vivere pericoloso

– istilah politik –

Arti vivere pericoloso (dari bahasa Italia) kurang lebih: hidup di tengah bahaya. Konon istilah ini awalnya berasal dari yel ‘Vivere Pericolosamente’ oleh Benito Mussolini sebagai slogan kaum Fasis , yang kemudian oleh Bung Karno dijadikan judul Pidato Kenegaraan tahun 1964 (‘Tahun Vivere Pericoloso’).

Entah kebetulan atau tidak, istilah politik ini selain cukup mewakili situasi Indonesia saat itu, juga lumayan merepresentasikan keadaan (posisi) Soekarno sendiri selaku presiden.

Internal, Indonesia sedang deras didera friksi antar kelompok (misalnya antara AD dan PKI), belum lagi masalah ekonomi. Eksternal, Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia (yang disuport oleh Inggris dan lalu Australia)—saat-saat munculnya istilah ‘Ganyang Malaysia’.

Sebagai presiden.. (lanjutannya)

republik pisang

– istilah politik –

Pertama kali mengenal istilah ‘republik pisang’ (banana republic) sudah lama sekali—kalau tak salah ketika masih kelas satu SMP, dari sebuah cergam (cerita bergambar) asing untuk anak remaja. Dan terus terang, pengertian pertama yang terbentuk di kepala kala itu (setelah agak lama berpusing-pusing sendiri) adalah: sebuah negara (republik) yang penghasilan utamanya didapat dari jualan pisang.

Naif, memang. Tapi kebetulan ternyata tidak ngawur-ngawur amat.

Istilah politik ini (yang pernah disematkan kepada beberapa negara Amerika Latin tertentu ini) mengandung beberapa pengertian, seperti: negara yang berbagai kebijakan pentingnya ditentukan oleh segelintir orang di kalangan elit, dan negara yang penghasilan utamanya didapat dari menjual hasil bumi yang tidak terlalu menentukan (misalnya ya itu tadi, pisang).

Pengertian itu mempunyai beberapa konotasi.

Sebuah negara yang secara politik tidak stabil atau kerap bergejolak (sering ada perlawanan di kalangan rakyat atau intrik di kalangan elit). Secara ekonomi pas-pasan (atau bahkan lemah) dan dalam percaturan politik dunia cenderung tidak dianggap penting—produknya tidak mempunyai nilai strategis (seperti minyak, industri telekomunikasi atau peralatan perang). Orang-orangnya secara umum dianggap tidak kreatif (bisanya hanya memetik hasil bumi).

Dengan kata lain, sebuah istilah yang mempunyai pengertian negatif (merendahkan).

Jadi jika berkenalan dengan seseorang (dari negeri seberang), sebaiknya kita tidak mengatakan ini: “Oh dari sana, ya? Sebuah republik pisang!” Jangan. Karena memang tidak seorang pun akan suka jika negaranya dikatai sebagai republik pisang.

*****

—KK—

menunggu Godot

– istilah sosial / politik –

Istilah ‘menunggu Godot’ berasal dari judul (naskah) drama dua babak karya Samuel Beckett. Mahakarya berupa drama absurd yang hanya menampilkan lima aktor itu berkisah tentang Estragon dan Vladimir yang sedang menantikan kedatangan Godot—sosok yang mewakili gagasan sentral yang notabene justru tidak pernah muncul sepanjang cerita.

Sebagai sebuah ungkapan umum, menunggu Godot kemudian diartikan sebagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Secara konotatif, ini bisa berarti sebuah kesia-siaan atau bisa juga ketidakmampuan (yang keterlaluan) dalam membaca situasi atau gelagat. Dengan kata lain: sebuah penantian konyol.

Ungkapan ini pernah sangat populer di Indonesia semasa Presiden Soeharto.. (lanjutannya)

terkooptasi

– istilah manajemen / politik –

Pada masa-masa awal reformasi, kata ‘terkooptasi‘ sering digunakan orang (sekarang hanya sesekali saja kita jumpai). Istilah politik/manajemen ini sering dipakai untuk menunjukkan kesangsian atas integritas sebuah badan/lembaga atau seseorang.

Terkooptasi berasal dari kata Inggris co-opted’ (ataucoopted) yang notabene merupakan bentuk past participle dari to co-opt (atau to coopt). Yang terakhir ini jika diterjemahkan: ‘memilih menjadi sesama anggota kelompok’.

Perhatikan frasa ‘menjadi sesama’. Artinya, orang/pihak yang memilih itu sendiri sudah menjadi anggota, saat yang bersangkutan memilih orang/pihak lain untuk bergabung.

Jadi jika kita memilih si A untuk menjadi anggota Badan Anu misalnya, bisa dikatakan kita mengkooptasi si A jika kita sendiri adalah anggota Badan Anu tersebut (si A terkooptasi kita).

Dalam pola hubungan, pihak yang terkooptasi cenderung terposisikan secara subordinatif (inferior atau bahkan ‘bawahan’) terhadap pihak yang mengkooptasinya.

Dalam skala kecil yang homogen.. (lanjutannya)