toponimi

! – istilah onomastika

Bus berhenti di depan sebuah warung. Ada yang naik/turun, sepertinya. Seorang bocah yang duduk di sisi jendela membuka mata. Setengah sadar, ia membaca tulisan di papan warung:

WARUNG GUDEG MERAK MATI

Oh, jadi gudegnya pakai daging merak. Kira-kira enak mana ya sama daging ayam? Eh, tapi..
Kenapa mesti bilang ‘mati’ sih? Kan nggak mungkin juga burungnya dimakan hidup-hidup??

Bus mulai bergerak lagi, dan bocah kelas satu atau dua SD (yang masih bingung) itu kembali tertidur, sama sekali tidak ngeh kalau ‘Merakmati’ adalah sebuah toponimi—nama tempat.

*****

Mungkin karena faktor nama yang sama-sama agak lucu, fragmen masa kecil di atas kembali teringat kala beberapa waktu lalu seorang sahabat memberi kenang-kenangan buku tentang Salatiga—sebuah kota yang secara seloroh kadang disebut ‘Benerpitu’ (betul tujuh).

Arti dan Bahasa

Secara naluriah, orang ‘bertoponimi ria’ karena tahu arti kata—paham bahasanya (meskipun jika itu dengan pemahaman yang keliru sebagaimana pengalaman pribadi yang di awal tadi).

Gunung Bohong – Sukamandi – Laut Seram – Kalijodo – Pesing

Jelas, bagi yang tidak bisa bahasa Indonesia, semua ‘nama tempat’ (gunung/desa/laut/daerah) tersebut mungkin tidak akan menimbulkan kesan/sensasi apa-apa (positif/negatif, jenaka dll).

Homofon (bunyi sama, arti beda)

Toh, untuk bersenang-senang dengan toponimi orang tidak harus tahu arti. Misalnya, sekadar ‘kesamaan bunyi’ atau homofon (homophone) sering sudah memadai sebagai bahan kelakar.

ucapkan: [Chicago]

Setelah tergusur dari Jakarta dan menyingkir ke area Cinere (Depok-Bogor) dulu, jika bertemu mantan tetangga dan ditanya “Sekarang tinggal di mana?”, kadang iseng menjawab “Chicago”. Lalu ketika ekspresi wajah ybs masih kaget/takjub, langsung beri lagi “Cinere kampung gout!”

Homograf (tulisan sama, arti beda)

Pun, orang bisa ‘terpanggil’ untuk bertoponimi cuma gara-gara ‘kesamaan ejaan/tulisan’ alias homograf (homograph)—yang memang cenderung ampuh dalam membangkitkan asosiasi.

Di Austria—negeri Eyang Mozart, ada sebuah desa dengan catatan unik: papan nama desanya sering sekali raib dicuri orang (disinyalir aksi dilakukan malam hari, oleh turis, untuk suvenir).

(Maaf, ini mungkin agak gimana gitu..)

Dan untuk menyiasati dampak dari ‘tuah asosiatif’ homograf, keempat papan nama desa kini telah diganti dengan yang model permanen (guna mencegah pencurian), dan dipasangi CCTV (agar memberikan ‘rasa tidak nyaman’ bagi yang ingin berfoto dengan pose ‘yang tidak-tidak‘).

*****

Setiap nama tentu punya cerita. Adalah menarik bahwa orang bisa memiliki perhatian khusus bukan melulu karena ‘tahu maksudnya’, tetapi juga karena ‘menikmati ketidaktahuan’ mereka.

Paling tidak, papan desa itu menunjukkan betapa visual suatu toponimi mampu tampil ‘seksi’ (diminati) justru karena secara wajar orang bisa mengira—jika yang dimaksud pasti bukan ‘itu’.

Salam toponimi!

————————————

CATATAN
Dalam bahasa Inggris, sebutan ilmiah untuk nama tempat adalah toponym, dan ilmunya disebut toponymy. Dalam bahasa Indonesia, mungkin [a.l.] agar praktis, kita lazim hanya menggunakan satu istilah yaitu toponimi—baik untuk toponym maupun toponymy.

ISTILAH/NAMA TERKAIT
Onomastika (onomastics): ilmu tentang nama diri (spt toponimi, antroponimi dll)
Antroponimi (anthroponomastics): ilmu tentang nama orang
Homonim (homonym): homograf dan/atau homofon (dua pendapat berbeda)
● ‘bertoponimi [ria]’ (bentukan ngarang): mempelajari/berasyik-asyik dengan nama tempat
● ‘Fucking’: sebutan lokal, artinya ‘[tempat] orang-orang Focko’ (nama tokoh di sana)

REFERENSI/SUMBER GAMBAR
Encyclopædia Britannica (toponymy)
Vocabulary (homonym / homophone / homograph)
Wikipedia (Fucking, Austria; + gambar/pengucapan)

PUSTAKA
“Kamus Besar Bahasa Indonesia – Pusat Bahasa” (Pusat Bahasa, Gramedia, 2008)

SARAN BACAAN
● Translation Aces News (bacaan santai, 1 hlm – PDF)
“Toponymy and Geopolitics..” (jurnal serius, 3 hlm – PDF)

READER DISCRETION
! → mengandung elemen yang (mungkin) tergolong kasar/vulgar

Terima kasih kepada:
RyNaRi, atas kenang-kenangan bukunya
– Eddy Supangkat (penulis buku “Galeria Salatiga”), atas inspirasinya

—KK—

Iklan

34 thoughts on “toponimi

  1. Είναι εκπληκτικό. Οι λέξεις που χρησιμοποιείτε ως όρους στην γλώσσα σας είναι ελληνικές. Τις χρησιμοποιούμε από τους αρχαίους χρόνους ως και σήμερα.toponymy= τοπονύμιο (τόπος+όνομα) το όνομα ενός τόπου), homophone=( ὁμός + φωνή) ομόφωνος η λέξη που ακούγεται να είναι ίδια με μια άλλη και επίσης η λέξη αυτή χρησιμοποιείται για να πούμε οτι αυτός έχει την ίδια γνώμη με τον αλλο (π.χ αυτοί ψήφισαν ομόφωνα),Homonim= (ομός+ όνομα) αυτό που έχει το ίδιο όνομα με ένα άλλο,Onomastika= ονομαστικά = η λέξη που έχει σχέση με το όνομα κάποιου,anthroponomastics= ανθρωπονομαστικές, οι μελέτες που αφορούν σε ονόματα ανθρώπων ή και τόπων, homograf =ομόγραφα (οι λέξεις που έχουν την ίδια γραφή, Geopolitics.= γεωπολιτικές=(γη + πολιτική) είναι η μελέτη των επιδράσεων της γεωγραφίας (ανθρώπινης και φυσικής) στις διεθνείς σχέσεις και στη διεθνή πολιτική..Την καλημέρα μου από την Ελλάδα!

    Hi, Βεατρίκη! Indeed, the scientific terminology in use today owes much to Greek (one of those [few] classical languages), I guess. Thanks to the people of Greece. And surely thanks for your coming by here as well. Much appreciated. 🍸

    Χαιρετισμούς από την Ινδονησία! 🙂

    • Mas KK ini apa- apaan?!!! bisa berapa bahasa sih?? sungguh biasa diluar (luar biasa maksudnya) haha

      Bahasa/aksara Yunani, Ran. Bisa beberapa sih—1). bahasa Indonesia yang tidak terlalu baik, 2). bahasa Indonesia yang tidak terlalu baik dan tidak terlalu benar.. 🤕🔨

      Gaya doang modal Google Translate kok Ran hehe.. Tapi kamu bener, sejak kecil si Kutu emang udah biasa kelayapan di luar rumah, malah sempat beberapa kali dikira hilang..

    • Toss sama aku om kutu, aku juga belum bisa berbahasa Indonesia yg baik dan benar terlebih di “jaman now” bahasa Indonesia sudah terlalu terkontaminasi, rasanya sulit menemukan orang yang mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Menurut aku “public figure” dengan tutur bahasa Indonesia yg baik adalah Tulus, kata-kata yg dipilihnya bagus dan jarang di-mix dengan bahasa asing. Itu aku bandingin dengan Cinta laura sih haha

      Itu berarti Cintamu Tulus Ran, kayak orang-orang Focko—yang setelah tahu arti nama tempat mereka dlm bahasa Inggris dan udah sekian kali diledek (di-bully) di TV/talkshow nggak mutu, teteup ajah nggak mau ganti nama karena ada sejarah + kebanggaan di sana.

      (PS: maksain supaya teteup nyambung 😀 )

    • Itu berarti Cintamu Tulus Ran…. ((cintamu tuluuuuus)) haha kok aku ngakak ya bacanya. eh tapi amiin moga demikian kelak pas punya pasangan. Ya namanya juga udah dari “sononya” warisan dari sang penemu desa itu.
      Eh bentar, jadi penemunya namanya Focko kan? @_@ (penting dibahas soalnya buat dijadiin nama anak aku) #serius

      Iya, nama tokoh/patron yang trus jadi cikal-bakal nama desa.

      BTW, semalam lihat Tulus di salah satu TV swasta (acaranya Andre/Sule). Oh, itu to orangnya. Cuma semenitan sih, tapi kesannya boleh juga—cara bicaranya nggak dibuat-buat atau maksa ‘dibranding-brandingin’ gitu ya (alias terasa wajar). 🍸

    • sip catet.

      Haaaa?? om kutu gakenal Tulus? eh maksudnya sebelumnya gatau Tulus siapa? kenalin kalo gitu… aku pacarnya *kibas kerudung* 😀

      Yoik, wajar dan menurutku dia tutur bahasa Indonesianya cukup baik

      Namanya nggak asing sih (kalau nggak salah suka disebut di iklan2 event ya), cuma memang nggak ngeh orangnya yang mana hehe..

  2. Orang yang suka memelintir sebutan Jakarta menjadi Jekardah itu termasuk bertoponimi atau bukan sih?

    Saya malah baru dengar ini dari Dany, kurang paham (logat/olok/lebay atau apa).

    BTW, ‘bertoponimi’ cuma istilah ngarang saja (→ footnote). Jadi kalau ada yg bilang ‘Semarang’ dgn ‘Semauwang’ mis, boleh jadi ini bukan bertoponimi tapi cuma becanda ala kebule-bulean. (Mungkin Dany bisa cek artikel ‘cadel‘)

  3. Kalau penggunaan praktisnya, bisakah kita bilang, “toponimi ibukota Indonesia adalah Jakarta” ?
    Kesannya jadi rada ala-ala atau karena belum familier yaa

    Halo Tane! Lama tak sua. OK langsung ‘tes fisik’ ya (‘toponimi’ = ‘nama tempat’):

    – Ibukota Indonesia adalah Jakarta.
    – [Nama] Ibukota Indonesia adalah Jakarta.
    – [Nama tempat] Ibukota Indonesia adalah Jakarta.

    Kayaknya Tane benar, makin ke bawah makin kedengaran ganjil karena model yang pertama saja sudah sangat memadai 🙂

  4. Language is a fascinating thing, and how places came to have their names is strange indeed. 🙂

    Quite so, Jo! Sometimes even makes us having some [involuntary] association of it with something else 🙂

  5. Interesting article but anything that says “Terang Bulan” for me is good. Lol! That is my memory of Indonesia 🙂

    Hi Mel! Glad you have such a good memory about Indonesia.
    Mag-ingat ka. (That was my try to say “Take care!” in Tagalog) 🙂

  6. I got in this time! Tapped your username on the last reply.
    History shows us people most definitely enjoy their ignorance.

    Aye! And it often comes with that ever troublesome know-what’s-best-for-the-world attitude. (Glad you made it here, finally. 🙂 )

  7. The world seems to be full of people rejoicing in their ignorance at the moment.

    Quite so, Eryl. Sometimes we (people of nowadays) even seem like taking pride in our indifference toward what others might feel (like, there were already a number of TV ptograms bullying the Fuckingers).

    Thanks for stopping by. 🙂

  8. Fucking… haha baru kali ini bilang fucking tanpa merasa berdosa :D. Jadi penasaran asal muasal desa Fucking ini (aku ga berenti ketawa bilang fucking dengan penekanan di “fu*k” nya ahahahaa)

    Aku kaya bocah SD yg ketiduran di dalam bus deh, soalnya kebacanya topomini seolah postingan ini bahas rok mini dan tanktop padahal ini suatu istilah penting dalam dunia bahasa (_,_!)

    Daerah rumahku namanya Sukamiskin yang ternyata artinya bukan karena daerah situ orang2nya berekonomi lemah, tapi karena Sukamiskin itu serapan dari bahasa arab; suq=pasar dan misk=wewangian. Tapi setau aku Sukamiskin bukan pasar tapi pesantren dan lapas, apa mungkin waktu belum jadi kota Bandung, Sukamiskin sebuah pasar kali yes.

    Dan tetep… aku merasa pinter tiap kali baca postingan disini. Haturnuhun 🙂

    “Top mini’ → ‘tanktop’? Wah, boleh juga nih kemungkinan etimologisnya.. (Halaah!) Makasih info Sukamiskinnya, baru denger ini.

    Btw, kalau di banyak tempat lain meningkatnya turisme lazim identik dengan menurunnya ‘kualitas ekosistem‘ seiring bertambahnya jumlah penduduk dan ‘pembangunan fisik‘ (pun tak jarang, yang paling menikmati hasilnya para pemodal yg seringnya justru ‘orang jauh’), di Fucking sepertinya hal itu tidak terlalu berlaku.

    Tengok sana bentar, yuk! (citra satelit, bisa dibesar/kecilin dan digeser-geser):

    desa-fucking-austriaMasih cukup hijau/rapih, kan? Dari dua catatan statistik berbeda (link wiki), meski turisme meningkat (gara-gara namanya makin dikenal), populasi relatif stabil di kisaran 100 jiwa dgn 30 rumah (artinya secara rata-rata, peningkatan income dari turisme dinikmati per kapita karena tidak dibagi kepada lebih banyak mulut).

    Jadi, kalau semua data/informasi/perhitungan kasar di atas benar, kita bisa bilang: “Orang-orang Focko hebat pisan, euy!”

    • Waw iya keren, salut sama masyarakatnya tetep mempertahankan keasrian desa mereka seiring dengan meningkatnya turis tapi gak silau sama pembangunan moderenisasi, ini kali ya yg bikin desa ini tampak sangat hijau dan rapih masyarakat focko begitu mencintai alamnya.
      Kelak klo aku punya anak mau dinamain Focko ah trus suatu hari liburan ke desa fucking ini biar si anak tau asal usul namanya *haiizz ngelantur apa aku barusan?*

      Kalo kita googling dgn keywords “fucking austria” [image mode on], bakal nemu banyak ‘items’ (mug, kartu pos dll—bahkan merk bir) yang seolah berasal dr sana (macem tulisan “I ❤️ Fucking – Austria” gitu lah). Padahal enggak. Karena [sekarang udah] tahu artinya dlm bhs Inggris, penduduknya ndiri gak ada yang mau bikin merchandise gituan, karena itu sama aja ngolok-olok kampung halaman sendiri.

      Kalo semua info itu valid, salut banget, karena selain membuktikan mereka sangat bisa menghargai nama sendiri, itu menunjukkan mereka bukan orang-orang yang gampang kalap (ngamuk menuduh orang lain yang bikin merchandise atau para pembully di TV sebagai ‘penista Fucking’ misalnya, hehe..)

      Semoga suatu hari nanti benar-benar ada Focko kecil yang bisa main ke ‘desa asal-usul’ bersama Ayah dan Ibu tercinta. 🙂

  9. Maturnuwun mas KuKa. Salatiga kian ngetop dengan postingan ini.
    Kalau mas KuKa olah pikir dengan frasa toponimi rasanya bisa disambungpaksakan dengan otak-atik gathuk nih.
    Maturnuwun link cantiknya.
    Salam hangat

    Saget saestu Bu Prih—dimathuk-mathukke (eh ni pakai ‘h’ kan ya?) yang tidak nyambung jadi nyambung hehe.. Hidup toponimi!

  10. postinganya seru + bermanfaat, sy jadi ketawa ketiwi baca ini.. bahasa kadang harus unik sedikit agar banyak peminatnya, contohnya warung merak mati itu,
    di menu2 makanan juga sekarang banyak kan.. 😀

    Terima kasih banyak Nia. ‘Insiden warung’ itu kejadiannya awal tahun 70-an.. 🙂

    Oya, baru baca header Google+ Nia, ternyata suka matematika ya. Bisa minta tolongkah? (Yah, baru kenal udah langsung minta tolong :mrgreen: ). Kalau ada waktu, mungkin bisa cek artikel ‘kambing Monty‘ (termasuk reply untuk Faziazen dan Femmy Syahrani).

    Dari tiga cara penjelasan yang berbeda itu, yang menurut Nia paling simpel kira-kira yang mana ya? (Atau jangan-jangan semuanya mbingungin?). Biar jadi feedback buat saya untuk kedepannya gitu hehe..

    Eh tapi ini kalau tidak terlalu merepotkan lho ya. Apapun, pokoknya terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🍸

  11. Enhorabuena! Diablefan es una creatura muy amada. Algo consentida e impulsiva, características muy predominantes de su personalidad, pero esperamos lo mejor de ella. Es la persona más amada de este territorio.
    He leído la historia de principio a fin. Es agradable de digerir, además logró conectarme con ciertas situaciones de mi infancia. Gracias por escribir, gracias por saber entregar. Te saludo!

    Now I believe this comment of yours (here) got intertwined with your reply for my comment on “Diablefan in the sky with scorpions 15” (there on your blog).. But never mind that. Many thanks for the explanation and your kind words, anyway. 🙂

  12. Jalan-jalan ke sini jadi dapat banyak ilmu, salut, blognya sangat berbeda dan bermanfaat 🙂

    Terima kasih Mbak Muyass. Lezat terus masak-masaknya.. 🙂
    (PS: gravatar/ID-nya kok tidak di-link-kan ke blog?)

  13. Baru tau istilah onomastika, dulu pas pelajaran bahasa Indonesia kerjaannya merem di kelas 😂

    Berarti Farhati orangnya konsentrasi tinggi, sampai merem-merem gituh.. 😀

  14. Talk about language issues, google translate made a total hash of this.

    [Just tried it out myself] Aw! You’re right, what a mess!! Like, the word ‘Wikipedia’ is even translated to ‘Simple’!! LOL Sorry about that. Thanks, though. 🙂

  15. Untung saya tidak tinggal di Titwobble Lane (nama jalan di Wedderburn Australia) Eh… tapi ini nama jalan, apa termasuk toponimi?

    Oh, ada to nama jalan begitu?? Hihi.. Jadi mendadak pingin piknik..

    Toponimi adalah terminologi untuk nama ‘wilayah geografis’ secara umum.
    Beberapa istilah yang lebih spesifik (termasuk ‘jargon tak resmi’) misalnya:

    hydronym (air—sungai, laut, danau, air terjun, rawa, mata air..)
    oronym (tanah mencuat—gunung, dataran tinggi, cadas/tugu alamiah..)
    theonym (divinity/dewa-dewi—Zeus, Thor, Hades, Ra, Odin..)
    zoonym (binatang—kenapa di Jawa dulu banyak anjing dinamai ‘Pleki’..)
    hodonym (rute/jalur—jalan, jembatan, jalur KA, terowongan, jalan setapak..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s