backward clock

Seorang pelaut turun dari kapal lalu masuk ke sebuah bar. Saat angkat gelas, lho..??

Itulah adegan-adegan awal “Dans la Ville Blanche”, sebuah film Swis/Inggris/Portugis garapan sutradara Alain Tanner yang rilis tahun 1983. Rentetan raut muka itu sendiri menelan waktu sekitar 20 detik (suatu visual yang berani sebab kebilang lama untuk sebuah close-up wajah). Sebuah durasi suasana hati—yang bisa membuat sebuah tegukan air jadi berlipat nikmat..

Dan ternyata ini yang bikin gara-gara:

Sebuah backward[s] clock, yaitu jam yang gerakan jarumnya berlawanan arah dengan jam pada umumnya (kalau biasanya berputar ke kanan—jika dilihat dari depan, ini malah ke kiri). Tetapi karena posisi/urutan angkanya juga terbalik, penunjukan waktunya jadi selalu tepat (‘jam biasa’ pukul dua, backwards clock juga pukul dua—setengah tiga, ya setengah tiga dst).

Ada-ada saja. Bagaimanapun, idenya boleh juga. Setidak-tidaknya menghibur.

Toh, setelah bertanya kepada ahlinya (seorang blogger yang paham soal jam), baru ngeh jika backward clock bukan sekadar kreativitas iseng tetapi juga punya motif praktis, persisnya di barber shop—yaitu agar orang bisa mudah mengamati waktu melalui cermin..

Ooh.. begitu to, kok dulu nggak kepikiran ya..

Karena potensial sebagai materi icebreaker (pencair kekakuan), sebuah jam dinding dengan tampilan/tabiat ‘nyeleneh’ seperti ini rasanya juga taktis dipajang di titik yang memang lazim diperuntukkan sebagai ‘sentra interaksi verbal’—katakan saja, di area bar kedai kopi. (Aha!)

Lalu siapa tahu, ekspresi ala si pelaut akan jadi hal lumrah di sana.. 🙂

*****

—————————————

Catatan:
● Istilah lain untuk backward[s] clock: reverse[d]/anticlockwise/counterclockwise clock
● Wajah pada foto (aktor): Bruno Ganz

Referensi/sumber gambar:
“Dans la Ville Blanche” (Alain Tanner, 1983)
● DIY jam ‘melawan arus’ [8 menit] (tapi sendirinya belum coba hehe..)

Terima kasih kepada Ronjoiner untuk pencerahannya.

—KK—

Iklan

8 thoughts on “backward clock

  1. Jam ini juga salah satu komponen penting dalam film Confessions (Kokuhaku), tokoh utamanya yang cerdas menggunakan jam ini untuk membuktikan kemampuan dirinya di antara teman-temannya :).

    Ini maksudnya si Shuya kah? (Baru cek di wiki, tidak tahu filmnya soalnya). Wuih.. sepertinya lumayan dark dan ‘sadis’ ya? (soal ‘intention’-nya). Seru. 🙂

  2. Baru tahu sekarang, mungkin ekspresiku bakal sama kek paklek yang mimik es teh manis itu, saat tahu ada backward clock 🙂

    Haha.. Siang-siang digelontor es teh manis.. Suegerrr!! Kalau di rumah ada jam dinding lebih sepertinya boleh juga tuh, tak sampai 10 menit jadi.. 🙂

  3. I think my kids would simply ignore a backward clock because to do all that you point out here, it must be an analogue style clock. They use the atomic clock on our wall, which is digital, or the digital display on their cell phones. Even after a lifetime of teaching them how to read an analogue clock, they struggle with it.

    I, on the other hand, see all kinds of symbolism in a backward clock. Also, I keep playing the sailor’s expression in my mind both forward and backward. It makes such a difference in my projection of the future.

    Ah yes, things get more and more digital these days (along with all those gadgets) and kids are just so ‘tomorrow’ (unlike us, with our strong smell of ‘yesterdays’).

    But eye-sequencing those faces backwards.. “Hear, hear!” 🙂 That’s an idea indeed. Never crossed my mind. A very good point, Alice, directions do really matter. 🍸

  4. . . . (see ‘serendipity’)

    Hi Bernard, thanks for stopping by. Frankly, I’m not sure you didn’t send this here by mistake. And as twins (posts, comments, refs etc) can do both our blogs harm, I took the liberty of writing off the one you sent here and keeping the one you sent to ‘serendipity’ (for it just fits in there anyway). Again, my sincerest apology. Take care. 🍸

  5. Idenya boleh juga dan bisa membuat orang lain tertawa terbahak-bahak, 🙂

    Habis ketawa orang pada haus lagi, trus pesan es teh manis lagi, warung kopi jadi laris sekali, semua hepi. 🙂

  6. Baru tahu ini, kreatif tu orang yg membuat jam tak lazim.

    Halo Achmi, lama tak sua. Iya, umumnya kalau lagi di depan kaca mau lihat jam, orang ya balik badan. Cuma sedikit yang kepikiran jamnya yang harus dibalik. 🙂

  7. Selalu suka membaca tulisanmu hihi, tetap bekarya yaa !!

    Amin. Terima kasih. Mari, di-share (malah nodong). Eh ni ngomong-ngomong apanya Zahro yang nongol di artikel ‘antik’ tu ya? – kepo met (metau aja)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s