signature song

( + lagu tempo dulu )

Atas tulisan akhir tahun 2018 lalu, seorang sahabat blogger mengutarakan rasa inginnya untuk meninggalkan sebuah ‘jejak identitas’ (sebutlah begitu) sebagai warisan bagi anak cucu. Amin.

“Boleh juga untuk modal bikin artikel, nih!”, begitulah yang terlintas kala itu.

Di dunia musik, cita si teman tsb adalah ibarat signature songlagu yang lazim diidentikkan dengan penyanyi/artisnya (di antara sekian lagu ybs lainnya yang juga dikenal luas). Yang dari lingkup lokal/nasional, contohnya ialah “Walang Kekek” (Waldjinah) serta “Bento” (Iwan Fals). Yang internasional, “Stairway to Heaven” (Led Zeppelin) dan “Bohemian Rhapsody” (Queen).

Jelas bahwa perbedaan cakupan [wilayah] geografis bisa menentukan status dari sebuah lagu. Artinya, yang secara internasional umum dianggap sebagai one-hit wonder (sebab musisinya praktis hanya dikenal lewat lagu tsb), bisa saja di Indonesia dianggap sebagai signature song sebuah grup band (karena ada sekian lagu mereka lainnya yang juga pernah populer di sini).

Seperti karya everlasting dari grup rock Belanda yang satu ini:

lagu barat jadul

Shocking Blue – “Venus” (1969)

Entah di bidang apa, semoga kita bisa menorehkan ‘signature song’ kita masing-masing. Yang bermanfaat bagi sesama, menerobos sekat (suku/agama/ras/antar-golongan dlsb) serta sukur-sukur berumur jauh lebih panjang daripada hidup kita sendiri.

Selamat Tahun Baru 2020

Mari jadikan lebih baik

Asih – Asah – Asuh

teamwork belajar dari binatang

Amin.

———————————
(Tentang ‘semangat merayakan’—Agustusan/Lebaran/Tahun Baru dll, lihat carpe diem)

CATATAN

Dalam percakapan (colloquial), signature song kadang diistilahkan dengan ‘lagu kebangsaan’ (misal jika ada fan bilang: “Endless Sacrifice adalah lagu kebangsaan dari Dream Theater”).

Meski relatif tidak dikenal oleh generasi sekarang, hits dari Shocking Blue cenderung melekat lama di hati penggemarnya (sebut saja misalnya “Love Buzz”, yang lalu di-cover oleh Nirvana).

Meski jelas kunci, tingkat popularitas bukanlah faktor tunggal yang menentukan kena/tidaknya sebuah lagu disebut sebagai signature song dari seseorang/sebuah grup. Contoh klasik adalah gitaris/pencipta lagu/penyanyi Gary Moore—”Still Got the Blues (For You)” adalah lagunya yang paling populer, tetapi adalah “Parisienne Walkways” yang dianggap sebagai signature song ybs.

SUMBER GAMBAR
Gifer (#teamwork)

Terima kasih kepada alrisblog atas inspirasinya.

—KK—

23 thoughts on “signature song

  1. Intinya, orang ingin dikenang selamanya. Tapi untuk bisa membuat “signature song”, hasil yang diciptakan memang harus punya ciri tersendiri. Wah, memang harus yakin dengan identitas diri, baru bisa meninggalkan jejak yang signifikan.

    Konon, siapa pun yang pernah menyempatkan diri untuk ‘tenang sejenak’, pasti ingin agar hidupnya punya arti (bagi orang lain). 🙂 Tapi ya gitu, kita orang jaman now ini rada lucu—kadang suka mengorbankan ‘karakter’ (yang mbangunnya nggak gampang dan butuh waktu lama) hanya demi ‘kesan semu’ (yang cuma sesaat dan notabene justru mengombang-ambingkan identitas) hehe..

    Ngomong-ngomong, setahu saya, mereka yang suka/banyak ‘berjalan’ (kayak Dyah) biasanya juga suka banyak ‘dapat bekal’ dan meninggalkan banyak ‘jejak’. 🍸

    guns n roses november rain

    1). Guns N’ Roses – “November Rain” (Use Your Illusion I, 1991)

    PS: Idem artikel tutup tahun ‘one-hit wonder’, sekian komenter pertama di sini juga saya tebengi lagu. Semoga Dyah suka dengan signature song yang klipnya sudah dilihat semiliaran kali itu.

    • Ahaha…. Guns N’ Roses itu band favorit gue jaman sekolah. Terima kasih!

      (#toss dulu) Memvisualkan lirik boleh jadi tidak terlalu sulit, tetapi menghadirkan ‘ruh’ sebuah alunan suara lewat gambar jelas bukan kerjaan mudah (makin kuat karakter musiknya, makin setengah mati cari imbangan visualnya). Mungkin itu kenapa banyak lagu angker yang klipnya hambar atau malah babak-belur (seperti banyak lagu Yes/Genesis). November Rain adalah kasus yang luar biasa langka, karena baik musik maupun videonya sama-sama dapat (#toss lagi):
      ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 💯 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
  2. A beautiful song and a beautiful sentiment. ❤

    Thank you Anna. 🙂 And talking about beautiful sentiment, I hope you don’t mind if I quote a couple of beautiful words from your welcoming page:

    We are, all of us, more than our labels, more than our circumstances...

    Love it! It takes a lot of strength to keep on doing what you are doing. May you be in good health. Always. 🍸 By the way, here is the very song that plays in my mind quite often every time I come across a teacher or someone who fights for children:

    lagu george benson

    2). George Benson – “The Greatest Love of All” (1977)

  3. Felice anno 2020!
    Shera

    Ps la mia canzone È dei Coldplay Viva la vida

    Ah yes, that ever-creepy ..Sweep the streets I used to own..." harsh reality. Such a powerful song. Loved by many, no doubt. Thanks for reminding me this, Shera.

    lagu perubahan drastis

    3). Coldplay – “Viva la Vida” (2008)

  4. Thank you very much Kamus for your great posts. I wish you, a very Happy New Year 2020!

    Thank you Xea, and it is very kind of you to refer to my other posts as well. Best wishes to you and Addé. Now come to think of some French music, I believe I’ve heard this wonderful voice in countless movies—Hollywood’s or otherwise.

    lagu prancis paling populer sepanjang masa

    5). Edith Piaf – “La Vie en Rose” (1946)

  5. Greetings!
    I am delighted to welcome you to annieasksyou. I hope you’ll visit often and comment as you see fit. I am just beginning to explore your blog, but I love the photo of the raccoon helper.
    Best wishes for a very happy, healthy, and creative 2020.
    Cheers,
    Annie

  6. Greetings—

    I received a notice from WordPress that you had joined me on January 1, but your name never appeared on my list. They just told me that you “unfollowed” me immediately after following me. If that’s true, I’m sorry to hear that, but you have every right to do so. However, WP has made some errors lately, so I want to make sure this was your decision—and not their mistake. I do see my avatar on your site.
    Regardless, happy New Year to you.
    Cheers,
    Annie

    Greetings, Annie. It’s not WP’s fault, but mine. My connection was terrible that day, and I should have just turned off the computer right then and do something else (instead of stubbornly browsing around other people’s blogs). Then it happened.

    Pages were ‘hanging forever’ (never finished loading). And the pages’ layouts were not quite lined up to where they’re supposed to be (I clicked on one thing, another thing got activated). Upon realizing that I followed two blogs by mistake (yours was actually the second one), I unfollowed immediately and then switched off.

    I hope that clear things up. I apologize for the confusion. And I’m sorry for the late late reply (been off for quite a while from blogging this month). And talking about mishaps, may you find the following clip enjoyable. Cheers!

    video klip jatuh-jatuh

    6). Dire Straits – “Walk of Life” (1985)

  7. Slightly belated Happy New Year to you… 明けましておめでとうございます。
    Love the gif… Venus is pretty good too.

    Well, raised on classical and jazz, and even traditional Japanese sounds, I’ve slid into some peculiar listening (and playing) habits. Coffee in the morning and wine in the evening, it’s all good.
    Cheers! (ツ)b

    It is now January 22. So really, Kumi, in my book, you are punctual. 🙂
    May you find this year full of blessings, my good friend.

    As you are the seventh commenter here, this one springs to mind. A bit long indeed, but I hope you find it worth your while.

    lagu vokalis Yes

    7). Jon Anderson – “Song of Seven” (1980)

    • Fascinating choice. I was only ten when Jon Anderson released that piece. But as a teen, I had an older friend who was very into Yes, and who introduced me to early Pink Floyd. The latter greatly influenced my years, both listening and playing, ever since.

      In exchange, I’ll leave you something (a favorite of a drummer for a Japanese punk-rock band). And you might find the text below the clip interesting. Good cheer to you, always!

      A very good listening indeed. And the painting fits! 🙂 Never really thought of the relation between color and emotion myself (let alone linking it with music). How interesting. Thank you.

      By the way, my, you got me. I love Yes/Pink Floyd/Genesis! (Since my 10th grade in 1981, and still do now) 🍸

  8. Katanya sih, seseorang yang karyanya terus dikenang, ia tak akan mati meski raganya udah tiada.

    Kayaknya sih begitu, seperti karya-karya lama yang sampai sekarang masih dibaca/didengar orang. Entah Rudi akrab atau tidak dengan signature song yang berikut ini, semoga suka.

    parisienne walkways best version

    8). Gary Moore – “Parisienne Walkways”

    PS: Kabarnya, ini adalah sebuah ‘lagu untuk ayah’.

  9. Hmm.. Kalo signature songnya Rhoma Irama apa ya?

    Mungkin lagu yang meledak waktu saya masih SD ini (selamat berjoget) 🙂 :

    lagu rhoma irama paling nge-top

    9). Rhoma Irama – “Begadang” (1973)

    PS: Katanya ini yang versi original sound tahun 1973.

  10. Signature song band Indonesia yang dirilis pas masa saya remaja dulu a.l. Dan-nya So7, Sobat-nya Padi, Mimpi yang Sempurna-nya Peterpan… Ah… Banyak..

    Eh tapi itukah yang dimaksud signature song? 😀

    Selain popularitas, ‘karakter’ juga merupakan satu hal yang perlu jadi acuan dalam menentukan ke-‘signature song’-an sebuah lagu (sejauh mana karya tsb pantas dianggap mewakili seseorang/sebuah grup).

    Masalahnya ialah, karena tidak cukup kenal grup/warna/era/blantika musiknya, saya suka bingung kalau ditanya signature song (utamanya untuk penyanyi/grup tahun 90-an ke sini). Tapi kalau So7 mungkin lain cerita. Meski lagu mereka yang saya ingat cuma dua, salah satunya (yang morishige sebut itu) sepertinya punya semua syarat untuk diberi predikat sebagai signature song mereka.

    SO7 signature song Dan

    10). Sheila on 7 – “Dan” (1999)

    • Seru juga ternyata bahasan soal signature song. Kayaknya konsepnya perlu tak gali lagi pas browsing-browsing di internet. Untuk band-band one-hit wonder, barangkali mudah saja untuk menemukan “signature song.” (Hit-nya sekalian jadi signature song karena, kayaknya, cuma itu “tanda tangan mereka”) Tapi untuk band-band istimewa seperti So7 dan Padi, misalnya, yang musikalitasnya berkembang seiring perjalanan karir, agak susah menemukan signature song-nya (meskipun kalau mau simpel kita tinggal memilih hit pertama tiap album).

      Btw, kalau Africa-nya Toto bagaimana, KK? Masuk kategori signature song? Atau malah Rosanna yang sebenarnya jadi signature songnya Toto?

      Setuju banget morishige, menentukan signature song (SS) memang seringkali tidak mudah—karena satu atau lebih sebab. Misalnya:

      KARAKTER/IDENTITAS. Ambil contoh Koes Plus—’raja hits Indonesia’ (yang ibarat kata saking saktinya mereka bersin pun pasti bakal nge-hits). Tapi justru karena seabreg hits dengan kekuatan berimbang itu kita jadi susah bilang mana yang kira-kira paling kena disemati predikat SS. (Beda kasus dengan “Parisienne Walkways”-nya Gary Moore atau “Dan”-nya SO7 yang demikian menonjol di antara lagu-lagu mereka sendiri).

      PENGENALAN ‘MEDAN’. Misal, banyak lagu Padi yang keren, dan saya bahkan suka sekali dengan fluktuasi (nada/tempo dll) di “Semua Tak Sama”. Tapi soal SS, saya rasa morishige lebih mampu menjawab (atau setidak-tidaknya lebih berhak menebak). Alasannya karena pengenalan saya thd ‘grup/dunia/era’ Padi (pun ‘grup-grup pesaing’ yang seangkatan) terlalu minim. (Beda kasus dengan Queen, kalau ada yang bilang mereka punya dua SS sekaligus “We Will Rock You” dan “Bohemian Rhapsody”, saya bisa memahaminya [meski secara pribadi lebih condong ke Bohemian doang] karena merasa jadi bagian dari generasi itu)

      OBJEKTIVITAS. Waktu SMA saya ekstremis Yes (dengan koleksi kaset grup/solo album personilnya yang suka bikin fans garis keras lain misuh-misuh karena ngiri gitu hehe..) Sebagai satu dari tiga dewa kasta tertinggi di dunia rock progresif (bersama Pink Floyd dan Genesis), Yes jelas punya banyak lagu angker. Masalahnya adalah, ‘ukuran publik’ (seperti SS) jelas tidak bisa mengacu kepada ‘standar radikalis’ macam saya (Because you just can’t trust a fanatic! LOL). Maka meski [secara subjektif] sampai hari ini masih suka Yes, [secara objektif] saya harus bilang jika dalam konteks publik Indonesia, Yes itu alien (dan isu SS jadi tidak relevan).

      Jadi soal SS ini bukan harga mati. Tapi intinya adalah, untuk memberi predikat SS orang butuh cukup ‘melek musik’ (paling tidak untuk konteks lagu tsb—karena kalau terlalu awam/buta ya aneh juga). Toh, meski perlu punya wawasan/kenal blantika, ybs HARUS pula mampu melihat dengan kacamata orang kebanyakan atau ‘publik’ (bukan kacamata pakar atau ‘fan fundamentalis’, misalnya).

      Dan meski dalam derajat yang lebih rendah (tingkat kesulitan jauh lebih ringan), ‘aturan tak tertulis’ ini juga berlaku untuk penyematan predikat lain seperti ‘one-hit wonder’ atau ‘easy listening’.

      – – – – – – – – – – –

      Tapi ya itu kalau menurut saya sih (orang lain bebas beda). Apapun, konsisten dengan yang di atas itu, kebetulan saya punya sedikit ‘pengalaman pribadi’ bersama Toto.

      Toto – Toto (1978)

      Rasanya orisinil sekali(!) Begitulah kesan utama (di antara sekian kesan lain yang semuanya positif) thd grup/album yang saya kenal kira-kira setahun setelah rilis ini.

      Toto – Hydra (1979)

      Wuedyaan!! Ini bahkan lebih kuat daripada album perdana mereka. Lebih berani bereksplorasi, lebih ekspresif dan semakin berkarakter. “For this, I love you forever, man!”, begitu kira-kira.

      Tapi ibarat pemuda yang patah hati, semua rilis Toto berikutnya membuat saya merasa seperti ‘dikhianati’—karena menganggap mereka meninggalkan karakter yang sudah dibangun dengan dua album pertama tsb (karakter yang bikin saya kepincut abis).

      Ini kenapa meski secara objektif Africa/Rosanna adalah jelas-jelas komposisi yang apik (dan meledak pula), secara subjektif saya sulit suka (cenderung sebel, malah) karena telanjur menyikapinya sebagai bagian dari ‘lagu pengkhianatan’ [ditinggal kawin lari si gadis] Haha..

      Jadi untuk menimbang SS-nya Toto, kayaknya saya terlalu bermasalah—tidak cukup syarat objektivitasnya karena terlalu fanatik dengan dua album pertama itu.

      And we just can’t trust a fanatic! 🙂

    • Menarik. Pada akhirnya SS ini jadi ajang buat diskusi dan saling berbagi pengetahuan soal musik. (Sungguh KK adalah seorang agitator ulung. Hehehe.)

      Kemarin-kemarin sebelum wabah, pas nongkrong-nongkrong rutin, ada kawan, yang umurnya kebetulan agak jauh di bawah, nyanyi-nyanyi lagu Green Day pakai gitar. Lagu-lagu yang dimainkannya kebanyakan dari album American Idiot (yang dirilis waktu ia TK/SD). Merasa dia mengikuti Green Day, saya request lagu dari album Warning yang populer waktu saya remaja. Dia ternyata belum pernah dengar. Mungkin baginya SS Green Day adalah Boulevard of Broken Dreams, tapi bagi saya tetap saja Warning. (Bagi generasi sebelum saya, mungkin Basket Case.)

      Btw, bagaimana dengan lagu yang bukan ciptaan band itu, KK? Wild World, misalnya. Apakah penggemar Mr. Big bisa menganggap itu SS-nya Mr. Big?

      Maksudnya kalau buka jasa agitasi (demo/rusuh dll) nanti saya bakal kebanjiran order gitu? Eh, boljug (boleh juga) nih Hahaha

      Memang sih. Beda ‘angkatan‘ (mis anak 3-SD/6-SD/2-SMP/3-SMA) cenderung beda selera/lagu, apalagi kalau beda ‘generasi‘ (selisih puluhan tahun gitu). Di sinilah pertingnya ‘spektrum’—untuk bilang lagu anu adalah SS kita perlu melihat dengan spektrum yang luas/memadai (yang mencakup/mengakomodasi berbagai angkatan/generasi dengan kecenderungan ‘warna’ yang berbeda itu).

      Itu kenapa faktor waktu sering jadi juri yang baik. Maksudnya, kalau ambil contoh kasus morishige, tiap-tiap angkatan berhak punya jagoan masing-masing untuk lagu-lagu Green Day. Tapi soal jagoan siapa yang sebenarnya paling mewakili ‘publik’ (vox populi vox dei), waktu yang akan membuktikan. (Beda kasus misalnya dengan Led Zeppelin—di mana karena eranya sudah lama lewat dan ‘konsensus’ sudah tercapai [alias: waktu sudah membuktikan], akan ganjil kalu hari gini masih tak mengakui “Stairway to Heaven” sbg SS mereka)

      Soal ‘lagunya orang lain’, setahu saya nggak masalah (tentu saja dengan syarat lagu tsb belum menjadi SS orang lain terlebih dahulu). Waktu Prince nyanyi “Nothing Compares 2 U”, orang nggak ada yang ngerti (sekali lagi, ini kalau dilihat dengan kacamata publik dunia lho ya—bukan kacamata penggemarnya Prince). Tapi waktu dibawakan Sinéad O’Connor, dunia langsung tersentak (konon di beberapa negara Barat video klipnya—yang dianggap ‘menyalahi pakem’ karena terus-menerus close-up muka Sinéad dengn kepala gundulnya itu, juga nge-hits/jadi pembicaraan). Dan di Jakarta waktu itu lagu ini juga meledak (malah saya sempat nemu kaset yang versi musik ajib-ajib dengan penyanyi orang sono juga, entah siapa). Jadi kalau lagu ini mau dianggap sebagai SS, tentu jauh lebih pantas jadi SS-nya Sinéad daripada Prince.

      Kira-kira begitu, morishige. 🍸

      PS: Banyak lagu Green Day/Linkin Park/Mr. Big dll yang saya suka (atau minimal sangat bisa menikmati), tapi rata-rata kesulitan mengingat judul. 🙂

    • Minimal jadi moderator debat cap-cap-cap itu, deh, KK. 😀

      Menarik banget ini ngobrolin SS. Dari obrolan dengan KK ini, saya lihat konteks zaman ternyata cukup berpengaruh. Kalau salah satu faktor yang bikin SS adalah (keunikan) ciri, berarti ini juga ada kaitannya dengan nuansa musik di zaman itu, seperti lagu “Dan” yang tiba-tiba muncul dengan kesederhanaannya atau “Mimpi yang Sempurna” dengan simplisitasnya juga. Seandainya “Dan” dan “Mimpi yang Sempurna” dirilis di masa lagu-lagu bernuansa serupa sedang banyak beredar, barangkali keduanya akhirnya hanya lewat saja di telinga publik.

      Soal lagu cover ini, saya tiba-tiba ingat cover lagu “Sing” the Carpenters yang dinyanyikan Mocca. Nuansa Mocca kuat sekali sampai-sampai mereka bisa menghadirkan suasana baru di lagu itu. Lucunya, saya tahu bahwa itu lagu the Carpenters setelah dengar lagu Mocca. Lagu-lagu cover yang dinyanyikan dengan baik barangkali berpotensi jadi pintu masuk pendengar untuk menyelami musik lebih dalam.

      Btw, saya merasakan hal yang sama dengan lagu-lagunya Mr. Big, KK. Susah untuk menghafal judul lagunya hahaha…

      Kayaknya begitu. Harry Roesli tidak akan jadi one of a kind (in the world) kalau semua orang nyanyi/bermusiknya seperti dia (Dan bagi saya album/Rock Opera Ken Arok-nya HR setara dengan karya-karya terbaik dari ‘tiga dewa’ di atas).

      Loh, doyan The Carpenters juga to? Ah, mantap ini! 🍸 Mereka punya sekian lagu yang everlasting. Sayang dari semalem koneksi byar-pet, jadi puasa streaming dulu alias tak bisa cek Mocca, takut bikin emosi Hahaha

      Tapi ya memang sih, sering perlu jalan berliku untuk menemukan sesuatu. Semacam serendipity gitu lah. 🙂

      PS:
      Ini off topic. Kalau kebetulan morishige punya teman blogger di WP (yang sudah cukup akrab gitu) yang ‘like button’-nya tiba-tiba ngilang, minta tolong dibagikan link ini ya (Trims):
      https://wordpress.com/forums/topic/like-button-missing-8/

    • Terima kasih referensinya Harry Roesli, KK. 🙂

      Iya, KK. Lagu-lagu the Carpenters itu sekilas terdengar seperti lagu-lagu cintanya the Beatles soalnya, makanya jadi senang. Nuansanya juga kuat banget. Musiknya kayak bisa menyublim jadi lanskap dalam kepala. Setiap kali dengerin suara Karen, pasti langsung terputar gambar entah apa di kepala. 😀

      Hahaha. Iya, KK. Banyak dapet cerita pas proses pencarian itu. Kadang saya merasa kalau tiap band/musisi yang saya dengar itu jadi penanda fase kehidupan.

      OK, KK. Nanti akan di-share ke temen-temen narablog WP, yang deket, yang tiba-tiba kehilangan “like button.” Terima kasih. 🙂

      ♫ “Sing, sing gosong..” begitu dulu biasa saya nyanyikan. Ya cuma ‘bisa’ bagian itu tok, lha wong nggak ngerti itu yang diomongin apa. :mrgreen: Waktu nge-warung dekade kemarin, The Carpenters dan ABBA termasuk yang lolos seleksi jadi variasi di tengah suara rock (karakter utama musik kedainya). Saya nggak nyangka salah satu makkopi (istilah kami untuk barista, yang rata-rata mahasiswa umuran 20 th) ada yang kecanthol dengan dua jadul tsb. Surprised-nya lagi, dia ini juga gitaris grup metal yang suka manggung ala gig itu. Jadi meski secara segmented, sepertinya ‘sosok’ macam TC dan ABBA memang punya kemampuan untuk menyapa lintas-waktu/generasi—atau bahkan berakrab ria dengan genre yang ada jauh ‘di ujung spektrum’ (katakanlah begitu).

      Terima kasih kesediaan share-nya. Sudah sekian staf yang nyahut. Syukur yang ketiga akhirnya nyambung (paham masalah) juga hehe. Pokoke Harry Roesli T-O-P-B-G-T!

      PS: Akur banget soal ‘fase’. 🙂

    • Musisi-musisi yang lagunya abadi itu seolah-olah tahu bagaimana cara meracik nada yang bakal terus terdengar enak bergenenerasi-generasi. Strukturnya mereka paham banget. Mungkin genre-genre musik ini bisa diibaratkan sebagai ornamen yang terus berganti seiring perkembangan zaman.

      Gokil banget itu warungnya KK dulu. Sekarang sepertinya warung/rumah kopi/kafe pada senang sama “folk kunci lepas satu.” Hahahaha.

      Kemarin saya sempat buka-buka juga utas KK di forum. Responsif juga ternyata staf WP 😀

      Btw, tadi pagi saya keringetan baca komentar dari seorang narablog yang tiba-tiba mengoper award ke saya, KK. Beneran, saya bingung mau ngapain. Sudah lama sekali sejak saya oper-operan award ini. Lagipula saya enggan merusak nuansa blog dengan award-award blog seperti itu. Dilema.

      Akhirnya, entah kenapa, saya sanggupi. Dan persoalan muncul waktu saya mesti mengoper award itu ke 11 narablog lain. Dan, salah satu nama yang muncul dalam kepala adalah KK. Hahaha. Akhirnya, ya, KK saya masukkan dalam daftar: https://morishige.wordpress.com/2020/04/21/liebster-award/

      Saya duga, KK pasti ketawa-ketawa, “Ini bocah ngapain?” Tapi memang itu tujuannya. Biar ketawa saja. Niat saya memang pengin iseng saja, sekalian mengoper permasalahan. Hahahaha.

      Saatnya kabur.

      Bhuahahahaha..!!

      Eh ni barusan cek, itu yang Sisi Hidupku dan Zamroni URL-nya kok itu-itu aja?

      Selamat ber-award ria. Nanti akan saya intip sebagian. Dan terima kasih banyak, moga banyak juga yang nyasar di mari 🙂
    • Wahaha. Iya, KK. Ternyata saya keliru masukin link. (Dan sudah diganti sekarang.) Kayaknya cuma KK yang bener-bener memperhatikan postingan itu. 😀

      🍸

  11. wiiiiiiw, kek baca sejarah musik. ada sejarah seni, ada sejarah arsitektur, ada sejarahnya sejarah 😀 😀 😀 ku syukak dengerin musik pi ngak bisa alat musiknya.

    Wuehehe.. Putri bisa aja. Eh maaf kalau lagunya nggak cocok ya, soalnya yang kebayang kok pas ini. OK, kita toss! (sesama syukak tapi nggak bisa) 😀

    Emerson, Lake & Palmer - signature song

    11). Emerson, Lake & Palmer – “Trilogy” (Trilogy, 1972)

  12. Venus … Shocking Blue! Oh … I’ve loved this song for many, many years.
    It is always a nice memory to see and hear Mariska Veres. And I keep hearing the old songs that sound like time has stopped.
    Greetings from the beautiful Rhine-Highlands / Germany…
    Rosie 😁🦋❤🌺

    Greetings. Same here, Rosie. It has been about half a century since I heard Venus the very first time, and today I still can’t have enough of that somewhat ‘genderless’ voice of hers. She is truly amazing!

    Mariska Veres.R.I.P.Long live!

    And here’s something from some later era. I hope you enjoy it. Cheers!

    level 42 lessons in love

    12). Level 42 – “Lessons in Love” (1986)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.