komputer

Kalau sekarang kita mendengar kata komputer (Inggris: computer), tentu yang terbayang ialah ‘mesin pintar’ yang bisa diprogram macam-macam sesuai kebutuhan itu. Tidak salah, memang. Tapi awalnya di bahasa asalnya dulu, istilah ini sejatinya ditujukan bagi manusia (bukan mesin).

Persisnya, orang yang [kerjanya] melakukan ‘komputasi’ (beraritmetika/logika ria)—baik murni secara mental maupun dengan bantuan oret-oretan di atas kertas atau (kemudian) kalkulator.

Jelas, ‘si komputer’ kudu kampiun soal matematika. Tapi artikel ini tak hendak mengulik angka, melainkan sekadar ingin mengajak Pembaca sedikit menghibur diri di akhir minggu ini dengan menonton (jika belum, tentunya) sebuah film tentang tiga ‘komputer’ bersahabat yang bekerja di lingkungan yang tidak terlalu bersahabat—bersama seabrek komputer (manusia) lainnya.

hidden figures vaughan johnson jackson

“Hidden Figures” (Sutradara: Theodore Melfi, 2016)

Selain lihay angka (pastinya), yang satu punya kelebihan di bidang engineering (dan karena itu ia punya nalar yang ciamik akan desain), yang lain kuat sekali di logika (dan karena itu ia jago bahasa pemrograman), dan yang seorang lagi bahkan jadi sosok cerdas di tengah para genii (maksudnya: bukan cuma genius kalau dibandingkan dengan orang biasa/kebanyakan, gitu).

hidden figures komputer bewarna

‘Komputer Berwarna’ – santun, ringkas kata, deras bercerita (01:50:32)

Bersahaja dalam visual serta halus budi bahasa, Hidden Figures adalah karya apik yang perlu dilihat secara multiperspektif—atau banyak sisinya bakal tak tertangkap (dan riuh geregetnya jadi terasa senyap). ‘Penampakan’ sekejap di menit keseratus sebelas itu ialah satu contohnya. Sebuah reminder tak ternilai bagi mereka—bangsa mana pun, yang ingin negerinya jadi maju.

Apapun, nonton atau tidak, semoga akhir pekan Pembaca menyenangkan.

——————————

CATATAN

Selain berarti ‘orang’ (sosok atau tokoh), dalam bahasa Inggris figure juga bisa berarti ‘angka’ (digit atau jumlah) serta ‘kalkulasi’ (utamanya yang bersifat matematis).

Meski [karena keperluan sinematografis] terdapat penyesuaian di sana-sini (karakter, kejadian, dramatisasi dll), Hidden Figures tetaplah sebuah ‘catatan’ yang bisa dipertanggungjawabkan—yang sekaligus cerdik dalam melakukan delivery (penyampaian pesan).

Tentang reminder, lihat juga di sini. Tentang negara [yang ogah] maju, lihat di sini.

BONUS

Literasi [Nonton] Film (Warning: spoilers!!)

Sebagaimana dalam urusan baca buku, setiap orang punya kebutuhan/suka-sukanya sendiri dalam nonton film (bukan perkara benar/salah). Akan tetapi mengingat dalam membaca ada istilah effective reading, tentu dalam menonton ada pula ‘nonton [yang] efektif’—atau kita akan acap sulit membedakan antara bacaan/tontonan yang bermutu dan yang tidak bermutu (atau yang lebih mendasar, acap sulit/tidak/salah mengerti apa yang kita baca/tonton sendiri).

Tips berikut diberikan dalam rangka berbagi trik—jika Pembaca berkenan, tentu saja..

Seperti banyak film bagus lainnya, Hidden Figures juga menuntut penontonnya untuk mampu melihat sebuah scene tertentu secara utuh (tak terbelenggu oleh frame—baik audio maupun visual, yang hadir pada saat tertentu semata-mata) serta mampu membaca apa ‘yang tersirat’ (tak sekadar menelan mentah-mentah apa ‘yang tersurat’—lalu merasa sudah paham segala).

Misalnya [frame] yang ini..

Boss: “Ruth, what’s the status on that computer?”
Sekretaris: “She’ s right behind you, Mr. Harrison.”

Secara frame, ini memang bilang jika komputer yang dimaksud adalah manusia (seorang she). Tetapi secara scene (dimulai sejak si komputer masuk ruangan), cakupan informasinya terang lebih dari itu. Fakta bahwa si Boss baru saja lewat dekat si komputer (yang ‘penampakannya’ demikian lain sendiri itu—sehingga sulit untuk tidak melihatnya) menegaskan stereotyping suatu kelompok terhadap kelompok lainnya yang sudah disentil pada awal scene yaitu..

Ada Komputer lama ujug-ujug jebret: “This wasn’t empied last night.”
Si Komputer baru: “I’m sorry, I’m not the... [lalu lirih] custodian.”

Dan contoh [tersurat vs tersirat] yang ini..

Dorothy: “You’re working late today.”
(“Tumben belum pulang. Ada yang lagi lu mau dari gue, kan?”)
...
Dorothy: “I know. [pause sejenak] I know you probably believe that.”
(Sebuah tamparan luar biasa keras yang membungkam semua omong kosong)

Nyambung dengan hubungan antara Dorothy dan Mrs. Mitchell sebelumnya, itu adalah sisipan yang seru sekaligus menghunjam tentang office politics (jika masih asing, cek di sini). Sebuah ‘tensi’ yang diakhiri dengan conflict resolution nan beradab (pada sekian scene berikutnya)..

“Thank you for the information, Mrs. Mitchell.”
“You’re quite welcome, [pause sejenak] Mrs. Vaughan”.

(Sengaja irit detail dan tanpa penunjuk waktu agar uraiannya nggak spoiler-spoiler amat)

—KK—

6 thoughts on “komputer

    • Semua berkat penerjemahnya… 🙂 halo untukmu!!

      Ah, yes! Our good ol’ friend the translator. Can’t blogwalk the world without it. BTW, after all these years, senang melihatmu lagi di sini. 🙂

  1. Hidden Figures was a good movie. It didn’t put my wife to sleep at all. I already knew about the human computers from various books and such (I think they figured into Cryptonomicon at one point) but it was new information for her and she found it quite interesting.

    [In Oppenheimer, minute 19 something]
    “Yes, you. Your math is better than mine”, said Oppie in an impromptu to one of his ‘pupils’ .

    First, I find it quite interesting that great minds like Einstein and Oppie never really get along with maths. Second, it’s facinating to know that the A-bomb or even the moon race era (in Hidden Figures) started when men were still ‘the computers’.

    And now we all Google. 🙂

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.