easy listening

( + nostalgia lagu jadul #1/2 )

Easy listening ialah istilah umum untuk lagu yang ‘tidak rumit’ (tidak menuntut si pendengar harus ngerti musik, misalnya). Alunan yang tidak bikin pusing (meski belum tentu juga suka).

Karena acuan utamanya adalah tentang lantunan yang terasa ‘santai di telinga’, easy listening praktis bisa berirama apa saja (jazz/keroncong/klasik dll—alias tidak harus berkarakter pop).

Tetapi, tentu saja, sesuatu yang ‘mudah di kuping’ tidak otomatis berarti ‘gampang di tangan’. Contohnya komposisi apik ala classic rock 70-an yang disajikan dengan amat resik berikut ini,

lagu jadul easy listening tahun baru 2918

Fleetwood Mac – “Never Going Back Again” (Rumours, 1977)

yang rasanya cocok sebagai sebuah easy listening tutup tahun yang tidak hiruk-pikuk.

Selamat Tahun Baru 2018

Satu Perihelion kembali kita nikmati ⭐️

Mari jadikan [putaran berikutnya] lebih baik!

☕️ 🍵

—————————————

—KK—

Iklan

20 thoughts on “easy listening

  1. A great musical choice…. Thank you for sharing 😀 Wishing you an excellent 2018 ahead. All the best to you! ❤ 😉

    Indeed, Aquileana. This old tune is just amazing. I heard it for the very first time in a flea market—from a used-cassette corner(!) 🙂

    May this year turn out good for you too. 🍸

  2. Lagu2 yang cocok buat pengantar Tidur mungkin ya

    Bisa Mas Nowei, meski bukan itu acuannya. Misalnya, kita bisa bilang lagu-lagu Koes Plus itu rata-rata easy listening (tidak cenderung bikin ‘kuping protes’). Toh, banyak lagu mereka yg rasanya kurang pas sbg pengantar tidur (trll ramai/riang).

    Sebaliknya, yang cocok sebagai pelelap ke alam mimpi (ini subjektif sih) juga tidak harus easy listening. Waktu SMA dulu misalnya (jaman harga kaset bajakan masih seribu perak), persis sebelum mematikan lampu [dan lalu rebah] saya sering nyetel album yang model lagu-lagunya seperti ini (2,5 menit):

    Pink Floyd – “Is There Anybody Out There?” (The Wall, 1979)

  3. Very nice album.

    Meilleurs Haley Bennett voeux.

    Hi L’Ornitho. — [Meilleurs Haley Bennett voeux]? Best wishes Haley Bennett? —
    You mean you fancy her? Sorry, I don’t quite understand what you’re saying here.

  4. Lagunya sukaaa… ini tipe lagu yang bisa aku dengerin seharian!
    Meskipun tahun 70’an aku belum lahir tapi aku suka banget lagu2 jadul dan keroncong soalnya turunan like father like daugther, hehe.

    Selamat tahun baru mas kutu, semoga tahun ini mengagumkan! :cheers:

    Bener banget tuh, lagu keroncong keren-keren. Eh sekarang ni ada nggak sih grup muda-mudi yang spesialis keroncong? Sayang ya kalau sampai hilang.. Hu..hu..

    Terima kasih Rani, kamu Sabang-Merauke pertama yang bilang suka. Ini sedikit bingkisan tahun baru, dari ‘Radio Kutukamus’.. (ngayal punya broadcast station)

    Phil Collins – “Another Day in Paradise” (But Seriously, 1989)

    • Masih ada kok keroncong muda mudi sekarang tapi ga spesialis banget macem Payung Teduh, Kunto Aji. Acara keroncong aku masih rajin denger lho di TVRI keroncongku / Larasati di I channel klo ga salah.

      Hehe kayanya setiap orang pasti punya playlist ala2 deh. Makasih Another Day in Paradise -nya :).
      Nah ini bingkisan tahun baru dari aku, enjoy!

      Wuuaaa..!! Terima kasih! Cuma tahu lagu dia beberapa, tapi belum pernah yang ini. Asyik sekali buat tambahin koleksi.. 🍸

      Dulu sempet lihat keroncong di TVRI (non-berbayar) beberapa kali. Tapi karena tayangnya jam 11 malem (dan sering mendadak diganti acara lain pulak), lama-lama jadi males. OK nanti weekend ini tak coba udak-udak seputar Payung Teduh dan Kunto Aji. Belum familiar. Soal seniman jaman now, si Kutu emang lumayan o’on abisz hehe.. Eh ni di kulkas kebetulan ada kueh tinggal sepotong. Buat Rani ya..
      🍰
  5. apalagi kebanyakan sudah tayang di youtube ya pak. tinggal siapkan data internet saja. Btw enak-enak lagu dan nadanya untuk di dengar

    Terima kasih Mas Wid (eh ni benar begini manggilnyakah?) Iya, sekarang umumnya sudah ada di youtube. Beda dengan dekade kemarin (th 2000-an) saat isi youtube masih ‘sedikit’ (dan rata-rata dengan kualitas audio/video yang parah).

    Waktu itu kalau mau cari lagu (MP3) atau klip (AVI, VOB dll) kita mesti hunting. Tapi ada untungnya juga karena jadi ketemu sesama penggemar album/klip yang tergolong ‘old’ atau bahkan ‘rare’. 🙂

  6. Thank you for reminding what a great sound Fleetwood Mac made.
    Happy New Year and thank you for visiting my blog. 🙂

    It’s a pleasure, Kevin. And I’m glad you like them as well. 🍸
    Happy New Year to you too. 🙂

  7. Happy New Year!

    My husband, who is a fan of Fleetwood Mac, would be highly offended to have any of their songs called Easy Listening. I generally think of Easy Listening as a watered down version of the original. Then again, I don’t hear many people using that term anymore.

    Happy New Year, Alice!

    Ay, I hear ya! 🙂 Yep, connotatively (as an idiomatic expression), ‘easy listening’ has some negative sense (lacking in substance, of a lesser quality). But denotatively (as a ‘plain phrase’), it means exactly ‘that’ (ear-wise, ‘music that gives no hard time’).

    Therefore, if we hear people say,

    “This piece by Dream Theater is way more easy-listening than
    most of their songs.” (Here, the phrase serves as an adjective)

    Dream Theater – “Wait for Sleep” (Images and Words, 1992)

    Chance is, they’re NOT implying that the progressive-metal band has become less progressive (or that the music isn’t as good as it’s supposed to be, or that the song is easy to play/sing, or that they do not particularly like it etc—this is not the point). It’s just that they, quite presumably, find “Wait for Sleep” much easier to listen to.

    All that is, of course, if I’m not mistaken. 🙂 Cheers!

  8. Saya juga suka musik easy listening terutama yang instrumental jadul dari Mantovani, Henry Mancini, Percy Faith, Paul Mauriat dan sejenisnya.
    Semoga tahun baru 2018 ini akan memberikan banyak anugerah Tuhan buat KK sekeluarga.

    Amin! Semoga Bu Lois sekeluarga juga senantiasa dalam curahan karunia-Nya..

    Instrumental memang luar biasa, karena di sanalah musik [ditantang untuk bisa] berbicara seuniversal-universalnya (tanpa ‘panduan kodifikasi’ atau pembatasan makna melalui lirik, misalnya). Saya jadi teringat easy listening yang satu ini—yang rasanya pas sekali dinikmati ketika orang ‘memulai hari’ (sesuai judulnya):

    Passport – “Daybreak Delight” (Blue Tattoo, 1981)

  9. nice choice .. Never Going Back Again. Tapi rasanya ngganjel tuh kalo masuk easy listening, secara kisah dan lirik tragis dari dua sejoli Fleetwood Mac tsb ;o)
    BTW titip easy listening versi 80an yag .. nuhun https://www.youtube.com/watch?v=4VPhrkkmxIg

    Halo! Terima kasih dan silakan, PM. Benar sekali, untuk yang punya ‘kedekatan emosional’ (apapun alasannya, termasuk misalnya karena tahu sejarahnya) pasti ada yang ngganjel dengan ‘pengeasylisteningan’ ini hehe..

    Tapi ibarat masuk resto dan di meja ada hidangan siap santap (tanpa harus tahu bagaimana menu ybs dulu diciptakan), artikel pendek tsb punya lebih dari satu ‘pesan implisit‘ (rata-rata artikel di sini ya begini hehe..). Salah satunya: apapun pengalaman yang sudah, kita tidak akan ke sana lagi. Jadi mari semangat menatap dan melangkah ke depan (atau yang lebih spesifik: patah hati pun bisa jadi lagu bagus—punya dampak positif bagi banyak orang, katakanlah).

    Itu baru dari aspek lagu. Masih ada sekian ‘pesan’ lain sih, tapi kita lihat saja, ada yang bahas dalam komen atau tidak. Sekali lagi, terima kasih feedback-nya. 🍸

    (PS: lihat juga reply untuk Alice Audrey)

  10. Selamat tahun baru..! Semoga tahun ini juga diisi oleh banyak posting ajaib-keren-kreatif lainnya 😀

    Fleetwood Mac adalah band yang keren! Pertama kali kenal dengan mereka via Awesome Mix Tape vol. 2 dari Guardians of Galaxy, dan saya setuju musik mereka santai dan enak untuk didengar untuk segala acara (terutama untuk jogging dan menunggu bis haha)

    Terima kasih Tane. Wah, dibilang begitu si Kutu jadi salah tingkah hehe..

    [Baru saja cek wiki] Di situ tertulis lagu Fleetwood Mac yang dipakai di film tsb adalah “The Chain”. Wah, kalau benar ini yang Tane maksud, saya juga suka sekali (#salaman dulu). Malah, mungkin ini salah satu lagu terkuat mereka (subjektif sih).

    Bayangkan, dua sejoli (atau sebuah grup band): sama keras hati, trust tipis (dan boleh jadi memang sudah saling mengkhianati)—tapi tetap cinta! (baca: peduli) Cobak, kayak apa itu rasanya. 🙂 Dan itulah yang kita kunyah sepanjang lagu, dari ujung ke ujung. [Bisa setel pakai link di bawah ini]

    ▶️ Fleetwood Mac – “The Chain”

    Di awal: %#!*&^$@^?!! (saling ‘berebut bicara’, nggak ada yang mau mengalah diam/ndengerin). Lalu, saat dada sudah semakin sesak (mau lanjut atau bubar), bertuturlah mereka lewat musik (mulai @3:00). Bagi saya, bagian ‘transisi‘ (dari yang tadinya lirik kemudian menjadi TERIAKAN nonverbal) ini keren sekali.

    Sungguh sebuah lagu yang ramai dengan gejolak [emosi]. Dan itu mampu tersampaikan dengan tanpa kehilangan ‘subtlety’, khas Om/Tante Fleetwood. 🙂 🍸

    Update: Eh ni saya nemu yang audionya sepertinya sudah di-remastered sesuai karakter film alias lagunya jadi terasa lebih ‘fun’ (editing “Dude/What?“).

    Fleetwood Mac – “The Chain” (editing lucu/asyik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s