epitaf – inskripsi

( + kilas )

Epitaf (Inggris: epitaph) adalah kata-kata pada makam (puisi/narasi) yang dituliskan untuk mengenang sang almarhum[ah] (hubungan, jasa dsb). Misalnya jika membaca tulisan seperti,

“Telah berpulang dalam damai—putra, suami, ayah dan teman tercinta”

orang lalu jadi teringat (atau tahu) bahwa saat ybs wafat orangtuanya [ada yang] masih hidup,
ia sudah menikah/punya anak (tetapi belum cucu), semasa hidup dekat dengan keluarga dll.

*****

Mungkin karena tulisan pada makam biasa dipahatkan (inscribed), orang kadang rancu antara pengertian epitaf dan inskripsi (inscription)tulisan yang diukirkan (pada batu, logam dsb).

inskripsi-kalibata (scaled)Inskripsi pada dinding Taman Makam Pahlawan Kalibata – Jakarta

Tapi meski sebuah epitaf lazim berupa inskripsi dan sebaliknya suatu inskripsi bisa sekaligus merupakan epitaf, prinsip bahwa satu sama lain beda arti sesungguhnya mudah dirumuskan:

epitaf tidak harus diukirkan (kalau mau, sekadar ‘dilukis’ dengan cat pun jadi)
inskripsi tidak harus di makam (bisa di monumen/tugu peringatan, koin dsb)

Perbedaan lain, epitaf [secara otomatis] bersifat ‘personal’ sedangkan inskripsi tidaklah harus demikian. Ini misalnya acap terdapat pada prasasti (epigraph)—istilah untuk inskripsi kuno yang berisi pernyataan resmi [dari pihak berwenang] tentang ‘sesuatu’ (peristiwa, dinasti dll).

*****

Yang menarik, tidak semua tulisan pada makam melulu berbicara tentang si meninggal. Ada yang ‘spirit’-nya justru terasa lebih bercerita tentang [tabiat] mereka yang masih hidup—kita.

Misalnya inskripsi pada ‘makam kontroversial’ (yang sudah dialihbahasakan dengan apik oleh Komaruddin Hidayat dalam tulisannya di sebuah harian ibukota sekian tahun lalu) berikut ini..

Yang rasanya cocok sebagai bahan renungan akhir tahun.

Hasrat untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
aku bermimpi ingin mengubah dunia..

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit
dan kuputuskan hanya mengubah negeriku
Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya

Kala usiaku sudah semakin senja
dengan semangatku yang masih tersisa
kuputuskan untuk mengubah keluargaku
orang-orang yang paling dekat denganku
Tetapi celakanya, mereka pun tidak mau diubah

Dan kini, di saat terbaring menjelang ajal
tiba-tiba kusadari..

Andai saja dulu
yang pertama kuubah adalah aku sendiri
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan
mungkin aku bisa mengubah keluargaku
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku

Kemudian, siapa tahu..
aku bahkan bisa mengubah dunia

*****

(Lihat juga ‘tahun baru‘)
—————————
(Terjemahan inskripsi oleh Komaruddin Hidayat, dengan sedikit penyesuaian oleh KK)

Catatan:
Disebut ‘makam kontroversial’ (1100 M) karena kebenaran akan keberadaannya (dan dengan sendirinya juga inskripsi di atas) memang simpang-siur, termasuk adanya penyangkalan dari pihak Westminster Abbey sendiri (tempat di mana makam tsb konon berada).

Pustaka / referensi:
“Kamus Indonesia-Inggris” – Edisi Ketiga (John M. Echols & Hassan Shadily, Gramedia, 2002)
“Karma sebuah Bangsa” (Komaruddin Hidayat, Kompas, Hal IV, 13 Maret 2002)
“Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English” – Third Edition (A.S. Hornby, Oxford
University Press, 1984)

Sumber gambar: Liputan 6

—KK—

8 thoughts on “epitaf – inskripsi

  1. Makan jaman baheula terutama makam bule penjajah sering didapati ada epitaf. Sering tulisannya jadi kalimat yang bagus, memberikan inspirasi.

    Bagi sebagian kultur epitaf seperti sudah jadi bagian dari ‘penghormatan terakhir’ (khusus dari orang-orang dekat) yang diabadikan ya, maka kata-katanya suka bagus.

  2. Inskripsi yang inspiratif nih Mas KK, pencerah di akhir tahun, agar keberadaan setiap kita juga menjadi inskripsi yang hidup.
    Salam dari Salatiga

    Betul Bu Prih. Untung waktu mbaca tulisan Pak Komar di koran dulu bagian ini langsung saya ketik masuk database, jadi aman tersimpan. Versi Inggrisnya ada beberapa, tetapi tidak semuanya bagus. Salam kembali dari Tangerang.

  3. Hey, how did you find my blog? I’m so sorry but I don’t understand your language at all. But if I did, I’m sure I would read a great article about epitaf.🙂

    Hi Vlasta! It’s very nice of you to say that about my post. I found yours by accident while googling (over posts about ‘epitaf’). Yours came up.. (you know the rest).

    I guess it’s good that somehow our languages have exactly the same word for it, else this might never happen.🙂 Cheers!

  4. Selamat Tahun Baru 2016. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa ajal bisa kapan saja datangnya….. Mari kita semua jadi lebih baik ditahun yang baru ini.

    Catatan: ingat dulu pernah nulis sedikit renungan ttg kehidupan dan kematian: https://kiyanti2008.wordpress.com/2009/06/08/bid-the-last-farewell/

    Selamat Tahun Baru juga, Bu Lois. Sama-sama, dan semoga kita termasuk orang-orang yang tidak berhenti berupaya—melakukan yang kita bisa.

    Sudah saya cek. Wuiih.. bagus sekali! Nanti malam tak tengok lagi sekalian komen.🍸

  5. Makam2 raja Aceh juga banyak epitaf dalam bentuk kaligrafi Arab. Kalau diterjemahkan juga sangat indah bahasanya

    Halo Liza. Apalagi kalau pakai huruf Arab, ya (yang seolah dari sononya memang ditakdirkan untuk seni kaligrafi itu). Kalau untaian katanya indah, ya makin klop

    PS: Maaf baru respons, libur agak lama kemarin.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s