akronim – bacronym

Arti umum akronim (acronym) adalah singkatan yang dibentuk dari bagian awal (huruf/suku kata) dari komponen/kata-kata pembentuknya, dan yang bisa dan biasa dibaca sebagaimana sebuah kata. Contoh yang paling umum misalnya,

radar (radio detecting and ranging)
sonar (sound navigation ranging)
letkol (letnan kolonel)

Akronim yang merupakan rangkaian inisial biasa ditulis dengan huruf besar,

ASEAN (Association of Southeast Asian Nations)
RAM (Random-access Memory)
ROM (Read-only Memory)

Untuk ‘nama’ (atau yang dianggap melambangkan identitas) dan istilah khusus non-inisial, kerap ditulis dengan huruf kecil yang diawali dengan huruf besar,

Benelux (Belgium, [the] Netherlands, Luxembourg)
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)
Ipoleksosbud (Ideologi-politik-ekonomi-sosial-budaya)

*****

Jadi kalau menggunakan batasan pada paragraf pertama di atas, kita bisa mengkategorikan beberapa singkatan berikut ini sebagai bukan akronim,

MA (Mahkamah Agung)
RI (Republik Indonesia)
Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi)
Babaranjang (Batu Bara Rangkaian Panjang)
Dr. (doktor)
dr. (dokter)

MA dan RI bukan akronim sebab selalu dieja [èm-a] atau [èr-i] (tidak diucapkan [ma] atau [ri]). Jagorawi/Babaranjang juga tidak—’gor/awi/jang’ bukan bagian awal komponen pembentuknya.

Dr. dan dr. juga bukan karena meski selalu diucapkan [doktor] atau [dokter] (tidak ada yang mengucapkannya [d] + [r]), yang diambil adalah bagian awal/akhir (memotong bagian tengah ‘okto’ atau ‘okte’)—di samping fakta bahwa selain satu-dua interjeksi seperti ‘hm’ atau ‘mm’, secara normal bahasa Indonesia tidak mengenal kata yang melulu terdiri dari konsonan (lain misalnya dengan bahasa Inggris yang memiliki kata-kata seperti sky, crwth, psych, rhythm). Dan yang paling prinsip mungkin ialah: Ini kan cuma satu kata, apa yang mau diakronimkan?

*****

Karena motif tertentu (mencari perhatian, biar gampang diingat dll), kadang sebuah akronim sengaja ‘dipas-paskan’ agar tepat membentuk kata atau istilah tertentu [yang sudah ada].

Maksudnya: supaya singkatan atau akronim yang terbentuk ‘nyambung’ dengan kepanjangan atau arti yang diwakilinya (menyatakan misi, tujuan, aktivitas, latar belakang komunitas dsb).

Misal karena merasa dirugikan dengan adanya impor daging ayam dari Korea, peternak lokal lalu menggalang gerakan yang dinamai TIDAK! (Tolak Impor Daging Ayam Korea!). Atau yang konteksnya jelas dengan sendirinya, RODA (Racer Otopet Divisi Ambarawa) dan ‘Konten Alus’ (Komunitas Netizen Teknik Elektro Nganjuk – Alumni Surabaya).

Jadi di sini justru akronimnya ditetapkan terlebih dahulu, lalu baru dicarikan kepanjangannya (yang dirasa ‘masuk’). Akronim yang seperti itu disebut dengan bacronym atau backronym (backward + acronym). Beberapa gerakan/komunitas konon sengaja dinamai dengan cara seperti ini. Tapi sekali lagi yang tiga itu cuma contoh asal-asalan. Kasus yang riil misalnya,

gepeng (gelandangan dan pengemis)
pegel (pengusaha golongan ekonomi lemah)

Istilah yang lahir dari bacronym yang kental kelakar seperti ini biasanya punya ‘umur cepat’—cepat populer ketika muncul, tapi praktis tidak diucap lagi oleh generasi berikutnya.

*****

(koreksi, 2 Mei 2015)
————————

NB: Belum ada definisi universal tentang akronim (sebagian pendapat mengatakan bahwa asal bisa dibaca seperti kata, berarti akronim). Jadi batasan yang digunakan di sini harap dianggap sebagai alternatif pengertian saja.

Catatan:

Sebagai istilah sistem pengindraan dari Perang Dunia II, radar adalah untuk deteksi di udara (pesawat terbang), sonar untuk deteksi di bawah permukaan laut (kapal selam, kapal, tebing).

Ipoleksosbud adalah jargon yang berkaitan dengan konsep Wawasan Nusantara—sering ditambah ‘pertahanan-keamanan’ dan ‘rakyat semesta’ (Ipoleksosbud Hankamrata).

Jagorawi adalah nama jalan tol pertama di Indonesia, dan Babaranjang adalah nama kereta api pengangkut batu bara di Sumatra dengan rangkaian sekitar 50 gerbong.

—KK—

2 thoughts on “akronim – bacronym

  1. Baru tahu ada kata bacronym dan penjelasannya disini betul-betul gamblang sekali🙂 Kalau begitu membuat bacronym itu lebih susah ya?
    Di Indonesia banyak sekali singkatan baru, saya selalu kebingungan mengartikannya.
    Jadi ingat alm.papa saya dulu yang suka berkelakar: Gojiwakro = Sego siji iwak loro. Kalau makan papa saya senang porsi nasi satu, dagingnya dua🙂

    Sepertinya begitu, urusan ‘ngepas-ngepasin’ ini perkara gampang-gampang sulit (makanya tiga contoh asal ngarang di atas itu adanya maksa semua ha..ha..)

    Agak mirip beliau berarti saya—nasi mini (kira-kira separo porsi sego kucingan yang banyak terdapat di Jateng), tapi soal lauk maunya lengkap he..he.. Btw (ini maksudnya ‘by the way’) ‘gojiwakro’ ni asli homemade ya? Asyik itu. Sudah banyak lupa saya, satu-satunya singkatan homemade yang masih nempel sepertinya tinggal ‘Markijo’ (Mari kita join!).:mrgreen:

  2. Tadinya saya kira akronim analog dengan singkatan ternyata ada kaidahnya.
    Untuk bacronym ada kemiripan dengan kerata basa atau jarwa dosok dalam bahasa Jawa ya, ada unsur OAM alias othak-athik mathuk.
    Salam

    Betul Bu Prih, bacronym masih kehitung ‘kerabat’ dengan OAM. Paling tidak dari segi aktivitas ‘menghubung-hubungkannya’.

    Untuk akronim, sekadar coba memberanikan diri saja. Umumnya bahasan akronim fokusnya ke contoh ‘apa yang iya’, ini coba agak bervariasi dengan juga membahas ‘apa yang bukan’. Jadi artikel ini sebenarnya agak berbau ‘bonek’ (bondo nekat).🙂
    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s