perimeter – parameter

– kata mudah / kata sulit –

Beberapa waktu lalu, dalam segmen berita ringan di sebuah TV swasta,

“Masyarakat kota anu (maaf, lupa) di Perancis panik karena melihat sosok menyerupai harimau di ketinggian bukit dekat sebuah supermarket.
Menerima laporan, petugas segera datang mengamankan parameter. . .”

Tampaknya tim redaksi stasiun TV ybs sudah keliru menyiapkan naskah si pembaca berita. Karena kalau melihat konteksnya, yang dimaksudkan adalah perimeter, bukan parameter.

*****

Memahami arti perimeter mudah. Ibarat bidang lingkaran, perimeter adalah keliling atau garis tepi ‘wilayah geografisnya’—atau dalam bahasa sehari-hari, ‘batas’ [luar/dalam].

Jadi jika dalam suatu film terlihat polisi tiba di TKP pembunuhan lalu si komandan berkata “Secure the perimeter!” (“Amankan perimeter!”), ia minta anak buahnya segera berbuat sesuatu agar orang tidak menerobos perimeter/masuk area—yang bisa berakibat ‘TKP rusak’ dan musnahnya barang bukti (misalnya dengan memberi ‘garis batas polisi’ atau police line).

Atau dalam kaitan contoh di awal artikel, instruksi itu bisa pula berarti memastikan agar si harimau (jika benar itu harimau) tidak keluar perimeter (guna memudahkan penangkapan).

*****

Menangkap arti parameter sulit. Ibarat bentuk lingkaran, parameter adalah.. bisa apa saja (diameter, keliling, radius, luas dsb), tergantung poin apa yang sedang dianggap perlu untuk diperhitungkan—atau dalam bahasa yang relatif sehari-hari, ‘karakteristik’ atau ‘faktor acuan’ [termasuk/tidak termasuk]. Misal,

♦> y = 2x – 1
♦> Pemda sedang menggodog [parameter-parameter] RPJM Daerah.
♦> Guru hadir agar perdebatan siswa tidak keluar dari parameter diskusi.

Ide gampangnya, yang menjadi parameter pada persamaan linear di atas bisa konstanta [-1], gradien [2], variabel [x] atau kombinasi komponen persamaannya (tergantung keperluan atau kasus). Kedua contoh berikutnya serupa, yaitu tentang poin-poin yang [akan/sudah] dijadikan acuan [sebagai karakterisktik RPJM/diskusi ybs].

Perlu dicatat bahwa pada contoh ketiga meski mengandung arti ‘batas’, istilah yang benar memang ‘parameter diskusi’ (bukan ‘perimeter diskusi’) karena substansinya adalah tentang ‘acuan‘ (sasaran, topik, guidelines, lingkup dll)—bukan tentang ‘lokasi‘ (sebagaimana dalam ‘perimeter area perkemahan’ atau ‘perimeter benteng pertahanan’).

*****

Dari contoh terlihat bahwa kata ‘parameter’ mempunyai pengertian yang kompleks—artinya, kata ini mempunyai ‘peluang lebih’ untuk menyulitkan pemahaman atau membingungkan orang (termasuk mungkin penuturnya sendiri).

Jadi jika orientasinya adalah kejelasan informasi dan gagasan kita bisa tersampaikan dengan kata yang sederhana, adalah logis (dan lebih bertanggung jawab) untuk mengutamakan kata atau istilah yang sederhana tersebut, bukan justru tanpa alasan jelas mengupayakan istilah rumit yang tidak mudah dimengerti (yang notabene belum tentu tepat) seperti ‘parameter’.

Saat kita sedang cuma mau bilang ‘tolok ukur’, misalnya.

*****

————————

NB:
Karena sifatnya yang kompleks dan aplikasinya yang bisa sangat beragam, pengertian ‘parameter’ di sini sudah sangat disederhanakan (‘faktor acuan’ adalah istilah sendiri).

Singkatan:
Pemda = Pemerintah Daerah
RPJM = Rencana Pembangunan Jangka Menengah
TKP = tempat kejadian perkara

Pustaka:
“Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary – Tenth Edition” (Merriam-Webster Inc., 1996)

Referensi:
Wikipedia → bisa lihat di sini (juga di sini, di sini dan di sini)

—KK—

9 thoughts on “perimeter – parameter

  1. sip,, perimeter = batas,, parameter = acuan ukur,, i get it,,

    biasanya parameter yang sering aku denger gini,,

    supaya kalian dapat nilai cukup di makul ini, parameter yang musti kalian capai adalah blablalblablab,,

    cantik itu relatif,, tergatung parameternya,,

    gitu kan??

    Terima kasih DR, maaf lambat respons. Oya biar lebih sip, tolong cek reply utk Sucipto Kuncoro (artikel ‘aksen-dialek’), termasuk tautan yang ada di awal reply, ok?

    Contoh yang DR berikan bisa-bisa saja. Tetapi kadang problemnya bukan apakah sebuah kata bisa ‘masuk‘ (dipakai) atau tidak, melainkan justru apa bisa ‘dibuang‘ atau tidak (atau kalau perlu ‘diganti‘ karena ada kata lain yang jauh lebih mengena).

    Ini buku [punya] Faisal.
    Pemda sedang menggodog [parameter-parameter] RPJM Daerah.

    Meski bisa, pada contoh pertama [punya] sebaiknya dibuang karena merupakan redundance (keberlebihan yang tak perlu). Contoh kedua (dari artikel) lebih parah karena berdampak kontraproduktif—idenya akan jauh lebih jelas jika [parameter-parameter] tidak dituliskan sama sekali (dalam artikel tetap saya tulis karena saya memang sedang sangat berkepentingan untuk menyampaikannya secara eksplisit).

    Intinya sederhana: sesuatu yang ‘bisa’ (kena), belum tentu ‘baik’ (tepat).

    Soal apakah contoh DR tepat atau tidak, tentu antara lain tergantung maksudnya mau bilang apa. Misal kalau idenya adalah ‘syarat’, sepertinya akan jauh lebih lugas jika [parameter yang musti kalian capai] diganti dengan [syarat yang mesti kalian penuhi] atau bahkan sekadar [syaratnya adalah..].

    Kira-kira begitu DR, semoga cukup [minimal agak] menjelaskan.🙂

  2. Yep, kadang salah karena sudah katanya hampir mirip, arti dan fungsinya hampir sama.
    Terimakasih infonya!

    Sama-sama Ziza. Kadang kita memang begitu ya—gara-gara pada beberapa kasus bisa saling menggantikan, lalu kita anggap sinonim (padahal ide dasarnya beda). Beberapa ‘pasangan salah kamar’ yang sangat populer misalnya:

    nuansa – suasana
    ilusi – ketidaknyataan

  3. Terima kasih, ikut belajar di sini.
    Dengan analogi logika, termometer adalah alat pengukur suhu, hampir saya terjebak bahwa perimeter adalah alat pengukur peri dengan parameter bla bla bla. [kebiasaan ngawuraceae]
    Salam

    Ha..ha.. Bu Prih bisa saja.. Eh tapi kok ya ngawuraceaene njuk pas dengan artikel berikutnya yang ujung judulnya juga bervokal ria. Saya post nanti kalau sudah di rumah (Minggu malam 7 Juni saya sampai Benerpitu, tapi karena ada perubahan rencana jadi sore ini mesti balik ngulon, tak sempat krusak-krusuk kuliner😦 ).

    PS: sudah cek komen Nin S. kah (‘aksen-dialek’)? Meski sebenarnya tidak menerima link, saya harus buat kecualian untuk yang satu ini. Cocok untuk Wijikinanthi (sudah lapor juga ke Bu Lois). Salam.

    • Wuut barusan tilik Benerpitu ya, pantesan burung prenjak ramai berkicau. Terima kasih untuk info link menarik. Salam hangat

      Siyap! Iya, meski kalau dihitung-hitung nyaris seperti nebeng tidur malam tok. Untung pas datang kemarin langsung ‘nyuruh’ (sate) dan menjelang pulang sempat ‘mbabat’ (bakso).

      [Iki wong kit wingi sing dibahas kok njur mung weteng-ae]

  4. Terima kasih penjelasannya. Parameter? Sulit pengertiannya karena kalau berpikir saya itu cenderung out of boundaries, hehehe….

    Sama-sama Bu Lois. Memang ribet menjelaskan jargon satu ini (meski untuk memahaminya secara aplikatif sebenarnya nggak rumit-rumit amat). Bahkan Merriam-Webster sendiri (paling tidak s.d. edisi ke-10 yang saya jadikan salah satu acuan) cukup berhati-hati untuk tidak memberikan batasan yang terlalu definitif.

    Kalau tak salah, di Indonesia kata ini mulai memasyarakat sejak TV swasta ada. Awal dulu tak seberapa, sekarang ngomong apa aja (politik, kiat bisnis, olahraga, obrolan ngayawara nggak jelas dll), semua orang mantap ber-‘parameter’..😀

    • Maaf ini pertanyaan saya diluar topik🙂

      Barusan saya nonton pernikahan putra presiden Jokowi di YouTube dan sedikit heran ketika media menyebutnya sebagai ‘Royal’ Wedding. Kalau pengertian kami disini sebutan royal itu hanya untuk keluarga kerajaan saja. Bagaimana menurut KK ?

      Ndak papa, masih satu spirit kok.🙂 Pengertian saya sama: itu bukan ‘royal wedding’ (ybs presiden, bukan raja/kaisar Indonesia).

      Dan kalau di TV (oleh para profesional/terlatih) saja ‘blatant error’ ala ‘harimau parameter’ di atas relatif biasa, bisa diperkirakan untuk socmed dan citizen journalism (termasuk YouTube) peluang error ala ‘royal wedding’ akan jauh lebih besar (sering).

  5. I accidentally trash your comment which I meant to approve and reply to. Apologies🙂

    Nah, no worries about that. Nice pic, nevertheless.🙂
    PS: and it’s already back again, I think🍸

  6. Parameter cenderung ke batasan ya? Kirain tentang faktor pendukung. Maaf…🙂

    Halo Rawins. Maaf, entah gimana ni komen kok kena blok. Karena saya ndak biasa cek folder spam, jadi ya ndak tau—ini kebetulan aja iseng liat-liat dalam rangka bulan puasa.. (ndak nyambung:mrgreen: ).

    Seperti yang [secara implisit] saya bilang ke Bu Lois, sebenarnya ‘karakteristik’ dan ‘faktor acuan’ (istilah saya dalam artikel) cuma sebagai pendekatan umum, ok?

    Saya tidak akan mengatakan ‘faktor pendukung’ keliru, tapi kalau misalnya Rawins akrab dengan algoritma bahasa pemrograman (layout blog Rawins lumayan sip), istilah yang lebih aman mungkin adalah ‘faktor penentu’ (semacam ‘determiner’).

    • Gapapa. Aku emang suka nyepam soalnya..😀

      Sebenarnya aku malah gaptek soal blog, makanya bingung juga dengan penjelasan di atas. Selama ini aku mikir parameter itu sebagai faktor pendukung gara gara suka dengar orang ngomong tanpa aku tahu definisinya dan ga mau nanya. Sehingga bikin penafsiran sendiri berdasarkan kalimat lengkapnya.

      Misalnya waktu bos bilang, “saya mau semua site terkoneksi dengan system HO, tolong bikin parameternya…”

      Ketika aku ajuin RAB dan perencanaan proyek, si bos main teken aja bukannya mengoreksi bahwa yang dia maksudkan parameter itu batasan-batasannya. Apa beliau khilaf ya..? #maaf…

      Saya ndak dlm kapasitas untuk membenar/salahkan ucapan si Bos, apalagi maksud beliau apa (dgn ‘parameter’-nya tsb) juga ndak tahu. Artikel lebih merupakan kesan pribadi bahwa dewasa ini penggunaan kata ‘paramater’ sudah relatif sangat abusive (→ reply utk DR/Lois).

      Oya sekadar memastikan, tidak ada dalam artikel yang menyatakan bahwa ‘parameter’ = ‘batasan’ (constraint), ok? Tetapi bahwa teken langsung didapat, saya kira secara internal [kantor] itu bagus.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s