tailor-made

“Confessions of an Economic Hit Man” adalah bestseller karya John Perkins yang membuat banyak orang sewot. Tak hendak membahas kandungan super-top secret buku heboh tsb, kita hanya akan menyorot satu ‘hal kecil’ di sana yang mungkin sering luput dari perhatian orang.

Dalam catatan karir yang penuh liku dalam ‘mengerjai’ perekonomian negara-negara sasaran itu, Perkins, yang ketika itu sedang dalam tahap mempelajari karakter calon korbannya (baca: pemerintah/rakyat/negara kita), membeber sebuah catatan intelijen yang amat tidak biasa..

EHM 150“. . .Creating an easy-to-learn language had been President Sukarno’s highest priority after Indonesia won its independence from Holland . . .

. . .his country needed a common vocabulary in order to unite people from the many islands and cultures. He recruited an international team of linguists, and Bahasa Indonesia was the highly successful result. Based on Malay, it avoids many of the tense changes, irregular verbs, and other complications that characterize most languages. . .” (pp. 37-38)

CEK #1: ada ekonom memuji bahasa, dalam sebuah biografi spionase(!)

*****

Soal bahasa yang diakui sebagai bahasa resmi/nasional, negara-negara di dunia (Vietnam, India, Australia, Amerika—pun yang dwi/multibahasa seperti Singapura, Belgia dll) umumnya tinggal menetapkan bahasa yang sudah lama ada/dipakai. Indonesia lain—kita menciptakan.

Berawal dari kebutuhan akan bahasa pengantar (akhir abad XIX), ejaan Van Ophuijsen (1901), kesadaran atas mutlak-perlunya sebuah bahasa persatuan (era Kebangkitan Nasional), ‘seleksi kandidat’ (akhirnya memilih bahasa Melayu sebagai ‘bahan utama’), penyesuaian (melepaskan ciri kedaerahan), pengikraran (Sumpah Pemuda), pembahasan (sekian kali Kongres Bahasa), pemaklumatan (dalam UUD’45) hingga terbit “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah” (era ‘bahasa Indonesia modern’),

Kita secara sadar ‘merajut’ bahasa, dari generasi ke generasi

Suatu bahasa yang mudah dipelajari, akomodatif akan jati diri berbagai suku bangsa yang ada serta memberi ‘identitas bersama’ (yang kala proklamasi, kaidahnya belum rampung digarap).

CEK #2: sebuah bahasa yang tailor-made—dibuat khusus untuk Indonesia.

*****

Jika orang tersatukan oleh bahasa, itu biasa. Tapi menyengaja membuat guna mempersatukan [sebuah keberagaman supermajemuk yang notabene tersebar luas di hamparan ribuan pulau], rasanya tidak terlalu sering terjadi—bahkan pun sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

CEK #3: dan Indonesia menorehkan prestasi langka itu.

Sang hit man benar—di bahasa, kita pernah bikin takjub dunia

*****

(Lihat juga ‘berbahasa satu‘)
———————————
(Ditulis sebagai sebuah catatan kecil terhadap ‘kebanggaan berbahasa’ kita dewasa ini)

Catatan:
Arti asli ‘tailor-made’ ialah [pakaian] yang dibuat oleh tailor (tukang jahit) sesuai spesifikasi pemesan/calon pemakai (lawan dari ‘pakaian/beli jadi’). Istilah ini lalu berkembang kepada hal-hal di luar urusan baju/celana (sepatu, rumah, kendaraan, software/piranti lunak dll).

Pustaka:
“Confessions of an Economic Hit Man” (John Perkins, Berrett-Koehler, 2004)

—KK—

21 thoughts on “tailor-made

  1. Lebih keren lagi kalau Bahasa Indonesia dikembangkan lagi jadi kita punya kata baku untuk ‘tailor-made’ dan istilah lain yang makin spesifik dan njelimet sampai harus pakai bahasa asing🙂

    Eh bener banget tuh Yogi. Orang sekarang (terutama yang pendidikannya lumayan) kayaknya justru sering maksa pakai istilah/bahasa asing meski tidak sedang perlu (itu pun ucapan/penggunaannya suka tak tepat pulak!). Tantangan bersama.🙂

  2. wah, sebuah pengetahuan baru untuk orang yang awam dunia linguistik seperti saya,
    Terimakasih🙂

    Sama-sama Ecky, memang banyak yang bisa kita tarik dari kasus Perkins ini🍸

  3. wah ternyata bahasa indonesia asik yak, barangkali karena kekhususannya hingga muncul banyak slang yang macem-macem dan mayan bikin bingung😀

    Slang kadang bisa jadi indikasi bahwa bahasa ybs hidup. Anak muda biasanya jago. Dan iya, kosakata slang suatu generasi suka bikin pusing generasi sebelumnya🙂

  4. Saya yg memang payah dalam urusan berbahasa, kecuali bahasa daerah, penasaran, apa hubungannya ekonomi dgn bahasa? ternyata, bahasa Indonesia memang diacungi jempol sejak keahirannya.

    Benar Uni Salma, bahkan seorang James Bond pakar ekonomi seperti Perkins saja sampai angkat topi dan menyempatkan bilang di buku spy-nya. Memang ajaib sih, soalnya waktu itu kita kan masih banyak banget yang buta huruf, lah kok berani-beraninya bikin bahasa. Wajar kalau banyak yang nggak nyangka bakal berhasil..

    Bisa bahasa daerah? Mantap itu! Saya juga bisa—tapi spesialis [hancur mode on]

  5. Bahasa Indonesia yang di ‘tailor-made’ sebagai bahasa Nasional sudah berhasil karena semua orang Indonesia dari suku apapun sekarang rata-ratanya bisa berbahasa Indonesia. Lain halnya dengan orang Malaysia, hampir semua Chinese Malaysian yang saya kenal di sini tidak bisa berbahasa Melayu, mereka berbahasa Chinese dan… Manglish, kacau deh! Berbanggalah bangsa Indonesia dengan bahasa nasionalnya.

    Akur sekali Bu Lois, beruntung kita diberi warisan [bahasa] seperti ini. Terima kasih buat para pedagang juga (utamanya mungkin yang antar pulau), karena praktis dari merekalah bahasa Indonesia banyak menyebar kepada orang-orang yang tidak pernah makan sekolahan sama sekali—hingga pelosok negeri.🍸

  6. Bahasa Indonesia juga mudah menyerap bahasa lain sehingga mempunyai perbendaharaan yang banyak dan senantiasa berkembang. Tapi kapan ya bisa menjadi bahasa dunia?

    Meski punya sejarah prestisius, nasib Bahasa Indonesia [mau tak mau] akan sangat bergantung kepada rasa memiliki serta kebanggaan berbahasa generasi muda (penerus)—yang tentu banyak dipengaruhi/meneladani generasi sebelumnya.🙂

  7. jadi bahasa yang kita gunakan sekarang buah dari pemikiran Pak Soekarno? mantaaps

    Hasil buah pikir beberapa generasi (yang sebagian besar orangnya mungkin tidak akan pernah tercatat dalam sejarah). Embrio ‘butuh bahasa bersama’ sudah ada sebelum Soekarno lahir, dan wacana/gerakannya ada jauh sebelum ybs jadi presiden. Tapi bahwa presiden pertama kita punya peran penting, iya.🙂

  8. What a nice post! (Maaf, saya sendiri kadang masih suka mencampur-adukkan istilah asing dalam berkomunikasi, lisan maupun tertulis, dan bisa saja diantaranya ada yang salah hehe). Artikel ini membuat saya merenung sejenak, bahwa bangsa Indonesia — mengutip kalimat di atas — “secara sadar ‘merajut’ bahasa, dari generasi ke generasi”.

    Bangsa Indonesia sendiri terdiri dari beragam suku bangsa dengan segala kekhasan bahasanya masing-masing (jangan melupakan dialeknya yang juga beragam, ini sangat luar biasa). Kita mampu “merajut” bahasa persatuan, pencapaian yang belum tentu bisa dilakukan bangsa lain! Wah wah, kenyataannya saat ini generasi muda malah kerap meremehkan Bahasa Indonesia dan mengagung-agungkan bahasa asing. :p

    Terima kasih. Artikel ini menjadi self reminder (duh, lagi-lagi istilah asing :p) bagi saya untuk tetap mengagungkan Bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan baik dan benar. Jujur, tuntutan pekerjaan saat ini membuat saya memutar otak mencari cara untuk membiasakan diri dengan bahasa asing, dan kesalahan yang sering saya lakukan adalah mencampur-adukkannya dalam berkomunikasi hehe.

    “Indonesia menorehkan prestasi langka itu” –> kalimat ini membuat saya merinding karena bangga hehe🙂

    What a very nice comment. Terima kasih, Bayu. You’ve just made my day!🙂 (Oops, bahasa asing hehe..) Ironis memang, banyak ‘catatan kelas dunia’ tentang Indonesia (seni, sejarah dll) yang lebih serius distudikembangkan di luar daripada di negeri sendiri (mis soal cikal bakal ‘korporatokrasi‘ yang jadi salah satu isu sentral buku Perkins di atas, bisa lihat artikel ‘kompeni’).

    Soal ‘serbuan’ kata/istilah/ungkapan/jargon asing ini memang kompleks. Yang paling pokok tentu faktor manusia ybs itu sendiri (cinta, kebanggaan, rasa memiliki, kesadaran akan perlunya punya/memelihara karakter dll). Tapi faktor bahasa juga tidak kalah pelik..

    Alih bahasa [secara tepat dan bertanggung jawab—termasuk penalarannya] sering bukan merupakan urusan mudah. Repotnya, banyak istilah yang memang ‘dari sononya’ sulit untuk diterjemahkan (‘internet’ atau ‘halal’, misalnya). Belum lagi seperti Bayu bilang: faktor tuntutan zaman (di mana menguasai bahasa asing bak sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok).

    Sebagaimana bahasa Inggris yang tak henti menyerap kata dari luar (kosakata kita yang sudah ditelan bulat-bulat misalnya ‘durian’, ‘rambutan’ dan ‘banteng’), bahasa Indonesia (yang notabene jauh lebih muda) harus rajin pula melakukannya (meski tetap harus selektif, bukan membabi-buta asal comot) jika ingin terus berkembang.

    Jadi tantangannya mungkin adalah bagaimana agar upaya kita dalam menguasai bahasa asing tidak membuat kecintaan kita terhadap bahasa sendiri luntur (dan akan lebih baik jika justru bisa membuatnya meningkat).

    Bahasa (dari Latin hingga prokem) adalah suatu kiprah kolektif + antar generasi (yang berkesinambungan). Dan nasib bahasa Indonesia (yang punya sejarah heroik dan mencengangkan ini) juga akan ditentukan dengan cara seperti itu.🍸

  9. Eh bahasa Indonesia ternyata begitu yaaa, bagus. Berfilosofi.. Ya tapi moga aja tetap langgeng, anak2 kita nanti masih terus bangga. Soalnya makin kesini, in english yaa sih karena tuntutan, moga mereka ngga lupa bhs Indonesia ^^

    Iya semoga saja generasi setelah kita punya apresiasi dan penguasaan lebih baik terhadap bahasa Indonesia ketimbang kita sendiri (karena kalau generasi sekarang yang jadi ukuran, rasanya kondisi kita sudah ‘lampu kuning’).

    Misalnya di satu sisi, kadang saya ketemu anak tingkat SD yang ngomong Inggrisnya sudah relatif terstruktur. Di sisi lain, tak jarang pula saya ketemu dengan tamatan pendidikan tinggi yang dalam berbahasa Indonesia bukan saja koherensi antar paragraf atau logika gagasannya morat-marit, tetapi bahkan sekadar membedakan mana awalan mana kata depan saja masih suka ragu (lha kan sudah skripsi/TA?).

    Dan dari satu pertanyaan itu, rasanya tidak sulit untuk menarik banyak pertanyaan lain yang indikasinya tidak terlalu menggembirakan. Mudah-mudahan ‘sampling’ tidak sengaja saya di atas tidak mewakili populasi.🙂

  10. wuahhh berat nih bahasan, harus dicerna bener-bener

    Waduh! Padahal sudah bawa-bawa Mas James Bond Perkins biar terasa lebih ringan lho.. Atau jangan-jangan masih kurang full-action ya?:mrgreen:

    PS: Maaf kena pending, emailnya lain dengan yang sebelumnya soalnya

  11. How do you say something has been going on for a while without tense changes?

    Good point, Alice. Let’s take the verb ‘go’ (Indonesian: ‘pergi’) for example.

    I go – he/she goes – you went – we are going – they will go

    In Indonesian, those would be

    Saya pergi – dia pergi – kamu pergi – kami/kita pergi – mereka [akan] pergi

    Now how could we, tenses-wise, tell one ‘pergi’ from another? From the context, surely—either it’s already clear or we can add some time reference (yesterday, next week etc) whenever necessary (for clarity, emphasis etc). Still, no conjugation whatsoever. Ain’t language fun or what?!😀

  12. Senang sekali Mas Kuka…secara sadar kita merajut bahasa dari generasi ke generasi, dari pribadi ke pribadi. Mewadahi warna/gaya bahasa pribadi dalam kebersamaan. Salam hangat

    Sebuah ‘gawe’ antar generasi bermodalkan kesadaran bersama nan mengagumkan ya Bu Prih. Sebuah jerih payah yang semoga terus terpeliharakembangkan dengan baik. (PS: Wah, sudah kembola, ternyata)🙂

  13. Kalau dibandingkan dengan bahasa Inggris, mungkin era Soekarno seperti era Shakespeare yang mulai mengeksplorasi bahasa dengan berani dan benar, akhirnya bahasa mereka menjadi pakem hingga sekarang.
    Sekarang giliran kita nih untuk terus berbahasa dan berbudaya. Tapi kadang susah juga, karena aku masih merasa kosakata Indonesia belum semantap dan variatif seperti bahasa Inggris…

    Soal perhatian thd bahasa sendiri, terus terang saya termasuk telat (banget), jalannya pun memutar. Setelah banyak menikmati ‘dunia’ (hedeuh bahasanya) karena ‘bisa Inggris’, setelah melihat the beauty of English (dan 1-2 bhs lain, sedikit-sedikit), saya baru melihat bahwa kita punya banyak sekali alasan untuk respek thd bahasa Indonesia. Secara umum, ya artikel di atas itu.

    [Paragraf ini subjektif sekali] Menurut saya, prestasi terbaik kita (sbg bangsa)—dengan segala hormat dan tak kurang terima kasih, bukan ‘merdeka’, tetapi ‘Bahasa Indonesia’. Banyak negeri bisa merdeka, tapi membuat bahasa? Ini bukan cuma prestasi kelas dunia (yg seiring waktu ‘rekornya’ bisa dipecahkan orang lain), tapi ‘kelas peradaban(timeless). Sebuah upaya character building, menciptakan identitas(!) (Bandingkan dengan negeri yg dibahas pada artikel setelah ini yang sampai sekarang masih bermasalah dengan ‘identitas’ itu—no offense, please🙂 )

    Yah.. buat ngerame-ngeramein catetan ajah.., ok?🍸 (lihat juga: reply untuk Ysalma, Lois dan Bayu + artikel ‘berbahasa satu’ dan ‘kompeni’)

  14. maksudnya ‘menciptakan’ gmana sih min? kan dari dulu bahasa Indonesia sudah ada. *sok tau*. Apa Soekarno ‘sekadar’ meresmikan saja?

    Mungkin yang Agung maksudkan bukan bahasa Indonesia tapi bahasa Nusantara.
    Kalau itu, iya, dari dulu sudah ada (bisa lihat artikel ‘berbahasa satu’).

    Soal ‘menciptakan’, ibarat ada bahan (kain), kita lalu menciptakan (baju). Tentang proses/tahapannya bisa lihat lagi artikel di atas (“Berawal dari kebutuhan..” dst).

  15. Hallo Pak KK. Waah.. menarik, ada ekonom yang menyebut-nyebutkan (dan memuji) bahasa Indonesia. Harus cari dan baca buku-nya neh! Dan kalau membahas tentang keunikan bahasa Indonesia, sy tambahkan balasannya Pak KK diatas..te-oh-pe-be-ge-te-em-te-pe-w-o-w *terjemahan: top banget mantap wow!

    Huahaha.. dapat istilah baru em-te-pe-w-o-w! Terima kasih, Arbiyanti bisa aja. Oya, kalau di toko sudah susah, bilang di sini ya. Nanti saya kasih link versi aslinya.🍸

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s