– istilah pemilu –
Pada Pemilu (pemilihan umum) bulan kemarin, Ibu termasuk orang yang ‘terbelah pilihannya’, yaitu nyoblos capres (calon presiden) dan caleg (calon legislator) dari partai/kubu/koalisi yang berbeda alias saling berkompetisi (misalnya capresnya Ganjar/03 tetapi calegnya PSI/02, gitu).
Kalau kita meminjam istilah dari Ghana—sebuah negara di Afrika Barat yang bahasa resminya bahasa Inggris (mungkin ada yang ingat Abedi Pele/Michael Essien?), kasus Ibu di atas disebut dengan skirt and blouse voting (capresnya dari partai skirt tapi calegnya dari partai blouse).
Atau jika diindonesiakan, mungkin bisa kita sebut nyoblos rok dan blus.
*****
Entah bagaimana juntrungannya sehingga asosiasinya bisa nyangkut ke busana wanita segala. Tapi terlepas dari soal istilah, tentu ada alasannya kenapa orang sampai membuat keputusan untuk nyoblos ‘rok dan blus’ (dan bukannya “rok dan rok’ atau ‘blus dan blus’ saja) seperti itu.
Skala kecil/individu
Misalnya pada kasus Ibu, sedari awal Beliau sudah merasa sreg dengan capresnya (serta tidak punya keberatan apa pun juga terhadap cawapresnya). Akan tetapi karena kian hari kian sebal dengan partai si capres (utamanya akan ucapan-ucapan/sepak terjang ketum/jajaran elitnya), jadilah, sejak sekian hari sebelum pencoblosan, untuk caleg Ibu mantap hati pindah koalisi.
Jadi di sini, kepada [para] calegnyalah Ibu memberikan ‘hukuman’.
Skala besar/nasional
Kasus sebaliknya pernah terjadi dua dekade silam pada Pilpres tahun 2004 (Pemilu langsung yang pertama)—yang tidak dilaksanakan serentak [dengan Pileg] melainkan secara bertahap.
Tahap I: Pileg
Tahap II: Pilpres babak penyisihan (5 paslon)
Tahap III: Pilpres babak final (2 paslon)
Di Pileg Golkar juara, PDIP runner-up. Capres yang akhirnya masuk final ialah Megawati (PDIP) dan SBY (Demokrat—yang notabene cuma peringkat lima di Pileg). Dua koalisi lalu terbentuk. Biar gampang, kita sebut saja mereka Koalisi Merah (PDIP cs) serta Koalisi Biru (Demokrat cs).
Kalau pakai hasil PILEG 2004 (113.462.414 suara sah), beginilah peta kekuatannya..
| Koalisi Merah (PDIP cs) | Koalisi Biru (Demokrat cs) | |||||
| PDIP | 21.026.629 | 18,53% | Demokrat | 8.455.225 | 7,45% | |
| Golkar | 24.480.757 | 21,58% | PKB | 11.989.564 | 10,57% | |
| PPP | 9.248.764 | 8,15% | PKS | 8.325.020 | 7,34% | |
| PBR | 2.764.998 | 2,44% | PAN | 7.303.324 | 6,44% | |
| PDS | 2.414.254 | 2,13% | PBB | 2.970.487 | 2,62% | |
| PKPB | 2.399.290 | 2,11% | PKPI | 1.424.240 | 1,26% | |
| PNIM | 923.159 | 0,81% | ||||
| 63.257.851 | 55,75% | 40.467.860 | 35,67% | |||
Secara suara di parlemen, ini bak David (35,67%) lawan Goliath (55,75%). Tetapi ibarat kontes ‘dirigen negeri’, kala itu popularitas SBY sedang melejit (sebagai harapan/simbol ‘musik baru’) sedangkan Megawati memerosot (sebagai petahana yang secara ‘musikalitas’ dianggap amat tidak asyik—suara PDIP anjlok belasan juta dari 35.689.073 di Pemilu Legislatif Tahun 1999).
Dan ‘rumput yang bergoyang’ di PILPRES 2004 (114.257.054 suara sah) berkata..
Megawati dapat 44.990.704 (39,38%), SBY 69.266.350 (60,62%)
Bukan suara para elite di MPR sebagaimana pada pemilu-pemilu sebelumnya, kali ini suara rakyat itu sendirilah yang bicara. Secara langsung. Dengan gamblang. Vox populi, vox Dei.
Yang artikulasinya akan lebih jelas jika dilantunkan lewat gambar..

“[Sekitar] 20 juta orang Indonesia ‘nyoblos rok dan blus’!”
Jadi di sini, kepada capresnyalah ramai-ramai konstituennya sendiri bilang: “Sori, ye!!”
*****
Bisa terjadi setiap saat dalam skala kecil maupun besar, skirt and blouse voting pada dasarnya adalah sebuah bentuk ‘protes’—akan ketidakpekaan elite dalam menangkap aspirasi rakyat.
Lebih spesifiknya..
Sebuah penolakan terhadap nama (caleg/capres) yang diajukan—atau kalau dalam kasus Ibu (yang dari suka lalu jadi iba dan oleh karena itu tetap memilih si capres), sebuah warning atas kelakuan/tingkah polah tak bermutu partai ybs selama sekian waktu. Sebel, tapi masih peduli..
Sebuah ‘jeweran sayang’
Jadi kini kembali kepada elit/partai-partai bagaimana menyikapi ‘fenomena rok dan blus’ pada ‘Pemilu Valentine’ 14 Februari kemarin—hendak dijadikan modal untuk wawas diri atau tidak.
Sebab para pencoblos baru akan kembali lima tahun lagi, persisnya pada ‘malam seribu bulan’ eh, ‘hari enam puluh bulan’—hari kala si papa/jelata sama saktinya dengan si kaya/berkuasa. Hari yang, dari waktu ke waktu, semoga mayoritasnya terus sama dengan lirik sebuah lagu..
🎵 “Anybody with a heart votes love”
Tuk ibu pertiwi, tentunya. Indonesia Emas 2045. Amin.
—————————
CATATAN
Istilah lain untuk skirt and blouse voting adalah split-ticket voting (istilah terkait lain misalnya three-piece suit voting, straight-ticket voting, tactical/strategic/insincere/sophisticated voting).
Ada yang berpendapat istilah skirt and blouse voting/split-ticket voting hanya relevan untuk pemilu yang diselenggarakan secara serentak (artinya jika pakai pengertian ini, kasus pada Pemilu Indonesia 2004 di atas tidak bisa disebut sebagai nyoblos rok dan blus).
Jujurly, sebenarnya si Kutu tidak tahu persis dari mana istilah ‘rok dan blus’ ini berasal. Tetapi setelah cek sekian tempat kok Ghana selalu disebut, jadilah bunyinya seperti di atas. (Klir, ya?)
REFERENSI
“Oxford Dictionary of African Politics” (Online, bisa cek atau search kata gratis di sini).
STAT TOOLS
Apache OpenOffice
ANYBODY WITH A HEART VOTES LOVE
—KK—

Terima kasih, Mas Kuka. Menyimak fenomena rok dan blus. Kagum dengan Ibu, pemerhati negeri. Salam sehat nggih.
Halo Bu Prih! Senang ketemu di sini lagi. Fokus perhatian Beliau utamanya di kelakuan lucu para politisi (tidak yang terlalu serius, buat bahan becandaan di rumah saja). Misalnya si Anu yang suka menjab-menjeb atau setelah marah-marah lalu ketawa sendiri itu, hahaha..!! Salam sehat untuk seluruh keluarga.