Mercator projection

– istilah kartografi –

Imajinasi saja. Siapkan sebuah globe (bola dunia, biasa untuk alat peraga di kelas), selembar plastik (transparan) dan spidol. Gulung plastik jadi silinder dengan globe di dalamnya. Contek globe pada sekeliling silinder (digambar). Buka kembali gulungan silinder dan ‘Jreng..jreng..!’

mercator-blind grey

Cuma ilustrasi sederhana bagaimana memproyeksikan ‘wajah bumi’ pada suatu bidang datar, membuat peta duniamentransformasi 3D jadi 2D (bagi pengguna WordPress, cek di sini)

Masalahnya adalah, gambar di atas itu sebenarnya banyak ‘ngarangnya’. Misalnya ini,

Jika Kenya ditaruh dekat Kutub Utara

Australia dan Greenland di peta (Inset: perbandingan realistisnya)

Australia (7,7 juta km2) itu kelasnya benua, Greenland (2,2 juta km2) cuma pulau.

*****

Peta di atas (juga yang ada di tautan WordPress) kondang dengan nama ‘proyeksi Mercator(Mercator projection), yang meski relatif mampu mempertahankan ‘bentuk’ (pulau/benua), sangat tidak konsisten soal ‘ukuran’ (semakin dekat kutub, semakin meraksasa proyeksinya).

Contoh simulasinya,

Jika Indonesia pindah ke Kanada (melar hingga ujung barat Alaska)

Jika Indonesia pindah ke Kanada (jadi melar hingga ujung barat Alaska)

Dan di sekitar kutub, distorsinya parah.

Jika Kenya ditaruh dekat Kutub Utara

Jika Kenya adanya di dekat Kutub Utara (jadi seperti siap caplok Eropa)

Sebaliknya, di daerah ekuator (garis khatulistiwa), penampilannya lebih bersahaja.

Jika Rusia digeser ke Indonesia

Jika Rusia geser ke Nusantara (masih masif, tetapi sudah tak sangar-sangar amat)

Meski [perbandingan] visualnya cenderung menyesatkan, metode proyeksi yang diciptakan Gerardus Mercator ini amatlah membantu dalam navigasi—sudut garis lintang/bujurnya sedemikian rupa sehingga memudahkan pelaut memperhitungkan ‘arah tujuan’ (course).

*****

[ Kalau begitu, tinggal bikin peta yang akurat (sesuai kenyataan) saja, apa susahnya? ]

Justru di situ masalahnya.

Jika sebuah jeruk kita gambari seperti bumi, lalu dikupas dan kulitnya diatur rata di atas meja, apa gambarnya bisa utuh lagi jadi peta segiempat (ala puzzle)? Tentu tidak (hancur mah iya).

Itu sekadar ilustrasi sederhana, bahwa dalam skala 1:1 (kulitnya itu-itu juga) pun,

‘peta jeruk’ yang 100% akurat terhadap ‘globe jeruk’ tidak bisa dibuat(!)
(jangan pula 100% akurat, mirip pun tidak, orang jadi berantakan gitu)

Setali tiga uang, kita juga bisa bilang bahwa ‘peta dunia’ nan sama persis dengan ‘globe bumi’ tidak bisa dibuat—karena pasti mengandung distorsi (pada bentuk, ukuran, skala, jarak.. dll).

Itulah kenapa ada peta yang kena di bentuk tetapi tidak di ukuran (Mercator), akurat di area tetapi kedodoran di bentuk (Gall-Peters), cenderung distorsif di kutub (tipe silinder) dlsb.

Artinya, semua peta—setiap proyeksi (bahkan yang ‘radikal abis’ anti teknik proyeksi seperti peta jeruk itu pun), ada plus/minusnya. Sehingga aman untuk bilang: tidak ada yang terbaik.

Jadi persoalannya adalah, apakah kita punya ‘peta yang tepat

Dan alih-alih diukur dari harga atau hal fisik/teknis seperti kualitas cetak atau bahkan akurasi, itu lebih ditentukan oleh seberapa mampu sebuah peta memenuhi kebutuhan penggunanya.

*****

Dibandingkan globe, peta banyak nilai lebihnya—praktis (dibawa/simpan), gampang dibuat, murah.. dan masih enak dilihat meski hadir dalam versi mungil seperti layar ponsel (Aha!).

Toh, jika memang raut bumi yang sedang dimau, kita perlu globe—bukan peta

Tentu sambil berharap, bahwa ‘bola’ yang didapat, gambarnya benar.🙂

*****

——————————

Catatan:
Meski punya riwayat kontroversi panjang, proyeksi Mercator (juga variannya) masih populer dimanfaatkan orang sampai sekarang (termasuk dalam teknologi web semisal Google Maps).

Referensi:
● Wiki – blank map / Mercator projection (+ inset) / map projection
● Radical Cartography – Projection Reference
The True Size (situs untuk membuat model simulasi)

Saran bacaan/tontonan:
“The True Size of Africa” (file PDF oleh Kai Krause)
Jürgen Heyn (bisa untuk latihan/referensi cepat luas/ibu kota negara)
● YouTube (animasi ala kupasan buah)

saran_tontonan_mercator_kupasbuah

—KK—

11 thoughts on “Mercator projection

  1. Tulisan yang menarik sekali!
    Tapi siapa bilang bumi kita itu seperti bola, lha wong bumi ini datar seperti piring kata mereka dari Flat Earth Society.

    Buktinya? Ada kejadian ini:
    A woman gives birth on the flight from Bali to Los Angeles and proves the Earth is flat by an emergency landing in Alaska. After going into labor, the pilot informed the airline company and requested permission to land at Ted Stevens Anchorage Airport in Alaska, which is impossible on a spinning ball but makes perfect sense on a flat Earth.
    Kalau penasaran bisa lihat peta bumi datar di internet.
    Bagaimana menurut KK??

    Sebenarnya tidak bola sempurna (sphere) tapi karena pengaruh rotasi/gravitasi jadi agak ‘gendut’ dikit di tengah (oblate spheroid)—ekuator sedikit lebih panjang daripada meridian. Toh dalam bahasan (termasuk di artikel ini) sering membantu jika cukup dianggap sebagai sphere saja.

    Baru-baru ini sempat ramai memang soal bumi datar. Ini tidak sesuai hukum alam menurut saya. Tapi sederhananya, kalau flat, berarti ada tepinya dong? Karena sekarang semua orang sudah bisa bikin pesawat terbang, kan hal seperti ini mestinya mudah sekali dibuktikan? Dengan foto, misalnya?

    Maaf, ini harus off dulu, nanti malam saya sambung ya. (malam sekali tapi, ok?)🙂

    Update: Eh, maaf lagi, sudah pagi ternyata hehe.. Ok, lanjut. Saya sempat lihat beberapa videonya, semua sama—suka menyebut ‘katanya’ (klaim mereka sendiri) sebagai ‘bukti’ (bagi orang lain). Penjelasannya elusif-distorsif-disinformatif—alias suka menghindar dari topik, suka maksa mengait-ngaitkan dengan teori/tokoh/kitab (menurut tafsiran mereka sendiri), dan suka memanipulasi konteks. Argumen dan kesimpulan tidak ketemu.

    Intinya, apapun yang mereka sebut ‘bukti’ (proof)—foto/film/cerita, selalu tidak bisa DIBUKTIKAN orang lain (kapan/di mana/siapa saksinya tidak jelas atau sudah meninggal).

    Jadi ya pertanyaan seperti yang di atas (bertepi), jam (waktu), beda pola musim (tropis dan nontropis), atas/bawah (kalau datar berarti bisa njempalik).. dll termasuk yang ala spontan bocah “Lho kok matahari-bulan-planet pada bundar?” tetap tidak terjawab (secara logis dan bertanggung jawab).

    Paling tidak, yang kebetulan saya sudah lihat (film/artikel) semua begitu.🙂 Oya, ini tidak ada hubungannya, tapi obrolan ini bikin ingat salah satu film surealis favorit saya yaitu ‘Balance’ (cuma 7,5 menitan). Siapa tahu bisa menghibur.🍸

    saran_tontonan_mercator_kupasbuah

  2. Bagi saya pribadi, tidak jadi soal bumi bulat atau datar, yang penting saya selalu berterima kasih kepada yang Maha Kuasa dengan tempat tinggal kita ini. Biar mereka yang pintar berdebat ttg bumi, bintang, planet, galaxy teori big bang, dark matter dsb, dsb, bagi saya itu semua adalah rahasia Tuhan. Hanya Tuhan saja yang tahu segalanya.
    Dari pada meributkan segala macam teori diatas, lebih baik kita pelihara saja planet bumi ini semoga semakin hijau🙂
    Sorry ya topik jadi menyimpang dari tulisan blog ini … seperti biasa saya suka ngelantur🙂

    Halaah, sama, Bu Lois. Saya kalau ngobrol juga biang ngalor-ngidul hehe.. Lagian nyambung juga kok, kan masih urusan bumi (wajah/bentuk).

    Oya, saya malah terima kasih. Karena komen Bu Lois, sekarang saya jadi ngeh kalau selain ‘tahun baru’ blog ini praktis tidak ada artikel antariksanya. Jadi nantinya yang berbau outer space bakal lebih suka nongol (meski mungkin itu bukan topik yang menarik banyak orang—kelihatan dari jumlah komen yang ‘membanjir’, saya cuek aja, yang penting hepi hehe..).

    Ini sudah ada beberapa sih yang kebayang di kepala, tapi masih cari angle agar terasa lebih relevan secara umum (karena biar bagaimana KI kan bukan blog ‘geek’ seperti dua blog scrabble saya nan konsisten sepi manusia dan sepi postingan itu haha..!!) Sekali lagi terima kasih.🍸

  3. Yeah, dis becomes world problem.

    Indeed Aruna, ‘world maps‘ are—historically, quite related to global politics.🙂
    Anyways, I guess ‘The West Wing’ has some elegant way of bringing up the issue:

    west_wing_mercator

  4. Yep. I ran into this when I tried to make a map for the first book I wrote. It was a world of my own invention. I needed to know if my character could really cross a continent in the time I allotted. I ended up sanding off a globe and painting my world on to it so I could check.

    Glad to hear that you take your world seriously. If only most writers were like that.. But painting over a sanded globe? Wow! That’s bringing fiction into reality!🍸 (Sorry for the delay, clearly akismet didn’t know this address belongs to an old friend)

    PS: Nothing is wrong with this new icon (in fact, it’s kinda cute), but I miss the old one (somehow I already take a liking to it). Just saying.🙂 Cheers!

  5. It’s actually a very old icon – left over from when I was on wordpress.com You’re comment form no longer allows me to use my current gravatar or link.

    Ah yes, just checked. But heck, it’s like forcing you to wear something you no longer use! Sorry about that, as a free WP user there isn’t much I can do (if at all).

    At any rate, I really think that icon of yours has what I call ‘character’ (not just pretty or sticking out—which, for that matter, it is)—not something easy to achieve in so a tiny space, I guess. So, kudos to whoever made it!🙂

  6. I have no idea what any of the text says, but the maps look impressive. I’m Australian. I always thought that Greenland was bigger. Wrong!

    Hi neighbor!🙂 Really, Brett, it’s great seeing you here. Size-wise, Mercator maps sure are not being fair to ‘the Land Down Under’. Hey, you know what? Your being here just reminds me of a song I like very much from my school days. I’m sure you know it, but I’ll share the link here anyway so that others can also enjoy it, OK?

    men_at_work_downunderMen at Work – Down Under (Business as Usual). Nice music, strong message, eh? Been happening as well here in Indonesia (if not all over the world). Thanks again.

    🌏
  7. did you get my msg? I don’t see it.. ciao

    In fact I did.🙂 Sorry about that. In many WP blogs, you will have just to wait (for approval) the first time you leave comments on them. Salve.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s