tahun cahaya

– satuan jarak astronomis –

“Tahun kok, cahaya? Lalu apa bedanya dengan ‘tahun’?” Kurang-lebih seperti itulah heranku
Kali pertama dengar istilah tahun cahaya (light year) dari Pak guru—dulu, SMP kelas satu

Tahun (satuan waktu)
Tahun cahaya (satuan jarak)

→ Ia pergi selama sepuluh tahun
→ Ia pergi sejauh sepuluh tahun cahaya

Jadi layaknya “Ia lari sejauh 10 km”, kalimat kedua tidak bicara waktu
Satuan ini digunakan untuk ‘jarak yang amat amat jauh’—’jarak astronomis


Artikelnya tamat sudah, sebab selebihnya cuma ‘memori/catatan senang-senang‘ saja hehe..
Termasuk sedikit sisipan fantasi, yang kadang mungkin terkesan tak nyambung sama sekali

Seperti bakalan kusuruh apa, kalau aku boleh sebut satu permintaan sama hantu..

*****

Raja Ngebut

Pembalap MotoGP asal Italia Valentino Rossi memang hebat
Masih konsen ngebut lebih dari 300 km/jam meski umur sudah hampir kepala empat

Ini speed angker, karena itu sama saja bilang bahwa untuk jarak 80 meter
Jagoan motor berjuluk ‘The Doctor’ ini cuma butuh waktu kurang dari sedetik(!)
Atau kalau dengan gambaran yang makin bikin keder:

Total jarak yang ditempuh si Mas dalam tempo empat jam—alias, ‘4 jam Rossi
Akan sudah sedikit lebih jauh daripada rute ujung-ke-ujung pulau yang satu ini:

Valentino Rossi ngebut Pulau Jawa

4 jam Rossi = Anyer – Banyuwangi (sudah termasuk 1x berhenti selfie)

Jauh benar! Pasti ngebut sekali! Toh, dari sekolah kita tahu, cahaya jauh lebih cepat lagi
Di ruang hampa, kecepatan cahaya adalah 300.000 kilometer per detik

Bahwa itu cepat sekali, bisa kita lihat dari beda cakupan jarak kedua ‘pembalap’:

1 detik Rossi
1 detik cahaya

= 80-an m (gambaran gampangnya, 1 kali mutar kolam Bunderan HI)
= 300 ribu km (7,5 kali lingkar khatulistiwa—bundaran terbesar di bumi)

Artinya kalau dari Pontianak kita menyusur ekuator dengan kecepatan cahaya,
dalam hanya 1 (satu) detik kita akan sudah 7 (tujuh) kali sampai Pontianak lagi(!)

Eh, kalau hantu tu sedetik kira-kira dapat berapa putaran ya..? (kepo)

4 hour speed of light sun neptune

4 jam cahaya = Matahari – Neptunus (Rossi cuma Jawa, cahaya sampai batas Tata Surya)

*****

Penggaris

Waktu kecil aku beruntung tinggal di desa
Beratapkan langit bersih tanpa polusi udara
Dikunjungi malam-malam penuh bintang ramah menyapa
Indah
Megah
Cukup dongakkan kepala

Tapi sebenarnya berapa jauh sih dirimu, Tang? Coba kalau aku punya garisan..

Jarak sebuah rute antar-kota (seperti Anyer-Banyuwangi)
Tentu akan terasa ganjil bila dinyatakan dalam milimeter
(alih-alih informatif, informasinya akan jadi absurd)

Sama prinsip, untuk jarak antar-bintang
Kita juga butuh satuan yang ‘lebih akomodatif‘ (lebih panjang) daripada kilometer
Dan dari semua ‘meteran super-jauh’, yang paling populer adalah ‘tahun cahaya’

1 tahun cahaya

= 1 detik cahaya x [jumlah detik dalam setahun]
= 300 ribu km x [60 x 60 x 24 x 365]
= 9,5 triliun kilometer

Itulah besaran/ukuran ‘tahun cahaya’—total jarak yang ditempuh cahaya dalam setahun
Dengan skala seperti itulah orang ‘menggaris-garisi’ (mengukur-ukur) Alam Raya

Jadi jika satuan milimeter memungkinkan kita mengukur dengan ketelitian tinggi
Dan kilometer memudahkan orang memahami bumi
Tahun cahaya membantu manusia meraba kebesaran Semesta

Ini ibarat kita punya garisan—dengan skala jagad..

penggaris semesta garisan ruler triliun kilometer

Penggaris semesta‘ – dari posisi nol ke angka-1 saja jaraknya jauuu..uuh sekali

*****

Kampung Lampu

Kelap-kelip lampu kota di gelap malam
Pijar elok harapan kan hari mendatang
Tak peduli lampu neon obor atau bohlam
Dari jauh semua jadi seperti bintang

Ada banyak ‘kampung bintang’ atau galaksi di Alam Semesta, satu kita sebut ‘Bima Sakti
Dari ratusan miliar bintang yang mukim di Bima Sakti, satu kita beri nama ‘Matahari

Mirip pampangan lampu kota/perkampungan yang dinikmati dari ketinggian
Beginilah kira-kira wajah kampung halaman kita jika dilihat ‘dari kejauhan’

the Milky Way galaxy - yellow circle

Bima Sakti (Milky Way) – sebuah kampung bermiliar lampu (klik gambar untuk cek lokasi)

Kelihatannya seperti sebuah kampung yang padat
Dengan banyak lampu berdesak rapat-rapat

Tapi, apa iya jaraknya dekat-dekat?

Bintang terdekat (dari Tata Surya kita) = 4,2 tahun cahaya
(jika 4 jam saja sudah Neptunus, kayak apa jauhnya kalau 4 tahun)

Itu baru lampu terdekat, belum lampu lainnya
Belum lagi kampung-kampung lain..

Sebagaimana kita tidak benar-benar bisa membayangkan kecepatan cahaya
Akan payah pulalah otak kalau disuruh membayangkan besarnya Jagad Raya

Kabarnya, total bintang yang dilihat rata-rata manusia sepanjang hidupnya
tak sampai sebanyak bahkan sekadar yang ada di lingkaran kuning.. Oh-oh!

Tapi tentu bukan tanpa alasan orang terus bersinambung upaya menapaki Semesta
Tak bosan habiskan biaya meski kadang berujung bencana, pun dengan korban jiwa

Mau tak mau, sebelum matahari mati lampu, manusia harus sudah punya rumah baru..

*****

Aku mahluk Antariksa
Kampungku melayang-layang di angkasa
Tapi sungguh, seumur-umur aku belum pernah ke mana-mana
Karena jangankan merantau jauh dari kampung
Merangkak keluar pekarangan rumah sendiri pun aku belum bisa
Aku bayi Antariksa, belum dewasa

Kadang agak bergidik juga
Keluasan bagai tak berbatas ini
Dari segitu banyak lampu
Cuma satu yang berpenghuni

Apapun, Hamparan sedahsyat ini tercipta, pasti ada maksudnya..

*****

—————————————

CATATAN:
● Rute di peta = 1171 km (Google). Jadi untuk durasi 4 jam, Rossi surplus waktu 6 menit.
● Metafora: Bumi=rumah, Matahari=lampu, Tata Surya=pekarangan, galaksi=kampung.
● Semua foto “Bima Sakti dijepret dari jauh” bisa dipastikan adalah ‘foto-fotoan’. 🙂
● Konsep tahun cahaya hanya populer di kalangan awam (ilmuwan suka pakai satuan lain).
● Untuk lihat sejarah dengan mata telanjang, lihat link ‘siaran langsung’ di artikel ‘ilusi’.

REFERENSI:
● Wiki (Light-year / Speed-of-light / Milky-Way)
Universe Today (“10 Interesting Facts about the Milky Way”)
Quora (tanya/jawab seputar ‘foto’ galaksi)

SUMBER GAMBAR:
Jarak Tempuh (peta rute Anyer – Banyuwangi)
That Science Blog by Andrew Levitt (Matahari – orbit Neptunus)
Educational Technology Clearinghouse (penggaris)
● New Scientist / Pikaia Imaging (galaksi Bima Sakti)

Beberapa contoh jarak astronomis (dalam ‘skala kecepatan cahaya’):
– Bumi-Bulan = 1,3 detik cahaya (masih bergeming di nol pada ‘penggaris’)
– Bumi-Matahari = 8 menit cahaya (jika sana padam, baru 8 menit lagi sini gelap)
– pusat galaksi = 26 ribu tahun cahaya (posisi kita dari ‘alun-alun’/pusat dusun)
– rentang Bima Sakti = 100–180 ribu tahun cahaya (anggap saja ‘diameter’)
– Andromeda = 2,5 juta tahun cahaya (galaksi tetangga/kampung terdekat)

VIDEO
“Star Size Comparison 2” — animasi: Morn1415, musik: Vangelis
(ilustrasi menyenangkan 7 menit ‘praktek menggarisi Semesta’)

tahun cahaya light year semesta universe

—KK—

22 thoughts on “tahun cahaya

  1. Keren sekali tulisannya. Tapi biar pun begitu saya masih gak ngerti tentan satuan jarak cahaya. Males banget pokoknya memahaminya mengingat nggak pernah menggunakan ukuran tersebut. Pusing sendiri ha ha ha……

    Halo, terima kasih Shiq. Benar sekali. Seperti banyak istilah dari bangku sekolah yang tidak umum muncul dalam keseharian, ‘tahun cahaya’ lazim langsung dilupa begitu orang ‘lepas kurikulum’. Alasannya khas: “Lha ngapain juga urus yang beginian, orang tanpa ini saja kita sudah pusing..” 🙂 Alias banyak materi pelajaran sekolah yang tidak dianggap relevan oleh peserta didik sendiri. Ini problem klasik sekaligus tantangan bagi kita semua.

    Soal Semesta ini, misalnya. Ada kok manfaatnya (banyak, malah) bagi kehidupan sehari-hari (dan kita nggak harus jago baca bintang seperti orang dulu atau bahkan ngerti hitungannya sama sekali untuk itu). Masalahnya memang hal-hal seperti ini rata-rata kurang tersampaikan di masa sekolah (seolah satu-satunya faedah pelajaran adalah agar anak bisa dapat skor bagus di ujian). Tapi untuk contohnya kita lihat saja komen/reply ngalirnya ke mana, ok?

    Jujur saja, saya sendiri tidak terlalu yakin nasib artikel dengan topik seperti ini (maksudnya, jangan-jangan bakal seperti ‘benang merah’ yang ramai hantu tapi sepi manusia itu hahaha..!!). Tapi demi hobi, juga komitmen terhadap seorang sahabat blogger di tanah sebrang, ya tetap hajar saja. Jadi sekali lagi terima kasih. 🍸

  2. Tahun Cahaya. Salah satu istilah favorit saya!

    Saya sangat tertarik dengan istilah-istilah yang berhubungan dengan ruang angkasa.

    Kalau boleh request tolong dibahas juga istilah-istilah lain seperti lubang hitam, lubang cacing, dll

    Wah, senang ketemu sesama penyuka. Ruang angkasa cinta pertama saya (kelas 1 SD), lima tahun sebelum mulai suka bahasa. Terima kasih requestnya, tapi nanti dikit-dikit ya, kalau kebanyakan topik geeky begitu takut orang pada kabur haha..

    Setahunan lalu sudah hampir nulis lubang hitam, tapi karena tertunda lalu lupa mau ngomong apa (kebiasaan jelek suka malas catat kalau sedang ada ide). Jadi statusnya sekarang nunggu ilham.

  3. Wah. Macam tuh.

    Aku tertarik sekali sama ruang angkasa. Apalagi kalau udah dikemas dalam bentuk cerita fantasi. Duh. Mantap jiwa itu mah..

    Huehehe.. jadi malu, lha nulis begini saja kok sampai minta tolong hantu.. :mrgreen:

  4. Light year- astronomical distance unit – An interesting topic.
    In which language do you write?

    Hi Rekha, glad seeing you here. The language is Indonesian—[Bahasa] Indonesia.
    As a sci-fi lover, the term does give me some imaginative excitement. 🙂

    Raja Ngebut‘ – about how fast light is
    Penggaris‘ – that ‘light year’ is in fact just a ruler (for very long distances)
    Kampung Lampu‘ – about how big the universe is

    That’s about the general idea 🍸

  5. Waaa… Otak Fisikan saya agak macet, jadi gak bisa komen mendalam soal materi postingannya. Cuma saya suka, keren. Antara tahun sebagai satuan wakti dan tahun sebagai satua jarak. Itu saking jauhnya makanya diukur pakai satuan waktu kali 😀

    Halo, Muly (eh ni manggilnya benarkah?). Agak eksperimen saya nulis artikel ini: bahas fisika pakai puisi/prosa liris. Terima kasih jika tak dianggap norak hihi..

    Konon ini awalnya cuma ulah iseng seorang astro-fisikawan (link Light-year wiki) agar orang mudah (dan bisa merasa asyik) membayangkan jauhnya sebuah jarak:

    Bintang anu jaraknya 10,3 tahun cahaya dari bumi.
    Jadi jika kita melesat ke sana dengan kecepatan cahaya,
    butuh waktu lebih dari sepuluh tahun untuk sampai..

    Di luar dugaan, istilah ‘tahun cahaya’ lalu jadi seperti sebuah standar baru yang disukai orang (tidak hanya oleh penggemar sci-fi, tapi bahkan masuk kurikulum).

  6. This was really an interesting topic to read.
    Though I am not sure how much of it was translated accuartely into English.
    Have a great day ahead.
    Much love dear.

    Hello, Moushmi. Never mind that. Thanks for checking here out anyway. I use [Indonesian] slang sometimes (so I guess it could confuse the translator), but all replies for the non-Indonesian speakers are marked green (like Rekha’s above).

    PS: I’m a guy (just in case you have it the other way around) 🙂

  7. Bonsoir ou bonjour

    Une belle amitié
    C’est deux mains sur un clavier
    Le passage sur un profil

    Une image que l’on dépose

    Sur une personne que l’on apprécie
    De quelqu’un gentil et sage
    On dépose des petits mots bien placés
    Dans ce joli petit monde
    Moi je suis toujours là pour faire sourire
    Et cela me fait toujours plaisir
    Au fond de mon coeur
    Je t’offre ce bonheur
    Je te dis bonne nuit ou bonjour

    gros bisous

    Bernard

    Bonjour, Bernard. I’m not sure I get the translation right this time.
    Nice face by the flowers, though. 🙂 Merci.

  8. kalau konspirasi bumi datar bagaimana ? apakah percaya ?

    Berarti ada tepinya dong, trus tatakannya? Atau foto, mungkin? Hehe..
    Dari artikel sudah jelas kok (lingkar khatulistiwa, mis).

    PS: jika berkenan bisa cek artikel: ‘tahun baru‘, ‘garis tanggal internasional‘ dan ‘Mercator projection‘.

  9. Kemasan mas KK selalu luar biasa. Jagad kunang-kunang dan bayi yang belum lepas dari emban emak bumi. Terima kasih Mas nitip salam tuk paman hantu, izin ikutan menyimak.

    hantu-nggak-mutu-(70)Hh..hh..hh.. Maaf, masih ngos-ngosan
    Habis disuruh si Kutu lari keliling ekuator
    Tapi, lho..? Masih ada yang ingat Paman to? Hu..hu..hu..
    Jadi terharu, soalnya blog hantu postingannya angin melulu..
  10. You always write such informative posts.

    Light years have been of interest to me for a long time When I first started writing, I did some space opera. Light years are very important to space travel fiction. It can change the whole plot.

    Really, it’s very kind of you to say that about me or my writing, Ma’am. Thank you.
    And yes, important it is—even crucial, at times (such as in “Star Trek: Voyager”, where it counts for the whole ‘seven-season Mission’ 🙂 ).

    Thanks to Friedrich Bessel—because of whom ‘delittanti’ like us can now grasp the immensity of the Universe much easier.

  11. I love the different angles you view light from. It must be wonderful to enjoy the night sky without the barrier of pollution. Thank you for sharing this experience.

    My pleasure, Lita. It’s always been quite some fulfilling moment indeed. A particular ‘cosmic luxury’ we don’t usually have in the big cities. 🙂 Thanks for coming over. 🍸

  12. This is a very excellent article, thank you for taking of your time to post it for the rest of us to get to read.

    Thanks, OP. Sorry, looks that for some reason this comment of yours was in the wrong folder for a while 🍸

  13. Mantap banget mas websitenya… bisa jadi acuan buat nyari istilah2 yang rumit.. thanks ya

    Terima kasih VH, silakan. 🙂 Eh tapi kok alamat ‘ratutips’ = 404 ya..?

  14. I am surprised to read an article like this which covers one of my best interests.
    Compliments.

    Grazie, signore. May you have a good time doing your sport activities. 🍸

  15. Subhanallah, fisika banget :v tapi keren bayangin 1 detik Rossi ngelilingin bundaran HI. Hehe

    Dan kita yang gelantungan di busway terjebak macet cuma bisa melongo karena sudah setengah jam lebih masih di situ-situ saja.. 😀

  16. Es impresionante toda esa información. Me ha encantado.

    Un saludo cordial
    Ha Sido un gusto enorme poder leerte

    Those are very kind words, Esperanza. Thank you very much. 🍸 Alas para volar. The vastness of the Universe does make me wish I had wings to fly, sometimes. 🙂

  17. It is an interesting way of look at things. The unit makes us feel so tiny tiny .. out of the whole grand scheme of thing.

    Indeed Wiggleroom, I’m all for it! It’s hard already to imagine how big this galaxy of ours really is. And it is harder still to grasp that the very galaxy is in fact only a tiny dust in this vast Expanse we call the Universe. 🙂 Cheers!

  18. Followed your link to “Lara/Trace” visible in my dashboard comments. A curious thing to consider is that even assuming we could travel at near-light speeds, we could only visit about 3% of the observable universe due to dark energy increasing the spacial expansion-rate to beyond the speed-of-light before we could arrive anywhere more distant. Curiously, that means that relative to our local time, everything else is causally disconnected… we can only ever see into the relative past of the rest of the universe, and likewise for the rest of universe looking at us. We tend not to consider that there’s such a vast expansiveness associated with time as well.

    Responding to L/T’s query, I don’t know how many galaxies are in the universe. But an estimate for mass made by Louis Nielsen, Senior Physics Master, Herlufsholm, Denmark is:
    1.6 × 10^60 kg. (Used in a July 16, 2017 article.)

    And while I’ve never reached Rossi’s 300kph (on two wheels, anyway), I can tell you that at just over 250kph, I’d only have made it about 110km (about the length of a MotoGP sprint) before running out of fuel. Java would have required a couple of pit stops. 😉

    Cheers! -Kumi

    Much appreciated for the link-follow—and the comment as well, Kumi. I mean it. Sorry for the got-to-wait-till-weekend reply, since I need some time to ponder my own words (especially upon the Nielsen’s part).

    First thing first. I’m just a part-time sci-fi lover—a dilettante (a forever starship spacer wannabe). In regard to theories, I only support ones that I can grasp (however a little) or at least have considerable supporters in the [science] world (this is kind of my last resort for not being a scientist myself—some layman’s social responsibility). Still, when it comes to personal guessing, I’m wild at times (Just like everybody else, I guess).

    Second. As much as I’d like to share, I use this blog as a ‘learning field’ (mine, that is). That’s the story behind every long reply in this blog (and there are lots of them). Never forget that this blog is “Terms and Jargons for Dummies” (see the About page), for the very reason that it is run by one. OK, here goes..

    No, it’s not about Rossi/the ghost (I threw them in just for illustrations/fun). That section is about speed. Please check my reply to Rekha Sahay above. (NOTE: in this blog, replies in green are already in English, better read them without translator).

    Space Travel. My, I fantasize about this! Up to a point where I suspect that the problem is not distance/speed/rate of expansion etc, but us. Much like going to the Moon and coming back would sound crazy to the smartest cavemen, crawling out of this solar system is still too much trouble for us now, right? (We might look quite sophisticated compared to the cavemen back then yeah, so let’s hope we now look unbelievably dumb from a thousand years in the future)

    Now comes the long and winding road part. 🙂

    In the beginning, there was NOHAI (excuse my made-up Mongolian-like English term, stands for ‘No One Has Any Idea’). And then... BANG!

    the big bang

    (Sumber gambar: Clipart Email)

    The ever expanding existence (of energy/matter/space/time) we call the Universe. Spreading to all directions, let’s assume IT makes up a Sphere (that keeps inflating).

    Big Bang spherical Universe

    [Compared to flat/hyperbolic one, this spherical model is easier to grasp, I guess] Pretty neat as it is, this Sphere offers no answers to fundamental questions like:

    ● What provoked it (why it went ‘banging’ in the first place)
    ● What was before the Bang
    ● What is beyond this ‘Sphere of Existence’

    because they are ‘NOHAI territory’—which we approach by Theory (some educated guess weighed by [im]plausibilities). Even then, aprroaching NOHAI is tough (the closer we come, the harder it gets, so to speak).

    Take the size of the Universe, for example. Assuming that we know when the Bang happened (The birth of Time? Heck if I know what I am saying here LOL) and the [accelerating] rate of Expansion, it’s quite tempting to proclaim that we know how big IT is. But dealing with ‘the Outskirt of Existence’ (say, the farthest reaches of the Sphere Kingdom—a NOHAI) sure ain’t come easy. To put things short, instead of the Universe itself, we often have to suffice ourselves with ‘observable Universe’ (a spherically cropped version of the whole thing—say, a much much smaller Sphere).

    So, any theory that has something to say about the mass of the universe (including Nielsen’s baby—the Uniton Theory) is at best (if at all) falling into that [observable] category (not of the whole Universe itself), OR (if otherwise) that would be pretty much like saying that we know (with some amazing degree of certainty) how big/dense ‘the Matter of Origin’ (before the Bang) was.

    And I seriously doubt that we—anybody, can go that far back (before Time?) just yet

    PS: I apologize if you do not need all those rambles, because I do. And considering that I am actually making a digital diary with this blog, I thank you again for supplying me with stuff to write. 🙂 Cheers!

    • Thank you for the “ramble”. And I agree with your characterization entirely… we can only know of that which is somehow “observable”… or “measurable”. That’s at least fundamental to a definition of knowledge that can be properly termed “science”. I used Nielsen’s article as a reference in my own (rather silly) article merely due to his having the largest estimate. (But since at least 97% of that mass isn’t accessible to us, I’m now seeing an error in my calculations.)

      As for Rossi, I understood about the speed comparison. Since I ride, I was merely making a tongue-in-cheek observation that at 300-kph, wind-resistance and the first law of thermodynamics would likely require him to stop and acquire a new store of potential energy several times during his journey, thus reducing his average velocity. 😉

      I also apologize if I miss something in your articles. I read them by copy-and-paste into Google Translate. And having used GT to help with making quick translations of Japanese to English, I am quite familiar with how it can render beautifully-written text into incomprehensible jibberish. I’m also retired from (applied) physics and engineering, so I sincerely apologize for any jargon that slips out. But I do think that the human mind tends too easily to fall into easily visualized, familiar models. And that can prevent seeing the implications of an observation, sometimes not easily described without mathematics. The “Big Bang” is, I think, a fair example of this. My own occasional attempts at non-technical science-related articles have been challenges.

      As for Sci-Fi (or merely speculation), I have an interest in cosmology; though, I claim no expertise. However, I see the universe as something like a high mountain — fascinating and beautiful, but also utterly inhospitable and not created with an intent of life. We’re merely brief visitors, navigating the edges of something vast and incomprehensible.

      It always fascinates me that after all this time, over [ages of] generations, it’s still a tiny chunk we know about this Universe. 🙂

      Ah yes, Google Translate! How could i have forgot about that?! Had some issue myself with this translator in the past. Better put that into an article sometime. Thanks for reminding me of it.

      Been a pleasure, Kumi. And you’re kind with your words. Glad I did stumble upon your blog last week. 🍸

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.