kompeni

( + kilas )

Berapa lama Indonesia dijajah Belanda? Kalau ditanya begitu, mungkin orang umumnya akan menjawab 3,5 abad—dihitung dari VOC ‘buka kantor’ hingga terusirnya Belanda oleh Jepang.

Bisa saja seperti itu. Tapi sejarah bukan harga mati..

*****

Setelah VOC bangkrut dan bubar, Belanda ‘mewarisi’ Nusantara di pergantian abad ke-18/19. Sehingga ‘Godfather’ di negeri ini pada ‘zaman Belanda‘ yang 3,5 abad itu bisa kita pecah dua,

VOC (2 abad) + Belanda (1,5 abad)

Dan karena VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah suatu ‘compagnie’—kompeni, kumpeni (‘the company’), kita juga bisa bilang bahwa untuk masa dua abad yang pertama itu,

Indonesia dijajah oleh perusahaan

Wasiat dari kompeni: menguasai kekayaan atau menaklukkan kedaulatan suatu negeri tidak harus lewat perang, tetapi juga bisa dilakukan dengan.. membuka perusahaan. Oleh swasta.

Masa lalu tak bisa diubah, tapi selalu ada lebih dari satu cara melihat sejarah.

*****

Sebagai negara, Agustus ini Indonesia genap 70 tahun—belum ada separuh perjalanan hidup kumpeni yang sudah wafat itu. Tapi sebagai bangsa, perjalanan kita sudah jauh lebih panjang.

Pernah jaya (di masa Sriwijaya/Majapahit), pernah nestapa (jika dihitung dari Portugis masuk
hingga proklamasi, 450 tahun—dengan hampir setengahnya cuma oleh sebuah perusahaan!)

Jadi sebagai bangsa, kita yang relatif cukup kaya pengalaman ini jelas bukan anak kencur lagi. Tetapi ‘menjadi dewasa’ bukan melulu soal umur, melainkan juga ‘belajar dari pengalaman‘.

Sejarah bukan pelajaran hafalan, tapi studi pengalaman

Pengalaman nyaris setengah milenium ditindas orang luar itu sudah kita tebus mahal sekali. Sayang mahal-mahal beli, jika hanya orang luar pula yang justru dapat memetik hikmahnya.

Selamat Tujuhbelasan, Kawan!

*****

(Lihat juga ‘Air Api‘)
———————

Ditulis dalam rangka memperingati Hari Proklamasi – 17 Agustus 1945
(dengan semangat sebagai bahan koreksi diri, bukan penyulut antipati)

Artikel ini sekadar sebuah ‘sisi/cara pandang’, bukan klaim kebenaran.

Catatan:

Kompeni adalah model awal perseroan terbatas (PT) dan perusahaan multinasional.

Godfather: istilah ‘mafia Amerika’, artinya kurang lebih, ‘sosok yang paling diperhitungkan’

Tentang apakah Portugis pernah menjajah Nusantara atau tidak sering bisa diperdebatkan (sebarannya tidak semasif VOC, dan dalam banyak kasus konon mereka cuma berdagang).

Referensi film (perusahaan dengan kekuasaan besar):
“Food, Inc.” (2008, Robert Kenner)
Zeitgeist: addendum (2008, Peter Joseph)

Bacaan tentang VOC: versi Indonesia atau Inggris (lebih lengkap)

Terima kasih kepada Sincan t’Buko atas inspirasinya.

—KK—

13 thoughts on “kompeni

  1. Terima kasih Mas, ikut tirakatan pitulasan di sini…belajar dari pengalaman..yang sungguh berharga. Salam

    Terima kasih, senang ‘acara’ seperti ini ada yang menemani.🙂 Salam

  2. Pernah nonton Food Inc…ternyata yang kita makan selama ini…#ahsudahlah…heuheuheu

    Hahaha..!! Iya tuh, dan itu yang jadi life-style..:mrgreen:
    Oya sudah cek link film yang satunyakah? Total ada 3 episode (itu yang kedua):

    1). ‘The Movie’ (paparan problem)
    2). ‘Addendum’ (analisis sebab)
    3). ‘Moving Forward’ (alternatif solusi)

    NB: Buat saya yang ketiga yang ‘ground’-nya paling lemah (terlalu banyak asumsi).

    zeitgeist the movie
    zeitgeist addendum1
    Zeitgeist moving forward
    zeitgeist awards

  3. bener om tuh VOC minta hasil bumi ke negara nenek moyangnya😦

    Halo Ani!🙂 Dan yang paling bikin gregetan, VOC biar nyebelinnya kayak gitu ke negaranya sendiri setor hasil, eh lha kok kita yang punya sejarah gitu malah sekarang banyak juga yang ‘usahanya’ ngacak-ngacak negeri sendiri Grrr..!

  4. sejarah yang paling akurat semestinya tertulis di manakah? atau harus berdasarkan sudut pandang beberapa negara, ya.

    Terima kasih, Umami. Lumayan kompleks masalahnya, jadi rada panjang nih.

    Sebagaimana sejarah ‘Perang Candu’ yang dicatat tak sama persis di China/Inggris, catatan ttg VOC pun pasti lain di Indonesia/Belanda. Faktor subjek menentukan.

    Jadi iya, perkara sejarah, tidak mudah mencari ‘informasi yang lengkap + objektif’. Dan selain aspek kepentingan serta preferensi (dari ‘si subjek’), ada problem lain:

    [pertimbangan akan] ‘resiko sosial-politik

    Maksudnya, jika pengungkapan sesuatu dianggap terlalu berpeluang menimbulkan dampak negatif terlalu besar, bisa saja sesuatu tsb ‘dikubur’—atau relatif sangat dibatasi pengungkapannya (contoh paling terkenal mungkin adalah ‘kasus JFK’).

    Dan memang, untuk hal-hal yang sangat sensitif, adalah selalu tidak mudah untuk menakar ‘balance’ yang tepat antara ‘berbagi informasi‘ (agar generasi berikutnya belajar dari sejarah) dan ‘menahan informasi‘ (agar peluang konflik terminimalisir).

    Kira-kira, itu ‘situasi universal’-nya (bukan cuma bagi negara/bangsa tertentu).

    Jadi Umami benar, guna mendapatkan gambaran yang lebih mendekati kenyataan, kita sering perlu untuk ‘tidak mencukupkan diri menggali hanya dari satu sumber‘.

    Ok, sukses untuk target ‘before 23’-nya.🙂

  5. Wah…ini blog gudang istilah-istilah ya?…macam ‘minipedia’… Aku coba di blog ini nyari istilah ‘bordir’..di kotak search nya…tp lum ada. Lagi nyari-nyari pengertian bordir. Ada perbedaan pengertian bordir di indonesia dg barat (eropa-amerika). Bordir dlm pengertian mereka ya menyulam dengan tangan….jd menurut mereka hobi yg aku lakukan dan aku jual di blog belum ada istilah yg tepat (embroidery art? or embroidery painting…?). Kalo di indonesia apa yg aku kerjakan ya itulah bordir.

    Halo JH. Blog ini tidak dimaksudkan sebagai ala ‘pedia-pediaan’ itu kok, cuma catatan kecil istilah-istilah yang sudah jadi bagian dari pengalaman pribadi saja (dan hanya hal-hal yang berkaitan dengan itu). Jadi maaf tidak bisa bantu.🙂

    PS: Cek cepat untuk isi blog bisa lihat ‘indeks‘ (istilah + nama), sedangkan untuk ‘apa & bagaimana‘-nya bisa lihat artikel ‘aksen-dialek‘ (reply untuk Sucipto Kuncoro).

  6. Entah kenapa dari dulu sampai sekarang aku ngerasa bangsa kita belum sepenuhnya siap bersaing dengan asing. Alhasil asing lebih dipilih karena lebih menguntungkan. Jadi apakah sebenarnya dari dulu kita memang “ikhlas” untuk dijajah ya?

    Bisa dikata, kita ini ‘(ex) penjajah’ juga. Majapahit bisa besar gitu (asumsi data/reka sejarah benar) pasti bukan melulu karena orang sukarela pada ingin gabung, kan?

    Kejayaan masa lalu. Dulu. Dan inilah kita sekarang sehari-hari:

    – buang sampah sembarangan (bikin banjir)
    – beramal bagi sembako + duit (orang terinjak-injak)
    – mbetulin jalan mepet Lebaran (semrawut)
    . . . (daftarnya bisa sangat panjang)

    Udah tahu jika begini.. maka hasilnya akan begini.. tapi tetep ja besok diulangi lagi. Atau dalam konteks lebih luas dan dalam rentang lebih panjang (antar generasi):

    devide et impera

    Coba, orang Indonesia mana yang tak katam soal DEI ini? Tapi kok tetap ja kita kini gampang berselisih/teradu domba? (bahkan untuk urusan yang nggak penting)

    Indikasinya kuat: soal ‘belajar dari pengalaman’, kita bermasalah sekali(!)

    Pendidikan boleh tinggi, melek teknologi, update informasi, fasih berbahasa asing dst dsb, tapi melihat gelagatnya, PR kita mungkin lebih kepada soal attitude.

  7. Ah dasar kita ini ▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒▒. Sampai sekarang masih terjajah.

    Halo arip, terima kasih atas atensi dan komennya. Maaf dimoderasi ya, agak terlalu ekstrim untuk ukuran blog ini soalnya.🙂

    Kondisi di mana sebuah perusahaan (swasta) terkesan punya bargaining position terlalu kuat atas negara (bahkan negara asal perusahaan itu sendiri) seperti sudah jadi gejala umum, bahkan di banyak negara maju (bisa lihat film ‘Food, Inc.’).

    Indonesia [yang pengalaman ber-VOC rianya sudah jadi studi dunia] harusnya pagi-pagi sadar bahwa yang begini hanya akan menyusahkan orang banyak.

    Dan tentu ini PR kita bersama, karena menyangkut collective awareness.

  8. umur boleh tua … tapi kayaknya bangsa kita ga dewasa2 ya …..

    Aneh benarnya—kita jago melihara kekurangan generasi sebelumnya, tapi tidak dengan sisi baiknya. Individu banyak yang ok, tapi secara kolektif itu masalahnya.

  9. Hai salam kenal ya, tapi bukannya VOC itu juga bikinannya belanda ya?

    Halo, rizki benar. Tapi mungkin kita juga bisa lihat dengan cara begini:

    Freeport = [pemerintah/negara] Amerika?
    Lapindo Brantas = [pemerintah/negara] Indonesia?

    Beda, kan? Sama halnya jika misalnya kita (orang Indonesia) bikin pabrik yang berdampak lingkungan sekitar jadi rusak: yang merusak perusahaan kita atau [pemerintah/negara] Indonesia?

    Ini soal ‘seni melihat‘ saja, bahwa sesuatu (hal, kejadian, sejarah dll) bisa dilihat dengan lebih dari satu cara (dan ‘seni’ pada hakikatnya bukan soal benar/salah).

    Jadi Belanda menjajah 3,5 abad? Tidak salah. Tapi itu bukan satu-satunya cara melihat persoalan. Dan ‘cara pandang‘ kita erat berkait dengan seberapa ‘awas‘ kita mengenali relevansi pengalaman masa lalu (sejarah, sekian ratus tahun lalu) dalam konteks sekarang (yang sedang kita hadapi) atau bahkan konteks masa depan (yang akan dihadapi generasi setelah kita kelak).

    Kira-kira begitu Rizki, mudah-mudahan lumayan menjelaskan.🙂

  10. …jadi inget, duluu sekali saya pernah menghitung-menghitung lamanya penjajahan Belanda (sebagai sebuah negara) di Indonesia karena VOC adalah sebuah perusahaan multinasional – dan Indonesia adalah asetnya yang kemudian diserahkan pada pemerintah Belanda saat perusahaan tersebut bangkrut…

    Sebetulnya saya sendiri sudah lupa soal ini (maklum lama sudah tak sekolah hehe..) tapi karena ada seorang pelanggan warung yang nyebut, tiba-tiba jadi ingat lagi.

    Ngomong-ngomong, namanya itu, masih ada hubungan dengan sang pencipta ‘Kelelawar’ itukah? (nggak usah jawab kalau dirasa tak nyambung)🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s