lemari makan

( + kilas )

Lemari makan adalah almari yang khusus dibuat untuk menaruh atau menyimpan makanan. Beda dengan lemari pakaian, lemari makan lazim berkaki (body tidak menapak lantai dan kaki bisa diberi sesuatu untuk menangkal semut), sedikit lebih pendek, serta tanpa sekat vertikal.

Ngomong-ngomong, ingat lemari makan jadi ingat Imlek...

*****

Dulu Kakek pernah tinggal di Sukorejo—sebuah kawedanan di Kabupaten Kendal, Midden-Java (Jawa Tengah). Sebuah wilayah setara kota yang polikliniknya belum punya dokter sendiri, dan segala ihwal kesehatan masyarakat sehari-hari dinahkodai seorang mantriya Kakek itulah.

Sebagai satu-satunya ‘juru sembuh’ lokal, Kakek jadi dikenal oleh semua (beragam) kalangan. Maka tidaklah aneh jika kadang ada orang ke rumah mengaku pernah ditolong (disembuhkan) sambil membawa hasil bumi atau bahkan binatang ternak(!) Belum lagi jika menjelang Imlek, ketika praktis setiap hari ada saja orang datang sambil membawa yang enak-enak...

Selama berminggu-minggu, rumah tak pernah sepi dari ‘benda lezat’—kue mangkok, kue lapis.. (apa saja, silih-berganti). Dan meski Nenek telah rajin berbagi dengan mereka yang tidak Imlek, butuh beberapa bulan untuk selesai makan kue keranjang..

Jadi alih-alih pontang-panting ‘cari makan’, bagi keluarga yang ke mana-mana jalan kaki (dan sekadar sepeda pun tiada) ini problemnya adalah bagaimana mengosongkan lemari makan.

*****

Itu dulu, kala Ibu—narasumber cerita, masih SD. Belasan tahun sebelum Indonesia merdeka. Belum ada kulkas. Kini zaman tentu sudah banyak berubah. Dari yang tadinya ‘perabot wajib’, sekarang ‘lemari makan’ bahkan bukan lagi kosakata sehari-hari (banyak yang merasa asing).

Betapapun, rasanya ada prinsip yang tetap tidak ke mana,

Hari Besar/perayaan/hajatan bagi yang satu
adalah (bisa menjadi) berkah bagi yang lain

Contohnya meski Kakek sekeluarga tidak merayakan Imlek, justru pada momen itulah rumah jadi seperti punya lemari makan ajaib (hari ini dikosongkan, besok dibuka sudah penuh lagi).

*****

(Ditulis sebagai sebuah ‘album temurun’ oleh seorang yang ber-Lebaran)
——————————
(Tentang bergaul dengan beragam Hari Raya/Besar, lihat juga ‘tahun baru’)

CATATAN CERITA (dari Ibu)

Kue keranjang masa itu berbungkus daun (belum plastik), dan bisa tahan lama jika dijemur (selain dimakan begitu saja, bisa digoreng atau [kalau punya daun] dikukus dengan santan).

Kala itu, untuk ‘makanan berkat’ (nasi/jajanan) orang selalu bikin sendiri (ada nilai lebih), dan untuk hajatan/perayaan belum ‘budaya amplop’ (jadi pada kisah di atas angpaunya ya kue itu).

Untuk meraba arti/makna kue-kue basah/jajanan pasar itu dulu, bayangkan saja [jika kini] ada keluarga sederhana/pas-pasan yang tiba-tiba disetori cake/bakery mahal atau pizza/martabak setiap hari (anak-anak jadi gembira, sekaligus anggaran sarapan jadi turun secara signifikan).

Sebagai ‘balas dendam’ (kepada yang Imlek), saat Lebaran giliran Nenek kirim ‘besek berkat’ (ketupat-opor-sambal-goreng)—tetapi yang dapat besek cuma beberapa tetangga terdekat (keuangan keluarga tidak memungkinkan untuk berbuat lebih dari itu).

CATATAN ISTILAH (dari Kutu)

Aplikatif untuk berbagai hal (mis mantri polisi, mantri ukur atau mantri cacar), secara populer (dahulu) sebutan ‘mantri’ merujuk kepada ‘mantri kesehatan’ (semacam pembantu dokter).

—KK—

Iklan

5 thoughts on “lemari makan

  1. A very interesting read, friend

    Thanks for liking the family history, Leyla. Long time no see, I hope you have your lens cap misplaced again very soon. 🙂 Cheers!

  2. Hey which language is this. Can I use Google translate for this.

    Hi! For sure you can, Sifar. The language is Indonesian (‘Bahasa Indonesia’). You can use the ‘select language’ drop-option at the top of the sidebar.

    Then again, you know how ‘machine translators’ work—sometimes they really help, sometimes they just don’t. 🙂

    • Yes I can understand the Google problem. But you are using Roman script and not Indonesian. Will it work?

      We can always try. 🙂 Anyways, the writing sytem of the Indonesian language is in fact using the Latin/Roman script → Wiki

  3. Terima kasih dengan tulisan ini.
    Ingat betul lemari makan kami waktu itu dengan kaki model jengki dan di bawah setiap kaki di taroh kaleng yang isinya serbuk gamping.kapur. Maksudnya supaya semut tidak bisa merambat naik dan masuk dalam almari.
    Di Melbourne sini Imlek dirayakan besar-besaran baik di CBD Melbourne (Central Business District) maupun di daerah suburb sekitarnya yang besar penduduk Chinese + Indo Chinese-nya. Tapi saya sendiri sudah tidak merayakannya.

    Dengan senang hati Bu Lois.

    Bisa dibilang, kami pakai lemari makan secara ‘full’ (khusus untuk makanan, tidak untuk yang lain) s.d. awal 90’an (saat masih tinggal di asrama dan sebagian besar anak, termasuk saya, masih ikut Bapak/Ibu).

    Lucu juga, meski ada kulkas, untuk sekian jenis makanan (seperti mie goreng) kami lebih senang memakannya dalam ‘suhu kamar’ (sekalian ngirit BBM nggak usah manasin hehe)—dan kulkas utamanya lebih untuk naruh telor dan sayur-mayur mentah, serta bikin es batu plus ‘air es’ (air matang yang ditaruh dalam botol dan diminum dingin-dingin yang sebenarnya tidak sehat itu, tapi sangat digemari anak muda ‘pada jamannya’) 🙂

  4. Boa tarde …agradeço sua participação em nosso espaço …espero que vc fale ou entenda português …continue nos prestigiando…gostaria de entender seu idioma para poder comentar em suas postagens ….seu nome também se puder me ajude a entender…

    Good evening, Alan! You can call me ‘kutukamus’, because that is my pen name here (in English, kutu=’bug’, kamus=’dictionary’).

    My language is Indonesian, and I don’t speak/read Portuguese. But thanks to Google Translate, now everybody can read in just about whatever languange they want. 🙂 While the translator doesn’t always work (sometimes the translation just doesn’t make much sense), at times it does help, really.

    I’m glad I have had a look on some of your pages. Take care. Cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.