Scoville

– satuan ukuran –

Campur secangkir bubuk cabe dengan sekian cangkir air. Lalu cicipi. Pedas, kan? Tambahkan air dan rasai kembali. Demikian prosesnya diulangi terus sampai pedasnya tidak terasa lagi.

Bukan resep, itu cuma ilustrasi mudah bagaimana Wilbur Scoville (seorang ahli farmasi AS), saat ia sedang meramu sejenis salep, secara tak sengaja menemukan cara ‘menakar pedas‘.

Scoville Units / Scoville Heat Units / SHU

Jadi jika cabai-A butuh 100 cangkir air untuk menetralisir pedasnya (sebut saja ini 100 SHU) dan cabai-B perlu 500 cangkir (500 SHU), itu artinya cabai-B 5x lebih pedas daripada cabai-A.

Sedikit ilustrasi, tingkat kepedasan cabe rawit bisa mencapai skor 100 ribu SHU, sedangkan naga jolokia (tumbuh di India – Bangladesh) bisa tembus 1 juta SHU—alias 10x lebih galak(!)

*****

Untuk banyak urusan (apalagi soal uang), kita memang butuh satuan ukuran yang spesifik. Masalahnya, kenyataan berbicara bahwa ‘akurasi’ tidak selalu merupakan sebuah kebutuhan.

Ayam bakar paha dua (potong), Mbak!
Gula pasirnya Pak, ½ kilo (gram) saja!
Maaf, kembalinya kurang 5.000 (rupiah).
Bang, nasi goreng pedas ya—13 ribu SHU!

Tiga yang pertama wajar, tetapi yang terakhir kesannya justru lebih mirip orang cari gara-gara. Jadi mungkin karena sifatnya yang sering ‘tak penting benar’ (juga terlalu merepotkan) itulah Scoville scale menjadi seperti sebuah standar yang merana—meski di bumi banyak ‘lombok’,

*****

Toh, yang jeli mengeksploitasinya ada saja. Misal, sebuah perusahaan sambal Amerika pernah memanfaatkan skala Scoville sebagai sebuah ‘bumbu’ komunikasi visual yang cukup menarik.

Tabasco

Tabasco, dengan beragam produk sambal dan tingkat kepedasannya
(misal yang versi ‘original’, kedua dari kiri, pedasnya 2500 – 5000 SHU)

Atau dari Bandung—gudang kuliner kreatif itu, ada keripik pedas Maicih. Entah pakai Scoville atau tidak (yang paling ganas diberi label ‘level-10’), keripik singkong ‘satu nama dua Emak’ ini adalah sebuah contoh [shared] positioning—yang berkibar dengan skala kepedasan.

*****

Tapi manfaat ‘pedas’ tentu tak terbatas pada bisnis makanan selera Nusantara yang memang ‘ramai cabai’ itu saja. Dengan kekayaan flora Indonesia, peluangnya lumayan bahwa dari cabai kita bisa menemukan berbagai kiat hidup sehat atau bahkan alternatif obat alami nan murah.

Dan sepertinya, itu akan jauh lebih mudah terjadi kalau orang tidak terlalu meremehkan ‘serendipity nggak penting’ Kakek Wilbur.

*****

(Lihat juga ‘positioning‘ dan ‘serendipity‘)
———————————
(Revisi, 25 Desember 2015)

Catatan:

‘Resep salep gagal’ di atas cuma ilustrasi yang sudah sangat disederhanakan (agar konsepnya menjadi mudah dibayangkan)—bukan merupakan gambaran ‘prosedur lab’ yang sebenarnya.

Karena banyak kelemahan, ‘metode asli’ ala Scoville di atas kini tidak digunakan lagi (ada cara baru yang lebih akurat). Namun untuk menghormati ‘temuannya’, namanya tetap diabadikan.

Maicih—satu nama dengan dua produsen berbeda (hadap samping dan hadap depan)

Referensi:
Scoville Food Institute (seputar pedas)
Tabasco (gambar)

—KK—

8 thoughts on “Scoville

  1. Baru-baru ini saja saya tahu kalau rasa pedas ada takarannya. Jadi heran juga dalam bahasa Inggris rasa pedas dan panas itu sama yaitu hot. Walau saya suka rasa pedas di mulut tapi kalau kena panas cabe ditangan paling tak tahan.
    Kalau mau ngukur kepedasan bagaimana caranya ya, mungkin kadar capsaicimnya bisa diukur secara ilmiah di laboratorium. Kalau masih memakai orang untuk merasakannya, mungkin sulit juga karena ada yang sensitif atau sebaliknya kebal rasa pedas.

    Sepertinya ‘pedas’ memang lebih jadi isu di Indonesia daripada di Inggris (dkk) yang cuma kenal istilah ‘hot’. Padahal buat kita yang kultur cabenya kadung mengakar, ‘panasnya’ ceret atau kopi yang kebul-kebul jelas beda dengan ‘pedasnya’ lombok.

    Kalau soal ‘mengukur‘ emang repot sebab fungsi sensor kita lebih bersifat kualitatif (lebih sumuk, paling asin, tidak cukup/terlalu besar dll) daripada kuantitatif (‘berapa’ asin/besar/panjang dll).

    Jadi selama tidak diciptakan alat semacam termometer untuk suhu atau penggaris untuk panjang, satu-satunya cara untuk memastikan ‘seberapa pedaskah itu’ ya kita terpaksa berjibaku icip-icip sendiri—yang kalau ternyata itu sudah kepedesan lalu cuma bisa “Huh..hah..huh..hah..!”😈

    Update: Maaf, sampai lupa. Soal uji lab, kabarnya sekarang menggunakan teknik ‘ekstrasi‘ (capsaicin atau capsaicinoid-nya) sehingga aspek subjektivitas pencicip sudah sangat dikurangi.

    Tapi karena ‘hasil bumi’ di mana karena banyak faktor (tanah, curah hujan dll) ‘rasa buah’ bisa bervariasi—bahkan untuk jenis/pohon yang sama (tidak seperti ‘panjang’ yang bisa dipantek 5 cm misalnya), maka hasil uji Scoville biasanya merupakan ‘rentang/kisaran‘ + ‘pembulatan‘ (mis untuk cabe rawit 50 ribu – 100 ribu SHU).

  2. Saya penggemar pedas + buah. Dan entah kenapa gak begitu suka pedas + non buah.. apalagi dimakanan pokok😀

    Halo Pak Andri. Pedas buah yes tapi pedas nonbuah nggak yes yes amat? Wah, berita baru ini buat saya!😀 (yang lebih umum sebaliknya, ya?)

  3. Jaman dulu pizza hut itu pakai tabasco di mejanya, skrg sambal abc kayaknya. Aniwei, makanan paling pedas yg pernah aku makan itu itiak lado ijo di ngarai sianok itu kira2 10rb SHU lah, Hihihiiii kayak ngerti aja

    Wuiih! Dari namanya aja udah sangar gituh—itiak lado ijo (belum pernah sih):mrgreen: Btw lupa-lupa inget soal pizza yang itu, lama sekali tak ke sana, yang pasti berarti dulu untuk sambel meja aja mereka impor ya? Weleh..weleh..

  4. Di Kalsel ada cabe unggul cabe Hiyung ditengarai terpedas di Indonesia belum tahu berapa SHU. Pedagang tahu isi bakalan suka nih ngirit cabai ya Mas KK. Salam

    Baru dengar ini. Terima kasih, nanti kalau tahun depan jadi main ke Banjarmasin akan saya coba cari (setelah nyiapin banyak tahu isi terlebih dahulu, pastinya🙂 ).

    PS: Maaf kena pending Akismet, baru pertama kali dengan ID yang ini sepertinya ya.

  5. Cerita cerita mengenai sambal, dikampung saya ada sambal yg mantab banget mas.. namanya “samba lado hijau”. Kapan kapan di ditakar tingkat kepdasannya mas Hehehe..

    Ini satu ‘kampung’ dengan Uni Lusi yang di atas itukah? (Sama-sama ‘lado’ soalnya).
    Ok Mas Ari, kapan-kapan dicicipi sambalnya (kalau ‘nekat mode’ sedang on)🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s