garis tanggal internasional

Kemarin adalah hari ulang tahun Siti. Supaya hemat, orangtuanya baru akan mengadakan acara syukuran/perayaan pada H+2 alias besok—saat kakak kembarnya, yaitu Sutan, berulang tahun.

Si Adik—yang lahir belakangan, dua hari lebih tua daripada kakaknya?

*****

Kita tahu bahwa jika di Indonesia siang, di belahan bumi sana—misal Amerika, pasti malam (dan begitu pula sebaliknya). Kita jam enam pagi, mereka jam enam sore—kira-kira begitu.

Mungkin baiknya lihat dulu gambar → di sini (sambil sedikit dibaca-baca akan lebih elok lagi, guna memastikan ‘bahasa’ yang kita gunakan sama). Jadi konsep sederhananya, tahun baru ibarat menentukan titik awal pada [keliling] lingkaran. Mau tunjuk di mana terserah, yang penting ada/punya patokan, agar kita tahu kapan [tahun] mulai dan kapan berakhir.

Dateline-animation-3deg-borderonly-180pxSama seperti tahun, tanggal (hari di bumi) juga butuh patokan. Soal waktu rasanya semua orang sepakat—hari mulai/berakhir pukul 00:00/24:00. Tapi soal ‘batas’ di atas permukaan bumi (mulai/berakhirnya)? Dari sanalah kemudian muncul konsep garis tanggal internasional (international date line/IDL)—sebuah garis maya Utara-Selatan pada bujur 180° (pada ilustrasi di sebelah kanan yang dilihat ‘dari atas’ Kutub Utara, IDL digambarkan sebagai garis/jari-jari merah).

Rotasi bumi yang berputar ‘ke kiri’ punya dampak. Jika kita ada di sisi barat garis dan melintas ke Timur, kita mundur satu hari (misalnya Selasa kembali ke Senin). Sebaliknya jika kita ada di sisi timur garis dan melintas ke Barat, kita maju sehari (Senin maju jadi Selasa, misalnya).

international-date-line

Dan itulah yang terjadi. Saat melahirkan si kembar, ibu Sutan/Siti sedang melintasi IDL.

*****

Sutan (kakak) lahir 1 Maret—di atas kapal, sedangkan Siti (adik) 28 Februari sebab saat ia lahir kapal yang melaju ke Timur sudah melintasi garis tanggal internasional. Setiap tahun kabisat (seperti tahun 2016 sekarang ini), ulang tahun Siti dua hari lebih awal daripada kakak tercinta.

Selamat menikmati hari kabisat 29 Februari, hingga empat tahun lagi.🍸

*****

—————————

Catatan:
Teka-teki ulang tahun si kembar nan aneh di atas adalah buah karya Judy Dean (yang sudah sedikit dimodifikasi) yang memenangkan kompetisi Games Magazine pada tahun 1992.

Sumber gambar:
Wikipedia (IDL dalam rotasi)
Time and Date (peta IDL)

—KK—

9 thoughts on “garis tanggal internasional

  1. Oh bisa jadi seperti itu juga ya, artinya perjalanan waktu bukan hal yang mustahil dong. Walaupun cuma sehari aja😀

    Benar elfarqy, paling tidak jika waktu dilihat sebagai ‘tanggal‘, bukankontinum‘.
    Jadi kalau mau iseng coba aja: melintas ke Timur (mundur 1 hari sebelumnya), lalu segera balik lagi ke Barat (kembali ke hari semula). Lalu di twitter/fb/blog dsb tulis:

    “Aku baru kembali dari masa silam”

    Tabiat kita, ‘judul kardus’ macem gini mungkin bakal banyak mendulang klik.:mrgreen:

  2. Itu teka-tekinya…… baru baca beberapa hari lalu. Baca teka-teki itu juga dari artikel-artikel yang bahas tentang lateral thinking. Dapet artikel lateral thinking juga dari googling karena penasaran habis baca topik lateral thinking di blog ini. Hehehe.

    Ngomong-ngomong, saya selalu seneng ama topik-topik di blog ini. Terus nulis ya Kaaak

    Lho, beneran dari sini-situ-sana-trus balik nemu di sini lagi? Itu namanya ‘mencari’ atas inisiatif sendiri (bukan cuma pasrah nunggu materi/disuruh).. Keren sekali!! Kalau rata-rata pelajar/mahasiswa kita begini.. Wah, angker deh Indonesia!🍸

    Topik IDL ini memang rasanya paling pas 29 Feb tahun ini ya (2020 kelamaan, 2012 blog kutu yang belum lahir). Dan Prita benar, artikel ini punya beberapa poin utama sekaligus (salah satunya ‘pengakraban materi’ lateral thinking).

    Terima kasih banyak untuk sukanya, membesarkan hati.🙂 Amin. Prita juga sehat selalu, biar bisa terus mbaca.. hehe.. (PS: Maaf, entah gimana komen kena pending. Seminggu ini tamu spam rada lumayan, jadi mungkin si akismet jadi agak pusing).

  3. Elok sekali Mas Kuka ‘mendaratkan IDL’ dalam keseharian. Weton Sutan Jemuwah Pon dan Siti Ngat (Ahad) Kliwon. Salam

    Waduh, menyenangkan sekali bingkisan wetonnya (kebetulan dari dulu saya tidak pernah ngeh soal ini), dan terima kasih sangat untuk yang di dalam tanda kutip itu—rasanya Bu Prih orang pertama yang bilang tulisan di sini cukup ‘mendarat’. Salam.

  4. Info menarik. Tapi sebenarnya secara teor kita bisa melakukan “perjalanan” ke masa depan –tentu hanya perbedaan secara relatif–. Sila tonton videonya, menarik
    Is Time Travel Possible? – The Science of Doctor Who – Doctor Who – BBC https://www.youtube.com/watch?v=-O8lBIcHre0

    Sudah saya cek, Ecky. Terima kasih. Biar lebih sreg, sebelum melanjutkan tolong lihat dulu reply untuk Sucipto Kuncoro (artikel ‘aksen-dialek’), ok?

    Dalam [astro]fisika, time travel (TT) memang salah satu isu sexy yang tak pernah sepi cerita. Ribuan tahun sebelum Einstein(!) Sejauh saya tahu, sampai dengan hari ini, orang belum bisa membuat perhitungan nan meyakinkan soal bisa/tidaknya TT dilakukan. Dan dalam bahasa science, kita tidak mengatakan ‘mustahil’ untuk hal yang ketidakmungkinannya belum bisa dipastikan. Jadi pernyataan ‘TT itu mungkin’ menurut saya akan lebih tepat jika kita maknai dalam konteks seperti ini (dan bukan dengan pengertian ‘we could do it’ atau ‘it can be done’). Contoh gampangnya,

    # Aku pernah kecopetan di puncak Mount Everest.
    # Hujan ini sepertinya bakal lama.
    # Besok siang kita rame-rame temu blogger di Bali?
    # Dua dekade dari sekarang, aku jadi presiden.
    # Satu abad mendatang, hyperspace dan wormhole?
    # Mungkin nggak ya, suatu hari nanti, time travel?

    Kecuali benar-benar pernah mengalami, hanya yang pertama itulah yang bisa kita pastikan ‘tidak mungkin’ (impossible). Sedangkan lima lainnya harus dianggap tidak cukup syarat untuk disebut ‘tidak mungkin’ (betapapun muskilnya)—dan ini, dalam bahasa sehari-hari, kita sebut dengan ‘mungkin’. Toh, meski kelimanya sama-sama ‘mungkin’, peluang masing-masing untuk benar-benar wewujud jelas beda, kan?

    Itu baru aspek [logika] ‘bahasa‘. Aspek ‘ilmu‘ (mis kalkulasi fisikanya), adalah di luar cakupan blog ini (dan pastinya di luar kompetensi saya). Tapi sekadar ngalor-ngidul ala warkop (kebetulan topik ini saya agak hobi), saya bonek (bondo nekat) ngayal:

    Kita akan terus berspekulasi soal bisa/tidaknya TT, selama kita belum bisa
    ‘menyingkap harmoni’ antara mekanika kuantum dan teori relativitas.

    Soal bahasa dan science, tentang video tsb saya cuma bisa sampai di situ. Tapi kalau mau sebenarnya Ecky juga bisa menikmatinya dengan cara lain: lihat ‘secara lateral’ (ala berita mengenai Baskoro pada artikel sebelumnya). Endus ‘di mana bolongnya’. Kayaknya sih, ada banyak.🙂 Ok Ecky, kira-kira begitu.🍸

  5. Oh, bayi kabisat /leap year babies.
    Saya membayangkan bayi kabisat yang lahirnya tepat di garis batas IDL akan memasuki Twilight Zone. He he he imajinasinya jadi ngaco, habis rasanya misterius banget. Ingat engga seri film The Twilight Zone dengan musik khasnya ‘ting ting ting ting, ting ting ting ting……’

    Mungkin kalau yang satu nongol, yang satunya lagi ngilang gitu kali ya? Lalu masing-masing saling menanyakan kabar saudaranya, yang selalu dijawab ortu “Yah, tadi barusan sih baik-baik saja” Haha..! Sempat nonton serial itu dulu, tapi jarang sekali, lha wong tayangnya twilight beneran (sekitar magrib). Tapi saya suka lihat yang TVRI tahun 70-an, “Night Gallery” (kalau tak salah jam 9 malam, tiap Kamis).

  6. Hello. Don’t understand, but wanted to say ‘how do you do?’ Have a nice day.🙂

    Hi Toortsie! I’m doing just fine. Nah, never mind the language.
    Thanks for checking me out anyway.🙂 Cheers!

  7. We’re definitely not using the same language, but with some help from Google, I think I can manage. But who is Siti?

    As to my trip to Indonesia, yes I had a wonderful time.

    Noted. And much appreciated.🙂 As you already know, this article is about International Date Line. But talking right away about stuff like IDL would be too dang technical, so I brought along the award winning puzzle by Judy Dean (about those particular twins whose younger one was, strangely enough, ‘older’).

    Siti (the kid sister) and Sutan (the big brother) are just made up [Indonesian] names so that [Indonesian] readers can feel more related. Thanks again, really.🍸

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s