hari raya

Salah satu hobi Ibu adalah ngisi TTS (teka-teki silang). Karena KBBI-nya (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III) sudah bodhol-bodhol, Sabtu kemarin kami berdua hunting KBBI Edisi V. Sayang, di dua toko buku besar yang kami datangi, stoknya lagi kosong. “Kamusnya diumpetin, Buk!”, iseng si Kutu. “Heheheh..!”, respons Ibu—yang lalu minta dibelikan koran. Siyap, Boss!!

Meski misi ‘ke Barat mencari kitab suci’-nya gagal, puas rasanya bisa ajak Ibu sedikit pelesiran. Sepanjang waktu Beliau kelihatan ‘menikmati pemandangan’, soalnya. Dan motif utama acara siang itu memang sejatinya untuk nyeneng-nyenengin ortu—[ikut] bersukacita di hari Imlek.

Tidak jadi masalah kami bukan orang Tionghoa.

. . .(lanjutannya)

minal ‘aidin . . .

Minal ‘Aidin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kata-kata itu umum kita temui dalam rangka Hari Raya Idul Fitri—di kartu, email, SMS dsb (versi lisan/nonformalnya biasa lebih pendek seperti “Maaf lahir batin ya..” atau “Minal ‘aidin” saja). Sebuah ucapan yang cukup unik karena menghadirkan dua bahasa sekaligus—Indonesia dan Arab (yang sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia), dalam satu paket.

Demikian seringnya keduanya dirangkaikan, sehingga kadang orang menganggap bahwa yang satu merupakan terjemahan dari yang lainnya. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian.

“Mohon maaf lahir dan batin” maksudnya jelas: sebuah ucapan permintaan maaf yang tulus (‘lahir dan batin’) yang disampaikan dengan penuh kerendahhatian (dipakainya kata ‘mohon’).

Sedangkan Minal ‘aidin wal faizin.. (lanjutannya)