republik pisang

– istilah politik –

Pertama kali mengenal istilah ‘republik pisang’ (banana republic) sudah lama sekali—kalau tak salah ketika masih kelas satu SMP, dari sebuah cergam (cerita bergambar) asing untuk anak remaja. Dan terus terang, pengertian pertama yang terbentuk di kepala kala itu (setelah agak lama berpusing-pusing sendiri) adalah: sebuah negara (republik) yang penghasilan utamanya didapat dari jualan pisang.

Naif, memang. Tapi kebetulan ternyata tidak ngawur-ngawur amat.

Istilah politik ini (yang pernah disematkan kepada beberapa negara Amerika Latin tertentu ini) mengandung beberapa pengertian, seperti: negara yang berbagai kebijakan pentingnya ditentukan oleh segelintir orang di kalangan elit, dan negara yang penghasilan utamanya didapat dari menjual hasil bumi yang tidak terlalu menentukan (misalnya ya itu tadi, pisang).

Pengertian itu mempunyai beberapa konotasi.

Sebuah negara yang secara politik tidak stabil atau kerap bergejolak (sering ada perlawanan di kalangan rakyat atau intrik di kalangan elit). Secara ekonomi pas-pasan (atau bahkan lemah) dan dalam percaturan politik dunia cenderung tidak dianggap penting—produknya tidak mempunyai nilai strategis (seperti minyak, industri telekomunikasi atau peralatan perang). Orang-orangnya secara umum dianggap tidak kreatif (bisanya hanya memetik hasil bumi).

Dengan kata lain, sebuah istilah yang mempunyai pengertian negatif (merendahkan).

Jadi jika berkenalan dengan seseorang (dari negeri seberang), sebaiknya kita tidak mengatakan ini: “Oh dari sana, ya? Sebuah republik pisang!” Jangan. Karena memang tidak seorang pun akan suka jika negaranya dikatai sebagai republik pisang.

*****

—KK—