à la carte

– istilah kuliner –

Dari bentuknya mudah ditebak, dari Perancis. Misalkan kita bertiga masuk ke sebuah warung:

“Somay satu porsi, tapi somay semua—jangan yang lain, ya! Teh tawar.”

“Capjay goreng, nasi putih. Minumnya es jeruk.”

“Minum aja, Mbak. Es Shanghai. Trus tolong dibungkusin ini: mie goreng tiga, nasi goreng dua. Nasi gorengnya satu biasa satu seafood. Oya, pangsit gorengnya satu, dibungkus juga.”

Jelas, yang kita masuki.. (lanjutannya)

déjà vu

Dari bahasa perancis, pengertiannya kira-kira: perasaan pernah ‘mengalami’ sebelumnya (terlepas dari apakah benar-benar pernah mengalami atau sekadar ‘perasaan’ saja).

Deja vu lazim dikaitkan dengan keadaan yang bersifat ‘sensasi visual’—meski tidak terbatas hanya pada ‘mata fisik’ saja. Misalnya seperti ini:

Kita ada di sebuah pekarangan. Kita masuk ke dalam rumah yang ternyata bentuknya memanjang itu. Di ujung, ada pintu lagi, kita buka. Halaman belakang! Kita keluar. Baru beberapa langkah, kita berhenti. Halaman tak berpagar, menyatu dengan alam. Rasanya.. pernah di sini. Lembah di sana, juga gunung di kejauhan itu.. Tunggu dulu! Apa itu? Di pojok dekat situ ada seperti rumah kayu kecil. Kandang anjingkah? Atau tempat perkakas? Ya, bilik kayu ini.. Di mana, ya..? Kapan..? Lalu kita terjaga.

Mungkin kita pernah.. (lanjutannya)