musik itu universal

– ungkapan –

Meski orang jelas tidak bisa menerangkan sesuatu secara tepat-detail dengan ‘bahasa musik’ (Pak/Bu Guru tak bisa mengajarkan rumus ABC melalui genjrengan gitar di depan kelas, mis), semua orang akur kalau ‘Musik itu universal‘. Tulisan ini ingin sedikit menyelisik tentang itu.

*****

Fenomena anak kecil yang suka lagu asing (yang bahasanya tak mereka kuasai), ilustrasi musik film horor yang selalu berbeda dengan film komedi, irama ninabobo yang ‘bumi-langit’ dengan lagu ajojing.. Banyak hal membuktikan kalau musik itu universal—berlaku untuk semua orang, lintas bahasa/kultur/etnik dll (jika orang Kristen sembahyangnya nyanyi, orang Islam baca ayat dan azannya pakai ‘lagu’, mis). Meski benar, semua contoh tsb rasanya terlalu umum/generik.

Lebih enak cari contoh/pendekatan lain. Dua kasus saja. Yang pertama pengalaman kolektif nan spesifik Indonesia, yang kedua cara pandang terhadap sebuah aspek melekat dari musik.

Manusia butuh bahasa

Tahun 1997, saat Indonesia sedang hebat-hebatnya dilanda Krismon (krisis moneter), sebuah akapela (‘musik mulut’) dari negeri spageti menyeruak ke dalam blantika musik Indonesia..

lirik lagu itali

Neri Per Caso – “Quello Che Vuoi” (Neri Per Caso, 1997)

Sekian bulan klipnya muncul di TV dan lagunya dilantunkan di radio (Jakarta), Quello Che Vuoi sudah menyapa banyak hati orang Indonesia—meski bahasa Itali kebilang bahasa alien di sini.

Sebuah prestasi yang juga pernah diukir oleh lagu non-Inggris lain seperti “Kokoro No Tomo” (Mayumi Itsuwa, 1983) dan lalu “Kuch Kuch Hota Hai” (Udit Narayan & Alka Yagnik, 1998) serta “Aserejé” (Las Ketchup, 2002) yang bahkan bikin gemes dunia dengan ‘bahasa semau gue’-nya.

Toh, “Quello Che Vuoi” tetap terasa spesial. Hadir pada masa sulit, lagu Neri Per Caso mantap menegaskan jika musik adalah kebutuhan naluriah. Kodrati. Seperti apa pun kondisinya dan tidak peduli bahasa/liriknya tidak bisa dimengerti, orang butuh musik (yang bagus, tentunya).

Fakta bahwa orang bisa suka-suara-biar-tak-paham-kata ini menunjukkan: ada ‘tempat-tempat’ (kepekaan, rasa keindahan, emosi) yang mampu dijangkau oleh musik—tanpa bantuan bahasa. Musik menembus sekat bahasa. Bahasa Batak milik orang Sumut, bahasa Tagalog milik orang Filipina (dst) tetapi musik adalah bahasa semua orang. Setiap insan. Apa pun ‘bahasa ibu’-nya.

Musik adalah sebuah bahasa—sekaligus kebutuhan, yang universal.

Alat musik universal

Kalau direken-reken, selain untuk makan dan bicara (+ senyum/ngesun dll), pada hakikatnya mulut manusia adalah juga sebuah ‘alat musik’. Bagi fans Quello Che Vuoi yang tidak paham bahasa Itali, yang diindra semata-mata adalah ‘bunyi’—bukan serangkaian ‘kata/lirik’ dengan makna linguistik tertentu. Secara prinsip, ini identik dengan mendengarkan instrumentalia:

trio gesek simply three undefined 2017

Simply Three – “Rain” (Undefined, 2017)

Cuma beda di ‘alat’, kan? (Kalau pada Rain alat musiknya bas/selo/violin, pada Quello Che Vuoi alat musiknya ya sekian mulut para anggota akapelanya itu sendiri) Tetapi sama-sama musik(!) (Sebab sama-sama ‘tanpa bahasa’—seperti Kuch Kuch bagi fannya yang tak paham Hindi, gitu)

Sebagai ‘alat musik‘, mulut manusia luar biasa istimewa: satu-satunya yang Pemberian (untuk alat musik lain, manusia harus bikin sendiri), yang pertama di muka Bumi—mungkin bahkan di seluruh Alam Semesta (ada sebelum orang kepikiran untuk bikin alat musik), pun satu-satunya yang sekaligus jago bahasa (semua orang bisa ngomong)—alias—satu-satunya alat musik yang semua orang bisa ‘memainkannya’ (beda dengan piano/biola yang tak semua orang bisa, mis).

Dan yang terakhir itu artinya, mulut kita ini adalah alat musik yang paling universal(!) 🙂

*****

Mengingat biang alat musik—mulut ini, cuma bagian kecil dari sosok kita (manusia), mungkin asyik untuk mengulik hubungan antara keuniversalan musik dengan kemanusiaan (humanity). Tapi itu jelas terlalu serius untuk tulisan ringan awal tahun semacam ini hehe.. Jadi hayuk kita setop saja, pakai lagu—mulut melulu sudah, instrumen doang sudah, saatnya eksyen bareng..

Oya, sebelum semakin telat:

Selamat Tahun Baru

Mari jadikan lebih baik. Lebih universal. Lebih mendatangkan berkat-manfaat. Bagi semua.

⚛️ 🛐 🕉 ☸️ ✡️ ☦️ ✝️ ☪️ ☯️ ☮️

Apapun, rasanya kita semua akur, tidak perlu ngerti English atau Italiano untuk bisa menikmati (atau merasa tersentuh oleh) kolaborasi lintas-usia/trans-genre/antar-‘alat musik’ yang satu ini:

Pavarotti and Friends

Luciano Pavarotti, Jon Bon Jovi et al. – “Let It Rain”
(Pavarotti & Friends for the Children of Liberia, 1998)

Che sia la pace il nome d’amore, signore.

————————————

CATATAN

Mungkin ada di antara Pembaca yang belum pernah dengar Quello Che Vuoi, klik link di atas, merasa suka, lalu membaca liriknya barang beberapa saat meski tidak tahu arti kata-katanya? Di satu sisi, ini instingtif. Di sisi lain, ini adalah bukti/dampak ‘kekuatan sebuah teks’, yang jadi benang merah di serial ‘senam literasi’—yang masih kurang dua tulisan lagi. (Iklan ni yee..!!)

—KK—

25 thoughts on “musik itu universal

  1. felicem annum MMXXI 🙂

    AN.N.F.F. rezonanca 🙂

    Update: Somehow I forgot. It has been my intention to accompany my response with a song for the first few comments here. So this ‘two in one’ piece is yours:

    Luluk Purwanto

    Flairck & Basily Global Orchestra – “Aquelarre” + “Dark Eyes” (Stadstheater Zoetermeer, Holland, May 28th, 2010)

    • i was going to wish you well in italian, but latin sounded like a better idea 😄
      cannot find the meaning of abbreviations 😌 but i do like the music 😊

      It IS good/better indeed, rezonanca. And I thank you for that. For the very least, it made me aware of the words “Annum Novum Faustum Felicem”, meaning about the same thing as yours, and shortened A.N.F.F. (see here for some serious read):

      http://www.antiquitatem.com/en/annum-novum-new-year-christmas/

      Or AN.N.F.F. (only a few-line read, along with an image link):

      https://sketchfab.com/3d-models/annum-novum-faustum-felicem-2a482037a3f4444081646381ad96913d

      Visually the latter fits your Roman numeral beter because it’s a five-on-five match and I think it’s kind of cool (if you excuse my antics). Sorry for the confusion. Thanks again. 🙂

      PS: Already checked your last two posts (in Bosnian). I’m not sure if Google Translator does its job well here, but it seems like some delicate issue (about the education system). And I must refrain myself from commenting on sensitive subject matters. I hope you understand my position (as a foreigner). At any rate, I’m glad you like the music (The violin lady is Indonesian, by the way). 🍸

    • thank you 😊 (google pointed to some gamers slang for nff, so i was not sure, cause everyone’s telling this year will be even worse)
      (p.s. it’s croatian.. same language, but different countries. linguists and historians pulled us apart.. imho.. so, yes it’s about education system, my blog. thanks for following)

      Anytime rezonanca. Been a pleasure. Sorry about the language thing, and thanks for the info. Together, we—Yugoslavia and Indonesia, have history way back (since Tito/Sukarno era). Many things have changed now. Best wishes to you all there. 🍸

  2. I totally agree with you. No wonder that music connects people from different regions across the globe.
    Wishing you a very happy New Year!

    Thank you. A happy and prosperous year to you too, Megala. Amen to that (your words on music). If you excuse my expression, Hindi (like Italiano etc) is sort of an alien language here. So it must be the universal property of music that made this ‘Hindustan song’ so popular in Indonesia back then (in the year of nation-wide turmoil, come to think of it). 🍸

    lagu shah rukh khan

    Udit Narayan & Alka Yagnik – “Kuch Kuch Hota Hai” (1998)

  3. Musiklah yang bisa yang dinikmati seluruh penduduk bumi. Walau bahasanya gak dimengerti tapi rasa yang disampaikan musik sampai ke hati.

    Prahara telah membuat saya menulis lagi. Tolong dikunjungi blog saya.

    Keep healthy.

    Benar sekali. Alrisblog yang Minang(?) dan Kutukamus yang Jawa tak kan kesulitan menikmati ketoprak Jakarta di warung yang nyetel lagu Sunda seperti ini.. 🙂

    sunda mix

    Upit Sarimanah – “Bajing Luncat”

    Ok nanti malam saya cek. Welcome back, BTW.

    • Yup, saya Minang. Saat ini lagi gandrung lagu Megat Tresno by Dimas Tedjo. hehe…

      Wah, saya malah belum tahu lagu itu. Kudet kayaknya. Besok kalau koneksi OK cek youtube dulu :mrgreen:

  4. Ah! One article farther back, and you would have found an explanation and translation to Japanese and English of “Yosura Bushi”, a traditional (pentatonic) Amami/Okinawan sailor’s lament.

    I suspect that humans merely evolved to evaluate the reproductive viability of others through pleasure in the sounds of their voices, and that can be extended to instrumentation… though that seems a terribly dry explanation for the pure qualia of musical experience.

    Cut my teeth as a kid on opera, classical, jazz, and traditional Japanese (and my dad’s Gordon Lightfoot), so a broad range of musical tastes. However, I suspect you might not appreciate much of what you’d find in my YouTube playlists… tastes acquired in an underground (literally) Japanese “live house” environment. However, I’ll leave a (disabled) link to a phenomenal local performer. And I’ll note that aside from her beautiful voice, extraordinary (self taught) guitar, and wonderful violin, she’s also a very skilled and accomplished classical pianist.

    Happy New Year, and very best wishes to you!
    youtube[DOT]com/watch?v=TET5fDHrsTA
    (replace the “[DOT]”)

    Just checked on Yvette. Wow! And she’s still very young, at that. I hope she keeps on singing and stick to one instrument she enjoys best. I mean, playing them all as a hobby is one thing but as a professional occupation is quite another (Then again, who am I to say such things in this matter? 🙂 )

    Having looked into Lightness Traveling’s playlist, I like the ‘explosive feel’ of TsuShiMaMiRe and the ‘just-the-way-they-are presentation’ of Drop’s. 🍸

    Really, all these ‘feed for ears’ activities we’ve been doing (ever since before civilization, perhaps?) is just Magic!

    armenia heavenly duduk

    Djivan Gasparyan – “Menag Jamport Em / Yes Kez Tessa”
    (Heavenly Duduk, 1999)

    Best wishes to you too Kumi.

    • Oh! What a beautiful piece! I’ll be adding it to a more reflective playlist. I might need to look through some more Armenian music now.

      So you found me! Not much into J-Pop. TsuShiMaMiRe are just fun… that first one is about artificially colored laundry detergent and soft drinks. Much laughter and even some occasional stage-diving. And the Drops… it’s all about the music.
      Cheers! (ツ)b

      Detergent and soft drinks?? LOL Now that’s creative! 😀
      Real glad you like that one by Djivan. Heavenly indeed. Cheers!

  5. Kulanuwun Mas Kuka……(dengan nada mengalun hehe…)
    Meski buta rada tuli musik, tetap bisa nglaras menikmati suguhan musik. Parade pangrawit pas dalang mbabar lakon perang dan kasmaran di kaputren juga beda nggih.
    Lah di kebun juga full musik, dari kodok ngorek hingga garengpung mbengung.
    Musik juga dihunakan untuk penunjang terapi kesehatan.
    Selamat menikmati musik.

    Monggo dipun sekeca-aken (eh ni saya agak ragu penulisannya hehe..) Estu Bu Prih, ada aneka kegunaan. Malah konon ada yang untuk bayi dalam kandungan supaya kalau lahir nanti jadi lebih cerdas atau gimana gitu.

    Jadi ingat rumah Kakek yang di belakangnya ada kebon. Macam-macam suara ada, dan nyaring pula. Sekarang masih cukup beruntung kalau pagi/sore kadang ada suara burung lewat yang mampir sebentar, atau kodok kegirangan kalau malam/petang ada hujan. Atau ya itu, waktu di ambang tidur dengar suara kucing kelahi kalau lagi musimnya hahaha..

    Unjukanipun disambi menikmati jazz nggih..

    lagu musik jazz tahun 80-an

    David Benoit – “Every Step of the Way” (Every Step of the Way, 1988)

  6. Meski buta rada tuli musik, tetap bisa nglaras menikmati suguhan musik. (maksudnya saya loh, nggak paham aliran apalagi mainkan alat musik hehe..)

    Sepertinya kita sealiran Bu Prih, sama-sama penikmat sejati. Alias bisanya ya cuma itu tok, menikmati. Kalau disuruh main alat/bikin lagu dll ya mohon dipersori hihi..

  7. Beautiful Simply Three – Rain 🙏 always lovely to make musical connections ~ smiles hedy ☺️💫

    Thanks a lot Hedy. You made my day! 🙂 Simply Three’s Rain is perhaps the most romantic song I’ve ever heard (and the clip fits, with some imaginative touch).

    And since one and one make two (you’re the first one making a specific comment about any of those vids above), I’d like to present you with these two clips from Santana’s “Supernatural” concert. The first one is the actual live performance:

    Santana Sipernatural Live

    Carlos Santana & Wayne Shorter (with Chester Thompson) – “Apache” (Supernatural Live, 2000)

    And the second one was taken during rehearsal (for that very event):

    Santana Supernatural Live Rehearsal

    Carlos Santana & Wayne Shorter (with Chester Thompson) – “Apache” (Supernatural Live/in rehearsal, 2000)

    Different versions of the same song. And I love them both, equally, for different reasons (one tastes ‘more perfect’, but the other feels ‘more intimate’). Cheers!

  8. Though the creation, performance, significance, and even the definition of music can vary from culture to culture and person to person, music is indeed universal. Thanks for the reminder.

    Tru dat! I can go so far as to say that while [at times] cultures divide, music unites. (Though this shouldn’t be taken literally but put into the right context instead) 🙂

    Anyway, it always amazes me how [some relatively simple] music, if blended properly, could give another performing art (say, dance) the ‘soul’ it needs. And “Voila!” Now the whole thing has a strong character. This one, for instance:

    tari ratoh jaroe opening ceremony asian games 2018 Indonesia

    Tari ‘Ratoh Jaroe’ – 2018 Asian Games opening ceremony in Jakarta
    (Performed by high school students)

  9. I was one of the readers that had never heard of Quello Che Vuoi, so thank you very much for this great introduction and the selection of music you’ve chosen is fantastic, the Simply Three-Rain piece was awesome. There is something universally consistent in the way music makes the human soul feel ~ and what I also love is what you mention early in your post: “The phenomenon of young children who like foreign songs (whose languages ​​they cannot speak)” so very true and beautiful. Enjoy your 2021 ~ take care.

    You’re welcome Dalo. And thank you very much for your kind and encouraging words. I can’t imagine a world without music (or musicians, for that matter). Really, I can’t stop feeling lucky that many people are so UNLIKE me (who doesn’t play/compose music). Viva diversities! 🙂

    Speaking of which, I’m glad our blogs find each other (I can’t remember who found whom first, but that doesn’t matter). You see, reading your posts makes me feel ‘spiritual’. (And that’s rare, believe me) And taking the originality into account, “Global Sojourns Photography” sure is one of a kind. 🍸 So here it is, a singer whose voice always makes me feel spiritual:

    lagu penyanyi tibet

    Yungchen Lhamo – “Ranzen” (Ama, 2006)

    • It felt good to come back a re-read this post this morning ~ and to listen to Yungchen Lhamo again 🙂 As you say in your post, “The fact that people can love the voice, yet not understand the words does shows music can reach places (sensibility, sense of beauty, emotion) that basic words of language and communication cannot. I love this about the human spirit. Take care, my friend, and wish you a glorious autumn ahead.

  10. Ah, Neri Per Caso. Nama itu pertama kali saya dengar waktu mereka duet dengan Bunglon. 😀

    Musik sepertinya seperti Nokia, KK: connecting people. 😀 Beberapa hari yang lalu saya nonton video di YouTube. Ada seorang turis di Italia, dia pemain bass, terus nge-jam bareng musisi jalanan di sana. Mereka main Autumn Leaves sampai tertawa-tawa. 😀

    Barusan cek Bunglon yang “Denganmu”. Intronya bikin ingat grup Shakatak, mungkin salah satu lagu dari album Night Birds. Tapi ya nggak tahu juga sih. Yang pasti selain bisa sangat apresiatif, sebagai konsumen musik (yang nggak bisa main musik) saya ini juga bisa super-nyebelin hahaha..

    Eh yang morishige maksud street jam yang orang Korea Jun-Hyuk Choi itukah? Baru cek juga. Memang connecting people banget ya, sampai ke para penontonnya pula.

    Kelak, yang ‘terkonek’ mungkin bukan hanya earthlings. 🙂

    diva galaksi

    Plavalaguna – diva antar-bintang (The Fifth Element, 1997/Luc Besson)

    Enchanting, freaky, action-packed and out-of-this-world-ly funny! :mrgreen:

    • Ahaha… super-nyebelin itu ‘kan indikasi kepedulian, KK. 😀 Wah, mungkin ‘muse’ yang datang ke Bunglon dan Shakatak kebetulan sama, KK. 😀

      Iya, KK. Beliau itu. Saya senyum-senyum waktu lihat mereka nge-jam. Itu orang-orang kayak gerombolan ‘surfer’ gelombang sedang berselancar di pantai yang sama. 🙂

      Bisa jadi. Bukan nggak mungkin sekarang sedang ada musisi dari entah planet mana sedang bikin respons buat “Across the Universe.” Hahaha.

      Ah, itu video yang di-embed bikin pengen nonton The Fifth Element lagi. 😀

      Saya beruntung waktu itu dapat LD (laser disk)-nya, sehingga bisa menikmati gelegar suaranya (meski volume kecil, karena nontonnya tengah malam nunggu orang rumah pada tidur). Meski ceritanya seenak perut dan sering tidak konsisten, The Fifth Element (⭐️⭐️) termasuk salah satu all time favorite dari zaman LD. Banyak sekali ‘elemen’-nya yang saya suka. Misalnya..

      SCORE (MUSIK). Enak dari ujung ke ujung. Sejak opening credit (yang feel-nya ala horor itu), Mbak Plava action, sampai ending credit (resolusi tercapai). Kena semua.
      .
      FANTASI. Sebuah bola api (yang kadang bisa membungkus diri dengan semacam protective shield) yang datang entah dari mana (mungkin dari neraka) sedang meluncur deras ke Bumi. Celakanya, ‘peluru ngehe’ ini tidak bisa dipelajari/dicari kelemahannya karena selain hanya tampak secara visual, si ‘Planet Setan’ terbukti tidak bisa dideteksi—0% thermo track (tak mengeluarkan panas, ato mungkin jenis ‘panas’-nya tak bisa dideteksi), 0% movement lock (artinya untuk bisa menembaknya harus berada relatif cukup dekat dan dihadang dari depan), 0% molecular emission (sebuah benda langit, menyala, tapi tanpa emisi partikel sama sekali, Wow!):

      statistik bola neraka

      Evil Stats – No nothing. Zero data. Nada. Zilch.
      (Bisa kedeteksi cuma saat si Hell Ball ‘nelpon’)

      IMAJINASI FUTURISTIK. Misalnya Mr. Kim (Eh ni nama Korea bukan sih?, Yang pasti logat Cinanya kental sekali “You are fired!”) penjual mie-godog keliling yang setelah beberapa saat baru kita tahu kalau dia tinggal di ‘karavan’.

      DEJA VU. Film action (selain sci-fi dan komedi), dibintangi oleh Bruce Willis, bisa aja si Luc nyelipin ‘Die Hard moment’-nya (BW melompat sambil nembak, waktu konser).

      HUMOR. Jangan tanya kalo soal ini. Ada di mana-mana. Dalam segala situasi. Misalnya ‘visual pun’ waktu mau merekonstruksi Leeloo (“Sounds like a freak of nature to me”) dan Major Iceborg (“I’m not going”), atau sang presiden dan asisten ceweknya yang seperti senantiasa ‘tersandera oleh waktu’ itu (“You have 20 seconds” dkk).

      SENTUHAN MANUSIAWI. Dua karakter non-visual yang dekat dengan Korben, yaitu mother (yang sempat manggil dia dengan sebutan ‘Big Ape’) dan Finger (a brother in arms di masa dinas militer). Obrolan (via telpon) yang cuma sekejap-sekejap itu rasanya sangat menguatkan karakter Korben sendiri.

      ISENG BIN NGACO. Batas wilayah antariksa (‘lampu merah’, trus dua biji berubah jadi ijo waktu di-acc, di awal film), ini jelas ngawur (emangnya Space/3D itu permukaan jalan/2D?). Zorg demo senjata, mana muat jala segede itu di dalam senjata sekecil itu (lagian untuk senjata secanggih itu, jala rasanya nggak penting banget). Norak memang, tapi karena ni komedi, jadinya ya ‘masuk’. Dan jangan lupa kiat memotivasi diri (untuk berhenti merokok) nan ganjil berikut ini:

      lirik lagu itali

      Quit Smoking – To quit is my goal

      Yah intinya saya menikmati banget gitu. Ngakak terus (meski pelan, takut berisik). Dan yang pasti ini adalah koleksi wajib bagi perokok (di ujung konflik jelang ending) : only a smoker can save Life. Yes! 🙂

      Sebenarnya nggak ada gunanya juga sih cerita banyak-banyak gini ke orang yang sudah lihat filmnya. Eh tapi semua yang di atas itu kira-kira cukup provokatif bikin Morishige nonton lagi nggak ya? Hahaha

  11. Iya gak perlu alat musik, seperti saya yang cukup menggunakan mulut uda bisa menghasilkan musik, salah satunya lewat siulan

    Ajaib memang mulut kita ini ya, alat musik yang bisa macem-macem kerjaan. Eh kalo berminat, untuk urusan siul ini ada kompetisi internasionalnya juga lho: 🙂

    world whistling championship 2010

    Kuchibue Soncho – Kejuaraan Dunia Siul 2010

    • Eh ada kompetisinya ya. Btw itu yang ikut kompetisi di youtube, panjang nafasnya

      Heran juga bagaimana si Kuchibue bisa sehebat itu. Mungkin selain metode latihan (termasuk nafas), faktor mulut (bentuk rahang dll) juga punya andil.

      PS: Maaf kena pending lagi (harusnya komen Ridsal yang kedua ini langsung tayang). Sudah satu setengah tahunan ini kayaknya WP ada saja glitch-nya. Sudah bilang juga ke WP, tapi ya entah digubris atau tidak sama mereka, namanya juga blog gratisan 🙂

  12. Asereje selalu di hati hahahahah. Walo ga ngerti, tapi tetep bisa menikmati 😀

    Iya sih, musik itu universal. Ga harus paham kata2 liriknya, yg penting irama lagu, gerakan tarian di vidklipnya, mimik si penyanyi , udh cukup :D.

    Seperti aku yg skr tergila2 lagu Korea Krn drakor, walo ga paham blaaas apa artinya hihihi

    Akur banget. Selain lagunya enak didengar, Asereje juga kreatif di tarian (yang sebenarnya relatif minim gerakan, tapi dengan manuver telapak tangan lalu kesannya jadi demikian enerjik dan menghentak).

    Hebat pisan memang negeri ginseng dengan industri musik dan drakornya ya. Berani tampil dengan karakter mereka (Korea) sendiri, dan bisa sampai mendunia seperti sekarang.

    Oya, mungkin ingat juga dengan yang ini (lagu jadul yang dibuat versi ‘ska-dut’ nya). Irama, gerakan dan ‘camera work’-nya rasanya klik sekali. 🙂

    lagu jawa sunda lama

    Cucun Novia – Waru Doyong

  13. You are right. The music transcend the lingual because it transmitted emotion into our soul.
    Konten blog Anda menarik. Salam buat Anda.

    Halo TV! Luar biasa memang musik itu ya. Sarana/media sambung rasa yang bisa menembus segala sekat manusia (bahasa/budaya/agama/status sosial dsb).

    OK, ini nostalgia dengan klip yang sempat sering tayang di masa-masa awal RCTI. Yang paling saya suka dari ini (juga banyak nomor jazz lain) adalah ‘kebersamaan’-nya. Ibarat segerombolan orang masuk kafe, duduk semeja, lalu ngobrol dengan riuh (Dan saya, yang duduk di meja sebelah dan tidak tahu mereka ngomong apa karena tidak paham bahasanya, jadi ikut senang karena bisa merasakan kebersamaan mereka yang demikian menikmati keberadaan satu sama lain itu)

    GRP All Star The Record Plant

    Lee Ritenour, Dave Grusin, Dave Valentin et al. – “Oasis”
    (GRP All-Stars Live from the Record Plant, 1985)

    Terima kasih dan salam juga untuk Anda. Maaf responsnya agak telat. Banget. 🙂

  14. Ah, jadi inget waktu kecil seneng banget Kokoro No Tomo karena ibuku suka ulang-ulang itu di playlist dia. Padahal itu jaman masih TK kalau gak salah, jadi boro-boro ngerti dia bahas apa, bahasa apa pun nggak tahu 🙂 Memang musik itu istimewa karena kadang sebagian orang gak bisa menjelaskan apa yang bikin suatu aransemen itu cocok di kupingnya, dan nggak juga paham liriknya. Cool blog btw! Salam kenal!

    Halo Bila! Nge-hits memang lagu ini di Jakarta dulu. Kalau jalan-jalan di sekitaran Blok–M, ada saja tempat usaha yang mutar lagu ini.

    Sepertinya begitu ya. Kadang kita suka sesuatu tanpa tahu persis sukanya di mana, atau kenapa. Mungkin itu termasuk tanda kalau ada ‘tempat-tempat’ yang belum terjamah bahasa. Oya karena Bila sudah share memori, ini satu lagu tentang memori. Nyaris instrumen semua, tapi di ujung ada liriknya. Semoga suka. 🙂

    smooth jazz sax

    Dave Koz – “Endless Summer Nights” (1990)

    Terima kasih sudah mampir. Salam kenal juga.

    • Makasih untuk rekomendasinya! Kalau ingat Dave Koz otomatis ingat Together Again, kayaknya itu musik dia yang saya paling familiar dari kecil karena selalu di-play di Gramedia. Gara-gara dengerin Endless Summer Nights itu otomatis ke-play Together Again juga setelahnya, jadi makin brings back childhood memories deh hehe.

      Barusan cek linknya lagi, eh iya, bisa ngepas serangkai begitu hehe.. Meski lumayan familier, saya sudah lupa kalau judulnya Together Again. Suka Dave Koz karena merasa cocok dengan karakter ‘letupan-letupannya’, termasuk saat volume lagunya mulai fading away.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.