Salah satu hobi Ibu adalah ngisi TTS (teka-teki silang). Karena KBBI-nya (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III) sudah bodhol-bodhol, Sabtu kemarin kami berdua hunting KBBI Edisi V. Sayang, di dua toko buku besar yang kami datangi, stoknya lagi kosong. “Kamusnya diumpetin, Buk!”, iseng si Kutu. “Heheheh..!”, respons Ibu—yang lalu minta dibelikan koran. Siyap, Boss!!
Meski misi ‘ke Barat mencari kitab suci’-nya gagal, puas rasanya bisa ajak Ibu sedikit pelesiran. Sepanjang waktu Beliau kelihatan ‘menikmati pemandangan’, soalnya. Dan motif utama acara siang itu memang sejatinya untuk nyeneng-nyenengin ortu—[ikut] bersukacita di hari Imlek.
Tidak jadi masalah kami bukan orang Tionghoa.
*****
Hari raya artinya hari yang diperingati atau dipestakan. Hari yang dirayakan, karena dianggap penting—seperti Lebaran/Natal/Tahun Baru/Nyepi/Waisak/Imlek. A big day, hari besar—bagi umatnya masing-masing (dengan kekecualian Tahun Baru yang sifatnya lebih ‘lintas umat’ itu).
Akan tetapi sudah seperti tradisi, di rumah—yang kebetulan semuanya muslim (sebab kalau di keluarga besar ada bermacam agama/suku/ras karena ketarik nikah), kami biasa ‘memestakan’ semua hari raya tersebut (dengan skala dan kesesuaian situasinya masing-masing, tentu saja).
Yang paling ‘akbar’ dengan sendirinya adalah Idulfitri (khas Indonesia, kalau di banyak negara Arab yang lebih heboh adalah Iduladha), saat kami menyiapkan hidangan layaknya orang yang sedang hajatan—dan setelah nyekar Bapak, selama dua hari berturut-turut kami stand by di rumah siap menyambut tamu yang datang (Ibu adalah yang paling senior di keluarga besar).
Untuk hari raya lain perayaannya jauh lebih sederhana. Cari sesuatu untuk makan siang (atau malam) di rumah atau bahkan sekadar beli jajanan untuk teman ngeteh di sore hari, misalnya (sebisa mungkin melibatkan UMKM/usaha mikro-kecil-menengah, gitu). Poinnya adalah, kami ikut ‘hadir’ di momen itu (sama prinsip saat kita memerlukan diri hadir di hajatan orang lain).
Orang lain bahagia, kita [minimal] ikut senang
Filosofi gampangnya begitu (Pilih mana: bersama dengan orang yang bahagia atau orang yang adanya marah-marah melulu? Gitu, loh!). Dan kita beruntung semua hari itu dianggap penting di bumi Indonesia, sehingga bisa bebas dirayakan oleh siapa pun yang ingin mensyukurinya.
Sebab di banyak negeri lain, kisahnya tidak seindah itu. Tidak se-colorful itu.
*****
Jadi intinya, jika Pembaca bukan Jawa bukan muslim tetapi saat Lebaran nanti ingin kirim kue dll ke rumah, maka saran tulus kami ialah: “Jangan, Saudaraku! Jangan ragu-ragu! Hahaha..!!”
Selamat Imlek
—————————————
CATATAN
Waktu Ibu kecil dulu (lihat di sini), hari Peh Cun pun masuk kalender (bakcang yang dibagikan para tetangga yang pergi ke sungai itu sungguh the best, kata Beliau). Lalu segalanya berubah. Bahwa kemudian banyak dari kegembiraan tsb kini kembali terasa dan muncul di mana-mana, itu adalah buah dari jasa Gus Dur (juga upaya serius pemerintahan yang sekarang, tentu saja).
—KK—

Salam. Lama saya tak main dan baca-baca disini.
Saya bersyukur disini masih (rajin) menulis.
Sehat selalu.
Rajin?? Bwahaha..!! Uda Alris bisa ajah. Senang sekali bisa bertemu lagi. Semoga masih bisa lama bercorat-coret ria di dunia maya. Sehat-sehat selalu pula.
Salam.