SOS

– istilah maritim –

Di TTS (teka-teki silang) kadang ada soal begini: Save Our Souls—tiga kotak. Dan kalau kita isi dengan SOS, pasti cocok. Padahal sesungguhnya SOS bukanlah merupakan sebuah singkatan.

Malah—untuk lebih akuratnya lagi, sebenarnya SOS bukan SOS. Lho!?

*****

Sejak diciptakannya radio pada sekitar akhir abad XIX, komunikasi di laut sangat tergantung kepada kode Morse—yang notabene hanya berupa kombinasi bunyi panjang dan/atau pendek.

Menyadari perlunya pemberitahuan ‘keadaan dalam bahaya’ yang sederhana, di awal abad XX Jerman menetapkan sebuah ‘kode panggil darurat‘ (maksudnya, siapa pun yang menangkap sinyal itu harus segera memberikan pertolongan atau paling tidak segera me-relay pesan minta tolong itu kepada pihak lain). Kode ini kemudian segera menjadi standar internasional.

Kode tersebut berupa suatu rangkaian bunyi (tanpa jeda) yang terdiri dari sembilan elemen: “tiga pendek – tiga panjang – tiga pendek” (· · · – – – · · ·).

Ingin tahu seperti apa itu kedengarannya? Bisa coba di sini (tinggal play).

Rangkaian ini dipilih selain untuk membedakannya dari kode prosedural lain (yang semuanya tidak ada yang lebih dari delapan elemen) juga karena sifatnya yang demikian mudah dikenali (aspek ini krusial guna mendapatkan respons cepat).

Jadi, sekali lagi, kode itu sejatinya tidak dimaksudkan sebagai lambang dari huruf tertentu (termasuk SOS—karena jika demikian maka kodenya akan menjadi “· · · jeda – – – jeda · · ·“).

Akan tetapi karena dalam kode Morse “· · ·” adalah ‘S’ dan “– – –” adalah ‘O’,  orang kemudian biasa menyebutnya sebagai ‘kode SOS’ (istilah Save Our Souls/Ship dsb muncul belakangan).

*****

Seiring perkembangan zaman, kode panggil darurat pun mengalami beberapa kali perubahan (satu yang lumayan populer bagi ‘telinga publik’ mungkin adalah “Mayday Mayday Mayday”).

Tapi itu tidak lalu membuat SOS jadi usang. Selain mudah dipahami (bahkan oleh awam), kode yang ‘aslinya’ merupakan sinyal audial (suara) ini juga mudah dijadikan sebagai sinyal visual. Dan ini bisa sangat menolong, terutama jika peralatan komunikasi sedang bermasalah.

Jadi misalnya saat sedang santai di tepi pantai menikmati keindahan malam tiba-tiba melihat di kejauhan ada nyala “tiga pendek tiga panjang tiga pendek” yang tampak berulang.. Segeralah coba berbuat sesuatu!

Sebab boleh jadi, di kesunyian laut nan gelap sana ada sejumlah jiwa yang keselamatannya sangat bergantung kepada seberapa cepat kita bertindak.

*****

———————————
Catatan: dalam penulisannya yang baku, kode ini lazim disertai garis atas → SOS
Referensi: linguanaut

—KK—

18 thoughts on “SOS

  1. Saya kok agak kurang ngudeng ya masalah SOS ini..

    Wah, terima kasih Rianda, feedback lagi ini. Iya sih, intronya terlalu pelit kayaknya, yang ndak hidup di zaman dulu mungkin agak susah mbayanginnya.🙂

    Dulu di laut kalo kapal bocor, yah sudah—ndak bisa kontak (ndak da kabel telpon, dan pastinya belum ada satelit). Lalu ada radio. ‘Radio’ di sini bukan seperti kita ndengarin siaran RRI, tapi komunikasi dilakukan dengan bahasa Morse (misalnya saat kabut untuk menghindari kapal tabrakan dll). Lalu ada yang kepikiran untuk menstandarkan ‘kode panggil darurat’, yang kemudian dikenal dengan istilah SOS.

    Oya, meski tidak cuma aplikatif di laut, artikelnya saya beri ID ‘istilah maritim’, ok?

  2. Wah jadi lebih tau nih tentang SOS.
    Sering juga liat di film, keadaan darurat pake SOS ini, kadang2 ada yg pakai bendera juga.

    Iya bisa pakai segala macam. Dan SOS juga aplikatif dalam gelap. Misal yang lagi di gunung trus kenapa-kenapa, bisa coba arahkan lampu ke arah kota di bawah lalu ‘3pendek-3panjang-3pendek’. Kalau ada SAR yang lihat, pasti tanggap.

  3. Berarti saya termasuk yang termakan doktrin itu mas. Taunya dari dulu SOS itu ya save our soul. Makasih ilmunya mas

    Iya nih ‘doktrinnya’ ampuh banget, saya juga sempat lama kena he..he..

  4. Ketemu juga dimari….

    Bahasannya luas namun , simple… like it…🙂

    Halo, trims akhfauzan. Masih suka ragu juga soal being simple, terutama kalau topik memang sulit ala ‘ilusi’ atau superganjil seperti ‘kambing Monty’ kemarin itu.
    (PS: salam Semarangan)🙂

  5. nice info, baru ngeh ttg SoS.

    Trims. Suka terlewat memang, bahwa sinyal SOS (tanpa jeda) dan SOS (dengan jeda) berbeda, karena yang kedua bisa saja inisial organisasi dll. Selamat bermiliter ria.🙂

  6. baru tahu mas. jadi SOS ya SOS aja ya. sangat berguna. sepertinya sejak di SD sudah diajarkan cara2 survival termasuk membunyikan atau menyalakan tanda SOS.

    Benar itu, zaman saya SD dulu (waktu yang punya telepon rumah masih ‘satu-dua orang’) soal survival (termasuk semapur dan sandi batu) dapatnya di pramuka.

  7. Saya selama ini menyangka Save Our Souls adalah kepanjangan dari SOS
    Padahal sebenarnya bukan ya
    Makasih inpohnya😀

    Trims juga Fier. Setali tiga uang berarti, dulu sayah jugah begituhh..:mrgreen:

  8. Very interesting post! Yes I have friends who are in the Merchant Navy and they tell us the the way these signals or messages operate.
    Thank you and Semoga sukses!🙂

    Thank you Dilip, much appreciated. ‘Semoga sukses’ to you too!
    (PS: please say hi to ‘Master’ for me🙂 )

  9. Wah, baru tau…saya kira SOS itu singkatan yang ditulis diatas…
    Iya deh, harus lebih waspada kalo lihat tanda lampu yang berkedip masing-masing tiga kali seperti itu, thanks infonya ya!🙂

    Yess..!! Asyik ini, yang siap ikut berbuat sesuatu sudah tambah satu.🙂

  10. ternyata yaa,slama ini salah arti,karna kebiasaan taunya singkatannya itu ternyata bukan
    jadi pengen ke pantai ato laut trus liat tanda lampu kedip..🙂
    trimakasi ya

    Selamat berwisata pantai/bahari, harumhutan. Semoga aman sentosa.🙂
    (PS: Maaf baru balas, kelamaan nih liburnya. Oya, gravatarnya sengaja tanpa link?)

  11. Nice artikel, ane jadi dapet pemahaman baru (Mayday! Mayday! We got the black hawk down! We got the black hawk down!)

    Itu nama pesawat di film ya? Jarang lihat Hollywood, tapi kira-kira ya begitu.

  12. kalau sinyal audial di desa jaman dulu bunyi kenthongan titir tanda ada yang meninggal… hehe.. salam kenal..

    Ah ya, sampai lupa saya dengan sandi satu ini. Biar banyak desa belum ada listrik, orang dulu ada aja cara ‘komunikasi jarak jauh’-nya ya (meninggal, maling dll).
    Salam kenal juga Mbak Nyoman.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s