antik

– sebuah arti lain –

Bahwa antik itu sesuatu (barang) yang bernilai seni dan telah berumur lama, semua mafhum. Tetapi dalam percakapan informal tahun 70-an di Jakarta, orang relatif umum berucap begini:

“Dia mah orangnya emang antik!”
“Ah, antik-antik aja luh!”
“Antik juga nih, gambar tempelnya!”

(nyentrik, beda, tak bisa disamakan dengan yang lain)
(ada-ada saja)
(bertuliskan kata-kata yang kreatif/jenaka)

Tidak ada kaitan dengan benda seni/usia lanjut, antik di sini berarti—gampangnya saja, ‘aneh‘ (yang konotasinya bisa sangat bervariasi: unik, khas, menggelikan, konyol, di luar dugaan dll). Lucunya, meski tak sama benar, ‘antik’ ala bahasa pasar jadul ini ada pula padanan Inggrisnya.

. . .(lanjutannya)

Iklan

merkéngkong

– istilah Jawa –

Dulu, saat harga bensin seliter masih seratus limapuluh rupiah hingga seribu perak, di rumah ada sebuah mobil. Karena kami hampir bersepuluh (orang dulu umum punya banyak anak), jadilah mantan taksi itu kendaraan superhandal yang melayani kebutuhan dari sekolah, kerja, main, belanja hingga kondangan—dari pagi hingga malam. Jadi ke mana saja pahlawan butut itu esok akan menjajah Jakarta dan siapa saja yang beruntung selalu sudah fixed sebelumnya (dengan anggukan orangtua, pasti). Nah, jika mendapati kami para anak kurang taktis dalam menyiasati rute/waktu/hajat, Ibu akan bilang: “Jadi orang kok merkéngkong!” (ini teguran, tapi karena caranya yang khas, kami selalu ngakak setiap kali mendengar beliau mengucapkan itu).

Maksudnya jelas: rencana asal-asalan akan membuat jarak tempuh, waktu, tenaga dan biaya membengkak—kalang-kabut tapi dengan manfaat (destinasi) lebih sedikit. Dan semua itu akan teratasi jika saja semua mau secara bersama membuat rencana yang lebih sehat (termasuk siapa saja yang harus berbesar hati mengalah menggunakan angkutan umum, misalnya).

*****

Jauh di kemudian hari.. (lanjutannya)

ndak lapuk dek hujan

– ungkapan Minang –

Dari peribahasa Melayu, “Tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”, yang diambil bagian pertamanya saja dengan aksen khas Sumatra Barat (Padang). Kosakata harta karun Nusantara ndak lapuk dek hujan berarti kurang lebih bahwa kita perlu senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur adat (yang telah terbukti berguna dan tahan uji itu—dalam ‘hujan’ atau ‘panas’).

Dalam penggunaan sehari-hari, pengertian kata-kata ini berkembang.

Tak jarang, ungkapan ini mengacu kepada kegigihan atau ‘semangat‘—misalnya bahwa dalam berupaya (usaha, studi dan sebagainya) pantang gampang berputus asa (aral boleh melintang, rintangan boleh menghadang, tetapi semangat harus ‘ndak lapuk dek hujan’).

Selain itu, ungkapan ini juga acap dikaitkan dengan ‘faedah‘. Bahwa sebagai manusia kita mesti pandai mencipta manfaat (bagi sesama), bak pohon kelapa—yang bukan saja dalam berbuah tak kenal musim (hujan atau panas), tetapi bahkan setelah gugur (tumbang) pun siap memberi faedah, dari ujung akar hingga ujung daun (‘ndak lapuk dek hujan’, tak jemu memberi manfaat).

Apapun, kalau sudah untuk Indonesia Raya, mari kita ndak lapuk dek hujan.

*****

—KK—

ngabuburit

– istilah Sunda –

Dari bahasa Sunda yang berarti ‘menunggu [datangnya] petang’, dalam perkembangannya ngabuburit menjadi sebuah istilah dengan makna kurang-lebih:

kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyongsong datangnya waktu berbuka puasa (yaitu saat azan/bedug magrib)

Pengertian tersebut mempunyai beberapa konotasi :

  • ‘Menyongsong’ berarti menjelang, jadi logisnya ngabuburit tidak dilakukan terlalu awal (seperti siang hari). Lazimnya, waktunya dimulai setelah masuk waktu ashar.
  • Karena ‘menunggu waktu berbuka’, akan menjadi sedikit ganjil untuk mengaku ngabuburit jika kita sendiri tidak [sedang] berpuasa—meski tetap saja bisa ikut meramaikan suasana ngabuburitnya (bersama mereka yang sedang berpuasa).
  • ‘Kegiatan’ menyiratkan aktivitas—meski tidak harus berarti yang produktif (seperti sekadar nongkrong melihat orang lewat atau berputar-putar naik motor tanpa tujuan jelas). Jadi kegiatan yang terlalu pasif (seperti tidur) jelas tidak termasuk ngabuburit.
  • ‘Dalam rangka’ menyiratkan niat. Jadi meski kita berputar-putar keliling kota sepanjang sore akan tetapi jika motifnya adalah menjalankan tugas (sebagai pengantar barang, misalnya) berarti kita tidak sedang ber-ngabuburit ria.

Sulit dipungkiri, meski panjang (sepuluh huruf yang terpenggal dalam empat sukukata bukan sebuah kata yang pendek), ‘ngabuburit’ sungguh enak diucap sedap didengar (mungkin bahkan terkesan asyik dan jenaka). Sepertinya, kata ini sudah menjadi sebuah fenomena sosial.

Pertama.. (lanjutannya)

aja dumèh

– ungkapan Jawa –

Aja dumeh lazim terdengar di Jawa [Tengah]. Secara harfiah, ‘Jangan mentang-mentang‘. Diucapkan untuk mengingatkan orang agar tidak lupa diri atau melampaui batas.

Untuk segala keberhasilan/pencapaian yang kita raih, pasti ada kontribusi orang lainnya juga (besar/kecil, sedikit/banyak, individu/kolektif, langsung/tidak langsung, sengaja/tidak sengaja, diketahui/tidak diketahui). Tetapi kita gampang merasa hebat sendiri, lupa bahwa dalam hidup demikian sering ditolong orang lain—dengan satu atau lain cara tadi.

Kosakata Nusantara ini juga dipakai untuk mengingatkan bahwa ‘dunia berputar’, maksudnya, jika sekarang kita ‘senang’ (banyak uang, dikagumi banyak orang, berkuasa, [dianggap] pandai dan sebagainya), bukan tidak mungkin besok ‘susah’ (berada dalam keadaan yang sebaliknya).

Jadi, tak perlu pulalah sikap mentang-mentang itu.

*****

—KK—