Brexit

– politik vs pelesetan –

Juni lalu Inggris gelar hajatan referendum—di mana rakyat memberikan suara mau ‘remain’ (tetap bersama) atau ‘leave’ (keluar) Uni Eropa, yang populer disebut BrexitBritish Exit.

'Brexit: The Movie', sebuah film karya Martin Durkin

‘Brexit: The Movie’, sebuah film karya Martin Durkin

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, setelah gema British Exit sayup, sebuah ‘Brexit’ lain tiba-tiba muncul di Indonesia: Brebes Exit—sebuah eksit tol di daerah Brebes, provinsi Jawa Tengah.

Pintu tol Brebes Timur—nama lokasi yang diberitakan sebagai 'Brexit'

Pintu tol ‘Brebes Timur’—nama lokasi yang diberitakan sebagai ‘Brexit’

Yang satu telah menjadi isu dan kosakata dunia. Yang satunya lagi, sebagian media lokal saja (online maupun konvensional) yang gencar (masif/berulang) membreksit-breksitkan-nya.

*****

BREXIT (BRITISH EXIT)

Kasus kompleks. Sebagai negara dengan kekuatan dan pengaruh besar (politik, keuangan dll) lepasnya Inggris dari Uni Eropa tentu akan berdampak global—langsung atau tidak langsung. Dan urusan tidak terus selesai dengan keluarnya hasil referendum: remain 48%, leave 52%.

Inggris (UK/United Kingdom) pisah dari Uni Eropa (EU/European Union)?

Kisahnya akan masih panjang. Ada sekian prosedur/tahap yang harus terlebih dahulu dijalani, dan selisih remain/leave yang demikian tipis bisa menyemangatkan ‘upaya perlawanan’ dari pihak yang kalah suara atau merasa dirugikan—pun oleh mereka yang bukan orang Inggris(!)

BREXIT (BREBES EXIT)

Entah awalnya sekadar jargon dinas/nama sandi operasi/kelakar iseng masyarakat setempat, ‘Brexit/Brebes Exit’ lalu bak identik dengan ‘kemacetan parah’ arus mudik Lebaran yang lalu.

Meski mungkin terdengar agak ‘maksa’, permainan konteks pelesetan ini relatif jitu memadu kontrasnya ID/tempat (Inggris-Brebes) dengan konsistennya substansi (‘bebas dari sesuatu’). Tetapi entah karena terlalu bersemangat/butuh variasi/khilaf, sesekali orang ada pula berujar:

1) ‘Brexit Brebes’ dan 2) ‘Tol Brexit’ (yang mana, sudah tidak karuan)

Brexit Brebes‘ jelas rancu—karena jika diurai akan menjadi ‘Brebes Exit Brebes‘, sedangkan jika dinalar maka seperti menyiratkan [akan] adanya Brexit-brexit lain yang bukan [di] Brebes (mis Brexit Bogor, Brexit Bintaro.. lalu lama-lama orang bingung apa beda brexit dengan exit).

Tol Brexit‘ juga aneh—bukan lagi nama eksit tol tetapi sudah nama jalan:Tol Brebes Exit‘(!) Ruas tol yang diembel-embeli kata ‘Exit’ ini sangat tidak jelas maksudnya dari mana ke mana (seolah tidak peduli dari mana pun masuknya, asal keluarnya di Brebes, ya itulah ‘Tol Brexit’).

Tapi yah sudahlah. ‘Brebes Exit’ telah berlalu (kembali hidup normal sebagai ‘Brebes Timur’). Semogalah tak kacau lagi, dan tak pula timbul titik-titik macet lain yang dibrebeseksitkan.

*****

Satu serius dengan dampak hingga anak-cucu (dunia), satu lagi cuma lucu-lucuan sesaat yang dijadikan ‘kiat jualan’ (memikat pemirsa TV atau menggaruk kunjungan lewat mesin pencari).

Pengertian/motif/manfaat/arti yang ‘made in UK’ dan ‘buatan Indonesia’ boleh jadi jauh beda.
Tetapi, tentu itu bukan berarti tidak banyak yang kita bisa gali, atau petik—dari kedua ‘Brexit’.

*****

—————————

Catatan
♦ Jika British Exit kasus politik, Brebes Exit bisa dianggap ‘kasus bahasa’ (pelesetan).
♦ Film di atas dibuat oleh pihak yang pro-leave (bisa download, dan subtitle juga banyak).
♦ Sebutan ‘Brebes Exit’ pernah diberitakan media luar negeri.

Referensi
“Brexit: The Movie” (Martin Durkin, 2016)
Antaranews (foto oleh Oky Lukmansyah, diambil sebelum masa mudik Lebaran)

Kamus ngarang (kata-kata rekaan)
membreksit-breksitkan: sebuah pelesetan, maksudnya ‘membesar-besarkan/mengheboh-
hebohkan’ (bentuk lain: ‘dibreksit-breksitkan’)
dibrebeseksitkan: dipaksanamakan ala ‘Brebes Exit’ (agar menarik perhatian dll)—dari mana,
kalau perlu, kita juga bisa membuat ‘membrebeseksitkan’ dan ‘pembrebeseksitan’.

—KK—

19 thoughts on “Brexit

  1. Cemerlang orang yang membuat istilah kemacetan di pintu tol Brebes Timur itu menjadi brexit. Memanfaatkan istilah yang lagi keren di belahan dunia sana.

    Haha.. benar itu. Dua perkara jauh ke mana-mana, tapi orang dapat saja ‘klik’-nya. Humornya lumayan. Salut juga untuk penciptanya.

    PS: Maaf kena tilang Akismet. Mungkin karena saya tinggal lama dia jadi galak.

  2. “Sebutan ‘Brebes Exit’ pernah diberitakan media luar negeri.”

    Wahhh, jadi penasaran, di mana?

    Sudah bbrp kali Prita, mis yang di versi online Daily Mail (sini). Tapi tentu itu bukan karena ‘Brebes Exit’ isu [kelas] dunia, melainkan lebih karena alasan2 seperti ini:

    iseng → media lokal → media asing

    ‘Media’ lokal (juga blog dll) memanfaatkan ‘Brexit/Brebes Exit’ (yang entah ide iseng siapa) sbg mantra pemikat/penglaris. Lalu, media asing memakai apa yang ada (di level lokal) itu guna kepentingan mereka sendiri (yang ‘pro-remain’ mungkin akan sigap memakai ini untuk memasyarakatkan asosiasi buruk thd ‘BREXIT’, mis).

  3. Brebes Exit bahkan masuk ke kantor berita luar negeri https://www.theguardian.com/world/2016/jul/08/indonesia-traffic-jam-deaths-java-brebes-brexit-junction .Hal ini sempat memicu kontroversi karena judul berita ini dianggap sensitif dalam memadukan guyonan berupa permainan kata dengan tragedi.

    Terima kasih Ecky. Kasus ini memang problem bersama (umum):

    sesuatu (gambar, canda dll) yg ‘boleh-boleh saja’ dlm ruang privat (terbatas)
    belum tentu ‘patut’ jika dihadirkan ke ruang publik (kepada masyarakat luas)

    Saat kembaran ‘Brexit’ lahir-beredar terbatas di Indonesia, semua masih ok saja. Masalah mulai saat istilahnya ‘menasional’ (bersamaan dgn mulai macetnya arus mudik) dan lalu bahkan seperti ‘lepas kendali’ (saat korban jiwa jatuh di Brebes).

    Dari segi bahasa mis, ini jelas bukan teladan berbahasa yg baik dan seperti gerakan tidak cinta bahasa sendiri (kita tidak butuh padanan Inggris untuk ‘Brebes Timur’).

    Belum lagi yang seperti Ecky bilang, dari segi pemberitaan, memanfaatkan sebuah musibah sebagai sarana ‘cari heboh’ (dan apalagi dengan melekatkannya terhadap suatu [sebutan] kelakar—yang kebetulan sudah terlebih dahulu ada) adalah ibarat:

    bersorak dalam sebuah ‘ketidakpekaan jurnalistik‘.

    Toh, sebagai sebuah ‘pengalaman kolektif’ [kita semua], semoga ada hikmah (atau pelajaran/ilmu) yang kita bisa ambil dari sana. Dan artikel sederhana (yang tayang justru setelah topiknya tidak lagi hits) ini adalah sebuah upaya kecil untuk itu.

    PS: lihat juga reply untuk Tane, dan pastinya, selamat atas ‘Fatih’-nya🙂

    • wah penjelaan yang sangat apik, senang bisa berkomentar sekaligus berdiskusi🙂

      Oh ya, terimakasih untuk ucapan selamatnya🙂

      Sama-sama Ecky, dengan senang hati.🙂

  4. Sebagai salah satu korban imbas Brexit (jalur Jogja-Tegal, terkena macet parah oleh orang-orang yang keluar dari tol Jakarta), ada sedikit rasa euphoria ketika bisa ikut mempopulerkan istilah tersebut hehe.. Boleh cerita panjang ya..

    Kalau ditilik lagi sebenarnya fenomena pergeseran makna ini mirip dengan yang kita sebut sebagai ‘cultural appropriation’, atau kurang lebihnya, ‘mengambil/meminjam kebudayaan lain’. Dalam proses ini, kemungkinan besar akan terjadi pergeseran makna layaknya British Exit yang politikus, menjadi Brebes Exit yang situasi hidup-mati-mudik (tapi ada sedikit unsur humornya juga).

    Sebenarnya ada satu lagi teori yang lebih sesuai, namun saya lupa apa namanya, namun konsepnya adalah, pergeseran makna dari original menjadi yang replika mengakibatkan hilangnya esensi makna asli. Misalnya, musik klasik dahulu dianggap sebagai hal yang sangat sakral, namun karena terlalu sering digunakan dalam adegan kejar-kejaran Tom & Jerry, kita sekarang memaknai musik gubahan Liszt sebagai ‘episode saat Tom dan Jerry menjadi musikus yang saling bersaing itu loooh.’

    Hehe, sekian komentar saya, yang jelas setelah membaca artikel Brexit ini jadi sangat semangat dan ingin berbagi cerita🙂

    Senang kok bisa bikin semangat. Eh tapi soal imbas, Tane baik-baik saja kan? Soal eforia ini emang gampang-gampang susah, manusiawi sih (bagian dari naluri). Mis,

    BREXIT MACET HOROR!!!! (all caps, tanda seru dobel-dobel pula)

    Sekian persen dari pengonsumsi info ala BMH itu akan ikut menggunakan kata-kata [yang mudah diingat dan seru] itu dalam berkomunikasi (obrolan sekolah/kantor, medsos, dll). Artinya, secara sadar/tak sadar, mereka ikut menjadi ‘pewarta’ BMH.

    Masalahnya, BMH itu kemasan—bukan isi (beritanya adalah soal macet yang lalu ada korban jiwa, dan substansi adalah tentang ‘problem arus mudik Lebaran’). Jadi ‘Brexit’ / ‘horor’ / huruf kapital cuma trik saji, bukan esensi beritanya itu sendiri.

    BMH adalah contoh style over substance yang sengaja ditonjol-tonjolkan untuk menyengat. Dan bahwa model pemberitaan yang ‘mengutamakan heboh’ (tidak esensial dan cenderung menggunakan kata-kata yang stimulatif thd emosi) seperti ini suka ampuh menyihir orang (konsumen berita), bisa kita ukur dari sini:

    – Ruas Tol Cipali (seumur jagung), puluhan jiwa melayang
    – Arus mudik 2016 (dalam dua minggu), meninggal 500-an orang

    Meski jumlah korban sekian lipat dari yang Brebes, untuk dua perkara di atas orang antara sudah lupa, biasa saja atau justru tidak aware sama sekali. Keduanya tidak seheboh BMH/jadi isu sensitif—[antara lain] karena tidak ‘dibrebeseksitkan’.

    Jadi iya, seperti Tane bilang, esensi dua ‘Brexit’ ini memang beda jauh. Yang satu mewakili pengertian yang sangat riil dan relevan, sedangkan yang satu lagi cuma ‘label’ yang ditimpakan thd hal yang tidak ada hubungannya (yang kehilangan momentum seiring dengan berakhirnya masa mudik Lebaran).

    Dan tentu akan lebih baik jika sedari awal kita awas thd hal-hal seperti ini agar tidak mudah hanyut dalam hingar-bingar. Karena jika sudah terjebak detail (apalagi yang notabene cuma ‘label/cap’), besar kemungkinan kita bakal kehilangan big picture.

    PS:
    1) Artikel dan reply tidak bermaksud mengatakan bahwa yang di Brebes kemarin tidak penting atau semakin banyak korban kita harus semakin heboh, tapi sekadar bahwa ‘segala sesuatu perlu diletakkan pada tempatnya’.
    2) saya suka sekali dengan lagu-lagu Liszt yang dimainkan Rick Wakeman dalam album ‘Lisztomania’ (ada filmnya juga).🙂

  5. yang saya pahami sih Brebes Exit Timur, karena di Brebes pintu tol ada dua, yang ini memang wilayah Brebesnya hampir mendekati Tegal, paslah kalau diotak atik ya gathuk Brexit (Brebes Exit Timur)

    Betul Pak Sunarno, ada juga yang mengatakan begitu karena memang di sanalah (dan bukan yang di Barat) titik terpadat orang keluar tol.

    PS: selamat ber-blogging ria kembali.🙂

  6. Ikut belajar disini, karena bahasa Indonesia saya sendiri perlu dibenahi, apalagi bahasa Inggrisnya.
    Setuju jika Brexit hasil kreativitas hanya sebatas pemberitaan lokal dan jadi ga lucu jika dikaitkan dengan musibah oleh pewarta asing.

    Terima kasih Uni Salma. Cerita memang jadi lain ya kalau humor terbatas lalu jadi konsumsi umum (tendensius pulak), bahkan banyak anak kecil pun sampai fasih.

    PS: ikut senang pulangnya kemarin lancar.

  7. Fascinating that the made-up English word “Brexit” is itself influencing other cultures.

    Good point, BT. Too bad what started as a harmless joke and witty wordplay had become a little out of control (even abusive) when we (some of us Indonesians) got carried away with it. Thank goodness it’s over now.

    On the bright side, I guess there’s a lot we can—and should, learn from this.🍸

  8. Tapi emang istilah brexit itu keren dan mudah diingat. Karakteristik seperti itu yang biasanya langsung memasyarakat, entah artinya benar atau rancu

    Akur sekali Bu Lia (eh, ini manggilnya benar beginikah?). Dan seru pulak.
    Apalagi dengan bunyi/tampilan asingnya, kesannya jadi makin gimana gitu..

  9. Exit Brebes even went beyond the news agency, due to the nature of its wording. This sparked controversy because of the wordplay. It’s quite tragic but hilarious.

    Controversial indeed, Bev (I hope you don’t mind my calling you that). Having a wordplay/joke is one thing, but indulging in one that makes fun of other people’s misery and spreading it all over the nation (let alone the globe) is quite another.
    It is a parade of ‘journalistic insensitivity‘.

    Many thanks for your thought (and for reading this, surely). Much appreciated.🙂

  10. Terima kasih Mas KK, ikutan belajar menyimak kepekaan mempergunakan istilah. Lucu-lucuan ngetop yang kadang menjadi terasa wagu.
    Mudik kemarin ikut terjebak di Brebes kah?
    Salam

    Sami-sami, Bu Prih. Kalau di keluarga besar, kebetulan sudah sejak sepuluh tahun lebih ibu saya adalah pinisepuh paling senior, dan beliau tinggal di Ibukota. Jadi tiap Lebaran tugas saya adalah jaga markas sambil makan ketupat menunggu para saudara datang he..he..

    Semoga keluarga kebun RyNaRi sehat selalu. Salam.

  11. Sensasinya kaum jurnalis, timingnya tepat ya untuk menggunakan istilah Brexit – Brebes Exit. Semoga saja tidak akan dijadikan kata baru yang membingungkan artinya.

    Benar sekali Bu Lois. Dan semoga kreasi dan bedah kecil-kecilan kata-kata pelesetan di atas bisa sedikit banyak membuat kita lebih awas untuk tidak gampang menjadi pewarta kata-kata yang manfaatnya tidak jelas. (tolong lihat juga reply untuk Tane)

  12. europe does not exist, there is only one currency, euro. right brexit. hola V.

    Hola, V! It is indeed quite interesting to ‘calculate’ where this Brexit phenomenon might lead—monetary-wise, or whatever else.🙂 Cheers!

  13. hahaha gokil ya brebes exit ini, sampai heits ke mancanegara. itulah uniknya negeri ini, apa saja bisa jadi guyonan.

    Kreatif dan humoris, sebenarnya. Kalau saja untuk hal-hal yang benar-benar penting kita juga bisa begini, bakalan asyik deh kita.🙂

  14. I’m reading this on Google Translate, so the finer points of linguistics are lost on me. However, I learned a lot from the movie.

    Really, Alice, I’m very grateful for your doing that. Yeah, while it might be helpful at times, Google Translate sure could be so confusing just ‘at the right time’.🙂 And among other things (including some delicate matters), this is about a couple of made-up words I’ve made for this very article. A somewhat playful and tweaky reading on the surface, but a considerably intricate one substance-wise.

    Yes, I got a lot from the movie too. An ancient story holds true—the very few [elites] run the show, and a big chunk of the society doesn’t have the slightest idea about what’s on the go (Come to think of it, if that could happen to the Great Brits, I guess it could as well be happening to just about everybody).

    Making a point, informative and no gobbledygook. I like it. Much.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s