ulama – fatwa

Rasanya semua tahu, istilah Arab (Islam) ulama berarti: mereka yang ahli dalam agama Islam. Ini tidak salah. Sebagai sebuah istilah, arti atau pengertian ulama memang seperti itu. Tetapi agar pemahamannya lebih utuh, tidak ada salahnya kita sedikit menggali lebih dalam kata ini dari aspek bahasa, yang pengertiannya agak berbeda—lebih luas.

*****

Kata ulama adalah bentuk jamak dari kata alim yang berarti ‘orang yang berilmu‘ (scholar, jika dalam bahasa Inggris). Sehingga secara harfiah, mereka yang jadi saksi ahli dalam persidangan misalnya, juga pantas disebut ulama meski keahlian mereka bukan dalam hal agama—tetapi kedokteran atau forensik, katakanlah (karena bagaimana mungkin mereka dimintai pendapat untuk perkara penting seperti sebuah pengadilan, jika tidak dianggap cukup berilmu?).

Dengan kata lain, alim-ulama adalah kaum cerdik-pandai. Hanya saja gelar ‘alim’ (atau ‘ulama’) didapat bukan melalui jalur ‘resmi’ (seperti sekolah dan kemudian mendapatkan ijazah), tetapi merupakan pengakuan informal masyarakat atas [bobot] keilmuan seseorang (sesuai bidang masing-masing). Sehingga para tabib atau ahli ilmu falak (astronomi) yang selama hidup tidak pernah duduk di bangku kuliah pun dapat disebut sebagai ulama jika memang masyarakat menilai mereka pantas disebut demikian (sekali lagi, ini jika ditinjau dari segi bahasa).

Berdasarkan ‘kewenangan keilmuan‘ yang dimilikinya, seorang ulama biasa memberikan atau dimintai pendapat. Pendapat ulama (lazim disebut dengan fatwa), meski bukan merupakan hukum, patutlah diperhatikan karena dikemukakan oleh mereka yang ahli di bidangnya.

Karena pendapat orang bisa berbeda.. (lanjutannya)

Iklan