power nap

( + nostalgia )

Pagi tadi, pada homepage ‘Mozilla Firefox’:

Need a quick recharge? Power up with a power nap. Geniuses like Dali and Einstein loved sneaking in some extra ZZZs.

Lho, ada istilahnya to? Googling.. Benar ada, ternyata! Seumur-umur baru tahu, padahal entah telah sejak kapan akrab dengan aksi satu ini: power nap—tidur sebentar yang membugarkan.

Jadi ingat..

*****

Dulu, semasa tinggal di Semarang dan bersibuk ria dengan sebuah kedai yang berkonsep ala open house (orang bebas keluar-masuk/nongkrong di bagian rumah yang mereka sukai serta boleh ngetem berjam-jam tanpa harus order minuman), ada skejul rutin/harian seperti ini,

– jam buka warung: 6-12 malam
– tugas/tanggung jawab spesifik: jadi tuan rumah

Alias kerjanya: menemani kustomer ngobrol/becandaan, main catur, menebar ‘virus scrabble’ dll (senang iya tapi hehe.. percayalah, itu tidak seringan kedengarannya). Syarat fisik memang
tidak seberapa, tetapi tuntutan konsentrasi (termasuk terhadap situasi) sungguh tidak mudah.

sibuk (penat) power nap (bugar) sibuk lagi

Jadilah, jika siangnya tak sempat tidur, pada sekitar pukul 20:00 (kondisi belum begitu ramai) diri ini menyelinap masuk kamar lalu ‘zzz..’ dan bangun 10-15 menit kemudian—segar-bugar!

Kembali siap tempur, bahkan hingga lewat tengah malam..

*****

Yang di atas hanya contoh kasus, sebab kebutuhan orang akan power nap tentu tidak sama (tergantung tingkat kepenatan, pola rutinitas, bioritme ybs dll). Toh, sekadar ancar-ancar:

– durasi: 5 – 30 menit (jika < 5 menit terlalu singkat, dan > 30 menit terlalu nyenyak)
– cara: bisa duduk/rebah (posisi rileks, tetapi jangan juga terlalu nyaman)
– kapan: terserah (tetapi mungkin baiknya jangan diupayakan jika tubuh tidak minta)

– niat (sebelum mata pejam, tetapkan berapa menit kita ingin lelap/jam berapa mau bangun)
– frekuensi jangan terlalu sering (dampak ‘fresh’ berkurang, dan semakin sulit tepat waktu)
– saat bangun, segera perlahan bangkit + menggeliat (sampai ada yang ‘krekk..’ asyik juga)

Tiga yang pertama bersifat umum, sedangkan tiga yang terakhir lebih subjektif.

*****

Meski efektif dalam memulihkan kebugaran (fisik + mental), mengingat durasinya nan lekas. trik ini, seperti kata Mozilla Firefox, hanyalah sebuah recharge (untuk kembali beraktivitas).

Artinya, power nap tidak dimaksudkan sebagai pengganti ‘kurang tidur‘ dan bahkan amat tidak dianjurkan untuk situasi yang ‘rawan keselamatan‘ (saat menyetir mobil jarak jauh, misalnya).

Bagaimana, pembaca ada cerita seputar power nap jugakah? Mari, berbagi.🙂

*****

——————————
(Tulisan ini cuma ‘sepenggal pengalaman’, bukan sebuah artikel kesehatan)

Catatan:

Jika berkenan menengok seperti apa kedai open house nan penuh kisah dan nostalgia di atas, silakan lihat di sini. Sedangkan untuk mengintip hubungan orang-orangnya, bisa lihat di sini. (Maaf, ‘istirahat sejenak’ kedua blog tautan sepertinya keterusan lama sekali)

Terima kasih kepada teman semua—para makkopi dan segenap keluarga besar t’Buko (yang sudah sering mengira ‘si Mas lagi keluar’ padahal sebenarnya cuma ‘pergi tidur’ sebentar).🍸

—KK—

28 thoughts on “power nap

  1. Dulu suka power nap..di sekolah, sekarang kadang-kadang juga melakukannya di kantor😛

    Nah itu, di sekolah sepertinya saya termasuk yang tidak pernah berhasil power nap. Lha kalok pas ngaso malah olahraga (basket dsb).. Jadilah, saat jam-jam akhir, meski tidak paham pelajaran, kepala ini kadang spt suka mengangguk-angguk sendiri..:mrgreen:

  2. Is it indonesian language?

    It is, SufletNeinteles. The article is about ‘power nap’—the way I did it (and surely readers/commenters are quite welcomed to add about how they did/do theirs).
    Thanks a lot for your giving this blog a shot. Much appreciated.

    PS: Congrats for the fencing gold medal.🙂🍸

  3. Saya kalo memungkinkan jam 12 siang menyempatkan untuk tidur sebentar ini.
    Dulu sewaktu bareng kerja orang jepang, saya liat orang jepang kalau sudah makan siang lalu merokok satu batang, kemudian mereka akan tidur sekitar 15 menit. Setelah itu kerja lagi. Saya perhatikan mereka rutin power nap ini. Ternyata itu membawa kebugaran bagi tubuh.

    Sampai sekarang saya masih punya ‘problem akurasi’ jika untuk siang. Mungkin ada faktor ‘tradisi’ jam makan yg suka berubah-ubah. Satu-satunya ‘hidup siang teratur’ adalah waktu dulu kerja di lingkungan orang Amrik (di Jakarta). Sayang, tak sempat latihan nge-nap. Ceritanya,, Meski banyak pilihan makanan, di kantin adanya ‘menu sono’ (dengan harga menyebalkan). Dan meski untuk sarapan saya sangat fleksibel, untuk ‘makan siang rutin’ perut cadas gini jelas teriaknya nasi. Terpaksalah cari di luar. Masalahnya, dari ruang kerja ke warung Padang yang ada persis di sebelah gate itu jaraknya lumayan (areanya memang luas). Alhasil waktu break habis untuk:
    [ go + puas-puasin makan pake tangan + back ]

    Jalan tidak bisa terlalu cepat, karena saya termasuk orang yang jika keringetan ngocornya lama (eh ni tanda orang sehat kali ya?—halaahh..). Apapun (entah nyambung atau tidak), meski mulai lepas magrib hingga tengah malam saya bisa power nap kapan saya mau, untuk siang hari soal durasi saya cenderung suka eror (niat cuma 10 mnt jadinya 25, mis)

  4. Tambahan:
    Orang jepang itu tidurnya di kursi saja, hanya bersender dan melipat tangan, mata terpejam. Satu lagi, mereka tidak mendengkur,🙂

    Baru tahu saya soal mendengkur. Ngomong-ngomong, ‘program’ tidur di kantor demi produktivitas ini saya pertama kali dengar (akhir th 70-an, jika tak salah) juga dari berita tentang Jepang. Jangan-jangan memang merekalah yang pertama kali me-‘ritual’-kan ‘tidur doping’ ini ya?🙂

    Terima kasih banyak (Uda/Kang?) Alris atas sharingnya.🍸

  5. Power nap adalah salah satu anjuran untuk pengemudi mobil supaya tidak kelelahan. Di Australia ada yang namanya State Emergency Service ‘Driver Reviver’ Sites. Yaitu tempat-tempat khusus di jalan raya dimana pengemudi mobil bisa berhenti dan tidur sebentar atau sekedar melepaskan lelah. Kalau pas hari libur panjang ada yang menyediakan kopi atau teh gratis disitu.

    Huaduu..uhh!! Terima kasih banyak sekali Bu Lois. Bagian penutupnya terlalu ambigu, karena saya lupa menyisipkan konteksnya. Aaarrghh! Sembrono kurang teliti baca tulisan sendiri. Mestinya bunyinya kurang lebih,

    “. . . dan bahkan amat tidak dianjurkan untuk DIPAKSAKAN TERHADAP situasi yang ‘rawan keselamatan‘ (MISALNYA KETIKA SEDANG menyetir jarak jauh MENDAPATI TUBUH MALAH TERIAK MINTA TIDUR AGAK LAMA).”

    Jadi ‘wisdom’-nya kurang-lebih: ada waktunya badan bisa kita setel sesuka hati, tapi ada waktunya pula kitalah yang mesti nurut sama badan. Sekali lagi terima kasih.

    BTW, ini ada sedikit cerita. Saya pernah bareng orang, jarak jauh, sepakat nyetir gantian. Dari Jakarta, ia cuma sempat istirahat sebentar, tapi katanya siap. OK. Eh lha kok baru sekitar sejam duduknya sudah mulai geser kanan-kiri nggak jelas (khas orang yang sedang berusaha melawan kantuk). Saya tanya, ‘Mau gantian sekarang aja apa?’ Katanya nggak usah. Trus ia nenggak [the so-called] energy drink (Lha percaya kok sama iklan! Tapi saya tahu dia sungkan, ya sudah).

    Lalu cara dia baca ‘situasi/karakter jalan’ mulai agak telmi.. Lalu momentum zig-zagnya ketika lagi nyalip mulai sering kurang pas.. Lalu ia mulai telat-telat ngerem.. Langsung saya paksa gantian!

    Masih dilindungi. Selamat sampai tujuan.🙂

    • Memang power nap ini dianjurkan buat pengemudi jarak jauh yang mulai merasa lelah. Yang jelas bukan untuk pengemudi yang semalam habis bergadang kurang tidur. Kalau malamnya kurang tidur dan merasa tidak fit ya jangan nyetir jarak jauh.
      Ngomong-ngomong, yang namanya ‘siesta’ (short afternoon nap) masih dilakukan oleh mayoritas orang Spanyol dan Amerika Latin.

      Dengar-dengar siesta itu sudah seperti ‘tradisi’ atau ‘ritual rutin’ ya, buat mereka. Oya, soal lelap sejenak ini memang tak jarang mereka yang tidak biasa nyetir jauh/lama salah paham,

      – tidak semua tidur membugarkan (cukup ber-‘power’)
      – sebab ngantuk: 1) kurang tidur, 2) penat (capek kerja/mikir)
      – penat dan bugar bukan cuma soal fisik, tapi juga mental

      Jadi akur sekali Bu Lois, begadang (kurang/butuh tidur) jelas tidak cukup ditebus dengan sekadar nap, tapi harus dibayar dgn sleep. Semakin pendek nap, semakin sedikit pula ‘rekondisi fisik‘-nya (yang pulih lebih merupakan ‘kebugaran mental/spirit‘).

      Tapi ya itu, kadang dengan [saldo] ‘tabungan tidur‘ minim orang nekat trip jauh. Lalu di tengah jalan tidur-tidur ayam 5-10 menit, merasa bugar, lalu segera tancap lagi. Inilah repot (bahaya). Semangat tinggi (bergairah lagi, habis bangun tidur), tapi kualitas respons/koordinasi motoriknya (otak-mata-tangan-kaki) masih rendah (karena status ‘hutang fisiknya’ baru tahap ‘bayar DP’ alias masih sangat jauh dari lunas). Lalu mulailah telat-telat ngerem itu..

      Ngomong-ngomong, untuk ‘sleep’ dan ‘nap’ kita cuma punya ‘tidur’, mirip kasus dengan England/UK yg kita borong jadi ‘Inggris’. Bukan tidak mungkin, [keterbatasan] bahasa punya andil dalam ‘ignorance’ orang soal tidur. Eh tapi ni cuma modal asbak (asal tebak) lho ya..🙂

  6. Power nap..energi buat para emak.
    Eh, kalau blog ini apa ya, power blog. Karena bisa me-recharge saya yang lagi kosong ama kata-kata dan tak tahu ingin berkata apa.

    Oh iya..ya, baru sadar saya. Para emak pasti punya naluri power nap bawaan yang canggih makanya bisa meng-handle segala urusan rumah nan aneka macam itu..

    Terima kasih.. Eh tapi huehehe.. Judulnya asyik ini. Lha lagi kosong kata-kata saja kata-katanya bagus nian gitu..

  7. Power nap itu wajib buat sopir, apalagi kalo nyopirnya abis piknik renang sumpah itu ngantuknya luar biasa, bisa2 nabrak tukang buah-buahan terus ganti rugi buah2 yang ancur (ini mah asli curhat) hehe…

    Selain jadi sopir power nap ga pernah aku pake soalnya waktunya gabisa, bukan gabisa karena sibuk kerja gitu bukan, tapi nap aku gabisa sebentar bisanya nap berjam jam… haha. Kebablasan pasti haha…

    Lho buah yang nggak ikut rusak kan masih bisa dimakan.. (ini mah namanya niat). Tapi iya sih, kombinasi duduk perut kenyang dan angin sepoi (utamanya siang) itu ampuun.. berat banget untuk dilawan.

    Oya Rani ni orang kantoran kah? Kan bisa minta tolong Boss buat mbangunin..
    [evil advice mode on]👿

  8. Most of the people I have known who do the power nap thing have done it because they were so deeply engaged in projects that they couldn’t bear to stop for sleep.

    At one point I tried to make myself do it in the hopes of becoming like that. Silly. Of course it didn’t work. Although I did learn to make myself sleep, I don’t find the power nap all that helpful. I particularly avoid sleeping at all in public. Too many belongings walk away that way.

    The place in the link does look homey, though.

    Same here, Alice. While some people can manage to have it like clockwork, I can’t seem to have an effective one if my body doesn’t really ask it in the first place. And you’re right, not all naps (or even sleeps) are that replenishing. By the way, ugh, tough case with the belongings..🙂

    Thanks for that homey thing. It was some ‘home sweet home’ for quite a number of people back then. Dang quite a number of people.

    • That means someone had a really good idea and did a good job of making it real.

      🍸🍸 Although the cafe is no longer there, it has become part of my life ever since, for the memory alone will keep accompanying me everywhere🙂

  9. ketika masih jadi tukang jaga rental kajian begini sering terulang. pulang ngajar selesai makan serasa penat semua badan. rebahan sejenak kira-kita 10 menit, sadar-sadar ternyata yang 10 menit itu bisa lelap dan badan terasa segar, kemudian lanjut ke tempat rental komputer pekerjaan di sana sudah menunggu sampai setidaknya pukul 22

    Benar sekali Pak Narno. Kalau ‘ting!’-nya lagi dapat, tidak cuma semangat yang kembali bugar, tapi badan dan kepala ini rasanya juga ringan sekali—untuk jangka waktu yang jauh lebih lama daripada durasi tidurnya itu sendiri. Seperti sulap.🙂

  10. I used to power nap last year, but not anymore this year. It’s interesting because last year I have people that I manage while this year I practically work by myself. I don’t know if there’s a correlation, but this is my experiences.🙂

    It is interesting indeed, Rommel. I mean, the fact that you could—Mozilla’s words, sneak in some extra ZZZ’s while you had people around you (worked in a team), but not when working by yourself. Thanks for the sharing.🙂

  11. Untuk power nap di sela ngebun, modif saya bisa ‘selonjor’ sejenak, kalau leyeh-leyeh kuatir lhes beneran lama bisa geragapan saatnya buka loket.
    Sangat menikmati sharing dan diskusi interaktif di postingan ini. Terima kasih Mas KK

    Wah, sungguh sebuah kemewahan tersendiri jika di kala penat kita bisa ‘selonjor‘, apalagi jika ditambah buaian angin kebun hawa gunung yang sehat-sejuk-segar.
    Terima kasih Bu Prih, sudah mengingatkan saya akan istilah ini.

  12. Ya..kadang jika sempat lelsp 5 menit aja…lumayan membugarkan kembsli ya

    Iya, kualitas aktivitas bisa meningkat drastis untuk berjam-jam berikutnya gara-gara yang 5 menit itu. Ada juga variasinya, napuccino—sebelum nge-nap, ngopi dulu!🙂

  13. Hola Marko te estoy traduciendo para entender. Abrazo grande desde Argentina.

    Hi Marta! Many thanks for that. I’m using translator too for Spanish.

    By the way, Marko(?) is a visitor from Poland. But never mind that, glad having you here just the same. May your ‘loose ends’ (cabos sueltos) keep being colorful.🙂

  14. have a very nice week deaaar
    kisses

    May some fabulous week be yours as well, Anita. By the way, I’m not sure you realize that I am a guy. Still, a big thanks for that.🙂

  15. Hello. Even though I don’t understand indonesia bahasa, I like this country and I hope, I will visit it one day. I try this in french “Natacha n’attacha pas son chat Pacha qui s’échappa”. 😉

    Hello, A-Ho! (I hope you don’t mind my addressing you that way) Do come see us sometime. But hahah..!! I guess this is the first time ever a visitor giving me a twister. And that very stranger is not even a blogger, for that matter (I hope that looks and sounds ‘er’ enough, huh?🙂 )

    Kiki était cocotte, et Koko concasseur de cacao. Kiki la cocotte aimait beaucoup Koko le concasseur de cacao. Mais Kiki la cocotte convoitait un coquet caraco kaki à col de caracul. Coco le concasseur de cacao ne pouvait offrir à Kiki la cocotte qu’un coquet caraco kaki mais sans col de caracul. Or un marquis caracolan, caduque et cacochyme, conquit par les coquins quinquets de Kiki la cocotte, offrit à Kiki la cocotte un coquet caraco kaki à col de caracul. Quand Koko le concasseur de cacao l’apprit, il conclut : je clos mon caquet, je suis cocu!

    Beats me! LOL. Thanks, feels like I’m going Latin for my newest post.🍸

  16. have a great weekend… I would visit indonesia, java, bali, and the great volcanoes…

    Now, really? That’s great, Viki! For the New Year? I live in Jakarta (Java), and go to Ubud (Bali) from time to time. I hope you’ll have some quality time down here.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s