konsep

Sebagaimana banyak ‘kata abstrak’ lain, pengertian atau arti konsep (concept) bisa aplikatif untuk berbagai situasi/hal—sesuai konteksnya. Misalnya dalam beberapa ungkapan berikut:

“Griya Anu – Hunian yang Berkonsep Alam” (bunyi sebuah iklan)
“Sebuah organisasi butuh konsep yang jelas”
“Buka kafe tidak cukup cuma jual menu, tapi konsep!”

Yang pertama sepertinya iklan tersebut ingin mengatakan bahwa punya rumah di sana bagai ‘tinggal di alam’ (bersuasana asri serba hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kota dst).

Yang kedua adalah pernyataan umum bahwa sebuah organisasi haruslah memiliki misi-visi yang jelas (apa yang ingin dicapai dengan keberadaan organisasi itu, fokus dan prioritasnya, sistem keanggotaan dll)—termasuk hal-hal teknis turunannya seperti rencana kerja dsb.

Yang terakhir adalah tentang ‘karakter’. Mereka yang menggeluti usaha kafe (terutama yang berbasis komunitas) tahu persis bahwa adalah bunuh diri mendirikan tempat hangout jika hanya jualan menu—dan bahwa tempat dengan konsep (karakter) kuat punya peluang lebih untuk survive terhadap gempuran para ‘pemain’ (pesaing) baru.

Jadi pengertiannya bisa sangat kaya (beragam). Akan tetapi sebagai sebuah pengertian umum yang mendasar, konsep adalah ide atau gagasan. Meski perlu dipahami bahwa kedua istilah ini (konsep di satu pihak dan ide/gagasan di pihak lain) tidak selalu bisa saling menggantikan.

“Eh, aku punya ide, nih! Nonton, yuk!”

Jelas, kita tidak bisa menggunakan ‘konsep’ di situ. Kata konsep mewakili sebuah pemahaman tentang ide/gagasan yang lebih kompleks (lihat ketiga contoh sebelumnya).

Dan agar pemahaman lebih.. (lanjutannya)