sebut itu sangat relevan dengan blog ini, tapi karena sifat keterkaitannya yang terlalu kompleks (terlalu banyak ‘kontraindikasi‘ sehingga sulit ‘diresepkan’ secara ringkas), saya belum bisa angkat itu sebagai sebuah artikel.

    Sebab sekali lagi, konsep blog ini kelasnya cuma bincang-bincang khas kedai kopi.. Eh tapi ngomong-ngomong, reply kayak gini ini ada yang mbaca nggak ya??:mrgreen:

    PS (bagi yang lain, kali ada yang baca): blog SK bersifat medis (lho, ketemu ~IS lagi!?)

  9. Komen dan reply menjadi kesatuan dengan postingan, jadi saya tetap menikmati reply panjang atas komen SK.
    Matur nuwun untuk menjernihkan kerancuan saya tentang dialek dan aksen.
    Sama-sama jawaban ‘ya’ secara lisan akan muncul analisis ya dengan sepenuh hati, atau ragu ataupun basa-basi tergantung kepekaan selama komunikasi.
    Matur nuwun untuk selalu berbagi ilmu.

    Matur nuwun Bu Prih, sangat membesarkan hati. Kadang rasanya payah memang meringkas sesuatu yang sulit diringkas (yang kalau dipaksa juga nanti pesannya akan tidak sampai atau malah jadi terbaca lain sama sekali). Jadinya tetap panjang. Lalu setelah itu saya cuma bisa heran sendiri: “Lho, ini reply apa artikel..?”

    PS: Oya maaf, paket komen terakhir saya di Wijikinanthi sepertinya agak semrawut

  10. Bahasa di Indonesia banyak, apalagi dialeknya makin banyak..

    ‘Makin’ ini maksudnya ‘lebih’? Kalau itu, iya. Tapi kalau ‘makin lama makin banyak’, kayaknya ndak. Yang ada berkurang terus. Deras.

  11. Akhirnya saya berhasil menemukan blog yang berfokus ke Bahasa Indonesia😀
    Saya sendiri membuat tulisan bertema bahasa di blog. Namanya “Balada Bahasa Indonesia”. Kalau mas Rianda tertarik bisa berkunjung [..] dan memberi masukan.

    Hidup bahasa Indonesia, hehehe.

    Halo Yogi, maaf link saya strip-off (lihat ‘nuansa’, reply untuk Sumana Saman yang
    kedua, paragraf terakhir). Blog visitor bisa dikunjungi dengan mengklik nama, ok?
    (bisa coba dengan nama Rianda di atas:mrgreen: )

  12. Jadi kalo medhok jawa itu aksen atau dialek?

    Istilah ‘med[h]ok’ mengacu kepada bunyi (ala bahasa daerah), jadi masuk aksen.

    Batak: bunyi [e] (beras, betul) diucapkan [é] (becak, hebat)
    Minang/Jawa: bunyi [d] yang khas (yang masing-masing berbeda)
    Bali: bunyi [t] dan tekanan pada suku kata terakhir yang khas

    Jadi ‘ngomongnya medok’ berarti ‘bunyi/aksen daerahnya’ masih kental saat sedang berbahasa lain (Indonesia), sehingga kadang orang bisa menebak asal ybs.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s