merkéngkong

– istilah Jawa –

Dulu, saat harga bensin seliter masih seratus limapuluh rupiah hingga seribu perak, di rumah ada sebuah mobil. Karena kami hampir bersepuluh (orang dulu umum punya banyak anak), jadilah mantan taksi itu kendaraan superhandal yang melayani kebutuhan dari sekolah, kerja, main, belanja hingga kondangan—dari pagi hingga malam. Jadi ke mana saja pahlawan butut itu esok akan menjajah Jakarta dan siapa saja yang beruntung selalu sudah fixed sebelumnya (dengan anggukan orangtua, pasti). Nah, jika mendapati kami para anak kurang taktis dalam menyiasati rute/waktu/hajat, Ibu akan bilang: “Jadi orang kok merkéngkong!” (ini teguran, tapi karena caranya yang khas, kami selalu ngakak setiap kali mendengar beliau mengucapkan itu).

Maksudnya jelas: rencana asal-asalan akan membuat jarak tempuh, waktu, tenaga dan biaya membengkak—kalang-kabut tapi dengan manfaat (destinasi) lebih sedikit. Dan semua itu akan teratasi jika saja semua mau secara bersama membuat rencana yang lebih sehat (termasuk siapa saja yang harus berbesar hati mengalah menggunakan angkutan umum, misalnya).

*****

Jauh di kemudian hari.. (lanjutannya)