generasi

( + semangat pascatujuhbelasan #2/2 )

Suka dengan video ibu dan anak ini,

anak cucu proklamator bapak koperasi

Halida & Gustika Hatta – dari akal-akalan politik hingga koperasi

Keduanya adalah anak dan cucu Bung Hatta—salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia. Beda umur/angkatan, beda bahasa (cara penyampaian), [acap] beda sudut atau cara pandang, tetapi jelas punya kesamaan nilai-nilai (values).

Saling menghargai dan menyayangi, pun bisa berkomunikasi—meski beda generasi.

*****

Dalam pengertian nan umum, generasi berarti kolektif orang yang hidup pada masa tertentu (mis ‘generasi-X’ dan ‘generasi milenial’—yang notabene sekadar label pembeda/identifikasi).

Sedangkan dalam genealogi (ilmu/garis silsilah), generasi ialah tingkat pada ‘pohon keluarga’ (dengan orangtua sebagai generasi pertama, anak generasi kedua, cucu generasi ketiga dst).

Dan sebagaimana harapan orangtua terhadap anak, secara kolektif kita bisa bilang bahwa tantangan umum sebuah generasi adalah ‘melahirkan’ generasi berikutnya yang lebih baik (lebih pandai, lebih sehat, lebih sejahtera, lebih maju, lebih beradab, lebih bijak).

Artinya, selain soal era/waktu, generasi adalah juga soal estafet.

*****

Dalam konteks generasi, Tujuhbelasan adalah juga suatu proses estafet—transfer pengingat akan asyik/enaknya jadi orang merdeka, buah keringat bersama dari Sumatra sampai Papua.

Bhinneka Tunggal Ika, bunyi tulisan di Lambang Negara

Toh, bagaimana kita mengisi kemerdekaan/menghargai jasa pahlawan/menjunjung semboyan tentu lebih tergambar dari kiprah pada bulan-bulan berikutnya (saat tidak sedang ‘agustusan’). Dan memelihara spirit itu terus hidup sungguh tak susah-susah amat (lebih kepada soal niat):

Jangan suka bohong dan membodohi, pesan Ibu Halida

Yang suka bohong (hoaks, fitnah) pasti bukan orang jujur—tidak amanah/bisa dipercaya (seperti koruptor yang suka korupsi), sedangkan yang suka membodohi masyarakat jelas secara langsung beriktikad jelek terhadap [Re]publik—tidak sayang generasi (memberi asupan penumpul kecerdasan sebagai modal menyongsong hari).

Antar-generasi, salah satu yang orang wariskan-warisi adalah karakter.

*****

Kalau watak sudah demikian terbentuk (misal oleh kebiasaan), merubahnya cenderung repot. Itu kenapa misalnya menasihati koruptor (agar berhenti nyuri) bakal sulit efektif (jangan lagi cuma diomongi, yang tertangkap tangan atau ada jejak digitalnya pun masih suka ngeyel).

Namun,

Betapapun menyebalkannya seseorang (coba bayangkan muka siapa gitu), ia pernah lucu dan menggemaskan juga (sekarang bayangkan wajah ybs waktu bayi). Jelas, dulu dia baik:

Tidak ada bayi yang suka korupsi/hoaks/ujaran kebencian/merasa disayang Tuhan sendiri!

Anak kecil adalah ‘tunas bangsa‘ (generasi penerus)—kalau sama-sama diberi umur panjang, mereka yang sekarang kita atur-atur ini kelak akan ganti mengatur-atur kita. Suka atau tidak, dan entah besarnya nanti jadi apa (atau jadi bagaimana), mereka akan menjadi wajah negeri.

Pembangunan karakter (character-building) perlu dirintis sejak usia dini.

*****

Tidak bisa dipungkiri, soal berkomunikasi dengan anak kecil/bayi, secara umum wanita punya kelebihan kodrati. Maka sepertinya tidak berlebihan untuk bilang—bahwa pada tahap embrio,

Fondasi sebuah generasi ada di tangan para ibu

Mantan bayi Nusantara, laki atau perempuan, jangan kotori tanggung jawab mulia itu.

*****

—————————————
(Ditulis dalam rangka memperingati Hari Pahlawan – 10 November)

CATATAN

Jika anggap saja wanita umum punya anak di usia 20-30 tahun, pukul rata kita bisa bilang bahwa rentang waktu dari si ibu lahir (jadi bayi) hingga melahirkan (produksi bayi) adalah:

( 20 + 30 ) / 2 → harga tengah dari dua ekstrim

Tidak dimaksudkan sebagai angka yang eksak, kira-kira begitulah ceritanya kenapa istilah ‘generasi’ pernah disamakan dengan masa [sekitar] 25 tahun (4 generasi jadi 100 tahun).

Meskipun sebagai ancar-ancar kasar angka ¼ (seperempat) abad itu boleh-boleh saja, karena berbagai faktor (seperti kultur, zaman dan gender), kita tidak benar-benar bisa mengkonversi ‘generasi’ ke dalam angka/satuan tahun secara persis ataupun tetap.

REFERENSI
“5 Values You Should Teach Your Child by Age Five” (Parents – situs parenting)
“How long is a generation?” (Donn Devine, Ancestry)

Terima kasih kepada Ibu Halida dan Gustika atas inspirasinya.

—KK—

Iklan

One thought on “generasi

  1. kita itu masuk generasi apa ya?

    Kalau menurut Wiki, yang lahir pada awal 1980’an s.d. pertengahan 1990’an hingga awal 2000’an sering disebut ‘generasi Y’ atau ‘Gen Y’ (sebelum itu ‘generasi X’, dan sesudahnya ‘generasi Z’).

    Tapi ya gitu, soal ‘nama’ ini lebih merupakan ‘istilah senang-senang’ (bukan sesuatu yang prinsip)—batasan waktunya tidak bisa dibakukan (dari kapan sampai kapan), dan sebutannya bisa semau suka (Gen Y juga disebut generasi milenial/bumerang/Peter Pan/echo boomers). 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.