fallacy

– tipe kesilapan –

Secara prinsip–sederhana, arti atau pengertian fallacy adalah ‘kekeliruan dalam penalaran’. Misalnya “Kemarin seharian hujan, pasti hari ini panas terus”, jelas ada logical error di sini. Tetapi jika ternyata benar panas terus (alias meski ‘cacat logika’, tetap terjadi)? Ya bisa saja.

Fallacy adalah tentang kekeliruan (dalam menalar), bukan peristiwa (fiktif atau faktual)

Suka tidur di goa (A) dan rajin minum softdrink (B), sekarang ia kaya raya (C).

Kalau memang ybs suka tidur di goa + rajin minum softdrink dan dulu miskin sekarang kaya, berarti ‘benar’, kan? Toh meski sesuai fakta, jelas ada yang sangat tidak beres di situ sebab arahnya cenderung menyesatkan (seolah C = A + B). Kalau info begini orang terus asal telan, bukan mustahil lama-lama bakal timbul gagasan ‘minum softdrink di goa bikin cepat kaya’.

Berikut ini contoh klasik tentang fallacy (dengan sedikit ‘aransemen’ dan pengembangan).

*****

Diambil siluman

Tiga bersahabat nongkrong di kafe, bon Rp30 ribu. Mereka mengeluarkan Rp10 ribu seorang. Kasir yang teliti tahu pelayan telah salah catat sebab ada menu yang stoknya sedang kosong dan total yang benar Rp25 ribu. Sambil minta maaf, si pelayan datang lagi dengan kembalian, 5 lembar ribuan. Mereka mengambil seribu seorang dan Rp2 ribu ditinggal di meja untuk tip.

Jadi perinciannya, pengeluaran = Rp10 ribu kembali seribu = Rp 9 ribu. Kali tiga = Rp27 ribu. Tiga sahabat baik hati, pelayan yang khilaf tetap dapat tip. Rp27 ribu + Rp2 ribu = Rp29 ribu.

Yang seribu, ke mana?

Gara-gara kotak amal

Satu dari tiga sekawan di atas masuk opname. Di toko depan rumah sakit, kedua temannya membelikan roti bagi si sakit Rp30 ribu (Rp15 ribu/orang). Ternyata pada hari itu untuk item tertentu sedang ada diskon, sehingga total hanya Rp25 ribu. Dari 5 lembar uang kembalian, Rp2 ribu mereka ambil (seorang selembar) dan tiga lembar mereka masukkan kotak amal.

Jadi bersih mereka mengeluarkan (Rp14 ribu x 2) untuk besuknya dengan total Rp28 ribu. Kalau ditambah Rp3 ribu (sejumlah yang untuk kotak amal), maka totalnya jadi Rp31 ribu.

Yang seribu, dari mana?

Demi ortu

Seorang dari tiga bersahabat dititipi uang orangtuanya guna membelikan sesuatu, Rp95 ribu. Karena uangnya ketinggalan, ia berhutang dulu kepada kedua temannya Rp50 ribu per orang. Dari kembalian, Rp4 ribu ia berikan temannya (Rp2 ribu per orang), dan sisanya ia kantongi.

Jadi total sisa hutang yang masih harus ia bayar adalah sebesar Rp48 ribu x 2 = Rp96 ribu. Ditambah dengan Rp4 ribu yang sudah langsung ia kembalikan, totalnya tepat Rp100 ribu.

Lho, kok pas? Trus.. seribu yang di kantong?

*****

PENJELASAN

Pengeluaran (secara kolektif) dan perinciannya (dalam ribuan rupiah)

Siluman:

30 = 25 + 2 + 3 (pengeluaran awal = bon + tip + uang lebih)
30 – 3 = 25 + 2 (pengeluaran awal – uang lebih = bon + tip)
27 = 25 + 2 (pengeluaran bersih = bon + tip)

Jadi Rp27 ribu itu sudah termasuk yang untuk tip, jangan ditambah Rp2 ribu lagi.

27 = 25 + tip

Dan kalau dari 27 (pengeluaran bersih) ingin dikembalikan menjadi 30 (pengeluaran awal), maka harus ditambah dengan 3 (uang lebih atau jumlah yang benar-benar mereka ambil),

(27) + 3 = (25 + tip) + 3

Dua lainnya:

Kotak → (28) + 2 = (25 + amal) + 2
Ortu → (96) + 4 = (95 + saku) + 4

*****

CATATAN

Lalu pertanyaannya: Apanya dari problem ini yang membuat banyak orang jadi ‘silap nalar‘? Mirip ‘Minum di goa bikin kaya’, bahasa pada ‘Siluman’ dan ‘Kotak amal’ cenderung bersifat

misleading (arahnya menyesatkan) atau deceptive (mengandung muslihat)

Pada ‘Ortu’ aspek pengacauan info-nya sudah sangat dikurangi, jadi lebih merupakan bocoran daripada teka-teki (bisa dipakai sebagai modal untuk ‘membidik’ fallacy kedua versi lainnya).

Oya, pada ketiga versi, tidak satu pun ada pernyataan salah atau bohong.

Sempat garuk kepala soal ‘duit seribu’ ini? Berarti sama, kita he..he..

*****

(Lihat juga: ‘kambing Monty‘—termasuk reply untuk Faziazen + Femmy Syahrani)
————————

—KK—

6 thoughts on “fallacy

    • Akhirnya ketemu juga jawaban teka-teki guyonan ini haha….

      Lupa kapan pertama kali dapat ini, mungkin SD. Yang ingat: bingung.
      Bukan mikir, semua malah jadi sibuk ribut sendiri terbahak-bahak😀

  1. Terima kasih sudah memberikan contoh jelas ttg fallacy. Dari ketiga persoalan diatas, jelas-jelas pertanyaannya sudah ‘misleading’ sekali.’ Dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak orang yang pandai sekali memutar balikkan fakta dan logika untuk mengecoh orang lain ya?

    Spt ada perkataan : “Thou shalt not commit logical fallacy……..” 🙂

    Benar Bu Lois, deras sekali tayangan (berita, liputan, talkshow dll) yang mengajak orang fokus kepada ‘pertanyaan yang salah’ yang dampaknya jauh dari menyelesaikan masalah. Soal jelas dan mudah, jadi kabur dan ‘bubrah’ he..he..

    PS: maaf lambat respons, lagi banyak libur ngenet kemarin🙂

  2. Ikutan terkecoh oleh fallacy. Silap nalar yang dikondisikan untuk menggiring opini lebih ngeri lagi, sesaat audiens diplintir alur pikirnya. Saat kembali dipikir jernih lah jebulnya….dan terlanjur.
    Terima kasih sekali Mas Kuka bisa menikmati sajian ini.
    Salam

    Iya itu. Repotnya, setelah ‘jebulnya dan telanjur’, orang sering terkondisikan untuk ‘yah sudahlah..’. Lalu ‘pengarahan’ yang fallacious itu datang berulang.

    Terima kasih bisa menikmati. Gara-gara ‘kambing Monty’, sebenarnya saya tidak terlalu PD kalau nulis tentang hal yang berbau fallacy seperti ini (masih suka kesulitan ngukur penjabarannya masih kependekan atau justru sudah kepanjangan).🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s