antik

– sebuah arti lain –

Bahwa antik itu sesuatu (barang) yang bernilai seni dan telah berumur lama, semua mafhum. Tetapi dalam percakapan informal tahun 70-an di Jakarta, orang relatif umum berucap begini:

“Dia mah orangnya emang antik!”
“Ah, antik-antik aja luh!”
“Antik juga nih, gambar tempelnya!”

(nyentrik, beda, tak bisa disamakan dengan yang lain)
(ada-ada saja)
(bertuliskan kata-kata yang kreatif/jenaka)

Tidak ada kaitan dengan benda seni/usia lanjut, antik di sini berarti—gampangnya saja, ‘aneh‘ (yang konotasinya bisa sangat bervariasi: unik, khas, menggelikan, konyol, di luar dugaan dll). Lucunya, meski tak sama benar, ‘antik’ ala bahasa pasar jadul ini ada pula padanan Inggrisnya.

Terdapat dua pengertian ‘antik’—kuno (Inggris: antique) atau aneh (Inggris: antic)

*****

Arti pertama sudah jelas. Arti kedua mungkin agak membingungkan bagi yang belum pernah (biasa) menggunakannya, sebab memang tidak semua yang ‘aneh-aneh’ bisa kita katai ‘antik’.

“Waktu lewat pasar tadi, aku dipelototin orang aneh.”
“Mienya jangan dimakan, rasanya sudah mulai aneh.”
“Was-was saja, seperti ada yang aneh dengan tatapannya..”

(tak dikenal, misterius)
(mulai berubah)
(mencurigakan)

Itu adalah beberapa contoh di mana ‘antik’ (ala Jakarta tempo dulu) tidak pas dipakai (meski semua ‘aneh’). Sekarang mari bandingkan dengan ‘aneh-aneh’ berikut yang semuanya ‘antik’:

Jika saat hujan reda hari masih siang (belum masuk asar), kami segera
ke lapangan main bola—di bagian yang justru ada genangan airnya(!)

Antiknya bocah. Dari jurus klasik nangis keras-keras di toko guna mendongkrak posisi tawar (agar dibelikan mainan), makan bakso di mana baksonya dinikmati belakangan bagai kudapan (setelah kuah dll ludas) hingga aksi corat-coret baju saat kelulusan, semua itu adalah antics.

Hobi, iseng, ngambek, kelakar, perilaku, sifat.. banyak hal bisa berstatus ‘antik’.

*****

Meski acap dikaitkan dengan [aneh-anehnya] anak-anak/remaja, antic—sekali lagi, bukanlah soal ‘umur’ (kalau ini, antique), melainkan karakteristik yang bisa kita semati predikat ‘aneh’ (yang konteksnya bisa amat beragam: asyik, mengundang senyum, menarik perhatian dll).

Dengan kata lain, siapa pun—termasuk orang dewasa, bisa saja bikin/punya/jadi antik.

om_telolet_om

Itu, misalnya.

*****

————————

Catatan:

Kalau tak salah (saat itu penulis artikel masih kecil), penggunaan ‘antik’ sebagai ‘aneh’ hanya populer di kalangan menengah-bawah dan lebih merupakan kosakata lisan daripada tulisan.

Berbeda dengan ‘antik’ (Indonesia) yang netral—fleksibel, ‘antic’ (Inggris) cenderung selalu berkonotasi negatif—’aneh-aneh’ atau ‘ulah’ yang konyol, membuat jengkel/repot orang dsb.

‘Gambar tempel’ maksudnya ‘sticker’(sebuah kata yang kala itu belum terlalu lazim). Konteks contoh di atas misalnya sticker (di dalam bus kota) seperti “Hari ini bayar, besok gratis” atau (yang ditempelkannya selalu di sisi atas pintu bus sebelah dalam) “Naik gratis, turun bayar”.

Pustaka:
“Kamus Besar Bahasa Indonesia – Pusat Bahasa” (Pusat Bahasa, Gramedia, 2008)

Sumber gambar:
“Berburu telolet di Yogyakarta, Polisi: boleh asal tertib” (Tempo.co)

Saran bacaan:
“Ketika ‘om telolet om’ yang menyenangkan berubah jadi pengalaman buruk” (BBC Indonesia)

—KK—

20 thoughts on “antik

  1. Nah, yang lagi marak #om telolet om itu masuk antik atau aneh?

    Uantik (pakai ‘u’), sepertinya. Soalnya memang semua-muanya antik banget 🙂
    (Sampai sekarang saya masih heran kok yang gitu bisa ya, mendunia?)

    • Saya malah sudah donlod aplikasi om telolet om di play store. Cukup asik buat diri saya selagi gawe nang proyek dimainkan, hilanglah rasa bosan hehehe…

      Luar biasa memang satu ini. Saya termasuk ketinggalan. Tempo hari ada saudara datang dengan anaknya yang masih SMP, saat itulah saya dapat pencerahan soal ‘Om, Telolet Om!‘ (setelah dua hari trending). Dasar otak jadul, yang kepikiran langsung: “Ah, antik nih!”

      om-telolet-om-rossi(Sumber gambar: Viralbot360)

  2. aku lebih setuju sama artian pertama. yang muncul dipikiran juga antik itu sesuatu yang umurnya udah lama tapi lebih mengarah ke benda, saking lamanya dan masih ada dibilang antik dan jadi sesuatu yang mahal. soalnya lebih sering dengan “barang antik=barang mahal”

    Halo Ami. Barang antik memang mahal ya, kadang harganya tak masuk akal. 🙂
    Oya, sebuah kata kadang punya lebih dari satu arti, meski tak semua arti tsb populer/bertahan. Misalnya fragmen (petikan cerita/sandiwara pendek) dan gundul (kalah telak tanpa bisa cetak satu gol pun).

    Kata ‘antik’ sepertinya juga begitu. Kalau di kamus standar (mis yang jadi pustaka di atas), selain ‘kuno’ ada disebutkan juga pengertian lain (meski penggunaannya sudah sulit ditemui).

  3. pertama kali berkunjung ke blog ini, n what i think? unic n antik. blognya niche nya berbeda dari yg lain. menarik pokoknya, membahas “kata” dengan cara yang berbeda.

    kamu antik, kutu kamus

    Selamat datang, sabdaawal. Eh tapi.. Huahahaha..!! Bisa aja.
    Terima kasih. Selamat bertugas dengan pelayanan publiknya.

  4. Emang antik ni orang, udah baca postingan ini trus ga kasih komen.. Bukan begitu mas? Aduh , saya tau mau panggil apa, ga tau nama soalnya.. 😀

    Halo Mas (Uda?) Ari. Nama ada di bawah peta yang di kanan, tapi tak usah yang itulah, pakai ‘nama dinas’ saja. Di sini ada yang panggil Mas/Pak KK/Kuka, ada juga yang Om Kutu. Bebas saja. 🙂

  5. Sekarang banyak banget ya kata2 yang artinya di plesetin..

    Saya tidak tahu persis istilah tempo dulu ini awalnya plesetan atau serapan dari bahasa asing (antic, mis). Tapi memang sih, kita yang sekarang ini sepertinya suka sekali plesetan (mungkin kecilnya dulu pada belum puas main prosotan). 🙂

  6. di kampung saya jg kalo make make kata antik, maknyanya cenderung ke sesuatu yang di luar kebiasaan. Dan tulisan2 di blog ini rapi sekali, lengkap dg referensi sgala, rajin sekali euy

    Hehe.. jadi malu, bahasa di ‘Blog Auk’ jauh lebih rapi (di sini masih nyampur ala ‘mbuat’ dan ‘temen’). Referensi untuk croscek/pembanding, biar pembaca ingat kalau blog ini banyak ‘suka-suka sendiri’-nya (kalau berkenan bisa lihat reply untuk Sucipto Kuncoro, artikel ‘aksen-dialek‘).

    BTW, yang juga ber-‘antik’ ria itu kampung mana ya? Tahun berapa? (kayak sensus)

  7. Rasanya istilah antik (aneh) didaerah Jawa Tengah sudah ada sejak saya masih remaja dulu. Kalau ada yang suka nyeleneh (lain dari pada yang lain) akan disebut antik orangnya.
    Pertama membaca istilah ‘om telolet om’ saya pikir bahasa apa itu? Engga tahunya dari Indonesia. Ha… antik juga itu bus megah dengan klakson yang bunyinya telolet.
    Kalau di Australia sini klakson tidak boleh dibunyikan kecuali untuk memberi tanda bahaya di jalanan. Ada terkecuali, kalau para pegawai sedang mogok kerja dan duduk-duduk di depan pabrik di pinggir jalan dengan mengacungkan spanduk, maka mobil yang lewat kalau setuju dengan mereka akan membunyikan klakson.
    Selamat Tahun Baru 2017, may the new year bring all of you happiness, good health,
    prosperity and peace.

    Waduh, kalau di sini sepertinya di jalan orang stres sedikit, langsung pencet klakson. Dan kalau lihat gejala, yang stres ‘klakson-happy’ makin banyak hehehe..

    Soal telolet, sebagai orang yang tidak ber-fb/twit/insta dsb terus terang saya masih suka geli/heran. Setahu saya, ‘setelan normal’ orang ngantik (ber-antik ria) itu kalau tidak individu (ybs sendiri) ya kolektif sepermainan (peers). Telolet unik, karena pihak yang minta telolet dan pihak yang memberi telolet ‘beda situasi‘ (yang bertemu pada satu titik tetapi dengan alasan berbeda—bukan berasal dari kelompok yang sama). Toh, tetap saja kompak. Jadi telolet bukan sekadar aksi antik kolektif tetapi sudah antik kolaboratif. Dan made in Indonesia satu ini mendunia! Wehheheh..!

    Terima kasih info antik masa remajanya (Solo, kan ya?). Saya sendiri waktu di Salatiga tidak terlalu ingat soal ‘antik’ (mungkin di masa saya penggunaannya sudah berkurang). Di Semarang sepertinya juga sempat on (tapi ini saya cuma lupa-lupa ingat, waktu itu cuma sesekali ke sana soalnya).

    Selamat Tahun Baru 2017 Bu Lois, may the oncoming year bring you all of those too.

    • Lebih ke yg bersejarah dan out of school sih. Makanya sering dibilang aneh sama temen2 haha

      Lha, ya itu, persis! Berarti menurut teman-teman Tya (eh ni manggilnya benar beginikah?) terkategorikan antik (beda). Dan dalam hal ini itu bagus, karena buat saya segala sesuatu yang berbau ‘sejarah’ itu penting (kalau ada waktu bisa cek artikel ‘kompeni‘, nanti Tya pasti tahu maksud saya). 🙂

  8. Antik biasanya emank lebih ke benda sih biasanya. Benda-benda unik gitu. Tapi namanya juga bahasa, selalu berkembang setiap saat.

    Senantiasa dinamis ya Rudi. Semoga istilah lokal seperti ini bisa hidup berkembang agar kecintaan thd bahasa Indonesia terpelihara dan kita tidak justru silau oleh kata-kata asing yang tidak perlu (seperti ‘boring’ yang salah kaprah tempo hari).

  9. Although I’ve encountered a negative connotation for “antique”, mostly I think of it as positive. An antique is something that has been treasured.

    Indeed, Alice—something that somehow gains value over [a considerably long] time though its functionality (or ‘intrinsic sustainability’, for that matter) might not.

    PS: love seeing all those golden curls back. 🙂

  10. Salatiga banget mas Kuka. Berjibun bangunan antik baik yg terpelihara maupun mangkrak. Beragam warga antik aneka sudut pikir. Kondur kampung kami kah di akhir tahun?Salam hangat dari kami.

    Terima kasih, Bu Prih. Salatiga bagi saya selalu merupakan sebuah kota yang penuh warna—ya kenangan ya sekarangnya, ya tempat ya orang-orangnya.

    Agustus kemarin sempat rencana menyusur Pantura untuk nyebrang di pantai Timur, tentu sambil memuaskan kangen di kota kecil tercinta. Sayang karena sebuah sebab tidak jadi. Sudah beberapa kali ‘lewat’, tapi belum bisa menapak singgah. Semoga Bu Prih sekeluarga sehat sejahtera selalu.

  11. Antik ternyata beneran serapan ya. Kalo disini sih, sudah dari zaman baheula dipake kata kata antik. Bisa jadi artinya jadul (ini bahasa ala ala temans aja), unik, bisa juga karena tak biasa atau aneh (menganehkan yang lain).#hahaha,untungdahlewatpelajaranbahasa
    Terimakasih sudah berkunjung ke blogku

    Terima kasih juga sudah main ke sini Sarah. Serapan atau tidak saya tidak tahu persis, fifty-fifty lah. 🙂 Yang pasti kalau di sana ‘antic’ merupakan kata standar, tapi kalau di sini ‘antik’ (dalam pengertian aneh) sepertinya memang cenderung cuma dipakai dalam percakapan informal. Terakhir saya lihat muncul di edisi Minggu sebuah koran ibukota tgl 8 Januari 2017 lalu (dalam sebuah cerpen).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s