rock balancing

Menunggu memang kadang bisa membuahkan sesuatu. Misalnya yang terjadi setahunan lalu berikut ini. Ketika iseng berselancar di dunia maya karena teman janjian tak kunjung datang, secara tak sengaja lalu jadi kenal dunia (seni) rock/stone balancing (rock/stone stacking).

video seni susun batu

Gravity Glue – ketika segalanya direkatkan hanya oleh gravitasi

Perlu sabar? Pasti (sikap tergesa cuma akan mengakibatkan ‘keruntuhan’). Juga peka (‘merasai’ titik tumpu/topang batu). Dan tentu saja bandel (tidak mudah dibuat kapok oleh upaya gagal).

Agak tercenung juga waktu pertama kali nonton dulu. Bukan soal tingkat kesulitan atau hasil akhirnya (yang notabene semuanya ‘Wow!’), tetapi lebih kepada aspek-aspek yang berikut ini..

Gratis. Mirip udara. Zaman apa-apa mahal begini, ternyata ada hobi modal dengkul (asal sudi keluar rumah) yang bisa diseriusi cukup dengan tangan kosong (tanpa alat bantu sama sekali).

Jepang-jepangan

Meditatif. Sekadar gigih dan tahu tekniknya rasanya jelas tidak cukup. Untuk bisa memahami ‘bahasa alam’ (‘mendengarkan’ apa mau si batu, mengingat tak sembarang batu saling cocok), orang terang butuh kondisi ketenangan tertentu. Harus ada cukup damai di hati. Inner peace.

Ala jembatan lengkung

Kontemplatif. Susah-susah bikin, setelah jadi malah dirobohkan (semangat ‘leave no trace’). Habis pinjam, kembalikan! (Dari alam, ke alam / Memanfaatkan iya, menjaga kelestarian iya). Betapapun rajin memberi, Bumi baik hati ini tentu juga butuh sentuhan kepedulian manusia. Ini seperti mengingatkan, bahwa sebuah koeksistensi sungguh perlu saling jaga dan pelihara.

Bak batu-batu yang bahu-membahu saling topang/tumpu
(di mana tiap sosok punya peran sesuai kapasitas/fungsi/posisi masing-masing)
agar ‘bangunan bersama’ yang dicitakan dapat berdiri sebagai sebuah kesatuan.
Serasi. Selaras. Seimbang.

Rock balancing—amat bersahaja, cukup menuntut, lumayan mengingatkan.

———————————

CATATAN
● Klik gambar paling atas untuk unduh video (youtube) rock balancing.
‘Gravity glue’, istilah yang dipakai Michael Grab (seorang balance artist) untuk seni ini.

REFERENSI
Gravity Glue (cek ‘About + How + Why’ dan ‘Blog’)

SARAN TONTONAN
Sebuah film/animasi pendek (7 menit) nan substantif tentang ‘keseimbangan’ (lihat artikel ‘Mercator projection’, klik gambar yang ada pada reply untuk Lois—komenter pertama).

Terima kasih kepada Xea B atas inspirasinya.

—KK—

Iklan

45 thoughts on “rock balancing

  1. Thank you very much Kamus, I really appreciate 🙂

    Anytime, Xea. Anytime at all! And surely it’s quite a good thing that I found African Homage which linked me to that vid by Grab. Thanks to you! 🙂 Cheers!

  2. Sangat menginspirasi! Saya sangat membutuhkan hal ini, kesabaran dan ketenangan diri untuk dapat lebih baik memahami apa yang diinginkan oleh sang Pencipta terhadap saya.

    Terima kasih banyak, Ayu. Penting sekali memang ‘inner search’ ini ya, karena mengenali/memahami diri sendiri sambil berusaha terus berproses itu rasanya kunci. Semoga kita bisa tegar sekaligus luwes menjalani jalan yang kita miliki. 🙂

  3. Keren hasil kreatifitas seniman itu. Itu membuatnya butuh kesabaran luar biasa.

    Akur, Uda. Imajinasi ybs dlm mengejar bentuk/susunan/kombinasi ‘yang tidak mungkin’ juga minta ampun. Di situs ‘Gravity Glue’ keren-keren lagi.

  4. I’ve done this sort of thing a few times and known many other people who like to do it. One guy used to use all the furniture in a meeting room to make such balanced sculptures.

    Kudos to you, Alice. Never done it myself (or even merely tried, for that matter). 🍸
    But really, furniture (and in a meeting room, at that)? It’s way beyond my imagination! Sounds quite like some character, that guy. 🙂

    Update: Now that you mention it, I recall this particular Jet Li movie from the laser-disk era involving furniture and crazy balances (7 minutes):

    jet-lee-vs-ketua-teratai-putihFun, eh? Thanks for reminding me that! 🙂 Cheers!

  5. Love this rock balancing thing… I guess it would require lots of patience. Very good way to relax!…. And they look beautiful. Sending love & best wishes 😀 ❤

    It had me dumbfounded as well. It’s as if the artist shared some common language with Nature—a peaceful yet intense conference with everything in the vicinity.
    I can only imagine. 🙂 Love and best wishes. 🍸

  6. Gw pernah liat ini juga waktu di Taiwan. Ga se complicated yang di video sih, tapi tetep bikinbgw tercengang!

    Lihat langsung? Wah, asyik dong! Saya sendiri baru lihat dari gambar/video saja, belum pernah nonton secara ‘live’ 🙂

  7. Baru tahu ada hobby rock balancing. Very interesting, sampai nyemplung di sungai segala:) Tangan harus ‘steady’ (apa bhs Indonesianya ?). Dulu waktu masih kecil paling-paling hanya main menyusun kartu.

    Sepertinya begitu Bu Lois, butuh ‘a pair of steady hands’ (bingung juga saya apa ya padanan Indonesianya kalau dalam konteks ini). Waktu kecil saya sering sobo kali sebenarnya (namanya cah lanang), tapi ya cuma untuk keceh tok. 🙂

  8. There is something so peaceful and “balancing” seeing this artwork ~ always gives me pause and brings a smile to my face 🙂 It is a perfect feeling, that always surprises me.

    Me too, Dalo. A sense of fulfilment. It’s like watching someone conversing with Nature barehanded—no gadgetry whatsoever. So ‘replenishing’, I might say. 🙂

  9. Amazing! Me and patience were never good friends but it’s fascinating to watch. Wishing you a great week 🙂 🙂

    Same here, Jo. I think I’m too ‘restless’ for this art as well (if you don’t mind my expression 🙂 ). A feed for soul—in more ways than one (kind of), I guess.
    May you find this week fascinating too. 🍸

  10. I’m afraid I can’t read your language. But I love the video!

    Nah, never mind that, Mitch. Thanks for your coming by here just the same.
    (PS: Quite well put about your ‘magnum opi’ and other ‘compositions’) 🙂 🍸

  11. Hello, at first I would like to thank you for your visit to my site and to ‘like’ my blog and for your nice comment!
    I’ve translated your site with Google translate, but it’s a bad translation and it’s confusing. I’ve watched ‘you tube’ video about balancing rock stones. It’s an incredibly creative beauty! And that’s what life is about! To find the balance for a good life with a healthy body and mind! I’ve said more often that perfection does not exist, but I should take back my words! Cause nature and life is perfect, even in all its imperfections, everything fits into each other as it should be!
    Sincerely, Heidi

    Hi, Heidi! Real glad having you here. Much appreciated about that translator thing. Unfortunately, yes, it could be quite tough since I use [Indonesian] colloquial and slang every now and then.

    It’s been over a year since I first saw that vid, and still enjoying it! Like you said, a perfect imperfection indeed, life is. A design so Grand that everything—somehow, just fits in. The Music in which the not-that-easy part is recognizing the beauties it has on a day-to-day basis and trying to be in harmony with those ‘divine tunes’, I guess. And we call it life. 🙂 Thanks again. I mean it. Cheers!

    Yours truly

    • Terima kasih atas tanggapan baik Anda 🙂
      I hope I translated it well in Indonesian
      Best regard, Heidi

      ‘Well’..?? That (your Bahasa) was not ‘well’. That was excellent!! ⭐ 🍸
      Terima kasih banyak, Heidi. Anda luar biasa! 🙂 Salam.

  12. Hasilnya akhirnya wow, tapi dibalik itu ada proses yang bisa jadi pelajaran hidup ya mbak…

    Sepertinya begitu, banyak yang bisa kita tarik dari aktivitas ‘bersahaja namun berisi’ yang satu ini (meski cuma modal nonton, sendirinya belum pernah soalnya).

    Eh tapi tu manggilnya ‘Mas/Pak/Om/Paman’ aja kali ya heheh..

  13. Luar biasa alam merupakan sekolah kehidupan tanpa batas.
    Gaya tarik ibu bumi dan olah kesabaran luar biasa. Pribadi yang ‘melebur’ dengan alam yg mampu melakukannya. Sy masih sebatas ah uh dengan nada kagum. Trim mas KuKa sharingnya.

    Sekolah gratis yang sering ‘sepi murid’ (diabaikan)
    Untung selalu ada pejuang hijau
    Yang tak jemu asih/asah/asuh para cantrik..

    Nyebur kali di bawah tatapan belukar
    Lewat batu bercengkerama dengan alam sekitar
    Heningnya cipta dalam penuh sadar
    Sejukkan hati beningkan nalar


    Kembali trims, RyNaRi
    Semoga kebun keseharian selalu berseri

  14. Loved these images and videos. I practice rock balancing whenever the opportunity presents itself. It’s immensely soothing and meditative. Wonderful piece.

    Now that’s enviable! I haven’t even tried! 🙂 Simply wonderful alright. Seriously feel I lack the necessary faculties for doing it myself, though. It’s one of those things that are just beyond me, I guess. But it got me thinking, surely.

    By the way, it’s been quite a while in the ‘Travelogue’, Noelle. Really quite a while.. Glad seeing you around again. Many thanks for checking me out. Cheers!

    • Nenangin msiknya, pagi ini juga muter videonya lagi nih..he

      Screenplay dan fluktuasi musiknya kena banget. Lumayan sebagai ‘sarapan’ tahun baru (Muharram/Sura) 🙂 Kalau berkenan mungkin bisa coba video “Star Size Comparison 2” (artikel ‘tahun cahaya’). Paduan audio-visualnya buat saya keren sekali.

  15. Memahami kondisi alam untuk mengetahui bahasa apa yang diinginkan alam butuh ketenangan, sepertinya ketenangan adalah hal vital utk setiap mengambil keputusan

    Benar Mbak Maya, keputusan sering perlu diambil dalam kondisi hati tenang dan kepala dingin supaya selaras dengan banyak hal lain, tidak nabrak-nabrak.. 🙂

  16. that amazing hobby&video >.< Ku rasa ga semua orang bakal "bisa" dan "mau" melalukan hobby rock balancing. Dan juga artikelnya menginspirasi^^

    Saya termasuk yang memuaskan diri dengan menonton saja kayaknya, tidak cukup syarat terampil dan sabarnya hehe.. Terima kasih Eny, semoga kita tidak sampai kalah sama batu—lebih cerdas bahu-membahu, tidak mudah termakan isu. 🙂

  17. A beauiful and fascinating find, this video, article and blog. Thank you for your visit, that took me here.

    Thank you for your very kind words and for your being here, Puzzleblume.
    Quite enjoyed the flock of those yellow penguins of yours. 🙂

  18. Setuju, rock balancing memang sangat menenangkan. Membikin fokus. Lupa dengan sekitar. Tapi lupa dalam artian baik, soalnya jadi tidak peduli pada hal-hal yang tidak penting. Saya merasa kalau akhir-akhir ini justru lebih peduli pada hal-hal yang nggak penting; lebih peduli orang lain padahal diri sendiri juga butuh perhatian.
    Menumpuk batu dan menjadikannya seimbang ini juga kegiatan yang membekas. Seingat saya, baru sekali saya mencoba. Tapi saya masih ingat rasanya. Hehe.

    Soal ‘kecenderungan’, saya juga suka heran. Di satu sisi kita seperti defisit waktu pontang-panting untuk hal yang penting, tapi di sisi lain justru selalu surplus waktu bisa berlama-lama/bersering-sering untuk hal yang nggak penting. Selain kontradiktif (makin sibuk iya, makin kurang kerjaan iya), kesannya juga salah [pilih] fokus. Seperti pelarian/kompensasi, gitu. Mungkin ini salah satu alasan kenapa sekarang orang jadi gampang sekali ngamuk hehe..

    Jadi akur sekali, dari waktu ke waktu, kita sungguh butuh momen ‘tenang sejenak’ (entah dengan bantuan rock balancing/mendengarkan musik/mengamati alam-satwa dll) untuk kontemplasi (atau apapun yang sifatnya reflektif dan ‘menyeimbangkan’) agar bisa lebih peka ‘mengenali Keindahan’. 🙂

    Terima kasih untuk komennya. Juga inspirasinya. Sekarang saya jadi dapat angle untuk topik yang sudah lama ingin saya tulis—’pemahaman’. Mudah-mudahan sebelum tutup tahun sudah naik cetak. Sekali lagi terima kasih. 🍸

    PS: Jika berkenan bisa cek reply untuk Ecky/Tane/Teaismyjam/Alice (artikel ‘Brexit’). Beda konteks, tapi sama-sama tentang ‘kecenderungan umum’.

  19. saya paling salut sama yang nyusun batu kayak jembatan itu, keren. gimana nyimbanginnya tuh. Saya pernah main kayak gini sekali,alhasil butuh berjam-jam cuman buat 3 buah batu berdiri seimbang. Pengalaman aneh tapi seru juga sih

    Mantap kalau sudah pernah, saya sendiri belum. :mrgreen: Teknik jembatan itu gimana, persisnya saya tidak tahu. Tapi sekadar asal tebak, mungkin kurang lebih begini.

    Semakin besar massa, semakin besar energi. Untuk bagian bawah dia pakai ‘batu besar’, untuk bagian atas ‘batu kecil’. Karena besar (punya ‘daya desak ke samping’ kuat jika dijejerkan dengan cara seperti itu), batu-batu yang di bawah jadi mampu menahan beban dari batu-batu kecil yang ada di atasnya. Bisa dibilang, fungsi yang besar sbg ‘penahan’, sedangkan fungsi yang kecil lebih untuk aspek ‘artistik’ membuat jembatan tampak smooth (dengan sebaran beban yang merata sepanjang lengkungan jembatannya).

    PS: Kalau fotonya kita perhatikan, untuk ‘penahan’ dia sengaja pilih batu yang relatif pipih yang dijajar secara ‘vertikal’ sehingga punya ‘bidang desak’ lebih luas (punya ‘titik tumpu’ lebih banyak). Biar lebih kuat. Kayaknya sih, begitu. 🙂

    Update: Waduh, di blog Bimo tak bisa komen dengan WP ya. Kebetulan saya juga tidak punya FB dll itu..

  20. I agree – good things can often come out of having to wait for someone (or something).
    I’m going to remember to try rock-balancing next time I have to wait!
    Thank you 🙂

    Thank you, JKay. And please do. May your waiting take you to something serendipitous too. Good luck with the Green Stars Project. 🍸

    By the way, the first four letters of your ID (jkay) do remind me of those two agents/protagonists of “Men in Black”. So, GSP-wise, I sure hope you become the bad news for the bad guys. (No offense, I just can’t help it, OK?) 🙂

    PS: All replies for the non-Indonesian speakers are marked green here.

  21. ahhh keren. sejatinya alam memiliki kemampuan menyeimbangkan diri. makanya ya kita kudu belajar ke alam dan emang harus kembali ke alam hihi

    Sepakat sekali. Seperti kata Bu Prih (ID rynari) di atas, alam memang guru yang luar biasa. Menyerap pelajarannya itu yang suka susah (mungkin karena kitanya sendiri yang sering ogah). 🙂

  22. Saya awal-awal lihat tumpukan batu macam ini di internet, tak kira cuma editan.
    E habis itu googling-googling, ternyata emang beneran pure, murni, cuma pakai ketekunan sama telaten aja ya.

    Meskipun gratis, tapi hasilnya keren-keren, Mas! 😀

    Ciamik, memang! (Yang jembatan itu saking rapatnya sampai seolah disemen, dan di situs si artis ada yang mirip orang bersimpuh segala)

    Di pramuka SD dulu sempat kenalan sama sandi batu, tapi ini lebih mirip ‘cairns’ (bukan cari balance), dan sekadar itu pun buat saya sudah terlalu bikin pusing 🙂

  23. Gue nggak pernah nonton sebelumnya. Gue taunya yang nyusun kartu remi gitu. Itu pun menurut gue susah. Lah, ini batu. Gokil! Gue nggak ngerti lagi tingkat kesabarannya udah setinggi apa. Wahaha. Orang-orang yang nggak mudah nyerah pasti. :))

    Sabar dan konsen dengan tingkat akurasi level dewa 🙂 Waktu pertama lihat melongo juga, setelah cek sana-sini baru ngeh kalau si Grab ini ternyata memang seniman kelas dunia untuk urusan beginian..

  24. Thank you for reading a post on my blog. And for the follow. I cannot read yours, sorry.

    Hi there. No worries about the language. My pleasure, I did find your post about the bond between you and M quite likable. As for the follow, I’m afraid you’re mistaken me for somebody else 🙂

  25. There’s certainly an art required to this…the art of patience. The end result is uncanny to see.

    I’m for it, there is some surreal quality about the end results alright (‘eldritch’ even, especially if the shapes are up to it 🙂 ).

  26. Saya pernah ikut kawan ke sungai, sampai sana dia nge rock balancing. Saya ikut-ikutan. Tidak sabaran, saya tendang saja batunya

    Yah, paling tidak ‘dari alam kembali ke alam’-nya dapat 🙂

  27. That was beautiful. It is how i feel about life. What you want to do you have to believe you can do it. If you doubt yourself, you can’t. It is how we move mountains in our life.

    It was, SonniQ. And aye! Miracle happens to those who believe it. 🙂
    Quite a rare one, that blog of yours, by the way. Bravo! 🍸

  28. Aku pernah bikin rock balance pas dulu di Gunung Lawu.
    Ternyata ga semudah membealikkan telapak tangan gajah.
    butuh kesabaran dan skill.
    sampe akhirnya aku nyerah karan ga bisa nyusun lebih dari 5 batu.
    memang segala yang indah butuh perjuangan yang ga mudah 😦

    Haha.. Jangankan membalikkan, mau geser juga susah kalau yang punya tangan gajah mah (belum lagi kalu dia sebel trus nyolek..) 🙂

    Lumayan tuh, sudah dapat lima, saya masih enol alias belum pernah hehe..

  29. Waw balancing rock baru tau, taunya ada orang yg balancing mesin cuci, kulkas pokonya perkakas gede gitu ternyata awalnya batu ya. Keknya cocok nih buat aku yang penyabar (pret)… entar klo nemu batu nyoba ah balancing rock siapatau jodoh *apasih*

    Hah?! Balancing mesin cuci kulkas..?? Wah, inpoh baruh nih. Mungkin maksudnya biar kulkasnya nggak goyang kanan-kiri ndiri gitu kali ya.. (coba besok lagi kalo pas nyuci baju lagunya diganti, jangan dangdut). BTW, dijamin cocok Ran, soalnya kamu kan termasyur sabar hehe.. Oya, kalo mau rock balancing, baca mantra dulu,

    Ada belalai di dalam kabut
    Belailah batu dengan lemah-lembut..

  30. Thank you atas penjelasannya…sangat menarik sekali… gravity glue…semuanya serba baru dan benar-benar dapat ilmu dari sini 🙂

    Halo, terima kasih Girind. Wah, dalam sekitar 3 tahun sudah dapat au pair dan FSJ + BFD ya. Pengalaman yang asyik dan amat berharga. Sukses cita-citanya. 🙂

  31. Belajar keseimbangan dari alam.
    Melatih kesabaran dan keseimbangan memang membutuhkan semangat dan tentu saja juga membutuhkan ketenangan hati.

    Gambar yang bawah itu keren banget. Butuh ketenangan dan kesabaran ekstra untuk dapat menciptakannya.

    Yang terakhir itu detail dan kerapatannya memang ampun mantap banget—dan sudah gitu tampilannya pun cantik pulak(!)

    ‘Bercakap-cakap’ dengan alam—merasai batu di tengah suara gemericik air dan dedaunan yang diterpa angin dengan diiringi nyanyian satwa.. Membayangkannya saja rasanya sudah luar biasa.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s