Masya Allah(!)

Suatu hari seorang paruh baya melihat seorang muda mengalami penderitaan yang hebat namun tetap tabah dan tidak mengeluh. Sebagai ungkapan kekaguman, si orang tersebut berucap, “Masya Allah, Nak! Kau sungguh membuatku kagum. Semoga kesabaranmu dalam menjalani cobaan hidup akan membuatmu menjadi orang yang mulia di hadapan-Nya.”

Frasa Arab ini pengertiannya kira-kira: “Sesungguhnya semua ini adalah kehendak Tuhan jua” (dan jika Tuhan berkehendak, pasti terjadi). Di sini ucapan ‘Masya Allah’ sesuai situasinya karena mengandung: pengakuan terhadap Tuhan (Yang Maha Kehendak), kekaguman (artinya respons positif) atas dampak dari kehendak-Nya tersebut (ketabahan si orang muda), dan bahkan disertai doa (harapan baik yang dimohonkannya kepada Yang Maha Kuasa).

Pada saat itulah lewat orang ketiga (yang kebetulan tidak tahu arti ‘Masya Allah’). Orang ini, demi melihat betapa hebat penderitaan si orang muda, menyangka bahwa kata-kata tersebut adalah ‘ungkapan kekagetan saat menjumpai sesuatu yang jelek’ (sebuah respons negatif). Sejak saat itu, kesalahkaprahan penggunaan ‘Masya Allah’ sering terjadi di mana-mana.

Cerita di atas.. (lanjutannya)

Iklan